LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Bukti Nyata



Rencana yang sebelumnya gagal untuk dilaksanakan membuat Eden sedikit kesal, ia merasa bahwa Cecilia sudah semakin pintar dan bisa membaca alur pikirannya. Seraya menggigit kuku ibu jari Eden berpikir keras, ia saat ini sedang duduk dan sedang menerima perawatan rambut oleh beberapa pelayan yang akan menata rambutnya nanti.


“Bahaya, jika terus dibiarkan bisa-bisa kebebasanku akan terenggut”gumam Eden dalam hati seraya melirik ke kanan dan kiri memastikan Cecilia tidak sedang mengawasi dirinya.


“Anda mencari siapa nona?” seru Cecilia yang ternyata tanpa diketahui sedang mengawasi Eden dari belakang, sontak suara Cecilia membuat Eden merapihkan cara duduknya.


“Tunggu dulu, kenapa aku harus takut pada Cecilia? Aku kan majikannya” gumam Eden seraya menoleh ke arah belakan melempat tatapan sinis.


Bukannya takut Cecilia justru berbalik memelototi Eden dan malah membuat mental Eden kembali menciut, “Tidak bisa, tatapan matanya itu memang seperti ibu tiri” kembali bergumam dan sedikit menundukkan kepala.


Cecilia lantas mendekati Eden, ia kemudian menyuapinya makanan, “Setidaknya anda harus tetap makan meskipun tidak suka dengan prosesi ini”.


Meskipun terkesan sedikit cerewet, akan tetapi Cecilia memiliki perhatian lebih pada Eden dan orang-orang disekitarnya. Siapapun akan ia perlakukan dengan baik, seperti dengan menyempatkan waktu untuk membuat bekal bagi teman-temannya, karena ia sadar bahwa para kesatria mungkin tidak memiliki waktu untuk makan, mereka hanya bisa meminum air saat waktu istirahat tiba.


“Cecilia, ngomong-ngomong apa kau tahu ada hubungan apa antara Chris dan Nath ah maksudku Pangeran Alejandro?” tanya Eden seraya mengunyah makanan di mulutnya.


“Entahlah, tuan Jose yang menugaskannya, mungkin hanya kebetulan semata mereka terlihat berdua di taman tadi” ucap Cecilia sambil mengelap sisa makanan yang tertempel di pipi Eden.


Adel hari ini tidak manampakkan diri dihadapan sang kakak setelah ia pergi untuk menyapa rakyat di Istana Utama, bahkan saat sang kakak kembali ia tidak pergi untuk mengikutinya ke dalam kamar karena ia tahu


bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan sehingga ia memilih untuk menjauh dan duduk di gazebo taman Istana Vie Rose. Dari kejauhan Lucas melihat Adel sendiri lalu berjalan mendekatinya, “Kau tidak masuk?” tanya Lucas seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Adel.


Adel menggelengkan kepala seraya menghela nafas, “Entahlah aku merasa bingung harus bagaimana, antara sedih dan bahagia, rasanya ingin menangis karena kakak sebentar lagi menikah, tetapi aku tidak boleh bersikap seperti itu kan?” seraya memangkukan dagu kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Kenapa tidak? Kau ini adiknya, tentu saja boleh” seru Lucas yang tidak mebenarkan ucapan Adel.


“Hanya saja aku memang tidak ingin, lagi pula aku sudah banyak merepotkannya” Sambil menoleh ke arah Lucas dan tersenyum.


“Setahu ku tidak ada kata ‘merepotkan’ dalam hubungan persaudaraan. Jika kata seperti ada lalu bagaimana dengan kami yang selalu hidup saling mengantungkan satu sama lain? Aku, Justin, dan Marco kami tidak pernah membiarkan kata ‘merepotkan’ muncul dalam hubungan kami” ucap Lucas yang kemudian menyilangkan kedua tangannya.


Mendengar hal ini sejenak membuat Adel terdiam, kata-kata yang terlontar dari mulut Lucas seolah telah membuka hati dan pola pandangnya terhadap sebuah hubungan persaudaraan.


