
hari ketika Sri Isaac Xavier datang ke ruang nol merupakan tiga hari sebelum eksekusi Lucas dan Marco
dilaksanakan, pada hari itulah tepatnya Damian memberitahukan semua hal yang terjadi pada Lucas, Marco dan Adel. Dengan segala kerendahan hati Damian memohon maaf pada Eden atas tindakannya yang tidak segera memberitahukan hal tersebut. Karena telah mempelajari kekuatan pengendalian diri, Eden pun berusaha keras untuk menahan amarah yang sebenarnya telah memuncak agar tidak melakukan Tindakan yang gegabah. Suasana menjadi hening beberapa saat, baik Damian, Sri Isaac Xavier maupun Lloyd memilih untuk menunggu Eden menjadi lebih tenang.
“dengan surat yang kau minta dan sedikit bantuan dari Damian, kami bisa setidaknya meringankan hukuman Adel. Akan tetapi untuk kedua rekan mu yang lain di luar tanggung jawab kami” seraya memberikan sebuah gulungan surat pada Eden yang lantas di terima olehnya.
“benar apa yang diucapkan oleh paman. aku bisa membuktikan bahwa ada darah Anotherworld dalam tubuh Adel menggunakan cermin khusus yang aku miliki” imbuh Damian membenarkan ucapan Sri Isaac Xavier.
Setelah dirasa cukup mengeluarkan air mata, Eden lantas mengusap bagian pipi agar menjadi lebih kering. Meski
masih sedikit terisak namun Eden mencoba untuk bersuara meskipun terdengar sumbang, “mengenai Lucas dan Marco, saya pikir ada baiknya bila saya menemui seorang teman. Dia adalah raja Assiria, mengetahui fakta bahwa penangkapan berlangsung di wilayahnya, mungkin saja dia bisa membantu dengan cara mengajukan semacam surat untuk meringankan hukuman bagi kedua rekan saya.” Ucap Eden mengutarakan pendapatnya, namun tidak lekas direspon oleh Damian dan Sri Isaac Xavier karena keduanya tidak pernah mengerti hukum perjanjian lama yang tidak sesuai dengan norma agama.
“mengingat bahwa anda memiliki hubungan tidak biasa dengan Raja Noah, saya rasa ide tersebut perlu di coba terlebih dahulu” ucap Lloyd memberikan respon pada pendapat yang diutarakan oleh Eden.
“Tapi, jangan terlalu berharap pada orang lain.” Celetuk Sri Isaac Xavier terhadap respon Lloyd yang mendukung pendapat Eden, seolah ia tidak senang dengan tanggapan setuju dari Lloyd tersebut.
“ya benar, jangan terlalu berharap apalagi pada seorang pria” imbuh Damian yang juga terkesan menentang keinginan Eden untuk menemui Raja Noah. Lloyd yang hanya seorang pendeta biasa hanya bisa terdiam mendengar kedua pendeta suci menentang keinginan Eden.
“setidaknya saya harus mencoba terlebih dahulu.. kira-kira berapa hari yang tersisa hingga hukuman dilaksanakan?” tanya Eden pada Lloyd.
“3 hari nona” jawab Lloyd seraya menghitung menggunakan jari tangannya.
“baiklah, saya akan berkemas dan pergi ke Assiria” ucap Eden yang sudah memiliki tekad kuat untuk menemui Raja Noah.
“aku akan ikut” seru Damian dan Sri Isaac Xavier secara bersamaan yang membuat keduanya saling melihat satu sama lain seolah ada kilatan petir yang menambar karena rasa tidak senang atas pengajuan diri masing-masing untuk menemani Eden.
“Tidak, akan merepotkan jika.. ah maksud saya, saya bisa pergi sendiri. anda berdua memiliki tugas yang lebih penting di kuil suci” ucap Eden yang menolak secara halus keinginan kedua pendeta suci.
“tapi..” ucap Damian dan Sri Isaac Xavier serentak.
Eden lantas menggelengkan kepala, seraya menunjukkan telapak tangannya ke arah Damian dan Sri Isaac Xavier “percayakan hal ini pada saya” sambil mengemasi barang-barang yang berada di dekatnya. “saya berangkat dulu” ucap Eden sambal memutar tangan kiri yang tak lama setelahnya sebuah gate muncul. Eden segera melakukan perpisahan dengan Sri Isaac Xavier, “sampai jumpa 3 hari lagi di altar eksekusi” seraya memeluk erat Sri Isaac Xavier kemudian melepasnya dan bergantian memeluk Damian yang berdiri di samping Sri Isaac Xavier.
