LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Melawan



“Sial, aku terlalu gegabah bila mengira petunjuk dalam mimpi dapat menaklukan Naga Api dengan mudah, apa yang harus ku lakukan” gumam Eden yang bingung karena ia tidak berhasil menaklukkan Naga Api. Sesekali ia menggigit kuku ibu jari sambil terus memikirkan cara agar bisa segera menaklukan Naga Api yang sedang menguasai seluruh raganya. Hingga sesaat terlintas dalam benak Eden untuk mengeluarkan panah bumerang, “Tunggu dulu, apa mungkin aku bisa memanggil panah bumerang ke sini.. haruskah aku mencobanya?” gumam Eden mempertimbakan untuk mengeluakan panah bumerang yang merupakan senjata sakti miliknya.


“Baiklah, aku harus mencobanya” ucap Eden kemudian memejamkan mata, berkonsentrasi untuk memanggil panah bumerang keluar dan beberapa saat kemudian senjata saktinya itu benar-benar muncul dalam genggaman tangannya.


“Berhasil!!” ucap Eden setelah panah bumerang keluar dalam genggaman tangannya, “harus menunggu waktu yang tepat” imbuh Eden sambil menoleh ke belakang, mengintip apa yang sedang dilakukan oleh Naga Api. Terlihat jelas ia berjalan mondar-mandir untuk menemukan Eden yang tengah bersembunyi, bahkan sesekali sang Naga menyemburkan api untuk membuat Eden keluar dari tempat persembunyiannya.


“Aku tidak bisa terus menunggu, ini hanya membuang-buang waktu” gumam Eden dalam hati yang lantas dibarengi dengan lari kencang, ia sedang mencari celah disaat sang Naga Api lengah dan ia pun dengan berani menembakkan panah bumerang mengarah pada kepala sang Naga Api.


“ttccccaaaassshhhhhhh” panah bumerang pun diluncurkan tepat mengenai sasaran membuat sang Naga Api seketika menoleh ke arah tembakan berasal dan disanalah Eden sedang berdiri tanpa rasa takut berhadapan secara langsung. Rasa sakit yang timbul akibat tembakan panah Eden membuat sang Naga Api sempat menggeram kesakitan, namun ia masih dapat bertahan. Kesal karena dipermainkan oleh Eden membuatnya menyemburkan api yang lebih dahsyat ke arah Eden dan untungnya Eden dapat menahan semburan langsung yang diarahkan kepadanya. Ia berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan wajah sembari sedikit meringkuk karena ia merasa harus melindungi dirinya sendiri. Tanpa disangka semburan api tersebut tertahan tanpa bisa menggapai tubuh Eden, hal ini dapat terjadi karena Naga Api sedang berada dalam tubuh Eden, meskipun ia mengamuk atau menyerang tidak akan mempan terhadap Eden karena Edenlah si pemilik asli tubuhnya sendiri sehingga Eden memiliki kekebalan untuk terlindung dari amukan Naga Api.



Mendapati serangan tidak mempan terhadap dirinya membuat Eden sempat terkejut, ia kemudian berdiri tegap seperti semula sambil merenggangkan kedua tangan kemudia. mengarahkan tangan kanan ke depan, Eden pun berjalan mendekati sang Naga Api. Melihat Eden dengan berani berjalan mendekat membuat sang Naga Api mulai kalang kabut, ia hanya bisa terus menyerang dengan cara terus menyemburkan api ke arah Eden meskipun serangan itu tidak


mempan. Hingga sampailah Eden tepat dihadapan sang Naga Api, ia lantas berteriak dengan suara lantang “Menyerahlah!” suara Eden terdengar menggema, akan tetapi tidak lantas membuat Naga Api menghentikan serangan, ia terus menyembulkan api ke arah Eden bahkan sesekali menghentakkan kaki berusaha menakuti Eden agar ia mundur tapi tetap saja gagal.


“Jika kau tidak mau berhenti maka aku yang akan membuatmu berhenti menyerah!” kembali menggertak


Naga Api dan kali ini dibarengan dengan serangan panah bumerang, Eden menghujani Naga Api dengan ribuan panah yang keluar terus menerus dari busur panahnya. Karena senjata itu sakti sehingga dapat menuruti apa saja yang diperintahkan oleh pemilik senjata. Tidak hanya panah kecil namun ada beberapa


panah berukuran cukup besar yang juga menyerang Naga Api, dan kini tubuhnya hampir dipenuhi dengan anak panah milik Eden.