“Terimakasih atas nasihat yang kau berikan” seraya tersenyum menatap Lucas dan sejenak seolah ada angin menghembuskan rambut Adel hingga membuatnya tampak cantik dari sudut pandang Lucas. Sontak hal ini sempat membuat wajah Lucas sedikit memerah karena terpesona pada kecantikan Adel sehingga membuatnya sedikit memalingkan wajah.


“Eh ngomong-ngomong nanti kau akan datang ke perjamuan?” tanya Adel pada Lucas seraya meletakkan kedua tangan dan badannya condong ke depan.


“Ya.. te tentu saja, memangnya kenapa?” sedikit gagap menjawab Adel.


“Kalau begitu mari datang bersama, sejujurnya aku tidak memiliki rekan untuk hadir” ucap Adel tiba-tiba mengajak Lucas untuk hadir dalam perjamuan bersama-sama.


“Ya akan ku pertimbangkan.. ngomong-ngomong berapa usia mu?” tanya Lucas pada Adel.


“Tahun ini aku berusia 19 tahun” sedikit memiringkan kepala Adel menjawab pertanyaan Lucas.


Seraya menggebrak meja Lucas pun berbicara, “Kalau begitu kau tidak boleh datang, kau belum cukup umur bahkan belum debut dalam pergaulan kelas atas, aturan mereka sangat sulit, ditambah lagi dalam sebuah perjamuan selalu ada alkohol, kau masih dibawah umur” seru Lucas yang terdengar menggebu-gebu melarang Adel untuk tidak datang dalam perjamuan nanti malam.


“Tu.. tunggu dulu, kenapa kau marah-marah sih, aku kan hanya menjawab pertanyaan mu, aneh sekali. Ya aku tidak akan datang! Terimakasih karena sudah melarangku!” kemudian berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Lucas.


“Hei.. hei.. kenapa kau pergi?! Adel!” Seru Lucas memanggil Adel akan tetapi tidak berhasil membuatnya tetap tinggal.


***


Hari menjelang malam, saat yang dinanti telah tiba, Eden bersama Raja Louise datang bersamaan, mereka berdua muncul dari lantai dua dan menuruni tangga untuk menyapa tamu yang telah hadir. Sesekali Raja Louise melemparkan pujian atas penampilan Eden malam ini, “Kau terlihat sangat cantik” sedikit mendekatkan bibir pada telinga Eden, akan tetapi keduanya masih tetap berjalan menuruni tangga.


“Jadi apakah aku lebih cantik saat mengenakan gaun atau mengenakan seragam saat akan bertarung?” ambil menjawab Raja Louise, namun tetap menatap kedepan.


“Keduanya, saat mengenakan gaun kau tampak cantik dan anggun, sedangkan mengenakan seragam saat akan bertarung kau terlihat emm mungkin seksi”kembali mendekatkan bibir pada telinga Eden agar suaranya


terdengar dan setelahnya kembali pada posisi semula. Sontak pujian dari Raja Louise sempat membuat Eden menoleh menatap Raja Louise kemudian kembali melihat kedepan.


Aula kini terlihat sangat ramai karena banyak dari tamu undangan belum pernah melihat Eden dan Raja Louise berjalan beriringan didepan umum. Menurut rumor yang mereka dengar, Raja Louise tergila-gila pada


Satu lagu selesai dimainkan, berlanjut ke lagu berikutnya, Eden sempat ingin beristirahat karena sedikit lelah berdansa, akan tetapi Raja Louise tidak membiarkannya begitu saja, ia justru semakin erat mendekap tubuh kecil Eden dan sesekali mengangkatnya. Gerakan spontan Raja Louise mengangkat dirinya ini sempat membuat Eden tidak nyaman karena mereka malah semakin menjadi pusat perhatian, “Hentikan” berbisik pada Raja Louise.


“Tidak mau, aku suka mengangkat mu seperti ini” seraya mengangkat Eden yang sempat membuatnya sedikit bingung dengan gerakan tiba-tiba barusan.


“Jangan lakukan, ini sangat memalukan” kembali berbisik mencoba melarang Raja Louise agar tidak mengangkatnya seperti sebelumnya.


“Habisnya kau terlihat sangat lelah, jadi sebagai calon suami yang baik aku harus meringankan beban mu” sedikit merayu Eden, namun rayuan ini tentu saja tidak mempan karena benteng Eden sudah cukup kuat dalam menghadapi Raja Louise.


