LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Pohon 100 Tahun



Setelah pergi berpamitan, Pangeran Arthur lantas mengantar Damian menuju tempat peristirahatan bersama Marco, Justin dan Lucas, dalam perjalanan terucap pertnyaan-pertanyaan mengenai kejadian selama di taman pribadi Raja yang tentunya berkaitan dengan Eden. “Kalau boleh tahu apa yang terjadi selama di taman pribadi Raja” tanya Justin membuka percakapan.


“Kejadian tadi akan sangat berbahaya jika Pendeta Damian tidak datang tepat waktu, Eden sedang berada pada batas kendali terhadap tubuhnya. Aku menyaksikan seluruh tubuhnya terselimuti lava panas, ia linglung lupa dengan dirinya sendiri, awalnya aku mengira karena efek sementara saja akan tetapi wujud yang dia


tampakan tadi di kamar Raja adalah wujud dalam kendali Naga Api. Sangat mengerikan, aku bahkan sampai merinding hanya dengan melihatnya dari kejauhan” tutur pangeran Arthur pada ketiga rekannya yang penasaran dengan kondisi Eden.


“Benarkah separah itu? Lalu apa penyebabnya? Bagaimana bisa dia sampai hilang kembali?” tanya Marco menyambung pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh Justin.


“Karena memang sudah saatnya” jawab Damian mendahului Pangeran Arthur, ia tidak ingin ketiga rekan Eden salah paham atau salah memahami kondisi yang sedang ia alami saat ini.


“Sebentar lagi purnama pertama yang akan ia lalui setelah berhasil melakukan ikatan dengan Naga Api, selain itu proses penyatuan kekuatan juga tidak sebentar sehingga menyebabkan Eden harus merasakan perubahan besar terhadap dirinya termasuk suhu tubuh yang meningkat, bahkan di saat mengalami hal itu ia masih harus menghindari pantangan yaitu air” imbuh Damian menyelesaikan penjelasannya secara terperinci.


“Air? Ahh pantas saja, dia sering mengeluh kepanasan selain itu dia juga selalu mencari air, bahkan hampir setiap hari dia berendam di danau dekat Istana Vie Rose” ucap Marco yang juga merasa ada keanehan pada Eden sebelumnya.


“Sayangnya meskipun Kuil Suci telah mengirimkan peringatan, namun kita semua terlambat menyadari hal itu” ucap Pangeran Arthur merasa menyesal karena tidak mengindahkan peringatan dari Kuil Suci mengenai kondisi Eden.


Mereka belima pun terus melanjutkan perjalanan dalam keheningan malam dan dingin angin yang terus berhembus.


Hempasan angin membuat Damian berhenti sejenak yang membuat Pangeran Arthur dan ketiga rekan Eden pun ikut berhenti.


“Ada apa pendeta?” tanya Pangeran Arthur pada Damian.


“Di Istana ini apakah memiliki pohon keramat yang berusia lebih dari 100 tahun?” tanya Damian tiba-tiba bertanya yang terdengar seperti acak di telinga Pangeran Arthur dan ketiga rekan Eden.


“Tentu saja kami memiliki beberapa pendeta, untuk apa anda menanyakan hal itu?” ucap Pangeran Arthur menjawab sekaligus bertanya kembali pada Damian.


“Aku perlu memulihkan kekuatan ku, pohon keramat yang berusia lebih dari 100 tahun dapat mempercepat pemulihan kekuatan tubuh ku” jawab Damian menjelaskan fungsi dari pohon keramat.


“Biar kami yang mengantar Pendeta Damian, Yang Mulia anda beristirahatlah.. sedari tadi kami perhatikan


anda tampak lelah” seru Marco menawarkan diri ingin menggantikan tugas Pangeran Arthur untuk mengantar Damian.


“Benar Yang Mulia, serahkan  urusan ini pada kami” imbuh Justin setuju pada Marco.


“Tenang saja kami tahu lokasinya” ucap Lucas mencoba meyakinkan Pangeran Arthur.


Merasa tak enak hati karena harus meninggalkan tamu penting memnuat Pangeran Arthur spontan melirik ke arah Damian yang justru membuat Damian merasa tidak nyaman, “Biarkan mereka yang mengantarkan ku, mebuat rantai pelindung sekaligus menciptakan mantra penguat disekitar tubuh Eden bukan merupakan pekerjaan mudah, beristirahatlah..” Damian mempersilahkan Pangeran Arthur untuk pergi lebih dulu, karena ia pun tidak ingin merepotkan orang lain meskipun ini bukan sifat aslinya karena biasanya ia memperlakukan anak muda sama seperti ketika Sri Isaac Xavier memperlakukan Lloyd, maklum saja keduanya hampir memiliki watak yang sama.