Pertahanan Naga Api sudah mulai melemah, terlihat dari tubuhnya yang mulai goyah dan tidak dapat mempertahankan posisi seperti semula, mendapati adanya kesempatan membuat Eden lantas berlari mencari batu lompatan agar ia bisa menaiki Naga Api, dan ia menemukannya membuatnya kini berhasil berdiri di atas kepala Naga Api.


Melihat bahwa Eden telah berhasil berdiri di atas dirinya membuat Naga Api sempat menggoyangkan kepala agar Eden terjatuh akan tetapi usahanya gagal karena Eden berpegangan erat pada tanduk milik Naga Api dan saat ini kesempatan Eden untuk melumpuhkannya.


“Sekarang saatnya” ucap Eden dalam hati yang kemudian merubah panah bumerang menjadi senjata lain yaitu sebuah pedang yang lantas ditusukkan tepat di bagian tengah kepala Naga Api. Sesaat setelahnya serangan Eden membuat Naga Api berhenti bergerak membuatnya lumpuh perlahan hingga menyebabkan seluruh tubuhnya lemas dan jatuh seketika. Begitu pun Eden yang dengan sigap turun dari tubuh Naga Api lalu menunggunya sesaat sampai pada akhirnya Naga Api berubah menjadi sebuah batu permata berwarna


merah, batu itu melayang mendekat pada Eden dan kini sudah berada dalam genggaman tangan Eden lalu merasuk dalam tubuhnya.


Seketika itu pula Eden terbangun, ia telah berhasil menaklukan sifat Naga Api dalam tubuhnya hingga membuatnya kembali pada tubuh asli yang saat ini sedang berada di taman pribadi Raja. Eden yang sedang berbaring dengan sebagian tubuh tertutup oleh tanah dan kedua tangan juga kakinya tertahan pun lantas menyapa dua orang yang terlihat kacau dihadapannya, “Arthur? Damian” ucap Eden menyapa keduanya namun tatapan mereka masih asing terhadap Eden.


“Jangan mendekat pendeta, dia sudah berulangkali bersandiwara dan hampir menipu kita, bahkan ia sempat memanggil nama kakak hingga membuatnya menjadi menggila karena mengira kita telah menyiksa Eden” ucap Pangeran Arthur yang masih mencurigai sosok Eden yang ada dihadapannya apakah asli ataukah hanya jelmaan dari Naga Api yang berusaha menipu dirinya.


Berbanding terbalik dengan Pangeran Arthur, Damian justru berjalan mendekati Eden, ia tahubahwa Eden telah kembali.


“Tunggu pendeta! Anda tidak boleh mendekat!” seru Pangeran Arthur yang tetap mempertahankan


prasangka terhadap Eden.


“Dia benar-benar Eden” ucap Damian yang terus berjalan mendekat kemudian duduk dan  menyentuh rambut Eden, “Kau telah berhasil, selamat” sambil mengelus perlahan rambut Eden karena senang mengetahui Eden berhasil mengendalikan sifat Naga Api yang berusaha merenggut tubuh Eden.


“Benarkan kau Eden” sambil berjalan mendekat Pangeran Arthur bertanya karena ia pun penasaran.


“Kau ini mau mati ya! Cepat lepaskan rantai ini!” ucap Eden sinis pada Pangeran Arthur karena ia tidak lekas melepas rantai pelindung yang menahan kedua tangan dan kakinya.


“Aahhh baiklah.. maafkan aku” kemudian melepas rantai pelindung serta menarik semua mantra yang mengelilingi Eden.


Merasa lega karena semua pengikat telah lepas lantas membuat Eden berusaha bangkint, akan tetapi Damian terburu-buru mencegahnya, “Berhenti, kau tidak boleh keluar saat ini”.


Mendengar hal ini lantas membuat Eden bingung, “Kenapa? Aku ingin segera berdiri” ucap Eden tidak mengindahkan larangan Damian.


Saat Eden berusaha keluar dari dalam tanah Damian pun memberinya jubah miliknya, “Setelah kami keluar gunakan ini” ucap Damian yang kemudian mengajak Pangeran Arthur keluar, “Kami akan menunggu mu di depan” imbuh pangeran Arthur sambil berjalan pergi.


“Memangnya kenapa? Mereka aneh sekali” gumam Eden lirih seraya bangkit dari liang yang mengubur sebagian tubuhnya, mendapati ia tengah telanjang membuat Eden lantas berteriak kencang, “Arrrrrgggggghhhhhhhhhhh” suaranya terdengar sangat nyaring membuat beberapa orang yang menunggu Eden di depan pun merasa lega karena ia telah kembali seperti sedia kala.


