LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Hutang



Dari dalam goa, Damian yang telah selesai beristirahat pun keluar untuk memeriksa keadaan di luar, ia mencium aroma sedap seperti ada sesuatu yang sedang di panggang dan ia terpaku pada apa yang sedang


dilakukan oleh Eden, menatapnya dalam diam seolah ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya mengenai darah, sebuah tragedi dalam ingatan Damian yang cukup mengerikan sontak membuatnya menatap Eden dengan serius.


Sedangkan Eden yang melihat Damian sedang berdiri menatapnya membuat tangannya spontan terangkat dan melambaikan tangan dengan senyum lebar seolah memanggil Damian untuk keluar. Melihat Eden yang


melambaikan tangan sontak membuat Damian berjalan mendekat, ia lantas duduk di sebelah Eden, keduanya kini sedang berada di bawah pohon sembari menunggu ikan yang sedang di panggang.


“Apakah anda suka makan ikan? Saya tidak tahu makanan kesukaan anda” seraya tersenyum melihat ke arah Damian kemudian membalik ikan yang sedang ia panggang menggunakan kayu. “Ah.. ini, berry liar, saya menemukannya saat sedang berjalan-jalan tadi” seraya mengulurkan daun yang berisi berry yang kemudian di terima oleh Damian.


“Apakah benar ini sebuah ruangan? Kenapa rasanya tidak berbeda dengan alam bebas? Anda sangat hebat Pendeta” ucap Eden yang kemudian sedikit menyenggol siku Damian.


“Eden..” Damian menyebut nama Eden dan menatapnya serius.


“Iya? ” jawab Eden menoleh ke arah Damian yang saat ini sedang menatapnya serius, sejujurnya Eden merasa sedikit tidak nyaman, “Ada apa? kenapa anda menatap serius seperti itu? tidak seperti biasanya saja” sedikit tersenyum kaku kemudian memperhatikan ikan-ikan yang harusnya terpanggang dengan baik.


“Apa, apa isi perjanjian itu?” tanya Damian singkat dan tak sedetikpun mengalihkan pandangan matanya terhadap Eden.


“Perjanjian apa maksud anda?” seraya membalik ikan dan mengipasnya bebrapa kali menggunakan dedaunan berukuran sedikit besar.


“Pejanjian sesaat sebelum membuat ikatan dengan Naga Api, jadi apa yang kau korbankan sehingga Naga Api setuju membuat ikatan dengan mu?” kemudian meletakkan daun berisi berry karena ia sangat ingin tahu jawaban dari Eden.


“Kenapa Pendeta menanyakan hal itu? ini bukan sesuatu yang terlalu penting untuk diketahui” tanpa menoleh ke arah Damian, Eden menjawabnya dengan santai dan seolah tidak ingin memberitahukannya pada Damian.


“Tentu saja ini penting untukku” ucap Damian.


“Untuk anda sebagai seorang guru? Begitukan maksud anda?” sambil menoleh ke arah Damian dan mengoreksi ucapan Damian.


“Tidak, tentu saja untukku sebagai Damian bukan sebagai guru mu”


“Pendeta, mendengar ucapan anda saya bisa menjadi salah paham” sedikit tertawa kecil kemudian melanjutkan proses memanggang.


“Hentikan ini dan jawablah aku” ucap Damian seraya meraih kedua tangan Eden dan mengarahkan tubuhnya agar menghadap dirinya. “Jawablah dan jangan coba menyangkal” kembali menatap Eden dengan serius.


Pertanyaan Damian barusan sempat membuat pertahanan diri Eden runtuh, ia tidak bisa menutupi hal yang selama ini ia sembunyikan pada seorang Pendeta Suci seperti Damian.


“Jiwa, saya menyerahkan jiwa saya”


Jawaban Eden sontak membuat Damian terhenyak mendengarnya, yang ia tahu seharusnya untuk memperkuat portal pelindung adalah dengan melindunginya bersama dengan 6 kesatria pendamping.


“Dibanding mengorbankan rekan-rekan, lebih baik saya sendiri yang berkorban. Untuk apa menjadi 6 kesatria pelindung dan mengorbankan jiwa? mereka tidak perlu sampai seperti itu pada negara yang tidak ramah


terhadap mereka, bahkan sejak lahir sudah tersemat dalam nama mereka sebagai budak. Saya rasa istilah ‘berkorban demi negara’ tidak berlaku bagi enam rekan saya”  imbuh Eden memperjelas alasan mengapa ia memilih untuk mengorbankan nyawanya sendiri.


