
“Hei.. jangan berlari, kau bisa jatuh” seru Damian mencoba mengingatkan Eden agar tidak terburu-buru, akan tetapi peringatannya ini tidak di indahkan oleh Eden sehingga membuat Damian menggelengkan kepala atas sikap sembrono Eden yang terkadang tidak terkendali hanya karena menyenangi sesuatu.
Eden dengan perasaan senangnya berlari menuju ujung jalan yang sedang ia tapaki tanpa menghiraukan Damian, ia dengan tega meninggalkan Damian sendiri dibelakangnya. Sesampainya di ujung jalan Eden dibuat takjub dengan pemandangan indah yang terlihat, hamparan kebun berisis berbagai macam bunga dengan warna berbeda sontak membuatnya takjub, ditambah saat ini masih bagian dari musim panas membuatnya merasa senang bukan kepalang. Ia kemudian berlari menusuri ladang bunga yang ada di sekitar seraya melompat, berlari dan sesekali memutar karena senang, tampak jelas senyum lebar terkembang dari wajah Eden saat itu.
Melihat taman bunga yang begitu luas dan menyejukkan mata membuatnya segera berlarian ke sana kemari untuk melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran, bahkan ladang bunga yang sangat luas ini dilengkapi dengan kincir angin besar, benar-benar terlihat seperti ladang bunga sungguhan. Dari kejauhan Damian melihat Eden, tak berselang lama burung pos datang pada Damian, ia lantas merespon dengan mengangkat tangan sejajar dengan dada agar burung pos bisa mendarat dengan segera. Sepucuk surat datang dari The Great Aztec berisi pesan mengenai penangkapan Adel. Sejenak Damian berpikir, berita ini sangat penting bagi Eden, akan tetapi di sisi lain latihan juga tak kalah penting demi memperkuat kendali Eden terhadap Naga Api. Saat ini karena Eden masih menjadi tanggungjawabnya maka Damian memutuskan untuk tidak memberitahukannya pada Eden, akan lebih baik jika Eden bisa berkfokus pada latihan dan dapat menyelesaikannya dengan segera sehingga nantinya Eden bisa memikirkan masalah Eden saat kembali ke The Great Aztec.
Beberapa jam berlalu, Eden yang sedari tadi bermain kini sudah merasa cukup puas dengan kegiatannya hari ini, tak terasa matahari sudah benar-benar tenggelam dan menyisakan segelintir cahaya yang lama kelamaan berganti menjadi gelapnya langit malam.
“waahhh aku senang sekali” ucap Eden dengan nafas terengah-engah berjalan mendekati Damian.
“Kau suka dengan ladang ini?” tanya Damian yang sedari tadi berdiri memandangi Eden dari kejauhan.
“Emm” seraya menganggukkan kepala menjawab Damian, “Tempat ini adalah yang paling indah untuk melihat matahari terbenam, ah biar ku koreksi, ini tempat nomer 1 dengan pemandangan matahari terbenam yang sangat indah” seraya mengacungkan jempol pada Damian.
“Memang tempat nomor satu itu ada dimana?” tanya Damian yang ingin mengetahui tempat nomer 1 yang dimaksud oleh Eden.
“Nomer 1 kota Thalsa, nomer 2 Istana Matahari, nomer 3 perbukitan Tsygy, tapi sekarang tempat-tempat itu sudah tergeser oleh ladang ini” seraya merentangkan tangan menunjuk sekitar.
“Ayo kembali” ucap Damian tiba-tiba mengajak Eden kembali.
“Kenapa? Kita bahkan baru sampai” sedikit mengeluh karena Damian malah mengajaknya pergi dari tempat yang indah ini.
“Kau harus segera berlatih” ucap Damian seraya berbalik ke arah tempat latihan Eden.
“Ah.. iya anda benar. Baiklah mari kita kembali” ucap Eden yang kemudian berjalan, kali ini ia berjalan beriringan di samping Damian.