“Syukurlah dia sudah kembali seperti sedia kala” ucap Marco merasa lega setelah emndengar suara teriakan nyaring Eden dari luar taman pribadi Raja.


“Aku akan pergi mengantar Pendeta Damian ke tempat istirahat” ucap Pangeran Artur berpamitan pada rekan yang lain.


“Tunggu, kami ikut” ucap Justin kemudian merangkul Lucas dan Marci secara bersamaan.


Sadar dengan kode yang diberikan Justin membuat Lucas segera berpamitan, “Kami permisi dulu Yang Mulia” sambil berjalan mengikuti Pangeran Arthur dan juga Pendeta Damian.


“Kami juga permisi Yang Mulia” Ucap Jose dan juga Hansel yang ikut berpamitan pergi meninggalkan Raja Louise sendiri.


Setelah semuanya pergi, Raja Louise lantas masuk ke dalam taman untuk melihat kondisi Eden, ia mendapati Eden sedang duduk meringkuk sendirian berselimutkan jubah putih milik Pendeta Damian, melihat hal ini lantas membuat Raja Louise memanggil nama Eden untuk memastikan keadaannya, “Eden..” panggilnya pelan, namun Eden tidak merespon membuat Raja Louise terus berjalan mendekat, akan tetapi tiba-tiba lankahnya terhenti setelah mendengar Eden berbicara, “Berhenti, aku sangat malu untuk melihat wajah mu.. ah tidak bahkan wajah semua orang” ucapnya lirih dan terdengar lesu.


Mendengar ucapan Eden justru membuat Raja Louise tetap melangkah maju, ia mendekat kemudian menggendong tubuh Eden dalam tangannya, “Apa yang kau lakukan!” seru Eden meronta, ia tidak senang karena Raja Louise menggendongnya.


“Tutupi wajahmu, katanya kau sedang malu” sambil tersenyum dan sengaja tidak melirik ke arah Eden karena tak ingin semakin membuat Eden malu.


Spontan Eden menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Raja Louise, ia pun terdiam dan menurut akan dibawa kemana oleh Raja Louise, sedangkan Raja Louise berjalan menuju jalan Rahasia yang sebelumnya digunakan untuk membawa Eden menuju taman pribadinya.


“Kau pasti juga melihatnya” gumam Eden lirih, seolah menyerah atas rasa malu yang tengah menghinggapi dirinya.


“Tidak, aku, bahkan kami tidak melihat kondisi dirimu, hanya Pendata Damian yang membantumu keluar dari situasi menegangkan tadi” ucap Raja Louise yang terus berjalan hingga sampailah pada sebuah persimpangan, ia pun memilih jalan yang berbeda dari sebelumnya mereka lewati.


“Aku akan membawamu ke tempat lain agar kau menjadi lebih tenang, karena kau sudah berhasil menghancurkan kamar pribadi ku, kamar pribadi Raja The Great Aztec” ucap Raja Louise sedikit tegas tapi di akhir dia tersenyum seolah sedang meledek Eden.


“Tapi benarkah sampai separah itu? Aku tidak ingat apa yang sudah kuperbuat” gumam Eden seraya menoleh ke arah Raja Louise, kini spertinya Eden sudah mulai lupa dengan kejadian dirinya tanpa busana.


“Beristirahatlah” Ucap Louise sambil medudukan Eden pada sebuah ranjang, tempat keduanya saat ini berada merupakan tempat Rahasia yang sebelumnya pernah mereka kunjungi saat Eden pertama kali kembali dari Assiria.


“Inii..” ucap Eden yang juga mengingat tempatnya berada saat ini.


“Benar, aku ingin kau merasa tenang jadi aku membawa mu ke sini” ucap Raja Louise sambil membuka lemari lalu melemparkan beberapa pakaian miliknya yang pernah ia tinggalkan di dalam tempat rahasia ini.


“Pakailah, aku akan keluar sebentar untuk mengambil makanan” ucap Raja Louise kemudian menutup pintu meninggalkan Eden sendiri.


Segera setelahnya Eden pun memakai pakaian yang diberikan oleh Raja Louise, setelah selesai memakai semuanya Eden baru menyadari bahwa pakaian ini berukuran sangat besar, alhasil tubuhnya tenggelam karena pakaian yang sedang ia kenakan.