Setelah dipersilahkan pergi, Pangeran Arthur lantas memnita tolong pada Justin, Lucas dan Marco untuk mengantar Damian ke pohon keramat, lalu ia pun berpamitan dan lantas kembali ke Istana tempat ia tinggal.


“Lewat sini pendeta, kami akan mengantar anda” ucap Lucas seraya menunjukkan jalan, merekapun lantas pergi menuju pohon seratus tahun.


***


“Sepertinya aku perlu mengkonfirmasi sesuatu, jadi dari siapa kau mengetahui bahwa aku pernah menebas seorang wanita? Atau kau pernah melihatnya sendiri? Katakan padaku?” Raja Louise mendesak Eden supaya menjawab pertanyaannya.


Sadar bahwa ucapannya merupakan sebuah kejadian yang pernah ia lihat langsung di masa lalu tanpa sepengetahuan Raja Louise, ia pun menelan ludah karena bingung harus beralasan apa, “ah itu... se..” belum selesai berbicara ia lantas menghela nafas, “Aku melihatnya secara langsung saat pertama kali tinggal di Istana Vie Rose, saat itu aku ingin menemui mu tapi kau malah sedang bermesraan dengan wanita lain dan lantas menghabisinya” seraya meletakkan roti yang sedang ia makan Eden pun memberanikan diri untuk berbicara yang sejujurnya dengan bahasa yang lebih nyaman yaitu bahasa informal.


“Apa kau pernah terganggu dengan hal itu?” tanya Raja Louise yang penasaran dengan perasaan Eden setelah melihat dirinya membunuh seorang wanita.


Eden lantas merespon dengan menggelengkan kepala, “Tidak sama sekali” sambil menatap Louise dengan santai Eden menjawab pertanyaannya.


“Benarkah?” seolah tidak percaya dengan pernyataan Eden lantas membuat Raja Louise bertanya sekali lagi.


“Tentu saja, aku tidak pernah merasa terganggu, karena anda pasti memiliki alasan mengapa harus melakukan tindakan kejam semacam itu. Lagi pula di negara ini bahkan di wilayah ini siapa yang tidak tahu sifat anda.” Menjawab Raja Louise kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan sambil menyandarkan bahu ke kursi, sebenarnya dalam hati Eden ia merasa terganggu, namun karena tidak ingin


menyinggung perasaan Raja Louise sehingga ia memilih untuk berbohong, lagi pula kejadian ini sudah lama terlewati.


“Sejujurnya aku juga memiliki satu kondisi yang berbeda dari manusia pada umumnya, ini karena darah dewa yang mengalir dalam tubuhku” seraya meletakkan gelas kosong yang sudah habis di atas meja kemudian badannya condong kedepan sambil menyatukan kedua telapak tangan dengan jari-jari yang terselip satu sama lain dan meletakkannya diatas kedua ujung paha. “Kondisi ini sama seperti yang kau alami.. aku banyak bermain dengan wanita, namun tidak satupun diantara mereka yang berakhir di atas ranjang dengan ku, karena mereka akan pingsan tepat ketika aku mencium leher mereka” melanjutkan cerita yang terdengar miris akan tetapi berdasarkan kejadian pribadinya sendiri.


Mendengar cerita Raja Louise spontan membuat Eden menyentuh lehernya menggunakan kedua tangannya.


“Tapi kau berbeda, kau bahkan tidak pingsan meskipun aku dengan sengaja menyerap seluruh energi mu” bereaksi terhadap respon spontan Eden yang menyentuh lehernya sendiri dengan menyangkal prasangka yang ada dalam benak Eden.


“Apa? jadi kau pernah mencoba menyedot energi ku?” celetuk Eden yang terkejut mendengar penuturan Raja Louise.


Raja Louise lantas melihat ke arah Eden sambil tersenyum karena merasa tingkah Eden sangat menggemaskan, “Setiap saat ketika ada kesempatan bersama mu maka aku akan melakukan semacam tes seperti itu dan bahkan kau sama sekali tak terpengaruh dengan hal ini” sambil mengelus rambut Eden.


“Tapi kenapa aku tidak merasa bangga dengan hal semacam ini” Eden bersikap acuh pada pujian yang ditujukan oleh Raja Louise terhadap dirinya.


“Ngomong-ngomong aku ingin bertanya karena penasaran.. apakah benar hanya aku satu-satunya orang


yang pernah pergi ke dunia luar? Jawablah, lalu kecualikan Cecilia, Chris, dan Jose karena mereka secara rutin pernah mengunjungi ku” imbuh Eden sambil sedikit menegakkan tubuhnya.