“Adakah orang yang tahu soal ini?” Tanya Damian pada Eden yang di jawab dengan gelengan kepala, “Hanya anda” tutupnya seraya melihat ke arah Damian kemudian menundukkan kepala.


Melihat keberanian Eden yang begitu besar sontak membuat Damian mengelus-elus rambut Eden perlahan, “Kau ternyata sudah dewasa, sekarang tidak ada yang perlu diragukan lagi, kau memanglah seorang kesatria


yang hebat” ucap Damian seraya tersenyum pada Eden, sedangkan Eden menoleh ke arah Damian dan membalas senyumannya.


“Ah.. ikannya gosong” seru Eden seraya mengangkat ikan-ikan yang warnanya hampir gelap.


“Kau yang menangkap semua ini?” tanya Damian yang baru sadar bahwa ikan tangkapan Eden lumayan banyak.


“Ya tentu saja, pekerjaan semacam ini serahkan pada saya, silahkan” Eden menjawab Damian sambil memberikan dua ekor ikan matang yang ditusuk menggunakan kayu. Siang itu keduanya makan dengan lahap sampai perut mereka kenyang, karena siang hari yang terik tidak ada latihan makan Damian mengajak Eden untuk berkeliling sekali lagi melihat-lihat karya ciptaannya.


“Saya penasaran sejauh mana batas ruangan yang anda ciptakan ini?” tanya Eden yang berjalan beriringan dengan Damian.


“Tidak terbatas, kau tahu? saat kita baru datang ruangan ini belum selesai, baru sekitar 70% ku buat. Waktu itu aku harus pergi karena kau sedang kehilangan kendali dan semalam aku sudah menyempurnakannya menjadi 100%” jawab Damian seraya melihat jauh kedepan, keduanya sedang berjalan menyusuri hutan.


“Benarkah? Tapi saat pertama kali datang ke sini, ruangan ini tampak seperti alam yang nyata, tidak ada kekurangan sama sekali. Anda sangat hebat Pendeta” ucap Eden memuji Damian seraya mengacungkan kedua jempol padanya.


Mendengar pujian Eden sontak membuat Damian tersenyum kecil, ia berusaha menutupi senyumannya itu agar tidak terlihat. “Kita hampir sampai di suatu tempat yang mungkin akan kau suka, di ujung jalan ini tempat yang ku maksud” ucap Damian yang kemudian menunjuk ke arah depan.


“Benarkah?” seraya memandangi jauh ke depan Eden kemudian melihat ujungnya, segera setelahnya ia pun berlari kencang untuk melihat tempat apa yang dimaksud oleh Damian.


“Hei.. jangan berlari, kau bisa jatuh” seru Damian mencoba mengingatkan Eden agar tidak terburu-buru, akan tetapi peringatannya ini tidak di indahkan oleh Eden sehingga membuat Damian menggelengkan kepala atas sikap sembrono Eden yang terkadang tidak terkendali hanya karena menyenangi sesuatu.


Eden dengan perasaan senangnya berlari menuju ujung jalan yang sedang ia tapaki tanpa menghiraukan Damian, ia dengan tega meninggalkan Damian sendiri dibelakangnya. Sesampainya di ujung jalan Eden dibuat takjub dengan pemandangan indah yang terlihat, hamparan kebun berisi berbagai macam bunga dengan warna berbeda sontak membuatnya takjub, ditambah saat ini masih bagian dari musim panas membuatnya merasa senang bukan kepalang. Ia kemudian berlari menusuri ladang bunga yang ada di sekitar seraya melompat, berlari dan sesekali memutar karena senang, tampak jelas senyum lebar terkembang dari wajah Eden saat itu.


***


“Nona, setidaknya makanlah sekali saja. Anda harus tetap sehat” seru Cecilia memarahi Adel yang sedari tadi diam seribu bahasa dan hanya duduk menatap tembok membelakangi Cecilia.


“Pergilah.. aku sedang tidak ingin bertemu siapapun” ucap Adel lesu, kemudian merebahkan badannya di lantai penjara.


