
***
Pohon keramat yang berusia lebih dari 100 tahun merupakan tempat di mana energi alam berkumpul, di tempat inilah segala kekuatan baik itu sihir baik maupun jahat tidak akan berfungsi. Alasan inilah yang
membuat Pendeta Damian selalu mengunjungi tempat ini dimanapun ia berada termasuk ketika menghancurkan permata hitam berisi kekuatan sihir seperti sebelumnya. Dengan menggenggam erat permata hitam, Damian lantas menghancurkannya hingga lebur dan hilang tersapu oleh angin, tindakan ini merupakan hal paling tepat yang ia lakukan demi menyelamatkan orang lain dari pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh kekuatan sihir hitam milik Rosemary. Pangeran Arthur yang sedari tadi setia mengikuti Damian pun merasa sangat bersyukur karena berkat Damian Istana kini sudah netral dari kekuatan sihir.
“Hamba sangat berterimakasih, berkat kebaikan hati anda Istana kini telah terbebas dari kekuatan sihir hitam” seraya menundukkan kepala mengucap terimakasih pada Damian, dibanding sang kakak, Pangeran Arthur
adalah seseorang yang tahu bagaimana caranya berterimakasih.
“Hal seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan karena sudah menjadi kewajiban bagiku untuk menyeimbangkan alam semesta” ucap Damian yang seolah merasa bahwa kejadian hari ini murni merupakan tugasnya.
“Tidak bisa demikian Pendeta, sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan hamba merasa harus berterimakasih dan bila perlu hamba harus membalas kebaikan anda hari ini” ucap Pangeran Arthur yang
bersikukuh ingin memberikan balasan pada Damian.
“Sejujurnya bagi Pendeta sepertiku tidak perlu menerima balasan apapun dari seseorang, akan tetapi bila kau memaksa aku tidak dapat menolaknya, kalau begitu mendekatlah” seraya melambaikan tangan meminta
Pangeran Arthur mendekat padanya, dan benar saja kini Pangeran Arthur sudah berada lebih dekat dengan Damian yang kemudian membisikkan sesuatu. Bisikan ini sempat membuat pupil mata Pangeran Arthur melebar karena terkejut dengan permintaan Damian yang sepertinya sedikit sulit untuk diwujudkan.
“Aku tidak memaksa, bila kau tidak bisa pun tidak apa” ucap Damian seraya menjauhkan kepala dari telinga Pangeran Arthur.
Sejenak Pangeran Arthur sempat terdiam setelah mendengar permintaan Damian, akan tetapi ia sendiri tidak boleh menolak karena ia juga yang menawarkan pada Damian, “Baiklah akan hamba usahakan Pendeta” seraya menganggukkan kepala menyanggupi permintaan Damian.
“Baiklah, aku percayakan padamu” seraya menepuk pundak Pangeran Arthur dan berlalu pergi meninggalkannya.
“Permintaan yang terdengar sederhana, akan tetapi prosesnya tidak sesederhana kelihatannya. Apa boleh buat, aku harus mengusahakannya, jarang-jarang Pendeta Damian meninta sesuatu pada seseorang. Karena ini permintaan beliau maka aku akan menjadi orang pertama yang berhasil mewujudkan keinginanya” bergumam dalam hati seolah sedang menyemangati diri sendiri.
***
Lokasi latiha militer, tempat berlatih calon pasukan baru pelindung portal yang akan mendampingi Eden dalam misi di masa depan. Tempat ini juga menjadi lokasi latihan bagi rekan-rekan Eden berlatih dan beberapa dari mereka secara bergantian menjadi instruktur/pelatih yang telah dijadwalkan sendiri oleh Eden. Mengetahui kemampuan rekan-rekannya yang di atas rata-rata sehingga membuat Eden tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan bakat ke enam rekannya tersebut. Lagi pula mereka juga belum memiliki pekerjaan sehingga atas keinginan Eden dan juga izin dari Raja Louise, mereka pun mendapat kesempatan emas ini dan langsung menerimanya tanpa ragu. Hari ini memasuki hari ke 10 pelatihan dan semua berjalan sebagaimana mestinya tanpa da halangan maupun hambatan yang berarti, hal ini dikarenakan calon pasukan cepat paham dan mengerti materi yang diberikan oleh para pelatih. Menjelang sore hari, waktu pelatihan sudah selesai saatnya bagi calon pasukan kembali ke asrama masing-masing, kecuali para pelatih yang tetap tinggal untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke Istana Vie Rose tempat tinggal mereka. Sambil beristirahat Lucas dan rekan yang lainnya mengatur nafas mereka agar kembali seperti semula seraya berbincang tentunya. Beberapa saat kemudian Cecilia bersama Adel datang dengan membawa bekal makanan kecil bagi mereka, segera setelah sampai Cecilia menyiapkan manyajikan makanan dan memberikannya satu persatu. Lokasi latihan militer merupakan tempat ke dua bagi rekan-rekan Eden untuk berkumpul meskipun hari ini Chris tidak ikut karena memiliki urusan hingga mengharuskan dirinya untuk keluar Istana.