“Aku tidak dapat memastikannya, mengkin beberapa orang telah melakukan perjalanan ke dunia luar” jawab Raja Louise atas pertanyaan Eden.


“Apa kau pernah melakukan perjalanan ke dunia luar? Eeyyyy tidak mungkin kau belum pernah melihat dunia luar.. pasti pernah kan?” Eden pun menebak-nebak secara acak dan berusaha menggoda Raja Louise, namun justru jawaban tidak terduga terlontar dari mulut Raja Louise, “Ya aku pernah” jawabnya singkat.


“Apa?! jadi.. kau...” seru Eden terkejut dengan jawaban Raja Louise, saking terkejutnya ia bahkan mengacungkan jari telunjuk padanya membuat Raja Louise lantas menurunkan tangan Eden.


“Aku pernah ke sana satu kali dan itu karena sebuah tugas” sambungnya singkat, seolah Raja Louise tidak ingin membahas masalah kunjungannya ke dunia luar.


“Hey.. tunggu dulu, ceritakan padaku secara detil masalah kunjungan mu ke dunia luar” ucap Eden yang juga ikut berdiri kemudian mengekor jalan Raja Louise hingga sampai di dekat ranjang.


Bukannya menjawab Raja Louise meraih tangan Eden kemudian menariknya hingga ia jatuh di atas ranjang, Eden kini terbaring di samping Raja Louise.


“Tunggu..” Eden belum menyelesaikan ucapannya, Raja Louise dengan gesit meraih tubuh Eden kemudian memeluknya erat sambil memejamkan mata.


“Hey, Louise, Yang Mulia.. Raja” Eden terus memanggil sambil mendorong Raja Louise agar mau melepas pelukan terhadap dirinya, akan tetapi usahanya sia-sia karena Raja Louise memeluknya erat.


“Setidaknya beri aku sedikit ruang untuk bernafas” ucap Eden menggerutu atas dekapan kuat Raja Louise.


“Posisi ini adalah posisi paling nyaman yang pernah kau rasakan, jangan protes” jawab raja Louise yang diikuti keheningan setelahnya.


Tidak ada pilihan lain untuk menolak, pada akhirnya Eden menyerah atas kuasa tubuhnya lantas membuat dirinya tertidur lelap dalam pelukan Raja Louise malam itu.


***



“Kita sudah sampai pendeta” ucap Marco memberitahukan bahwa mereka telah sampai di lokasi tujuan.


“Kalian silahkan mundur sedikit, aku harus melakukan sesuatu” ucap Damian menyarankan agar ketiganya mundur, mereka pun segera menjauh dari pohon keramat dan memilih menunggu hingga Damian selsai.


Damian berada tepat dihadapan pohon keramat yang berusia 100 tahun, ia lantas memanjatkan do’a sejenak kemudian menyentuh batang pohon dan pemandangan menakjubkan terlihat, pohon keramat mengeluarkan cahaya biru yang seolah mengalir masuk ke dalam tubuh Damian melalui tahan yang ia ulurkan.


“Wooowwww...” Justin dan Marco tak sengaja bersamaan merespon hal yang tengah dilakukan oleh Damian, keduanya berdecak kagum melihat pemandangan menakjubkan itu.


“Jadi apa yang sedang dilakukan oleh pendeta” Marco spontan bertanya pada siapapun yang bisa menjawab.


“Pendeta Damian sedang menyerap Energi dari pohon keramat, karena usia pohon sudah lebih dari 100 tahun jadi energi yang tersimpan pun cukup banyak hingga dapat memulihkan seluruh energi yang hilang” Lucas menjelaskan secara terperinci mengenai tindakan yang sedang dilakukan oleh Damian.


15 menit berlalu dan kini Damian sudah pulih sepenuhnya, tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk memulihkan diri bila menyerap energi dari pohon yang berusia lebih dari 100 tahun. Segera setelahnya ia pun berjalan menuju Justin, Lucas, dan Marco.


“Anda sudah selesai pendeta?” tanya Lucas pada Damian.


“Ya, untunglah ada pohon berusia seratus tahun yang tumbuh dilingkungan ini, jika tidak akan sulit bagi ku untuk memulihkan diri setelah pertarungan tadi” sambil memijat perlahan pundak sebelah kiri kemudian bergantian memijat pundak sebelah kanan.


“Ngomong-ngomong, kau adalah anak itu kan?” ucap Damian seraya menunjuk ke arah Lucas.


“Anak yang dibesarkan oleh kawanan srigala di bukit Tsigy” imbuhnya meneruskan ucapannya.