“Iya tapi kau boleh melakukan gerakan apapun asalkan jangan mengangkat, tubuhku ini sangat kecil dan tidak proporsional, lagi pula ini pertama kali bagiku muncul dihadapan publik dan bangsawan kelas atas. Mohon


bantuan anda Raja Louise” sedikit menggertak Raja Louise dengan kata yang terlontar, akan tetapi gertakan ini justru terdengar sangat imut bagi Raja Louise hingga membuatnya tersenyum.


Musik pun selesai dimainkan, Eden masih mempertahankan Ekspresi wajahnya agar tidak terlihat lelah, akan sangat memalukan bila hal itu terjadi karena di medan perang ia memiliki stamina yang sangat baik tapi di lantai dansa hal itu sama sekali tidak berlaku.


“Duduklah, aku akan mengambilkan mu air atau kau mau alkohol?” mempersilahkan Eden duduk seraya menawarkan minum.


“Air saja, aku hanya butuh air” seraya tersenyum kemudian duduk pada sebuah kursi yang berjajar di pinggir ruangan.


Melihat Raja Louise yang mengambilkan air untuk Eden sontak membuat semua orang terkejut mendapati sikap manis yang penuh perhatian pada calon istrinya. Eden yang tidak sengaja melirik ke sekitar pun juga heran karena tamu yang hadir melemparkan pandangan yang cukup aneh terhadap Raja Louise, “Mereka ini kenapa sih, Louise kan hanya mengambilkan air. Apa memang dia setampan itu?” gumam Eden seraya memijat kaki-kakinya yang kelelahan karena mengenakan sepatu hak tinggi. Eden ingat sesuatu, “Tunggu dulu! Ahhh pantas saja mereka menatap Louise seperti itu, pasti karena dia mengambilkan air untukku. Hal ini sangat tidak biasa terjadi. Sepertinya aku membuat kesalahan” seraya menepuk jidatnya dan sedikit tertunduk setelah sadar apa yang ia perbuat telah menimbulkan sedikit kekacauan.


“Kenapa menunduk, tegakkan kepala mu, kau ini calon Ratu The Great Aztec” seraya mengulurkan gelas berisi air, akan tetapi Eden tidak lekas menerima pemberian dari Raja Louise dan menyebabkan Raja Louise meraih tangan Eden lalu memberikan gelas berisi air. Setelah itu ia berlutut dihadapan Eden dan membuatnya sedikit tidak nyaman, “Apa yang kau lakukan? Kau ini seorang Raja, mana boleh seperti ini” mengecilkan suaranya dan meminta Raja Louise untuk bangkit.


“Tidak, kau satu-satunya wanita yang berhasil membuatku bertekuk lutut” seraya meraih kaki Eden kemudian memijatnya.


“Hei.. kau sudah gila” sedikit meronta dengan cara menggerakkan kakinya gara Raja Louise tidak menyentuhnya, bahkan Eden sempat memegang tangan Raja Louise supaya dia menghentikan tindakannya akan tetapi usahanya tidak berhasil, Raja Louise justru masih memijat kaki Eden.


“Bagaimana aku bisa membiarkan calon Ratu negara ini kelelahan karena berdansa, jangan pedulikan mereka yang sedang melemparkan tatapan aneh terhadap dirimu. Di sini saat ini adalah dunia yang tercipta hanya untuk kita berdua. Fokuslah hanya pada kita saja” seraya memijat perlahan kaki Eden, mendengar kata-kata hangat yang terlontar dari Raja Louise membuat hati Eden menjadi hangat. Saat ini ia memandang Louise bukan sebagai seorang Raja tetapi sebagai seorang pria, baru kali ini ucapannya terdengar lebih tulus ketimbang rayuan-rayuan aneh yang biasa ia lontarkan, bahkan tanpa sadar Eden tersenyum.


“Lihatlah kau bahkan tersenyum seteklah menerima perlakuan semacam ini” ucap Raja Louise yang tidak sengaja melirik ke arah Eden kemudian menunduk dan kembali memijat kaki Eden.