“Saya berangkat dulu” dengan senyum terkembang kemudian sedikit menunduk, Eden pun pergi meninggalkan Sri Isaac Xavier, Damian, dan juga Lloyd, Eden masuk ke dalam gate dan sesaat setelahnya gate pun menghilang.
“Aku tidak percaya ini, semudah itu dia meninggalkan kita” keluh Damian seraya menunjuk ke arah terakhir Eden terlihat.
“tapi syukurlah dia tidak mengajakmu” ucap Sri Isaac Xavier yang kemudian berjalan meninggalkan Damian, Bersama Lloyd yang ikut serta dibelakangnya.
“Aku duluan” ucap Sri Isaac Xavier yang juga pergi menggunakan gate miliknya bersama Lloyd.
***
(Kerajaan Assiria)
Siang itu Raja Noah sedang melakukan rapat bersama jajaran para mentri dan pejabat kerajaan, rapat ini merupakan agenda wajib dimana laporan akhir tahun dibacakan oleh masing-masing instansi yang nantinya akan ditindaklanjuti bila ada satu kesalahan. Meskipun memiliki usia yang cukup muda, akan tetapi Raja Noah sangat
cakap dalam menjalankan roda pemerintahan di Assiria. Ia akan bertindak keras bila ada sedikit kesalahan yang terjadi terutama bagi para mentri yang mencoba untuk memanipulasi system pemerintahan kerajaan Assiria. Semenjak ia naik takhta, tidak ada satupun pejabat maupun golongan tertentu yang berani melawan setelah sebelumnya ia menghukum mati para pejabat korup dan penghianat negara. Rapat berlangsung dengan sangat serius, bahkan beberapa dari mentri terlihat gugup, sampai mengeluarkan keringat dingin saat melaporkan hasil kerja instansi selama satu tahun ini. Saking gugupnya tak jarang dari mereka juga mengalami gemetar hebat saking takutnya pada Raja Noah. Bisa dibilang, pemimpin muda seperti Raja Noah dan Raja Louise yang dibutuhkan oleh negara-negara di Anotherworld. Meskipun memimpin dengan tangan dingin, akan tetapi cara ini sangat efektif
dalam menekan kelompok radikal penentang pemerintah, juga angka kemiskinan menurun drastis karena para mentri harus melaksanakan tugas mereka dengan benar bila tidak hukuman akan menanti mereka.
Diwaktu yang sama di altar utama kerajaan, Eden sudah sampai dengan menggunakan gate lebih cepat dari dugaannya. Ia sempat terkejut dengan kecepatan tak biasa ini karena biasanya butuh waktu minimal 6 jam untuk sampai di suatu negara tapi kali ini hanya 2 jam saja dia sudah sampai di lokasi tujuan.
Karena salah memilih tempat untuk gate, beberapa pasukan penjaga Istana telah dikerahkan untuk mengepung gate miliknya. sudah sejak lama gate tidak pernah terbentuk dalam Istana dikarenakan ada lokasi khusus pada biro kedatangan. Ditambah lagi gate milik Eden berhiaskan ornamen khusus yang tidak dikenali kebanyakan orang, maklum saja dikarenakan gate kesatria terpilih terakhir terbentuk 20 tahun lalu dan banyak orang sudah lupa dengan ornamennya.
Melihat bahwa ia sudah terkepung membuat Eden kemudian mengangkat kedua tangan, berusaha meyakinkan bahwa ia bukanlah orang jahat. Namun cara ini tentu saja tidak bisa membuat pasukan Istana mundur begitu saja, mereka malah tetap mengacungkan senjata ke arah Eden.
“Tunggu, saya bukan orang jahat.. anda tahu kesatria terpilih, penunggang naga, pelindung wilayah Anotherworld? Itu adalah saya” seraya mengangkat tangan sembari menjelaskan identitas dirinya, namun pasukan kembali mengeratkan genggaman pada senjata yang mereka pegang dan tetap memilih untuk mengacungkan senjata ke arah Eden.