Atas dasar inilah yang membuat Cecilia meminta bantuan Kate, Diana, dan Laura untuk secara bergantian mengunjungi Adel, bahkan dengan sengaja Cecilia membuatkan jadwal selama seminggu kedepan untuk


berkunjung. Rasa cemas yang melanda Cecilia tak langsung hilang begitu saja, sehingga ia merasa perlu untuk mendiskusikan sesuatu pada rekan-rekannya itu, dan kamar pribadinya dipilih untuk mendiskusikan masalah yang ingin ia sampaikan.


“Tujuanku mengumpulkan kalian di sini adalah selain membuat jadwal besuk aku merasa perlu mendiskusikan hal ini dan ingin meminta pendapat kalian untuk menindaklanjuti sesuatu. Dengarkan, beberapa waktu yang lalu, aku dan nona Adel sempat pergi ke Saint Mark Y Valiente dan nona Adel mengatakan padaku bahwa ia melihat seseorang yang ia kenal, wajahnya mirip dengan teman orang tuanya. Sebelum pergi kemarin Pangeran Arthur sempat menanyakan hal ini padaku, dan aku merasa harus mencari orang tersebut dengan bantuan kalian. Jika orang ini berhasil kita temukan maka dia bisa menjadi tersangka utama dan nona Adel akan dibebaskan, hal ini karena nona Adel memiliki separuh energi jiwa milik nona Eden” tutur Cecilia menjelaskan maksud dan tujuan mengumpulkan rekan-rekannya.


“Jadi maksudmu kita akan menjadikannya sebagai kambing hitam?” tanya Diana pada Cecilia.


“Kurang lebih seperti itu, karena jika seseorang yang bukan berasal dari wilayah ini bisa masuk dengan mudah bukankah ada keterlibatan orang dalam? Dan jika ini terbukti bukankah akan menjadi pukulan keras bagi organisasi Dewan Keamanan Wilayah karena tidak berhasil menjaga wilayah perbatasan?” imbuh Cecilia melengkapi argumennya.


“Waahh kau benar sekali, ini bisa dijadikan bumerang untuk mereka” seraya menepuk tangan sekali Kate seolah setuju atas rencana Cecilia.


“Tepat sekali. Kita harus ikut bergerak, semuanya tidak akan selesai jika kita hanya berdiam diri dan tutup mulut saja. Kita akan membantu rekan yang lain dengan cara kita sendiri” ucap Cecilia seraya mengepalkan tangan seolah telah membulatkan tekadnya.


“Tapi, kita bagaimana cara kita menemukannya? The Great Aztec kan sangat luas” ucap Laura sedikit mengernyitkan alisnya.


“Aku masih sedikit mengingat wajahnya dan dari pakaian yang ia kenakan terlihat sekali bahwa dia adalah seseorang yang kaya raya, akan tetapi bukan bangsawan, karena cara memakai pakaian yang ia pakai tidak


sesuai dengan aturan yang berlaku” imbuh Cecilia memberitahukan ciri-ciri orang yang akan mereka cari.


“Mungkinkah dia seorang pedagang?” ucap Kate seraya membuka telapak tangannya.


“Ahh kau benar, jika dia hanya menggunakan kain mahal tetapi tidak sesuai dengan aturan yang berlaku jika bukan seorang pedagang maka dia adalah orang kaya baru tanpa status sosial sebagai bangsawan” ucap Diana yang juga sadar mengenai ciri-ciri yang diberitahukan oleh Cecilia.


“Baiklah kalau begitu, kita sudah tahu harus kemana mencari, lalu setelah ini salah satu diantara kalian akan menemani ku untuk mencari pelukis terkenal di pusat kota, kita harus membuat sketsa wajahnya” ucap Cecilia yang mulai memberi perintah pada rekan-rekannya seraya berdiri mengajak salah satu rekannya.


“Aku akan ikut dengan mu” Ucap Diana mengacungkan tangan.


“Aku dan Laura sepertinya akan ke badan arsip negara dan badan pencatatan sipil untuk mencari inormasi lebih lanjut mengenai daftar orang yang mungkin saja sudah tercatat pada dokumen kedua lembaga tersebut” ucap Kate yang memberitahukan rencananya.


“Aku rasa kita tetap perlu memberitahukan kejadian ini pada Pendeta Damian, kita kirimkan pesan padanya dan biar beliau yang memutuskan akan membertitahu nona Eden ata tidak” ucap Cecilia seraya mengambil mantel yang ada di balik pintu.