“Nah.. makanan sudah siap, silahkan” ucap Cecilia seraya membuka kedua telapak tangannya.
“Seperti biasa, makanan buatan mu selalu terasa enak” ucap Marco memuji kemampuan memasak Cecilia.
Saat tengah asik menyantap makanan ringan, tiba-tiba Diana teringat sesuatu dan menyampaikan pada rekannya, “Apa kalian sudah mendengar kabar hari ini?” ucap Diana seraya menelan makanan yang sudah ia kunyah agar ucapannya terdengar jelas oleh rekan yang lain.
“Berita apa maksudmu?” tanya Justin sambil mengunyah makanan yang menyebabkan ucapannya sedikit terdengar tidak jelas.
“Charlotte ditangkap atas penyalahgunaan sihir hitam dilingkungan Istana” ucap Diana singkat.
“Apa?!!” serentak terkejut setelah mendengar Diana menyampaikan berita yang ia maksud.
“Charlotte pelayan dari Beatrice maksudmu?” tanya Cecilia mencoba memastikan sosok yang dimaksud oleh Diana.
“Benar, orang itu. Tadi aku sempat berpapasan dengannya saat ia digiring menuju penjara oleh beberapa penjaga. Tapi anehnya ada sesuatu yang berbeda. Maksudku ekspresi wajahnya tampak seperti habis kehilangan sesuatu, pandangan matanya kosong” seraya menunjuk wajahnya Diana menuturkan kesan saat melihat Charlotte.
Setelah mendengar penuturan Diana membuat semua orang terdiam sejenak seolah memikirkan alasan dibalik ekspresi wajah Charlotte yang berubah, “Aku rasa kesan yang dimaksud oleh Diana mungkin berkaitan dengan kekuatan sihir yang telah dipisahkan dari inangnya” ucap Lucas memberitahukan analisisnya.
“Eiiiiyyyy.. mana mungkin, di dunia ini tidak ada orang yang punya kekuatan sehebat itu” ucap Marco membantah analisis Lucas.
“Benar, mana ada orang yang sesakti itu” imbuh Justin yang diikuti dengan anggukan kepala oleh rekan-rekan yang lain seolah setuju pada pendapat Lucas.
Seraya menghela nafas berulang kali, Lucas lantas berbicara, “Kalian ini belum pernah bepergian jauh, bahkan kurang jauh mungkin. Pengetahuan kalian sangat dibawah rata-rata” seolah menyindir rekan-rekan yang kurang peka terhadap lingkuan sekitar sambil menggelengkan kepala berulang kali.
“Apa maksud ucapan mu itu?! Entah mengapa terdengar sangat menyakitkan” seru Marco seraya menyentuh dadanya.
“Benar, selama ini kita bertiga selalu bepergian bersama-sama, bagaimana bisa kau mengatakan hal itu!” imbuh Justin yang juga tersinggung pada ucapan Lucas.
“Entah kenapa aku jadi merasa tidak enak hati karena selama ini selalu hidup berkecukupan” gumam Adel menanggapi kesedihan rekan-rekannya.
Seraya menepuk jidat lagi-lagi Lucas menghela nafas panjang, “Bukan seperti itu, kalian salah sangka. Maksudku adalah kalian ini kurang peka dengan lingkungan sekitar, sosok yang dapat memisahkan suatu
kekuatan dari si pemilik memang ada di dunia ini, 1. Sri Isaac Xavier, 2. Damian Xavier. Jika seperti ini sudah jelas kan siapa yang memisahkan kekuatan Charlotte dari dirinya?”