***
(Negara Cemos)
Malam telah tiba, hari ini tepat setelah 3 hari Beatrice mengunjungi kantor pusat Dewan Keamanan Wilayah, ia pun pergi menuju pinggiran kota, tempat di mana Rosemary dan Adam Lewis saat ini berada. Mereka sudah memiliki janji sebelumnya, setelah Charlotte tertangkap Rosemary dan Adam Lewis kelabakan mereka tidak menyangka kejadian semacam ini akan menimpa satu-satunya asisten paling berbakat yang mereka miliki. Tidak ada jalan selain merubah strategi, ditambah Beatrice yang sudah tidak tinggal di Istana The Great Aztec membuat langkah keduanya jadi lebih terhambat. Sebelum sampai di negara Cemos, Beatrice sempat mengirimkan sebuah pesan pada Rosemary bahwa dia ingin bergabung dalam tim dan akan segera menyerang menggunakan caranya sendiri. Setelah menjelaskan cara apa yang akan digunakan melalui surat, Rosemary merasa rencana itu cukup bagus, selama ini mereka berulangkali menyerang Eden secara langsung akan tetapi selalu saja gagal, karena itulah kali ini mereka akan menyerang sang adik. Menurut mereka Adel merupakan mangsa empuk yang rapuh dan dapat menjadi kartu as paling kuat untuk membunuh Eden secara perlahan, karena serangan fisik sudah tidak mempan maka cara licik ini adalah yang terbaik untuk mereka laksanakan. Benar saja, belum genap 3 hari orang-orang di sekitar Eden sudah kelabakan menangani masalah ini, pergerakan mereka terbaca jelas oleh Rosemary yang mengawasi dari kejauhan melalui cermin sihir.
“Kerjamu sangat bagus dan rapih, mereka mulai kacau karena ulah yang kau buat” ucap Rosemary memberi pujian pada Beatrice yang saat ini berdiri di belakangnya.
“Hanya urusan kecil, seharusnya kita serang dia dengan cara ini sejak awal” jawab Beatrice seraya menyilangkan tangannya.
“Apakah Charlotte menitipkan sesuatu pada mu?” tanya Rosemary seraya membalikkan badan ke arah Beatrice.
“Sesuatu? Ah maksud mu bagian dari tubuh Eden? Sejujurnya itu sangat sulit dilakukan karena belum sempat melancarkan aksi aku sudah di usir karena asisten mu yang sedikit ceroboh itu” seraya memalingkan wajah Beatrice menjawab Rosemary. “Ngomong-ngomong apa rencana mu selanjutnya?” imbuh Beatrice bertanya pada Rosemary
“Sebenarnya aku berencana membuat mu memimpin pasukandengan menjadi penunggang Hydra, karena kita sama-sama kesulitan, aku mungkin akan menggunakan rencana kedua” jawab Rosemary sambil berbalik membelakangi Betarice kemudian meletakkan cermin sihir.
“Haruskan aku mencobanya kembali? Aku akan mengirimkan orang untuk mengambil bagian tubuh Eden” Beatrice terlihat ambisius dengan rencana awal dari Rosemary.
“Itu akan sulit, apalagi saat ini seorang Damian selalu mendampingi Eden. Akan tetapi jika kau mau mencoba aku tidak akan melarangmu. Jika kau berhasil melaksanakan misi ini maka akan sangat membatu rencana kami untuk menguasai wilayah ini” ucap Rosemary seraya membuka bukunya kemudian melanjutkan kerjanya dengan membuat sihir dalam sebuah kuali.
“Sejujurnya aku tidak tertarik dengan ambisi kalian untuk menguasai wilayah ini, asalkan ambisi kalian ini dapat memusnahkan Eden dari muka bumi tentu saja aku akan melaksanakan tugas, apapun itu” seraya menggaruk daun telinga menunjukkan ketidaktertarikan pada hasrat dan ambisi Rosemary.
“Ya tentu saja, orang seperti mu hanya berambisi pada cinta saja, mari bekerja dengan memikirkan kepentingan masing-masing dan saling mencampuri urusan yang lain” ucap Rosemary seraya membuka halaman demi halaman buku mantra yang ada di tangannya.
“Baiklah, aku setuju. Tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi jadi, permisi” Beatrice berpamitan pergi meninggalkan lokasi tempat Rosemary dan Adam Lewis tinggal.
“Naif bukan? Anak muda jaman sekarang rela melakukan segalanya hanya demi cinta” ucap Rosemary pada Adam Lewis seraya tersenyum simpul.