“Benar Pendeta, hamba adalah anak yang anda bicarakan” jawab Lucas membenarkan ucapan Damian yang kemudian mengajaknya berbincang sambil berjalan menuju tempat istirahat.


“Ternyata kau sudah tumbuh besar sekarang, terakhir kali kita bertemu saat usia ku sekitar 30 tahun” terus bernistalgia Damian pun mengingat-ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Lucas.


“Benar sekali pendeta, dan anda tidak berubah sama sekali, bahkan wajah anda masih terlihat sama” Lucas melemparkan pujian pada Pendeta Damian, tidak biasanya dia bersikap demikian dan membuat Justin juga Marco keheranan dibuatnya. Keduanya bahkan saling bertatapan kemudian menggelengkan kepala saking tidak mengertinya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Lucas barusan.


“Benarkah? Jadi maksud mu aku awet muda ya?” mendengar pujian dari Lucas membuat Damian tersentuh hatinya, ia sangat senang karena sudah lama ia tidak mendapatkan pujian semacam ini.  Keduanya lantas


berbincang satu sama lain dengan asyiknya sampai tidak sadar ada Justin dan Marco yang berjalan mengikuti keduanya dari belakang hingga sampai ke tempat istirahat Damian.


Saat akan  berpamitan mereka berhenti sejenak dan Damian mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk bersalaman dengan Lucas. Dengan cepat Lucas meraih uluran tangan Damian menggunakan kedua tangannya untuk berjajabat, “Sampai jumpa” Ucap Damian kemudian belepas jabatan tangannya, akan tetapi Lucas tak lekas melepas dan menahan lebih lama agar bisa berjabat tangan.


Damian yang merasa risih kemudian melepas paksa tangan yang masih di pegang oleh Lucas sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ketiganya, penasaran dengan tindakan yang dilakukan Lucas membuat Justin dan Marco lantas mendekat dan mulai bertanya, “Kau aneh sekali” ucap Justin pada Lucas, “Benar, tidak seperti biasanya kau memuji orang lain” imbuh Marco yang setuju dengan pendapat Justin mengenai tingkah aneh Lucas.


“Bodoh.. Bodoh” sambil memukul kepala Justin dan Marco.


Kesal karena kepalanya dipukul membuat Justin lantas protes dengan sikap kasar Lucas, “Hei kenapa kau memukul ku” seru Justin tidak terima.


“Kalian ini tidak tahu ya? Atau kalian ini benar-benar bodoh?” ucap Lucas yang juga ikut kesal karena kedua rekannya tidak peka terhadap sesuatu.


“Hei.. apa maksud ucapan mu? Kau berteriak mengatakan kami bodoh sambil memukul” keluh Marco yang tidak senang dengan perlakukan Lucas sebelumnya.


Lucas yang frustasi karena rekannya tidak sadar akan sesuatu pun memukul jidatnya, “Jadi kalian memang benar-benar tidak tahu.. baiklah akan ku beritahu. Sri Isaac Xavier dan Damian merupakan 2 orang yang jarang berjabat tangan dengan orang lain, bahkan dalam kurun waktu 100 tahun Sri Isaac Xavier hanya menjabat 1-2 kali tangan seseorang, hal ini pun berlaku bagi Pendeta Damian. Alasan mengapa beliau


berdua demikian adalah saat seseorang menjabat tangan apalagi salah satu diantara beliau berdua yang mengulurkan tangan terlebih dahulu maka orang yang beruntung itu akan mendapatkan umur yang panjang, kesehatan dan juga kejayaan. Hal ini karena energi yang mereka miliki tersalurkan pada orang lain. Karena


itulah mereka selalu saja menolak untuk bersalaman dengan orang lain” tutur Lucas berkaitan dengan tindakan yang di anggap aneh oleh kedua rekannya.


“Jadi...” ucap Marco mematung


“Ka.. kami harus berjabat tangan juga” ucap Justin yang berniat menuju ruang istirahat Damian, namun segera dicegah oleh Lucas dengan cara merangkul keduanya lalu berjalan kembali ke Istana Vie Rose.


“Hei! Lepaskan..! kami juga ingin mendapatkan keberuntungan itu!” seru Marco sambil meronta berusaha melepaskan diri namun gagal karena Lucas merangkulnya dengan Erat.


“Benar.. kami juga ingin berjabat tangan,... hei lepaskan!” seru Justin berusaha melepaskan diri namun gagal.


Ketiganya pun kembali ke Istana Voe Rose dengan rasa penyesalan yang menggelayuti hati Marco dan Justin karena mereka berdua sangat menyesal meleratkan kesempatan langka tadi.