“ahh.. ada benarnya juga, aku melupakan sosok Pendeta Damian.. tapi apakah benar kekuatannya sebesar itu?” tanya Marco memastikan sebesar apa kekuatan yang dimiliki oleh Damian.
“Akan ku beritahu gambaran besarnya, Pendeta Damian lahir dengan keistimewaan untuk menyeimbangkan alam semesta, ketika ada sesuatu hal yang menyimpang dan bertentangan dengan alam maka tugasnya adalah menghancurkannya” secara singkat Lucas menjelaskan kekuatan dari Damian.
Mendengar penjelasan Lucas membuat rekannya menganggukan kepala karena mereka sepertinya baru tahu mengenai kekuatan ini.
“Lalu bagaimana dengan nasib si upeti? Apakah mungkin dia akan dihukum juga” tanya Laura penasaran dengan nasib Beatrice.
“Entahlah, aku tidak mendengar apapun mengenai dirinya, yang jelas Charlotte masuk ke Istana atas rekomendasi dari si upeti dan itu artinya dia turut bertanggungjawab atas perbuatan si upeti” ucap Diana
seraya memakan kembali makanan yang sempat ia diamkan saat mendengar penjelasan Lucas sebelumnya.
“oh iya, bagaimana dengan hubungan mu dan Pendeta Damian? Apakah beliau masih bersikap dingin terhadap dirimu?” tanya Lucas pada Adel.
“Berkat kakak, kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya telah terselesaikan” sambil tersenyum menatap Lucas.
“Syukurlah, aku ikut merasa lega mendengarnya” ucap Lucas yang juga tersenyum membalas Adel.
***
Beberapa hari berlalu pasca Charlotte dijebloskan ke dalam penjara Saintbell, Beatrice terus mengurung diri dalam kamarnya, ia sama sekali tidak keluar kamar bahkan makanan yang diantarkan oleh pelayan pun tidak
ia sentuh sama sekali. Hingga pada akhirnya tepat sehari sebelum Raja Louise dan Eden mengadakan pemberkatan pertunangan Beatrice mengambil keputusan untuk angkat kaki dari Istana. Ia sepertinya sudah memikirkan ini dengan matang dengan mengajukan pembatalan status dirinya sebagai upeti atau selir dari Raja Louise. Harga diri yang tinggi menyebabkan Beatrice mengambil langkah semacam ini, lebih baik pergi dengan terhormat sebelum di usir secara paksa. Ia bahkan telah selesai mengemasi semua barang miliknya, tanpa berpamitan pada siapapun, Beatrice pergi bersama pelayan pribadi yang ia bawa dari Eufrat.
“Putri, apakah kita akan kembali ke Eufrat, hamba akan mengatakan tujuan kita pada kusir” tanya si pelayan pada Beatrice seraya membuka pintu kereta kuda.
“Tidak, ada sebuah tempat yang akan ku kunjungi, katakan kita akan pergi ke wilayah Cemos” mendengar perintah Beatrice lantas membuat si pelayan menyampaikan lokasi tujuan mereka. Sempat terbersit dalam benak si pelayan mengenai majikannya yang telah berubah setelah mengenal Rosemary, ia merasa khawatir pada masa depan Beatrice, segala reputasi yang telah dibangun dengan kerja keras mungkin akan hancur bila dia tetap bergaul dengan seorang penjahat. Akan tetapi, sebagai seorang pelayan, ia tidak berani mencegah maupun memberi saran, yang bisa ia lakukan hanyalah tetap setia menemani majikannya kemanapun dia akan pergi seperti saat ini.
“Aku sudah terlanjur melangkah sampai sejauh ini, tidak ada jalan kembali bagiku karena itulah aku harus melanjutkannya, entah apapun hasilnya dia tetap harus menderita” gumam Beatrice seraya menggenggam erat gaun yang ia kenakan, sepertinya belum ada kata menyerah bagi Beatrice, ia tidak mau mengakui kekalahannya sehingga membuatnya semakin buta arah dan memilih jalan pintas.