***
(Pusat Kota The Great Aztec)
“Haruskah kita kembali ke studio saja dan menunggu?” ucap Cecilia seraya menepuk pundak Diana.
“Ya sepertinya ini ide bagus, kita tidak bisa terus menerus mencarinya di pusat kota, ayo” ucap Diana yang juga setuju dengan ajak Cecilia.
Benar saja, saat sampai di depan studio milik Richardo mereka mendapati tempat itu telah buka, hal ini ditandai dengan lampu yang menyala. Mendapati hal ini tentu saja membuat mereka sedang sehingga membuat Cecilia dan Diana lekas berjalan masuk. Karena sedikit terburu-buru Cecilia sempat menabrak seseorang di pintu masuk, merasa bersalah membuat Cecilia lekas meminta maaf, “Maafkan saya karena tidak sengaja menabrak anda” seru Cecilia seraya menundukkan kepala, dan di balas oleh suara singkat orang tersebut, “Tidak apa-apa” suara pria terdengar membuat cecilia spontan menegakkan kepalanya dan tak sengaja memperhatikan, orang yang sekarang ada dihadapannya ini mengenakan mantel dan menampakkan wajahnya sekilas, sambil tersenyum ia lantas pergi meninggalkan Cecilia.
Merasa wajah yang ia lihat tampak tidak asing membuat Cecilia pun spontan menoleh melihat si pria berjalan menjauh, hal ini sontak membuat Diana penasaran sehingga ia pun bertanya, “Ada apa?” bisik Diana seraya mendekat pada Cecilia.
“Ah tidak apa, ayo lekas masuk” ucap Cecilia yang segera masuk untuk menemui Richardo.
“Selamat datang” sambut Richardo yang terdengat sangat lemas seperti tidak berniat menyambut pelanggan.
“Tuan, kami mencari anda sedari tadi, syukurlah anda sudah kembali” Sapa Cecilia ramah yang sontak membuat Richardo menoleh ke arahnya, ia mendapati dua gadis muda yang mencarinya membuat Ricardo kembali menunduk.
“Dua gadis muda mencariku, jadi apakah ini berkaitan dengan seorang pria?” tanya Richardo seraya merauti pensilnya agar lebih tajam.
“Wahh bagaimana anda bisa tahu? Anda hebat sekali” ucap Cecilia berusaha memuji Richardo agar dia bisa diajak bekerja sama.
Mendengar pujian Cecilia lantas membuat Richardo menoleh ke arahnya lagi, “Gadis muda, hasrat yang menggelora, bukankan kalian mencariku karena ingin meminta ku untuk membuat sebuah sketsa wajah dari pria yang kalian cintai?” Richardo dengan asal menebak maksud dari kedatangan Cecilia dan Diana yang malah membuat keduanya tersenyum kaku, mereka tidak menyangka hal semacam cinta bisa muncul dalam benak seorang pelukis terkenal seperti Richardo, memang benar bahwa Richardo terlihat masih muda tapi tebakannya itu salah besar hingga membuat Cecilia tertawa canggung.
“Ha.. ha.. ha.. ini sedikit mirip tapi kami tidak sedang mencari pria yang kami cintai” ucap Cecilia mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
“Lalu apakah dia selingkuhan mu? Atau dia memiliki hutang padamu?” spontan Richardo kembali menebak-nebak isi pikiran Cecilia. Mendengar hal ini sontak membuat Cecilia bingung harus menjawab apa sehingga membuat Diana pun turun tangan.
“Kami sedang mencari ayah dari nona kami” ucap Diana seraya meletakkan tangan di atas meja, sontak hal ini membuat Cecilia spontan menoleh dan memperlihatkan ekspresi kebingungan.
“Kami sebenarnya sudah lama memendam masalah ini, keluarga nona Cecilia merupakan keluarga orang kaya baru, karena keserakahan yang tidak terkendao sehingga membuatnya menjual nona kepada bangsawan bermartabat, namun ternyata nona kami telah ditipu, bangsawan itu sangat tidak berperikemanusiaan, dia menyiksa nona kami. Sedangkan sang ayah pergi dan lepas tangan atas nasib nona kami yang malang. Karena itulah kami datang kesini bertujuan untuk membuat sketsa wajah dan menyebarkan sketsa wajah ayah nona kami, kami ingin menyeretnya ke meja hijau agar dia mendapat hukuman” dengan semangat berapi-api Diana menjelaskan sebuah cerita fiksi yang ia karang sendiri supaya Richardo tersentuh dan mau membuatkan sketsa wajah. Terkejut dengan bakat mengarang Diana yang sangat sempurna sempat membuat Cecilia terhenyak.
