LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Pertemuan dengan Arthur



sementara itu, Eden Marco dan Justin tengah berada di kursi penonton untuk melihat pertunjukan.


pertunjukan pembuka pun di mulai dengan tari-tarian dan juga lagu-lagu yang menghibur dari orkestra.


semua penonton begitu senang dan bahagia melihat jalannya pertunjukan.


15 menit berlalu, pertunjukan utama akan di mulai.


pemain biola terkenal yang bernama Arthur memasuki gedung pertunjukan.


paras tampannya membius mata setiap penonton wanita, bahkan kaum laki-laki pun mengakui kharisma dari pemain biola tersebut.


ia berdiri di tengah panggung, menyapa para penonton yang hadir kemudian mulai memainkan biolanya.


kira-kira 2 lagu telah ia mainkan, Arthur kemudian kembali berbicara di hadapan penonton.


ia menceritakan sebuah kisah yang amat menarik dimana ia bercerita telah kehilangan seorang sahabat terdekat nya beberapa waktu lalu.


Arthur bercerita bahwa ia sempat bertemu dengan sesosok yang mirip dengan sahabatnya saat dalam perjalanan diplomatik di salah satu wilayah another world.


namun sayangnya baik Arthur dan sahabat nya itu tidak saling mengenali, Arthur sadar ketika sahabat nya itu telah pergi jauh.


Arthur menutup ceritanya dengan mempersembahkan sebuah lagu untuk sahabat nya itu dan tak lupa ia menyebutkan namanya,


"sebuah lagu yang akan ku persembahkan untuk sahabat ku Eden"


ucap Arthur di sambut sorakan dan tepuk tangan para penonton.


Eden yang duduk di kursi penonton tiba-tiba merasa tak asing dengan suara si pemain biola, ia mencoba mengingat kembali seperti pernah bertemu dengan pemilik suara tersebut di suatu tempat.


tak lama kemudian Eden mengingatnya, mereka pernah bertemu di perbatasan wilayah Hibrid.


tekat Eden sudah bulat, ia akan menemui si pemain biola setelah pertunjukan selesai, untuk itu Eden meminta izin akan pergi ke toilet kepada Marco dan Justin.


"aku rasa aku harus pergi ke toilet"


ucap Eden berbisik pada Justin sambil menggaruk bagian belakan kepalanya


"baiklah tap kau harus segera kembali, bila tersesat carilah jalan keluar tempat pertunjukan dan tunggu kami di halaman depan"


ucap Justin mengizinkan Eden untuk pergi.


Edenpun mengangguk seolah setuju dengan Justin, iapun berdiri lalu berjalan pelan sambil mengenakan mantelnya.


Eden melewati kerumunan orang yang telat masuk ke dalam gedung, tak sengaja ia berpapasan dengan Chris dan Cecilia, awalnya Cecilia tak sadar namun ia kemudian merasa seperti melihat Eden dengan rambut berwarna pirang.


Cecilia menoleh dan mencoba untuk mengejar wanita yang ia lihat tadi, Chris yang melihat Cecilia berputar arah kemudian mengejarnya.


Cecilia yakin bahwa orang tersebut adalah Eden, dari kejauhan ia melihat seorang wanita dengan rambut berwarna pirang yang tepat berjalan di depannya, dengan sigap Cecilia menyentuh pundak wanita tersebut dan mencoba membalikkan badannya,


"nona Eden"


ucap Cecilia


si wanita menoleh namun dia hanyalah orang asing yang memiliki rambut berwarna pirang.


Cecilia terburu-buru meminta maaf pada wanita tersebut.


"ahh maaf aku salah orang"


ucapnya sambil menundukkan kepala.


Chris pun mendapati raut wajah Cecilia yang terlihat kecewa, Chris mengerti mungkin saja Cecilia sangat mengkhawatirkan Eden sehingga ia merasa melihat sosok yang mirip dengan Eden di dalam kerumunan orang tadi.


Chris kemudian mengajak Cecilia untuk duduk di bangku penonton, dan kebetulan yang tidak di sengaja, kursi mereka tepat berada di depan kursi Marco dan Justin duduk.


dengan tenang Cecilia dan Chris pun melihat jalannya pertunjukan.


