LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Sandiwara



Mendengar suara Charlotte membuat Damian lantas melepaskan kekuatan yang sempat membuat Charlotte tertahan, dan kini Charlotte sudah bisa bergerak bebas dan tak sengaja menatap Damian sekali lagi, tanpa


disengaja sebuah cahaya muncul pada dahi Charlotte sekilas tampak seperti sebuah mata ketiga yang membuat Damian segera meraih leher Charlotte kemudian mengangkatnya, “A.. ap.. apa yang a..n..da lak..ukan.. Pendeta” ucap Charlotte yang berusaha berbicara meskipun lehernya sedang tercekik.


Melihat kejadian ini membuat Pangeran Arthur lantas mendekati Damian, ia menyentuh tangan Damian dan berusaha menghentikannya, “Pendeta, tolong hentikan, dia bukan penyihir seperti dugaan anda” seru Pangeran Arthur terhadap sikap Damian yang mencekik Charlotte.


“Di mataku sekali Penyihir akan tampak seperti penyihir. Sekuat apapun kau berusaha menyembunyikan identitasmu dari semua orang kau tidak akan pernah bisa menipuku” ucap Damian yang masih mencengkeram erat leher Charlotte, ia tidak ada niatan untuk melepas Charlotte begitu saja meskipun Pangeran Arthur berusaha mencegah.


Tanpa basa-basi Damian lantas mengarahkan tangan kirinya ke dahi Charlotte, ia kemudian menyedot kekuatan sihir hitam Charlotte dan berefek pada wujudnya yang berubah-ubah dari manusia kemudian kulitnya berwarna hijau gelap lalu kembali lagi menjadi manusia, hingga pada puncaknya Damian selesai mengambil seluruh kekuatan sihir hitam yang ada dalam tubuh Charlotte dan menempatkan mantra pengunci pada tubuhnya. Pangeran Arthur yang secara langsung menyaksikan perubahan wujud Charlotte sempat terkejut karena prasangka Damian tidak mengada-ngada, ia lantas sedikit mundur dan membiarkan


Damian menyelesaikan tugasnya. Sebagai seorang Pangeran, ia tidak bisa membenarkan penggunaan sihir hitam yang terlarang di dalam Istana meskipun yang bersangkutan masih berstatus sebagai pekerja di Istana.


Setelah selesai menyedot habis sihir hitam, Damian  melempar tubuh Charlotte ke tanah tanpa rasa kasihan seidkitpun, tubuh yang terbanting ke tanah membuat Charlotte sempat merasa kesakita akan tetapi ia mencoba untuk bangkit perlahan dan meskipun mengalami batuk hebat sampai mutah darah. Hal ini wajar saja terjadi pada Charlotte karena tubunnya pasti tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu hebat setelah kekuatannya habis di ambil oleh Damian, rasa marah dan benci menggelayuti hati Charlotte yang membuat langsung menoleh ke arah Damian, ia berusaha memaki bangkan ingin mengumpat pada Damian akan tetapi ia tidak bisa berbicara seolah suaranya tertahan oleh sesuatu.


Melihat Charlotte yang menatap penuh rasa benci terhadap dirinya membuat Damian lantas mendekat pada Charlotte, “Hukuman karena telah mempelajari sihir hitam, kekuatan mu ditarik dan selamanya kau tidak akan bisa menggunakan kekuatan sihir meskipun mencoba mempelajarinya lagi, dan sebagai bayaran atas pelanggaran yang telah kau lakukan maka suara mu hilang bersamaan dengan kekuatan sihir hitam yang telah terangkat. Berterimakasihlah karena kau masih mendapat kemurahan hati dari diriku. Ahh lalu sampaikan pesanku pada Rosemary ‘jangan menghindar dan segera temui aku’.” Seraya menatap tajam sambil memperlihatkan mata merah yang tidak pernah ditunjukkan pada siapapun, bila mata ini tampak terlihat itu artinya Damian sangat marah karena sesuatu. Charlotte yang menatap langsung mata ini pun gemetar hebat, pertama kali dalam hidup ia bertemu dengan seseorang yang bisa memberikan tekanan hanya dari sorot mata saja.


“Pendeta, apa yang harus kita lakukan terhadap dirinya?” tanya Pangeran Arthur seraya mendekati Damian.


“Tugasku untuk menghukumnya sudah selesai, sisanya terserah padamu dan juga hukum negara ini” jawab Damian yang mempersilahkan Pangeran Arthur untuk mengurus sisanya karena dia merupakan keluarga Kerajaan.