“Ah jadi begitu, kalau masalah keadilan aku harus membantu kalian” ucap Richardo yang sepertinya tersentuh dengan cerita palsu Diana. Mendengar hal ini membuat Diana dan Cecilia tersenyum senang.
“Aku biasanya tidak membuatkan sketsa wajah untuk sembarang orang, bahkan orang yang masuk sebelum kalian sudah ku tolak, tapi ingat biayanya tidak sedikit. Setidaknya kalian harus menyiapkan 1000 koin emas untuk hasil gambar yang akan ku buat” ucap Richardo menjelaskan mengenai harga yang harus mereka bayar.
“Ya tentu saja kami sudah menyiapkan uangnya, berapapun akan kami bayar” ucap Cecilia seraya memberikan sebuah kantong berisi banyak koin emas. “Buat semirip mungkin” imbuh Diana.
“Ngomong-ngomong, orang sebelum kami meminta apa tuan?” tanya Cecilia penasaran pada sosok yang ia tabrak di depan pintu.
“Permintaan yang cukup aneh dan mungkin tidak kalian mengerti. Dia meminta semacam sketsa tata wilayah. Ini permintaan yang sangat sulit karena setidaknya aku harus berkeliling kota untuk memastikan detilnya. Jadi
aku langsung menolak saja” tutur Richardo menceritakan permintaan sosok yang datang sebelum Cecilia dan Diana.
“Kota ini maksud anda?” tanya Cecilia yang masih penasaran terhadap permintaan orang asing tersebut.
“Ya begitulah, ah.. setelah ku ingat-ingat dia juga meminta detil-detil seperti saluran air dan saluran pembuangan juga di gambar. Itu sangat sulit sehingga aku menyuruhnya untuk pergi ke Badan Arsip Negara atau semacamnya tapi dia malah pergi begitu saja. Dia sangat tidak sopan” keluh Richardo. “Baiklah nona, silahkan sebutkan ciri-ciri orang yang anda maksud, saya akan mulai menggambarnya” ucap Richardo seraya memegang pensil dan meletakkan kertas di atas meja seolah memberi tanda bahwa ia sudah siap untuk
menggambar.
Cecilia lantas menyebutkan ciri-ciri orang yang ia maksud, berbekal ingatan yang kuat Cecilia berhasil mendeskripsikannya dengan detil tanpa kurang sedikt pun. Mendengar penjelasan Cecilia membuat Richardo segera menggambar, ia menunjukkan keahlian tangannya dan berhasil menyelsaikan sketsa tepat tengah malam.
“Wahh.. ini sangat mirip” seru Cecilia kagum dengan hasil gambar dari Richardo.
“Ya tentu saja ini bukan apa-apa. lagi pula kau mendeskripsikannya dengan detil dan teliti, ingatan mu terhadap ayah nona mu itu sangat tajam” seraya mengelap keringat menggunakan sebuah kain kecil, Richardo juga merasa puas dengan hasil gambarnya.
“Terimakasih atas bantuan anda tuan, kami permisi dulu” seru Diana yang segera berpamitan meninggalkan studio. Ada yang aneh dari raut wajah Cecilia, saat di dalam studio ia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan setelah selesai ekspresi wajahnya juga tetap sama, hal ini tentu saja mengundang tanya dari Diana.
“Hei, apa ada sesuatu yang mengusik pikiran mu? Sedari tadi ku perhatikan kau tampak murung setelah Richardo bercerita tentang sosok pria yang tidak sengaja kau tabrak di pintu masuk. Jangan katakan kau mengenalnya” ucap Diana seraya sedikit menyenggol Cecilia.
Tiba-tiba saja Cecilia menghentikan langkahnya, ia kemudian menatap Diana dengan serius, “Sepertinya aku tahu siapa dia”