***
Waktu yang sama dan tempat berbeda, Pangeran Alejandro tengah dalam perjalanan menuju The Great Aztec dengan didampingi oleh beberapa pasukan Istana yang sengaja menjemputnya di perbatasan.
(Beberapa hari sebelumnya)
Alejandro kala itu sedang menikmati pemandangan sore di balkon rumah, banyak hal yang sedang ia pikirkan hingga terlarut dalam lamunan tidak berujung. Setelah pindah rumah beberapa bulan yang lalu tidak banyak hal tersisa dari kenangan masa lalu, kecuali kenangan yang ia simpan dengan baik mengenai teman-teman dan lingkungan tempatnya tinggal saat pertama kali datang ke kota kecil ini. Maklum saja, bagi seorang Pangeran yang telah terbiasa menjalani hidup mewah dan kini harus menjalani hidup sebagai rakyat jelata sangatlah sulit, apalagi ia harus belajar bahasa baru juga beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat sekitar yang sama sekali asing bagi dirinya. Setidaknya satu tahun adalah waktu paling cepat bagi Alejandro dapat menguasai bahasa daerah setempat. Alejandro pindah ke kota kecil ini saat berusia 8 tahun bersama kedua pelayan setia sang ayah, sedangkan sang ayah telah meninggal ketika usianya 6 tahun atau tepat 2 tahun setelah dirinya keluar dari Istana dan tinggal di daerah lain. Pada akhirnya atas permintaan sang ayah, Alejandro pun pindah ke daerah yang lebih jauh dan ingin menjauhi hingar-bingar kehidupan Kerajaan. Meskipun letaknya sangat jauh akan tetapi ada seorang ajudan setia yang rutin mengirim surat pada dirinya, bahkan 5 tahun terakhir sang ajudan sering menengok Alejandro dan mengawasi dirinya dari kejauhan, sebenarnya Alejandro mengetahui hal ini akan tetapi ia berpura-pura tidak mempedulikan si ajudan karena memang dirinya sudah tidak ingin terlibat dengan hal-hal berbau keluarga Kerajaan. Bahkan meskipun Raja Louise sempat datang berkunjung untuk mengajaknya kembali, Alejandro masih tetap pada pendiriannya bahwa ia ingin tinggal dan hidup dengan tenang di kota kecil ini. Beberapa jam terlena dalam lamunan membuat Alejandro merasa lebih tenang dari sebelumnya.
“Keluarlah, kau tidak perlu bersembunyi seperti itu” ucap Alejandro yang sadar bahwa seseorang sedang mengawasi dirinya, dan dia adalah si ajudan setia yang sedari tadi berdiri dibalik tembok.
Si ajudan lantas keluar dari tempat persembunyian dirinya dan berdiri tepat di sebelah Alejandro. “Kali ini apalagi, aku selalu menuruti saranmu, bahkan pindah dari rumah sebelumnya meskipun aku tidak ingin” ucap Alejandro yang menolak padahal si ajudan belum berbicara apa-apa.
“Yang Mulia, hamba harap anda mempertimbangkan keinginan Raja Louise untuk kembali ke The Great Aztec” ucap si Ajudan seraya menyentuh pundak Alejandro.
“Jangan berbicara apapun jika itu mengenai Istana” ucap Alejandro seraya menyingkirkan tangan si ajudan, dan seolah memberi batasan pada ajudan agar tidak merayunya untuk kembali ke The Great Aztec.
“Tidak ada cara lain, hamba akan memberitahukan sesuatu pada anda, seseorang yang anda kenal saat ini sedang berada di sana. Bahkan dia berada dalam kelompok kami”
Mendengar ucapan si ajudan lantas membuat Alejandro terkejut akan tetapi ia berusaha mengendalikan pikirannya dan untuk memastikan kebenaran ini ia lantas bertanya, “Kau yakin?” ucap Alejandro seraya mengernyitkan alis yang dijawab oleh si ajudan dengan anggukan kepala seraya memberikan sepucuk surat yang kemudian segera dibaca oleh Alejandro. Ia sangat ingat betul tulisan tangan yang sedang ia baca, “Persiapkan semuanya, aku akan kembali ke The Great Aztec” ucap Alejandro memberi perintah pada si ajudan yang disambut suka cita oleh dirinya.