(di sisi lain di waktu yang sama)


Eden terus berjalan melewati lorong-lorong dalam gedung pertunjukan, ia tetap waspada dengam sesekali mendengarkan pembicaraan penjaga yang lalu lalang dan tak sengaja mendengar tentang ruang khusus yang digunakan oleh si pemain biola.


kabarnya ruangan tersebut di jaga sangat ketat oleh para prajurit, namun Eden tak gentar dengan penjagaan yang begitu ketat.


ia kemudian dengan hati-hati berjalan menuju ruangan si pemain biola.


setelah 10 menit berjalan, Eden menemukan sebuah ruangan dengan beberapa lapis penjagaan,


'itu dia'


gumam Eden dalam hati.


untuk memuluskan aksinya, Eden berjaga dan mengawasi situasi sampai penjagaan lengah..


sebuah ide muncul dalam pikirannya, saat tengah mengawasi ia melihat beberapa pelayan yang lalu lalang, awalnya Eden mengira pelayan tersebut hanya mondar-mandir saja namun sebenarnya pelayan tersebut tengah berganti pakaian.


ia pun mengetahui bahwa ada ruang pelayan yang tak jauh dari ruangan si pemain biola.


Eden pun menunggu hingga ruangan tersebut kosong lalu masuk dan berganti pakaian pelayan.


setelah selesai mengganti pakaian, ia keluar dan tak sengaja bertemu dengan oelayan lain,


"hei berhenti!"


seru seseorang pada Eden, tubuhnya menjadi kaku karena takut ketahuan.


perlahan ia membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pelayan lah yang memanggilnya barusan,


"ini bawalah ke ruang pangeran Arthur"


sambil memberikan nampan dengan teko dan gelas diatasnya.


si pelayan tak sadar bahwa Eden sedang menyamar, untuk itu Eden pun tersenyum dan menundukkan kepala seolah menandakan ia akan melaksanakan tugas.


rencana yang sempurna, sebuah kebetulan yang menguntungkan Eden karena kini ia bisa berpura-pura membawa minuman dan menuju ke ruang si pemain biola.


ia pun sampai namun salah seorang prajurit sedikit ragu dengan kedatangan Eden.


ia kemudian mendekati Eden dan bertanya,


"pangeran Arthur tak meminta air minum!"


ucap si prajurit sedikit galak pada Eden


namun prajurit lain menyangkal ucapan tersebut,


" hei.. di dalam ruangan pangeran Arthur tidak ada minuman sama sekali, kau jangan bertindak rasis hanya karena dia orang The Great Aztec lalu ingin memperlakukan nya semena-mena, beliau adalah seorang pangeran!"


seru si prajurit memarahi tindakan yang tidak benar.


karena hal tersebut lah membuat si prajurit membukakan pintu dan membiarkan Eden masuk.


setelah melewati pintu, Eden sedikit kebingungan karena begitu banyak pintu di dalam ruangan tersebut, ia kemudian mengintip satu persatu pintu dan menemukan sebuah ruangan dengan kotak biola di atas kursi.


ia masuk ke dalam ruangan dan meletakkan minuman yang ia bawa pada sebuah meja.


Eden kemudian melepas baju pelayan yang ia kenakan lalu bersembunyi di salah satu sudut ruangan.


'cklek'


suara pintu terbuka, Arthur masuk keruangan dan mendapati ada teh yang masih panas di meja.


ia kemudian menutup pintu, mendekat ke arah teh tersebut dan berkata,


"keluarlah, aku tau ada yang bersembunyi di dalam ruangan ini"


Eden kemudian menampakkan dirinya, ia menggunakan mantel dan cadar untuk menutupi sebagian wajahnya.


"kau penyusup, penguntit atau kau hanya orang yang penasaran?"


tanya Arthur dengan tenang sambil duduk di kursinya.


Eden tak menjawab pertanyaan Arthur, Arthur sadar bahwa orang yang di hadapannya bukanlah orang yang berbahaya, ia kemudian lanjut bertanya,


"jadi kau orang yang penasaran ya, jika kau ingin aku menjawab rasa penasaran mu maka bukalah penutup kepala dan juga cadar mu" ucap Arthur memberikan penawaran pada Eden.


Eden yang beberapa kali mendengar suara Arthur semakin merasa tak asing dengan sosok yang ada dihadapannya.


namun Eden tak bergeming, ia tetap berdiri tanpa melakukan tindakan apapun.


"baiklah kalau kau tidak mau, aku akan pergi karena masih ada banyak urusan"


sembari mengambil secangkir teh dan menyeruputnya perlahan.


Eden tak bisa menolak, ia begitu penasaran siapa orang yang ada di hadapannya.


dalam benaknya mungkin bisa saja si pemain biola adalah orang yang ia kenal dahulu dan dapat membantu memulihkan ingatannya, tapi di sisi lain ia juga berfikir bahwa mungkin saja orang yang ada dihadapannya adalah orang jahat.


setelah mempertimbangkan, Eden memutuskan untuk mengikuti permintaan Arthur.


Eden melepas penutup kepala dan cadarnya, ia merapihkan rambut pirangnya dengan mengurainya ke arah belakang menggunakan tangannya.


Arthur tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya, ia benar-benar mengenali wajah Eden meskipun rambutnya berwarna pirang.


"kau mengenaliku?"


ucap Eden.


Arthur kemudian meletakkan gelas dan berdiri untuk menghampiri Eden, langkahnya terburu-buru, Arthur langsung memeluk Eden,


"Eden"


memeluk erat dengan mata yang berkaca-kaca.


Eden yang terkejut berusaha melepaskan pelukan Arthur namun tidak bisa,


"meskipun rambutmu berbeda aku dapat mengenali dirimu, bagaimana ini bisa terjadi bahkan kau tak mengingat ku"


ucap Arthur sembari melepaskan pelukannya terhadap Eden.


"ayo kita pulang ke Aztec"


ucap Arthur sembari memegang tangan Eden.


Eden kemudian melepas cengkraman tangan Arthur dan berkata,


"tunggu dulu, mungkin kau salah orang. bisa saja kami hanya mirip"


"tidak, kau adalah Eden kami.. kau adalah wanita nomor satu di Aztec"


jawab Arthur


"kalau begitu katakan apa yang membuat mu yakin bahwa aku dan Eden adalah orang yang sama.."


ucap Eden merespon Arthur


"rambut asli mu berwarna merah, karena tidak ada yang memiliki warna rambut itu selain kau bahkan di seluruh wilayah another world ini"


imbuh Arthur yang membuat Eden sedikit terkejut, Eden kemudian mencoba menyangkal lagi,


"maaf tuan tapi warna rambut ku adalah pirang, maaf aku telah salah menduga bahwa kau adalah orang yang ku kenal"


ucap Eden sedikit canggung kemudian berbalik arah


"laulna"


ucap Arthur,


"Laluna, itukah nama baru mu? aku tidak memaksa mu untuk mengingatnya tapi percayalah aku adalah orang baik, jika kau tidak dapat menemukan ingatan mu maka aku bersedia membantu mu"


ucap Arthur memberikan penawaran


Eden kemudian berjalan menuju pintu, dari luar terdengar suara prajurit yang ingin memeriksa ruangan


"pangeran, ijinkan kami masuk"


teriak seorang penjaga dari luar pintu


Arthur tak menjawab yang membuat prajurit kembali berbicara,


"ada seorang penyusup yang bersembunyi, kami harus memeriksa ruangan anda"


imbuh si penjaga menjelaskan situasi.


Arthur kemudian merespon, ia menjawab prajurit yang ada di luar,


"tak ada orang lain selain diri ku di dalam ruangan ini"


mendengar hal tersebut tak membuat prajurit langsung percaya begitu saja, para prajurit bersikeras untuk menerobos masuk, namun Arthur tetap tidak mengizinkan.


keributan di depan ruangan pangeran Arthur menyebabkan raja Noah terpancing untuk mendekat, ia kemudian berbicara dari luar ruangan,


"pangeran Arthur hamba adalah Noah, maaf atas kelancangan prajurit Assiria, dengan segala kerendahan hati hamba meminta pangeran Arthur untuk membuka ruangan dan mematuhi prosedur di Assiria"


Arthur terdiam mendengar Noah berbicara, ia tak bisa menolak.


melihat situasi yang semakin mendesak Eden lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, ia menemuka jendela, tanpa berpikir panjang ia pun langsung saja melompat keluar tepat setelah Arthur membuka pintu ruangan.


raut wajahnya begitu jelas kecewa, kali ini Arthur tak bisa membawa Eden pulang meskipun ia tepat dihadapannya.


namun di sisi lain Arthur merasa cukup lega karena ia telah berhasil meyakinkan Eden tentang jati dirinya.


Arthur yang memahami Eden berpikir bahwa mereka mungkin akan bertemu lagi nanti..