Dengan wewenang yang ia miliki, Pangeran Arthur memutuskan untuk menahan Charlotte di penjara Saintbell atas tuduhan penyalahgunaan ilmu sihir, dan kasus ini ia laporkan pada pengadilan agar segera ditindaklanjuti. Setelah melimpahkan kasus ini, Pangeran Arthur kembali menemani Damian pergi menuju mansion Lily yang ditinggali oleh Beatrice, tidak sengaja keduanya bertemu tuan rumah di halaman utama, mendapati kunjungan mendadak ini lantas membuat Beatrice segera menghampiri Arthur dan Damian untuk


menyambut kedatangan keduanya.


“Selamat datang Pangeran dan juga Pendeta, ada keperluan apa sehingga datang ke mansion hamba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu” sedikit menundukan kepala memberi salam kemudian tersenyum berbicara


kepada keduanya.


“Seseorang yang bekerja di mansion mu telah melanggar aturan dengan mempraktekkan ilmu hitam” jelas Pangeran Arthur pada Beatrice yang sontak membuat dia terkejut dan berusaha menyembunyikan bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Charlotte.


“Ilmu hitam? Apa maksud anda Pangeran? Saya tidak tahu menahu mengenai pekerja di sini” Beatrice mencoba berdalih dan berusaha menyelamatkan dirinya agar tidak terseret oleh kasus Charlotte.


“Yang jelas kedatangan kami berdua ke sini adalah untuk mengambil sihir hitam yang tertanam di dalam mansion mu, Pendeta Damian menyadari hal ini kemarin. Apakah kami boleh masuk” ucap Pangeran Arthur


meminta ijin pada Beatrice selaku tuan rumah.


“Tentu saja Pangeran, saya mengijinkan anda untuk masuk, biar saya temani, silahkan” seraya menunjukkan jalan, Beatrice lantas memandu keduanya masuk ke dalam mansion.


Beatrice mengantar Pangeran Arthur dan Pendeta Damian langsung menuju kamar Charlotte, “Kita sudah sampai” ucap Beatrice seraya mempersilahkan Pangeran Arthur dan Pendeta Damian untuk masuk ke dalam


kamar Beatrice, lantas Pendeta Damian pun masuk ke dalam untuk mencari titik sihir yang tertanam dalam mansion.


“Pantas saja akhir-akhir ini badan saya terasa lemas, ternyata ini efek dari sihir yang digunakan oleh Charlotte” kembali berdalih dengan menggunakan bakat aktingnya agar Pangeran Arthur dan juga Pendeta Damian tidak mencurigai dirinya.


Tanpa memperdulikan ucapan Beatrice, Damian lantas menarik keluar kekuatan sihir yang sempat membuat lantai rusak karena tidak mampu menahan efek yang ditimbulkan, tentu saja dengan mudah Damian berhasil menggenggam kekuatan sihir dalam bentuk permata hitam.


“Apakah itu wujud kekuatannya? Sangat menakutkan sekali, saya baru pertama kali melihatnya” ucap Beatrice yang kembali berdalih seakan-akan dia adalah korban.


Risih dengan sikap Beatrice membuat Damian lantas meresponnya, “Aku tidak ingat pernah menyebut nama pekerjamu, bagaimana bisa kau menduga bahwa dia adalah Charlotte” ucap Damian seraya meletakkan permata hitam dalam saku jubah bagian dalam.


Sontak ucapan Damian membuat Beatrice gugup karena dia lupa kalau sedang berkating, “i.. itu.. karena hanya Charlotte yang sedang tidak berada di mansion, lagi pula sejak awal saya curiga dengan sikap anehnya


yang terus menerus meminta ijin keluar mansion” sedikit gugup menjawab Damian.


Damian pun berjalan mendekati Beatrice, “Aku ingat siapa dirimu dan aku yakin kau tidak mungkin melupakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya, aku dan Sri Isaac Xavier sempat merasa kagum dengan


perjuangan mu demi menjadi kesatria terpilih, akan tetapi hari ini, melihat bagaimana kau bersandiwara membuatku mengurungkan niat untuk membebaskanmu dari jerat nestapa Rosemary, lagi pula yang saat ini bersarang dalam tubuhmu adalah atas keinginan mu sendiri untuk mendapatkan sesuatu dengan cara instan. Ingatlah bahwa sekali saja kau berusaha untuk mencelakai Eden maka aku tidak akan


tinggal diam” seraya mendekatkan wajah ke arah telinga kemudian berbisik pada Beatrice kemudian pergi begitu saja.


Ucapan Damian bukan main efek yang ditimbulkan bagi siapa saja yang mendapat peringatan termasuk Beatrice yang semakin gugup hingga tubuhnya sedikit gemetar, ia tidak berani menatap Damian dan hanya bisa menunduk saja. Pangeran Arthur yang tidak sengaja mendengar ucapan Damian membuatnya ikut merasa kecewa pada Beatrice, “Aku tidak menyangka bahwa kau datang kemari atas campur tangan Rosemary, sebagai sahabat aku sangat mempercayai mu sehingga aku memberimu kartu bebas akses agar kau tidak merasa bosan dengan berjalan-jalan keliling Istana, maafkan aku mulai sekarang aku tidak akan


membiarkan mu mencelakai siapapun” ucap Pangeran Arthur yang segera memutus hubungan pertemanan dengan Beatrice kemudian pergi mengikuti Damian.