“sebenarnyaaku tidak ingin pamer, tapi apa boleh buat akanku tunjukkan” seraya mengangkat tangan kanan ke arah langit, memejamkan mata kemudian membuka mata kembali dan seekor naga terbang tepat di atas langit Istana Assiria. Ukuran sang Naga yang cukup besar membuat orang-orang yang tak sengaja mendongak ke arah langit menjadi takjub karena bisa melihat hewan yang dikeramatkan di wilayah Anotherworld tersebut. Begitu pun para pasukan yang mengepung Eden juga turut terperangah mendapati seekor naga berukuran besar tengah terbang di atas mereka.
(di aula rapat)
Kala itu rapat diadakan disebuah aula kerajaan yang berada di lantai dua, semua ruangan tertutup rapat agar para Menteri berkonsentrasi terhadap materi yang akan di laporkan. Akan tetapi, ada jendela di bagian kanan dan kiri raja Noah sengaja di buka, hal ini sudah menjadi kebiasaan Ketika melaksanakan rapat penting seperti saat sekarang. Hal ini telah menjadi kebiasaan karena Raja Noah terkadang berjalan mendekati jendela sambil mendengarkan laporan Menteri dengan seksama, pada saat itu ia tak sengaja melihat seekor naga yang terbang
mengitari langit Istana Assiria, sontak hal ini membuatnya menyadari sesuatu, bahwa Eden sedang berada di dalam Istana. Karena tengah melaksanakan rapat, ia tidak bisa begitu saja meninggalkan ruangan, untuk itu Raja Noah segera berjalan kembali ke kursi, tanpa duduk ia pun mengangkat tangan kanannya seolah sedang menginterupsi, “mari kita persingkat saja, menteri kehutanan perketat penjagaan hutan di bagian utara dengan menggunakan sisa dana yang ada, aku tahu penebangan hutan menjadi masalah serius yang sulit kau laporkan. Menteri kelautan lebih baik kau menghabiskan dana untuk membeli kapal bagi para nelayan ketimbang mengembalikannya pada Istana. Sisa Menteri lain kalian dapat membaca semua masukan dariku dalam lembar kertas ini. Dan Menteri keamanan negara pergilah ke ruang kerjaku dan tunggu aku di sana, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu nanti. Rapat kita cukupan sekian, minggu depan kita akan melaksanakan rapat bagian ke dua, jadwal akan ditentukan oleh asistenku” segera setelah berbicara, Raja Noah pun pergi meninggalkan ruangan rapat menuju ke arah Eden berada.
Sepanjang jalan, Raja Noah menanyakan kepastian lokasi Eden berada pada salah seorang asisten yang sengaja menjemput Raja Noah untuk memberitahukan ihwal kedatangan Eden ke Istana Assiria.
“Nona berada di altar utama Istana, Yang Mulia. Hamba belum tahu pasti maksud kedatangan nona, karena hamba baru mendengar berita ini dari beberapa pelayan Istana yang tidak sengaja melihat gate terbentuk beberapa saat lalu. Mungkin karena ornamen ukiran gate yang asing sehingga beberapa pasukan telah mengepung nona Eden di sana” jelas asisten pada Raja Noah.
Setelah mendengarkan penjelasan dari sang asisten membuat Raja Noah kemudian memperlambat Langkah
kaki yang kemudian membuatnya berhenti tiba-tiba dan mengundang tanya dari sang asisten, “Ada apa Yang Mulia?” tanya sang asisten pada Raja Noah.
“Suruh beberapa pelayan mempersiapkan perjamuan di Istanaku, lalu jemput Eden dan antar dia menemuiku. Aku akan menunggunya di Istana utama” memberi perintah pada sang asisten dan lantas berbalik arah menuju ke Istana miliknya.
Bukan tanpa alasan, Raja Noah telah memprediksi bahwa cepat atau lambat Eden akan datang mengunjungi Istananya. Hal ini berkaitan dengan penangkapan Lucas dan Marco beberapa waktu yang lalu, sebenarnya ia telah mendengar laporan dari sang asisten dan berniat untuk membebaskannya segera, akan tetapi niat tersebut urung ia lakukan dan membiarkannya begitu saja. Raja Noah sengaja melakukan hal tersebut karena yakin bahwa Eden akan datang menemui dirinya untuk meminta bantuan demi kebebasan kedua rekan-rekannya tersebut. Lagi pula, membebaskan kedua rekan Eden kala itu tidak akan memberi keuntungan bagi dirinya melainkan akan menjadi malapetaka karena yang ia hadapi adalah panglima Sacheverell, orang paling sulit dalam hal negosiasi, untuk itu ia lebih memilih menahan surat kuasa pembebasan Lucas dan Marco hingga Eden datang menemui dirinya.
