
Setelah menyerahkan lukisan yang terbungkus kertas cokelat itu kepada asisten Black, Star langsung berjalan kembali menuju lift. Ia ingin segera keluar dari XL Corp. Ia meletakkan tangannya sebentar di sebelah lift untuk menyalakan tombol untuk turun.
Tak lama, pintu lift terbuka. Star yang baru mau masuk, merasakan lengannya ditarik seseorang yang akan masuk juga ke dalam lift tersebut.
"Apa yang anda lakukan?" Star menatap tajam ke arah Light. Dulu pria yang berdiri di sebelahnya ini adalah atasannya, tapi kini tidak lagi.
"Lepaskan aku!" teriak Star sambil menghempaskan tangan Light yang memegang pergelangan tangannya.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa kamu mulai mendekati Mommyku? Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?" Light terus mencecar Star dengan pertanyaan pertanyaan hingga tiba tiba lift berhenti secara mendadak.
"Ahhh!" Star yang kaget langsung berpegangan pada pinggir lift. Lampu lift mulai berkedap kedip seperti mati segan hidup pun tak mau. Star mengatur nafasnya perlahan. Light langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi asistennya.
15 menit terlewati, Light yang awalnya ingin mencecar Star pun kini diam. Star duduk di pojokan lift. Udara yang terasa semakin sedikit membuat hawa panas seakan menyergapnya tiba tiba. Kini ia bukan panik karena terkunci, tapi karena rasa panas yang seakan mulai memenuhi sekujur tubuhnya.
Star memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Nafasnya mulai terasa menghilang sedikit demi sedikit. Pandangan matanya mulai kabur. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.
"Lihatlah, bahkan lift saja tidak rela jika kamu menaikinya. Mereka tidak menerima seorang pembunuh masuk ke dalamnya," guman Light dengan sedikit keras.
Brukkk!!!
Tubuh Star terjatuh ke samping, peluh sudah memenuhi dahi, leher, bahkan tubuhnya. Light yang berdiri berseberangan dengan Star langsung mendekat dan memeriksanya.
"Sialll!!!" teriak Light saat menyadari denyut nadi Star yang melemah. Ia kembali mengeluarkan ponselnya.
"Masih berapa lama lagi?!" bersamaan dengan teriakan itu, lift kembali berjalan dan turun ke lantai dasar. Di sana sudah terlihat banyak orang berkerumun. Ada juga teknisi dan asisten Black yang sudah berada di sana.
Light langsung menggendong tubuh Star dan keluar dari lift, "Siapkan mobil, Black!"
Asisten Black langsung menuju ke samping lobby untuk mengambil mobil atasannya itu yang memang selalu berada di tempat parkir khusus. Sementara Light melihat ke arah wajah Star serta tubuhnya yang terlihat kemerahan dan mata yang terpejam.
Dengan bantuan asisten Black, Star berhasil masuk ke dalam mobil. Light masih memangku bagian kepala Star. Semakin lama wajahnya semakin pucat, membuat sesuatu di dalam dada Light terasa diremas remas.
Jalanan yang terlihat padat membuat Light semakin cemas. Ia melihat ke arah Star ketika tak merasakan pergerakan apa apa dari mantan sekretarisnya itu. Light mengarahkan jarinya di dekat hidung Star untuk memeriksa apakah wanita itu masih bernafas. Namun jantungnya seketika berdetak cepat ketika ia yak merasakan apa apa.
"Ia tak bernafas, Black," ujar Light. Asisten Black melihat ke arah spion sebentar dan fokus menyetir.
"Berikan nafas buatan, Tuan," mendengar saran asistennya, Light menjadi bingung.
"Kalau begitu kita tunggu saja sampai di rumah sakit."
"Saya rasa kita tidak akan sampai dalam waktu cepat, Tuan. Ntah mengapa lalu lintas sangat padat hari ini," Light bisa melihat bahwa kini mereka terjebak di antara padatnya kendaraan.
uhukk ... uhukkk ....
Tepat saat Star terbatuk, mobil yang dikemudikan oleh asisten Black memasuki halaman rumah sakit. Black menghentikan mobil tersebut di bagian UGD dan Light langsung keluar dan menggendong Star. Ia meletakkan Star di atas brankar dan meminta penanganan secepatnya.
*****
Seperti dejavu, Light kembali berdiri di depan ruang ICU, tempat di mana Star sedang ditangani. Ntah sudah berapa kali ia merasa wanita itu selalu keluar masuk rumah sakit.
"Kamu bisa kembali ke perusahaan, Black," ujar Light.
"T-tapi, Tuan ...," Black tidak mungkin meninggalkan Light seorang diri di rumah sakit.
"Pergilah, biar aku yang mengurus semua ini," Berkali kali Star masuk ke rumah sakit dan Black yang mengurus semuanya. Kali ini ia akan mengambil tanggung jawab itu.
Asisten Black akhirnya pergi dari rumah sakit. Mereka memang masih banyak pekerjaan yang harus ditangani di perusahaan. Sementara itu Light kembali memutar ingatannya ketika mereka terjebak di dalam lift.
Apa ia takut pada gelap? ataukah pada ruang sempit? - Light masih belum mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya ini.
"Dokter ...," Light bangkit dan menghampiri seorang dokter yang keluar dari ruang ICU.
"Keadaannya saat ini sudah lebih stabil. Kami juga sudah memberi tambahan oksigen untuknya. Sepertinya pasien mengalami kepanikan hingga membuatnya phobia," jelas sang dokter.
"Phobia pada apa?" tanya Light ingin tahu.
"Kami belum bisa mengetahuinya karena pasien belum sadarkan diri. Namun yang pasti saat ini anda bisa bernafas lega karena keadaan pasien sudah stabil. Terlebih saat ini ia sedang mengandung, ia perlu memperhatikan kesehatannya lebih ekstra lagi," jelas sang dokter.
"Mengandung? maksud dokter, ia sedang hamil?"
"Ya, usia kehamilannya sekitar 8 minggu. Untuk lebih pastinya nanti saya akan meminta dokter Obgyn untuk memeriksanya."
Light seakan tak percaya apa yang ia dengar. Hamil? Apakah itu anaknya? Ia memang tidak menggunakan pengaman saat melakukan itu pada Star. Tapi anak? ia sama sekali tidak berpikir ke arah sana.
"Baik, Dok. Terima kasih," Dokter itu pergi dari hadapan Light, hingga meninggalkan Light yang termenung seorang diri.
Star dipindahkan ke kamar rawat biasa. Sudah hampir malam, tapi wanita itu belum terbangun juga. Ia seperti masih betah dengan alam bawah sadarnya.
Saat waktu menunjukkan pukul 9.15, Star akhirnya membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya agar dapat melihat dengan lebih jelas. Ia merasakan tangannya begitu berat dan hangat, membuatnya langsung menarik tangan tersebut hingga infus yang menancap terlepas.
🧡 🧡 🧡