Beberapa saat Beatrice mematung lalu kaki-kakinya terasa lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai, air matanya tidak dapat terbendung lagi dan tangis hebat pun pecah, Beatrice tidak tahu harus berbuat apa.


(Istana Utama)


Siang ini Louise sudah menyelesaikan agenda padat yang sehari sebelumnya sempat tertunda karena ia menemani Eden dalam masa sulit, agenda pokok hari ini adalah rapat besar bersama para pejabat negara


dengan pokok pembahasan mengenai pertemuan pemimpin 7 negara besar yang akan segera dilaksanakan. Karena pertemuan sebelumnya tidak dihadiri oleh Eden, maka dalam pertemuan kali ini harus menghadirkan dirinya untuk pertama kali setelah berhasil membuat ikatan dengan sang Naga Api. Hasil rapat menemukan kesepakatan bahwa pertemuan akan diadakan dalam waktu dekat sambil menunggu konfirmasi dari para pemimpin negara yang dapat hadir dalam pertemuan tersebut.


“Yang Mulia, ada yang harus hamba sampaikan” ucap Hansel meminta ijin untuk menyampaikan sebuah berita.


“Katakan” jawab Raja mempersilahkan.


“Tadi setelah hamba mengajak madam Marry ke Istana Vie Rose, nona Eden berpesan bahwa ia akan pergi selama seminggu bersama Pendeta Damian ke Ruang Nol atau Ruang Netral. Hal ini perlu dilakukan untuk


melatih nona Eden mengendalikan Naga Api karena Pendeta Damian tidak bisa seterusnya berada di sisi nona Eden untuk membantu mengontrol kekuatannya sendiri” tutur Hansel memberitahukan pesan dari Eden seraya menatap Raja luruh.


“Kapan dia harus melaksanakannya?” tanya Raja serius, ia sepertinya tidak senang mendnegar berita yang disampaikan oleh Hansel.


“Secepatnya Yang Mulia” seraya menundukkan kepala Hansel menjawab Raja, ia memiliki firasat bahwa Raja Louise mungkin akan menolak keinginan Pendeta Damian.


“Bagaimana bila bulan depan setelah kami menikah?” ucap Raja Louise mencoba menawar jadwal yang diinginkan oleh Pendeta Damian.


“Sepertinya tidak bisa Yang Mulia, karena purnama sebentar lagi maka nona Eden harus bisa mengendalikan Naga Api dengan kemampuannya sendiri, bila tidak demikian maka dapat membahayakan nona Eden” rasa gugup muncul dalam hati Hansel, akan tetapi ia berusaha menjelaskan dengan hati-hati agar Raja Louise mau menyetujui keinginan Pendeta Damian.


Mendengar jawaban Hansel membuat Raja Louise berpikir sejenak, ia sedang mempertimbangkan keinginan Pendeta Agung mengingat kejadian kemarin sangat berbahaya bila tidak segera ditangani. Melihat Raja


Louise yang seolah sedang bimbang dengan pilihannya membuat Hansel lantas berusaha memberikan usulan, “Yang Mulia, bila hamba boleh memberi saran, bukankah lebih baik untuk mengadakan pertunangan terlebih dahulu sebelum nona Eden pergi, setelah nona kembali anda bisa mengadakan pemberkatan pernikahan. Hamba yakin anda merasa gelisah dan ragu akan perasaan nona Eden, tapi percayalah Yang Mulia bahwa nona Eden memiliki perasaan terhadap anda.”


Nasihat dan saran yang diberikan Hansel sangat masuk akal, Raja Louise memikirkannya sejenak dan lantas setuju atas saran ini, “Kau benar juga, kalau begitu segera persiapkan pesta pertunangan kami, aku


percayakan hal ini padamu Hansel” seru Raja segera memberikan perintah yang membuat Hansel merasa lega karena Raja Louise kini sudah mulai berubah dan mau menerima saran dari orang lain. Bila mengingat masa lalu, sebelum Raja Louise bertemu dengan Eden adalah masa-masa sulit bagi Jose dan Hansel karena Raja Louise memiliki hati yang seperti batu, tidak mudah menerima saran dan masukan dari keduanya padahal tugas mereka adalah sebagai penasehat Raja. Setidaknya butuh puluhan saran yang mereka ajukan baru Raja Louise mau menerimanya, Raja Louise cenderung bertindak mengikuti nalurinya sendiri tanpa mempertimbangkan hal lain dan terkadang bila ada dampak negatif yang ditimbulkan karena kuputusan Raja


Louise maka Jose dan Hansel yang bertugas membereskannya dengan cara apapun.