(di Altar kerajaan Assiria)
Asisten pribadi Raja Noah secara langsung datang untuk menyambut kedatangan Eden, ia segera memerintahkan pasukan pelindung Istana untuk menurunkan senjata atas keinginan Raja Noah.
“Atas perintah Raja Noah, turunkan senjata kalian. Orang yang kalian kepung saat ini merupakan kesatria terpilih dan beliau merupakan tamu special Raja Noah” seru sang asisten yang membuat seluruh pasukan serentak menurunkan senjatanya.
“Maaf atas tindakan kurang sopan barusan nona, saya diberi perintah oleh Raja Noah untuk menjemput serta mengantar anda menemui beliau” ucap si asisten pada Eden.
“begitu, baiklah tuan..?”
“Berto”
“tuan Berto, tolong tunjukkan jalannya” ucap Eden seraya berjalan mendekat pada Berto, dan Berto kemudian menunjukkan jalan menuju Istana utama. Sebelum pergi tak lupa Eden mengirimkan sinyal agar sang Naga Api kembali ke tempat peristirahatan dengan cara melambaikan tangannya ke atas langit dan sesaat setelahnya sang Naga Api menghilang.
“aku lupa kalua Istana Assiria sebesar ini” gumam Eden pelan seraya melihat-lihat sekeliling.
“Istana di mana pun pasti berukuran besar nona” ucap Berto menjawab gumaman Eden barusan.
“Ah.. maaf” seraya menggaruk pipi menggunakan jari telunjuk karena merasa tidak enak hati telah bergumam mengenai Istana Assiria. Sepanjang perjalanan, ingatan demi ingatan semasa Eden tinggal di Assiria mulai menyatu kembali bak potongan puzzle yang sempat berserakan. Bagi Eden segala kenangan yang telah ia alami
sebelumnya merupakan kenangan baik dan ia tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai kenangan pahit.
“kita sudah sampai nona, silahkan” menyingkir dari hadapan Eden kemudian mempersilahkannya untuk masuk, sedangkan dirinya hanya berdiri di depan pintu.
Mendapati sinyal ini membuat Eden lantas mendekati pintu lalu membukanya, ia pun segera masuk sambil menutup kembali pintu tersebut.
“Noah” memanggil Raja Noah yang tengah duduk dengan rapih di sebuah kursi lengkap dengan hidangan yang tertata rapih di atas meja Panjang tepat dihadapannya.
“Apa kah kau sedang ada acara?” tanya Eden sambal berjalan mendekat pada Raja Noah, sedangkan Raja Noah beranjak dari tempat duduk kemudian memberikan sebuah pelukan hangat terhadap Eden.
“Selamat dating, teman lama” ucap Raja Noah memberikan sambutan terhadap kedatangan Eden ke
Assiria.
“Duduklah, aku sudah menyiapkan perjamuan kecil dan sederhana untuk mu?” seraya menunjuk meja yang penuh dengan hidangan lengkap. Melihat hal ini tentu saja membuat Eden bergumam dalam hatinya, “Hidangan kecil katanya? Sudah menjadi ciri khas bahwa semua raja bersikap sombong”
“Ada yang ingin aku minta darimu” ucap Eden tan berbasa-basi pada Raja Noah.
“Kau memang bukan seperti kebanyakan orang, sebelum membicarakan maksud kedatangan mu setidaknya
kau harus duduk dan meminum teh yang telah disajikan” Raja Noah pun tidak segan mengkritik sikap Eden yang dirasa kurang pantas, apalagi saat ini ia merupakan calon Ratu The Great Aztec.
“Minum teh merupakan kewajiban bagi mereka yang datang secara resmi Yang Mulia” seraya menyilangkan kedua tangannya, Eden pun memberi bantahan yang logis.
“Kau memang sangat pandai berbicara, baiklah katakana apa yang kau inginkan?”
“Kebebasan Lucas dan Marco, atau setidaknya ringankan hukuman mereka berdua” jawab Eden terhadap pertanyaan Raja Noah.
“Hanya itu saja?”
“tidak, tapi bebaskan keduanya dengan melibatkan nama saya”
“apa maksud mu?! Jika kau terlibat maka sama saja dengan kau ingin menggantikan hukuman keduanya? Kau mau mati?!” seru Raja Noah yang tidak habis pikir dengan permintaan Eden.