“iya sih ini pakaian tapi bukankah ukurannya terlalu besar” tiba-tiba mengeluhkan ukuran pakaian yang ia kenakan. “Aku rasa tidak perlu memakai celana ini, pinggangnya sangat besar, kemeja ini sudah cukup menutupi tubuhku, lagi pula ini musim panas, sudah lama aku tidak mengenakan pakaian santai seperti ini” ucap Eden sambil melepas celana lalu duduk di atas kasur, kemudian merebahkan badannya, “ya sudah lama sekali, sejak aku tinggal di sini semua pakaian harus tertutup” imbuhnya melanjutkan, sambil mengingat-ingat awal mula ia datang ke The Great Aztec. “Aku ingin kembali pada kehidupan ku yang dulu, aku rindu sekolah, rumah dan entah kenapa aku jadi merindukan Nathan, apakah dia baik-baik saja? Adel bilang keluarganya tiba-tiba pindah.. kapan lagi kami bisa bertemu, aku bahkan tidak sempat mengucapkan salam perpisahan” gumam Eden seraya menghela nafas menandakan tubuhnya mulai merasa lelah.


“Kau ingin bertemu siapa?” seru Raja Louise yang berjalan mendekati Eden sambil membawa keranjang berisi makanan lalu meletakkannya di atas meja sambil membersihkan kursi yang ada didekat meja tersebut.


Mendengar suara Raja Louise lantas membuat Eden buru-buru bangkit kemudian mendekat dan duduk pada kursi yang telah dibersihkan oleh Raja Louise. Tanpa dipersilahkan Eden langsung membuka keranjang lalu mengeluarkan isinya satu persatu, terdapat roti, selai, buah dan juga air minum.


“Apakah hanya ini yang bisa diberikan oleh Raja The Great Aztec.. ku pikir dia kaya ternyata tidak lebih pelit dari Marco” ucap Eden seraya mengoleskan selai pada roti kemudian menggigitnya, ia secara sengaja melontarkan sindiran pedas pada Raja Louise.


Melihat Eden yang terlihat lahap membuat Raja Louise berusaha ingin merebut roti yang sedang dipegang oleh Eden, “Kalau begitu kembalikan” Ucapnya ketus mencoba meraih roti, akan tetapi Eden berhasil menghindar dan menyembunyikan roti buatannya, “tidak.. tidak.. roti ini merupakan berkah dari Raja, terimakasih sudah memberikannya pada hamba Yang Mulia” ucap Eden dengan bahasa formal pada Raja Louise agar ia berhenti merebut makanan miliknya.


Raja Louise duduk di sebelah Eden, ia ikut memakan roti yang ada dihadapananya, sepertinya ia sendiri juga lapar karena seharian menunggu Eden di luar taman pribadinya.


“Jadi siapa yang ingin kau temui” mendadak Raja Louise kembali menanyakan sosok yang ingin ditemui oleh Eden.


Takut bahwa Raja Louise akan marah membuat Eden menjawab sedikit berkelit, “Eheem... itu


teman lama.. seseorang yang tinggal jauh di luar sana” sambil menggingit roti yang ada di tangannya.


“Apakah dia seorang pria?” tanya Raja Louise yang masih penasaran dengan sosok yang ingin ditemui Eden, akan tetapi Eden tidak menjawabnya.


“Dari ekspresi wajahmu, sepertinya orang itu adalah pria.. kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” Raja Louise mulai menunjukkan rasa cemburu dengan mencecar Eden melalui beberapa pertanyaan.


“Untuk apa saya menceritakan hal sepele seperti itu pada seorang Raja yang sudah memiliki banyak pekerjaan dan urusan penting yang berkaitan dengan negara” ucap Eden seraya mengambil air kemudian meminumnya.


“Lantas, kenapa kau tidak menanyakan hal sebaliknya mengenai masa lalu ku?” tanya Raja Louise kemudian merebut air minum yang berada dalam genggaman tangan Eden.


“Tanpa bertanya pun bukankah sudah jelas seperti apa masa lalu anda, di wilayah ini siapa yang tidak mengenal anda sang tirani kejam yang tidak segan mengayunkan pedang bahkan pada seorang wanita sekalipun” Eden menjawab Raja Louise dengan santai, bahkan saking santainya sampai membuatnya tidak sadar bahwa ucapannya mungkin telah menyinggung Raja Louise, apalagi masalah menebas seorang wanita ia pernah menyaksikan sendiri tanpa memberitahukan hal tersebut pada Raja Louise ( baca episode 13), perlahan Eden pun menoleh ke arah Raja Louise lantas tersenyum canggung.


“Sepertinya aku perlu mengkonfirmasi sesuatu, jadi dari siapa kau mengetahui bahwa aku pernah menebas seorang wanita? Atau kau pernah melihatnya sendiri? Katakan padaku” Raja Louise mendesak Eden supaya menjawab pertanyaannya.