Beberapa saat kemudian, Jose datang membawa sepucuk surat dengan wajah yang sumringah, ia seolah ingin memberitahukan berita bahagia melalui surat yang ia bawa.


“Yang Mulia, ini adalah surat yang anda tunggu setelah sekian lama akhirnya beliau membalas” seraya memberikan surat pada Raja Louise, kemudian mundur.


Melihat cap yang tertempel di bagian amplop membuat pupil mata Raja Louise melebar, hal ini karena si pengirim surat merupakan Pangeran Alejandro, anak dari saudara Raja sebelumnya yang tidak lain merupakan sepupu Raja Louise.


(Flashback)


Alejandro Nicholas Louvian merupakan putra semata wayang dari Oscar Nicholas Louvian, usianya sekitar 21 tahun, ia bersama sang ayah memilih pergi meninggalkan dan memilih hidup sebagai warga biasa tepat


setelah Cesar (Ayah Raja Louise dan Pangeran Arthur) naik Takhta sebagai seorang Raja. Alasannya adalah karena kehadiran dirinya di lingkungan dapat  menimbulkan gejolak politik, karena itu dia memilih untuk menyingkir dari hingar-bingar kehidupannya sebagai keluarga Istana. Oscar Nicholas Louvian merupakan anak pertama Raja Julius yang lahir dari rahim seorang selir, sedangkan Cesar merupakan anak kedua dari Raja Julius yang terlahir dari rahim sang Ratu sehingga menurut aturan ayahanda Louise lah yang berhak untuk naik Takhta menggantikan ayahnya.


Setelah memutuskan untuk pergi dari Istana, Pangeran Oscar tidak pernah memberikan kabar pada Istana, ia dengan sengaja memutus komunikasi dengan keluarga Kerajaan agar bisa hidup dengan tenang bersama


anaknya, bahkan keberadaannya pun tidak diketahui oleh siapapun, hingga pada suatu hari tepatnya 3 tahun lalu, Raja Louise berhasil menemukan jejak dari pamannya yang tinggal di dunia luar. Akan tetapi sangat disayangkan karena sang paman dan juga bibi telah meninggal beberapa tahun sebelumnya sehingga selama


ini Alejandro tinggal bersama pelayan setia pamannya yang sukarela untuk ikut serta dan mengabdi pada keluarga itu. Raja Louise rutin mengirim pesan, akan tetapi tidak pernah mendapat balasan dari sepupunya, pada suatu ketika Raja Louise yang tidak sabar pun memutuskan untuk turun tangan dengan mengunjungi


Alejandro yang tinggal di dunia luar.


Sebagai seseorang yang memiliki kuasa di The Great Aztec, sangat mudah bagi Raja Louise untuk keluar masuk melalui portal pelindung, ia menempuh perjalanan tidak biasa dalam rangka mengunjungi sepupunya, bukan menggunakan sebuah kapal pesiar melainkan berjalan di atas air sendirian, hingga sampailah ia di pantai kota Thalsa. Saat itu senja telah tiba, ia mengira bahwa pantai akan sepi pengunjung, namun ia salah mengira, dari kejauhan seorang gadis tengah melihat ke arahnya yang sedang berjalan menepi, gadis itu tampak terkejut melihat dirinya. Tak ingin ketahuan bahwa ia berasal dari wilayah lain, membuat Raja Louise terpaksa berlari mendekat kemudian membuat si gadis pingsan dengan cara memukul kepala bagian belakang, cara itu sangat efektif membuatnya hilang kesadaran dalam sejenak, “Maafkan aku gadis kecil, kau tidak seharusnya melihatku” gumam Raja Louise seraya membetulkan posisi si gadis agar ia seolah terlihat sedang tertidur lelap.


Takdir memang harus berjalan sebagaimana mestinya, gadis yang tidak sengaja melihat Raja Louise berjalan di atas air merupakan Eden (baca episode 1), pertemuan itu secepat kilat, Eden kala itu memiliki warna


rambut pirang sedangkan Raja Louise menutupi sebagian wajahnya. Keduanya sama-sama tidak saling mengenali saat bertemu kembali di taman pribadi Raja ketika Eden mencuri Middlemist Camelia, bahkan hingga saat ini keduanya masih belum menyadari pertemuan pertama mereka dulu.


“Dia bersedia kembali ke The Great Aztec” ucap Raja Louise memberitahukan kabar gembira yang disambut senyuman oleh Hansel dan Jose.


“Syukurlah Yang Mulia, usaha anda mengunjungi Pangeran Alejandro tahun lalu membuahkan hasil” Hansel dan Jose memberi selamat pada Raja Louise dan terlihat keduanya tampak senang mendengar kabar ini.