“Ya aku setuju, setidaknya Pendeta lebih tau tindakan yang harus dilakukan setelah menerima pesan ini. Kalau begitu biar kami saja yang mengirimkan pesan” ucap Kate mengajukan diri.


“Baiklah kalau begitu, kita sudahi pertemuan hari ini dan kita akan bertemu lagi nanti malam” ucap Cecilia menutup acara pertemuan pribadi siang itu, segera setelahnya mereka melaksanakan tugas masing-masing.


Cecilia dan Diana berangkat menuju pusat kota untuk mencari pelukis terkenal yang memiliki kemampuan menggambar sangat tepat, mulai dengan bertanya pada seniman jalanan hingga penjual lukisan pada akhirnya mereka diarahkan untuk pergi menemui satu nama yaitu Richardo seorang seniman realis yang biasa menggambar potrait wajah para bangsawan. Sudah diputuskan, Cecilia dan Diana pun pergi untuk mencari Richardo sang seniman.


Kate dan Laura juga mulai bergerak dengan membagi tugas, Kate akan pergi ke Badan Arsip Negara sedangkan Laura akan pergi ke Badan Pencatatan Sipil, mereka akan mencari informasi pada masing-masing


lembaga dengan mencatat arsip-arsip penting yang berkaitan dengan orang yang sedang mereka cari, setelah itu informasi yang terkumpul akan mereka bawa untuk laporan rapat lanjutan nanti malam.


***


Perjalanan Pangeran Arthur, Alejandro, Lucas, Marco, dan Justin kin sudah melewati setengahnya, mereka tengah beristirahat di perbatasan antara Assiria dan Hibrid. Mereka menempuh perjalanan yang lebih


panjang dengan menapaki jalur darat mengingat mereka tidak bisa sembarangan membuka Gate ke negara lain tanpa seizin pemerintah setempat. Gate yang dimiliki tiap negara memiliki batasan tersendiri, kecuali Gate milik Eden, Sri Isaac Xavier dan Gate milik Damian Xavier. Mereka bertiga adalah orang-orang spesial yang memiliki kartu bebas akses di negara manapun sehingga dapat bepergian dengan cepat dan mudah menggunakan Gate.


“Perjalanan kali ini terasa sangat panjang, apa kau lelah?” tanya Pangeran Arthur pada Alejandro yang sedang duduk di bawah pohon, ia mendekat seraya memberikan minum pada adiknya itu.


“Ya sedikit, karena terbiasa menggunakan kendaraan saat tinggal di kota Thalsa sehingga membuat ku belum terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan menunggangi kuda” Alejandro menjawab sambil mengulurkan tangan untuk menerima air minum pemberian sang kakak.


“Sayang sekali ya, kau tidak bisa menikmati waktu santai mu, padahal belum genap seminggu kau sampai di The Great Aztec, tapi sudah harus bepergian sejauh ini” ucap Pangeran Arthur yang kemudian meneguk botol berisi air minum yang ia pegang di tangan kirinya.


“Tidak apa-apa kakak, aku merasa harus ikut dalam perjalanan kali ini sekaligus akan menagih hutang pada seseorang” ucap Alejandro sesaat setelah meneguk air minum yang diberikan oleh Pangeran Arthur.


“Hutang? Siapa yang berani  berhutang padamu?” tanya Pangeran Arthur yang penasaran dengan sosok yang sedang di bicarakan oleh Alejandro.


“Sebenarnya ini merupakan kisah lama kak, dan hanya aku yang tahu masalah ini” jawab Alejandro singkat yang seolah tidak ingin membahas siapa sosok yang ia maksud.


“Apa ada kaitannya dengan panglima Sacheverell?” imbuh Pangeran Arthur yang masih saja penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh Alejandro, ia bertanya seraya memperhatikan ekspresi wajah Alejandro sehingga mendapati sesuatu. “Dari ekspresi yang kau tunjukkan sepertinya benar”.


“Begitulah, orang itu berhutang nyawa pada keluargaku. Kakak ingat tidak? Dulu ayah sempat akan diangkat sebagai panglima besar pemimpin Dewan Keamanan Wilayah. Sacheverell denga segala ambisinya menghalalkan segala cara agar ayah gagal menjadi panglima, hingga peristiwa itu terjadi, Sacheverell membunuh ayah dan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri”