LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Hari Pertunangan



“Nona, kita harus segera pergi” ucap Cecilia mengajak Eden menuju altar pohon suci.


“Baiklah..” jawab Eden seraya bangkit dari tempat duduk dan sesekali menghela nafas agar menjadi lebih tenang.


Cecilia, Adel, Kate, Diana, Laura, Justin, Lucas dan Marco berjalan beriringan mendampingi Eden menuju altar, raut wajah senang tampak dari rekan-rekan Eden yang juga ikut merasakan kebahagiaan hari ini.


“Ah.. ngomong-ngomong aku tidak melihat Chris” ucap Eden seraya menoleh ke arah Cecilia yang berjalan tidak jauh darinya.


“Maaf hamba lupa memberitahu, tiba-tiba saja Chris ditugaskan untuk mengantarkan Pangeran Alejandro menuju Istana Bulan” jawab Cecilia kemudian sedikit mendekat pada Eden agar suaranya lebih terdengar.


“Pangeran? Pangeran siapa?” tiba-tiba menghentikan langkah kaki dan berbalik arah menghadap Cecilia.


“ahhh sepertinya Raja Louise dan Pangeran Arthur belum memberitahu anda. Pangeran Alejandro adalah putra dari Raja Oscar, beliau merupakan sepupu dari Raja Louise dan Pangeran Arthur” tutur Cecilia menjelaskan gambaran umum mengenai hubungan keluarga Kerajaan.


“Tunggu dulu, sepertinya aku ingat sesuatu. Ahh benar, aku pernah membacanya dalam buku silsilah keluarga Kerajaan The Great Aztec. Jadi dia benar kembali? Kalau begitu apakah dia akan tinggal di sini juga?” kembali menghadap ke depan lalu melanjutkan langkah kakinya.


“Hamba tidak yakin dengan hal itu nona” ucap Cecilia yang kembali berjalan mengikuti Eden.


Setelah itu tidak ada percakapan yang terdengar, mereka terus berjalan dan telah sampai di taman utama Kerajaan, tidak sengaja melihat Chris dari kejauhan membuat Eden memilih untuk lewat jalan tengah dan menghampirinya.


“Chris!” Seru Eden seraya tersenyum dan berjalan mendekati Chris.


Mata Alejandro dan mata Eden saling bertemu dan membuat keduanya sama-sama terkejut melihat satu sama lain.


“Eden?!” ucap Alejandro.


“Nona Eden, maaf hamba lupa berpamita...” Chris belum selesai berbicara tiba-tiba Eden memotong dengan berseru memanggil nama seseorang.


“Nathan?!” Ucap Eden seraya berjala melewati Chris kemudian mendekati Alejandro.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eden pada Alejandro seraya memegang tangannya.


“Nona?! Apa yang anda lakukan? Anda berjalan sangat cepat sampai kami tertinggal jauh, anda bisa terlambat” dengan nafas tak beraturan Cecilia berusaha sekuat tenaga mengejar Eden yang tiba-tiba berjalan melalui jalur tengah.


“Nathan?” ucap Adel yang mengikuti Cecilia berjalan mendekat.


“Benar kau Nathan. Bagaimana bisa kau berada di sini?” seraya berjalan mendekat pada Alejandro.


“Sepertinya kita harus menyudahi pertemuan ini, Pangeran harus beristirahat di Istananya” ucap Chris menghentikan Eden dan Adel agar tidak terus bertanya pada Alejandro.


“Pangeran?!” seru Eden dan Adel secara bersamaan karena terkejut mendengar Chris memanggil Nathan dengan panggilan Pangeran.


Melihat tingkah kedua temannya tersebut membuat Alejandro tersenyum kecil, ia lantas segera memperkenalkan diri dihadapan Eden dan Adel, “Aku tahu mungkin ini terlambat tapi izinkan kau memperkenalkan diri pada kalian, namaku Alejandro Nicholas Louvian senang bisa bertemu kalian di


sini” mendengar salam perkenalan dari Nathan dengan nama khas seorang Pangeran membuat Eden dan Adel tidak berkata apapun, saking terkejutnya bahkan tanpa sadar kedua mulut mereka menganga.


“Hei kau bercanda?” ucap Eden seraya memukul pundak Nathan seolah tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.


“Iya.. mana mungkin kak Nathan adalah seorang Pangeran, kau pasti bercanda kan?” ucap Adel yang turut menyangkal perkenalan Alejandro.


“Kalau aku bercanda lalu apakah kalian juga sedang bercanda?” balik bertanya pada Eden dan Adel seraya menyilangkan kedua tangan.


“Ah benar..! aku tidak sedang bercanda, maaf aku sedang terburu-buru kita lanjutkan nanti” ucap Eden yang lantas berjalan meninggalkan Alejandro.


“Tunggu kami!” ucap Adel sedikit seolah memberikan ancaman kemudian berlalu pergi meninggalkan dirinya juga.


“Memang mereka sedang apa, kenapa terburu-buru sekali sih” gumam Alejandro .


“Pertunangan. Acara itu diadakan hari ini, dan mempelainya adalah nona Eden” ucap Chris pada Alejandro yang membuatnya seketika menatap ke arah Chris.


“Apa?! jadi Eden adalah calon istri kakak? Ah tidak maksudku Raja Louise?!” seru Alejandro yang terkejut dengan penuturan Chris barusan, ia lantas berbalik arah berusaha mengejar akan tetapi Chris menghalangi jalannya.


“Sudah terlambat Yang Mulia, lebih baik anda beristirahat di Istana Bulan” ucap Chris seraya memblokir jalan Alejandro.


“Menyingkirlah!” ucap Alejandro seraya melemparkan tatapan mata tajam pada Chris.


“Maaf Yang Mulia, anda tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini. Anda sudah terlambat” ucap Chris kembali mencegah Alejandro untuk pergi. Bukannya menuruti, Alejandro justru terprovokasi oleh ucapan Chris hingga menyebabkan ia mencengkeram erat baju Chris. Akan tetapi tiba-tiba saja Alejandro melepas cengkraman tangannya dan lantas menyentuh pelipis kanan kemudian berbicara, “Kenapa? Kenapa sejak awal kau tidak memberitahukannya padaku? Kenapa?” ucap Alejandro seraya membuang muka dan tidak menatap Chris.


“Hamba akan mengantar andan ke Istana Bulan”


Setelah itu Alejandro pun kembali ke Istana Bulan, mau tidak mau ia harus menghormati acara pemberkatan pertunangan ini dengan datang langsung mengikuti prosesinya. Baginya Eden adalah sosok orang terdekat


selama ia tinggal di kota Thalsa, semenjak Eden menghilang tahun lalu, Alejandro seperti tak punya arah dan tujuan untuk hidup, ia sempat mengalami frustasi kala itu.


Suara bel terdengar beberapa kali tanpa ada seorangpun yang membukakan pintu, orang yang menekan bel adalah Alejandro, sudah hari ke 4 dia berkunjung ke rumah Eden, namun tidak ada seorangpun yang berada di rumah. Beberapa hari ini dia tidak pernah melihat Eden, di sekolah sosoknya tidak muncul bahkan ia sampai bertanya pada wali kelas namun tidak diberikan jawaban pasti mengenai Eden. 3 hari kemudian, Adel kembali ke rumah lamanya sendirian karena kedua orang tuanya memiliki urusan di tempat yang jauh, setidaknya begitulah yang ia dengar dari paman Jason. Semakin hari kondisinya semakin melemah, mungkin ini salah satu efek yang ditimbulkan dari perpisahan dirinya dengan Eden, tiap malam ia menangis sendiri tanpa tahu sebabnya.


“Kenapa rasanya sakit sekali?” gumam Adel dalam hati seraya menyentuh dadanya seolah sedang menahan sesuatu.


Tak berselang lama, seseorang masuk ke kamar Adel melalui teras balkon kamarnya, sadar bahwa ada yang sedang menguntitnya membuat Adel terdiam sejenak, ia berpura-pura tidur akan tetapi waspada bila seseorang ini akan berbuat jahat pada dirinya. Seseorang itu adalah Chris, ia sengaja datang untuk mengantar Middlemist Camelia dan juga meninggalkan sepucuk surat yang ditulis oleh Eden. Chris sempat membuka pintu kamar untuk memastikan keadaan sekitar, akan tetapi ia mendapati rumah Adel sangat sunyi, seolah hanya Adel yang tinggal sendiri di rumah itu, akan tetapi ia hanya sekedar berasumsi dan tidak berani menyimpulkan sesuatu yang belum pasti. Segera setelah selesai memeriksa Chris lantas pergi melalui teras balkon, sadar bahwa orang asing telah pergi membuat Adel lekas bangkit, dengan tubuh lemah dan sedikit sempoyongan ia lantas meraih Middlemist Camelia beserta surat yang ditinggalkan untuknya.


Setelah selesai melaksanakan tugas yang diberikan, Chris lantas menyempatkan diri untuk menengok Alejandro, ia kembali terkejut mendapati kondisi sang majikan tampak menyedihkan. Hatinya ikut merasa sakit menyaksikan hal ini dan malam itu ia berbicara pada kedua pelayan yang bekerja di rumah Alejandro untuk membawanya pergi dari rumah itu dan tinggal di tempat yang baru. Bahkan keesokan harinya Chris masih tetap tinggal untuk mengurus segala keperluan pindah, sedangkan Alejandro sama sekali tidak tertarik dengan segala tindakan Chris dan memilih untuk menurutinya. Chris hanya ingin melihat Alejandro menjalani hidupnya di kota Thalsa dengan tenang, bukan seperti saat ini, dan Chris tahu benar penyebab sang majikan sampai seperti ini karena Eden. Bagi Chris pada waktu itu tidak ada pilihan lain selain tetap membiarkan


Alejandro tidak mengetahui keberadaan Eden, karena dua pekerjaan yang sedang ia jalani menyebabkan Chris berusaha bersikap seprofesional mungkin dan tidak turut mencampuri urusan majikannya. Saat itu Chris bisa saja menjadi benang merah penghubung antara Alejandro dan Eden, namun urung ia lakukan.


***


Berkas yang ditandatangani oleh Raja Louise merupakan berkas penting dari 20 tahun yang lalu mengenai perjanjian lama antara Kuil Suci dan The Great Aztec. Perjanjian ini berisi point-point penting seperti mengenai kelanjutan pembangunan Kuil di pusat kota yang ditujukan bagi masyarakat The Great Aztec agar lebih mudah beribadah sekaligus tempat ini akan menjadi salah satu tujuan dari agenda wajib Sri Isaac Xavier dan Damian Xavier untuk berceramah. Lalu adapula penambahan point lain dalam perjanjian ini seperti


akan dibukanya pusat peribadatan dalam Istana The Great Aztec yang sempat ditutup selama 20 tahun imbas dari hubungan yang sempat memanas antara raja terdahulu dengan Sri Isaac Xavier. Point lain yang tak kalah penting adalah mengenai kesatria terpilih yang juga dimasukkan dalam dokumen perjanjian, di mana tertulis bahwa kesatria terpilih dapat pergi kapan pun dan kemanapun bila itu berkaitan dengan tugas melindungi wilayah, point ini sengaja ditambahkan karena Damian tahu kedepannya Eden akan sedikit kehilangan kebebasan setelah resmi naik takhta sebagai Ratu The Great Aztec.


“Kerja bagus.. terimakasih atas bantuan mu” ucap Damian seraya menepuk pundak Pangeran Arthur.


“Tugas kecil seperti ini saya bisa menyelesaikannya dengan baik” sedikit bangga atas keberhasilan dirinya mengabulkan permintaan Damian.


“Aku akan menyimpan dokumen ini” ucap Damian seraya menggunakan sihir suci dan membuat dokumen itu hilang begitu saja.


“Ngomong-ngomong, apa yang akan anda lakukan dengan dokumen itu?” tanya Pangeran Arthur yang penasaran dengan tujuan Damian meminta dokumen lama.


“Kau anak muda tidak perlu tahu urusan orang tua seperti ku” ucap Damian seraya melempar tatapan mata tajam.


“Ah begitu, biar bagaimapun ini memang urusan anda, oh iya sebaiknya kita harus segera menuju altar, karena anda yang akan memimpin pemberkatan hari ini” ucap Pangeran Arthur mengingatkan Damian dan segera setelahnya keduanya pergi menucu altar pohon suci.


(Altar pohon Suci)


Beberapa orang khusus yang diundang telah berkumpul untuk menyaksikan prosesi pemberkatan ini, atas permintaan Eden ia hanya menginginkan orang-orang tertentu yang diundang dalam acara sakral ini termasuk Melisa, dan juga beberapa perwakilan pejabat negara. di ujung podium, Damian telah berdiri menunggu kedua pasangan untuk berjalan menuju podium. Saat berjalan menuju ke podium jantung Eden berdegup kencang, dan tangannya sedikit bergetar saat menggandeng siku Raja Louise, mendapati hal ini membuat Raja Louise lantas menyentuh tangan Eden dan sedikit berbisik, “Tenanglah, kau bersamaku” seraya


menatap Eden lalu dibalas senyuman oleh Eden. Kini upacara pemberkatan pertunangan berlangsung dengan khidmat, keduanya secara bergantian memasang cincin pada jari manis dan setelahnya Raja Louise juga Eden telah resmi menjadi sepasangan kekasih yang tentunya akan melanjutkan pada jenjang pernikahan nanti. Suara tangis haru terdengar dari Adel dan juga Cecilia yang ikut menyaksikan prosesi itu, mereka ikut merasakan kebahagiaan, tak terkecuali rekan-rekan Eden yang lain mereka pun turut senang telah menjadi saksi pada upacara ini. Setelah selesai, keduanya berjalan melewati tamu undangan menuju kereta, setelah ini mereka akan pergi menuju Istana utama untuk menyapa rakyat yang telah menunggu Raja Louise dan Eden di gerbang utama. Sepanjang perjalanan menuju Istana utama, Louise tidak melepaskan genggaman tangannya terhadap Eden, bahkan sesekali mengelus-elus telapak tangannya, terlihat jelas bahwa Raja Louise sangat mencintai tunangannya. Sesampainya di Istana Utama, Raja Louise dan Eden berjalan menuju balkon, balkon ini diperuntukan bagi keluarga Kerajaan yang akan menyapa dan melihat rakyat secara langsung pada moment-moment tertentu seperti saat ini. Sesampainya di pintu menuju balkon keduanya keluar secara bersamaan dan langsung disambut sorak sorai rakyat yang datang untuk melihat Raja dan calon Ratu mereka, untuk kedua kali dalam hidupnya Eden merasa bahagia mendapat sambutan dari banyak orang setelah sebelumnya mendapat sambutan yang sama saat berhasil melaksanakan misi di gunung Tarsa. Moment ini


merupakan salah satu moment bersejarah dalam 20 tahun hidupnya dan membuat Eden melambaikan tangan seolah menyapa rakyat yang ikut bahagia atas upacara pertunangannya.


“Haruskan kita berciuman?” Raja Louise berbisik pada Eden yang langsung direspon dengan sedikit menyenggol lengan Raja Louise seolah Eden tidak suka dengan tawaran Raja Louise tersebut.


“Jangan merusak moment bahagia ini” berbisik menolak tawaran Raja Louise.


“Kalau kita berciuman mereka semua akan tambah bersorak bahagia untuk kita” kembali berbisik, namun Eden malah melempar tatapan sinis pada Raja Louise.


“Ya.. Ya.. baiklah, lain kali saja” tiba-tiba merasa kalah dari Eden dan menerimanya begitu saja. Kurang lebih selama 30 menit keduanya berada di atas balkon, dan kini tiba saatnya untuk pergi mempersiapkan diri pada perjamuan nanti malam. Agenda yang telah dirancang oleh Jose cukup padat, yang sedikit merepotkan menurut Eden adalah harus menyapa para petinggi negara yang akan hadir nanti malam, ia harus mempersiapkan diri agar tidak mengacaukan acara perjamuan nanti.


(Istana Vie Rose)


Sesampainya di Istana Vie Rose Eden di sambut oleh rekan-rekannya yang sengaja menunggu di halaman depan untuk mengucapkan selamat. Meskipun lelah Eden tetap menyempatkan diri menemui mereka dan


memeluknya satu persatu, setelah itu Eden pun bergegas menuju kamar tidur, Eden meminta para pelayan untuk melepas gaunnya kemudian segera merebahkan tubuh di atas kasur.


“Aku lelah sekali” menghela nafas panjang dengan mata sayup-sayup kemudian terpejam.


“Nona! Bagaimana anda bisa tidur” suara kencang memecah suasana tenang yang hampir membawanya terlelap tidur, suara itu berasal dari Cecilia.


“Setidaknya biarkan aku tidur sebentar” ucap Eden seraya menutup kepalanya menggunakan bantal.


 


 


“Tidak bisa! Anda harus segera mandi dan berdandan, persiapan untuk perjamuan malam nanti setidaknya membutuhkan waktu 3-4 jam agar anda tampil dengan sempurna” sedikit berteriak memarahi Eden lalu mencoba menyingkirkan bantal yang menutup kepala Eden.


Sempat terjadi tarik menarik bantal antara Eden dan Cecilia, kejadian ini berlangsung selama beberapa menit dan hasilnya Cecilia yang kalah karena ia tidak berhasil menarik bantal tersebut.


“Baiklah. Saya akan membiarkan anda hanya 30 menit, ingat nona 30 menit!” seru Cecilia segera berjalan pergi keluar dari kamar Eden.


“Ternyata sangat melelahkan.. tunggu, Nathan. Haruskah aku pergi menemuinya?” gumam Eden seraya membuka bantal dan lantas mengenakan pakaian luar yang ringan. Tidak lupa ia juga mengunci pintu dari dalam agar Cecilia tidak bisa masuk sebelum ia kembali, Eden pun keluar kamar melalui balkon dan menuju Istana Bulan.


Saat tengah berjalan mengendapendap, tidak disangkan beberapa orang memergokinya sedang bersembunyi, orang ini adalah Diana, Kate, Laura dan Cecilia, sepertinya mereka tahu bahwa Eden mungkin saja akan membuat masalah sehingga mengantisipasi Istana bagian belakang dan benar saja mereka mendapati Eden yang berusaha kabur.


“bi.. biar ku jelaskan” sedikit terbata-bata karena dirinya terkepung.