“Apa? Aku tersenyum?” ucap Eden dalam hati seraya menyentuh wajahnya.


Pemandangan tak biasa yang ditunjukan oleh Raja Louise dan Eden sempat menggemparkan seisi ruangan, mulut mereka bahkan menganga saat menyaksikannya yang berarti gosip bahwa Raja Louise tergila-gila


pada Eden bukanlah isapan jempol belaka, mereka membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri dan kini mempercayainya.


“Wah.. tidak masuk akal, bagaimana bisa Raja berlutut dihadapan seorang wanita” ucap seorang wanita bangsawan saat menyaksikan Raja Louise dan Eden.


“Sudah ku bilang kan? Tidak ada kesempatan untuk menjadi selir dari Raja Louse bahkan selingkuhan pun tidak. Lebih baik mulai sekarang kita berkonsentrasi untuk mengejar bangsawan lajang kaya raya dan hidup mewah sampai kita tua” imbuh seorang wanita bangsawan lain.


“Bagaimana? Apakah masih terasa sakit atau nyeri?” tanya Raja Louise pada Eden


“Tidak, sudah jauh lebih baik” jawab Eden yang kemudian akan memakai kembali sepatu hak tingginya, namun Raja Louise yang peka membantu Eden memakaikannya.


Setelah selesai Raja Louise lantas berdiri dan membantu Eden untuk bangkit dari kursinya, tak berselang lama beberapa bangsawan datang untuk menyapa Raja Louise, sedangkan Eden hanya bisa melemparkan senyum tanpa ikut campur dalam percakapan mereka yang tidak jauh dari ranah politi, perdagangan dan juga penghasilan. Ingin rasa hatinya untuk pergi namun kewajiban sebagai pendamping Raja Louise di masa depan yang membuatnya tetap tinggal dan menemani kemanapun ia pergi meskipun harus berjam-jam berdiri. Tamu undangan yang sangat banyak sempat membuat Eden kuwalahan, ia tidak pernah menemui tamu sebanyak ini, padahal Raja Louise memintanya untuk menghafal seluruh tamu penting yang menyapa mereka akan tetapi pada dasarnya ingatan Eden lumayan buruk jadi ia tidak bisa langsung mengingat wajah seseorang hanya dengan sekali lihat saja.


“Aku harap, ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan ku dari penderitaan ini”  gumam Eden yang masih mempertahankan ekspresi wajah tersenyumnya.


Tak berselang lama bantuan yang ia harapkan datang, Pangeran Arthur menghampiri dirinya dan Raja Louise untuk ikut dalam percakapan bersama beberapa tamu, “Terimakasih” berbisik pada Pangeran Arthur kemudian pergi meninggalkan keduanya yang jelas atas seizin dari Raja Louise sehingga Eden bisa memisahkan diri dari pusaran pembicaraan kelas tinggi seperti barusan.


“Ahh aku pusing, aku sangat pusing sekali. Otak ku tidak kuat untuk menerima percakapan mereka” ucap Eden seraya memegang kepala kemudian berjalan menuju balkon di lantai 2, ia sepertinya ingin menenangkan diri.


Sesampainya di balkon, Eden kemudian menggerutu, ia terus mengeluhkan pesta hari ini, saking kesalnya ia sampai melepas sepatu hak tingginya dan terus berjalan mendekat pada tepian balkon.


“Untung saja pemandangan malam ini sangat indah, jika tidak sudah ku hancurkan Istana ini” sedikit berteriak kemudian menoleh ke belakang dan tak sengaja mendapati Alejandro sedang melihat ke arahnya, sepertinya sudah sedari tadi ia mengikuti Eden.


Mendapati temannya sedang berdiri menatapnya membuat Eden lantas tersenyum kemudian melepaskan sepatu hak tinggi yang ia pegang dan lantas berjalan mendekat pada Alejandro, begitupun Alejandro yang berjalan mendekati Eden. Saat keduanya sudah dekat Eden pun melompat meraih pundak Alejandro untuk memeluknya, begitupun sebaliknya, Alejandro meraih pinggang Eden dan memberikan pelukan erat. Setelah sekian lama terpisah pada akhirnya keduanya dipertemukan kembali di wilayah asing ini.