
“Saat aku tidak sedang berada di Kuil Suci, dia berani-beraninya masuk untuk mengacaukan prosesi ritual yang sedang dilakukan oleh Eden. Andai saja saat itu aku tidak sedang dalam tugas pasti sudah ku tangkap dia, ah tidak bahkan ku musnahkan dari dunia ini. Rosemary merupakan sejarah kelam yang akan terus menerus menjadi penyebab munculnya orang-orang tamak di Anotherworld. Jika batu itu tidak terdeteksi oleh pendeta biasa maka bisa jadi ia memiliki kaki tangan yang telah tinggal cukup lama di Istana ini.. aku harus mencari tahu siapa orang itu” analisis yang muncul dalam benak Damian sesaat setelah ia memusnahkan permata hitam, setelah itu Damian pun kembali ke mansion tempat ia beristirahat.
***
“Sebenarnya apa yang menyebabkan dirimu begitu takut menghadapi Damian? Apa ini semua berhubungan dengan tanda yang melekat pada tubuhmu ?” tanya Adam Lewis seraya membantu Rosemary duduk pada posisi yang nyaman.
“Bukan karena hal itu, tanda yang dia berikan bahkan aku sudah melupakannya. Dia adalah orang yang sangat mengerikan, sekali saja ada yang membuatnya murka maka wilayah ini bisa saja dihancurkan bila dia menginginkannya. Aku masih saja takut meskipun sudah berulang kali hampir mati, tekanan yang diberikan bukan hal yang bisa diterima olehku bahkan tak seorangpun bisa menyembunyikan rasa takut dari dirinya. Charlotte, kita harus memberitahu untuk menghindari Damian” ucap Rosemary yang terdengar khawatir pada muridnya itu sehingga membuat Adam Lewis lekas mengirim pesan melalui burung pos agar Charlotte bisa menghindari Damian.
***
(Keesokan harinya)
Tanpa disadari Raja Louise pergi lebih dulu meninggalkan Eden yang tertidur lelap di atas ranjang, ketika Eden bangun hari sudah beranjak siang, tubuhnya sangat kelelahan sehingga ia bangun lebih lama dari biasanya.
“Louise sepertinya sudah pergi” gumam Eden sambil merenggangkan otot-ototnya kemudian meneguk segelas Air dan meletakkan gelasnya setelah ia meneguk habis air minumnya.
“Aku harus kembali ke Istana Vie Rose, Adel pasti sangat khawatir” ucap Eden seraya menepuk-nepuk pipi agar kesadarannya pulih sepenuhnya.
Segera setelahnya Eden mengganti pakaian dengan dress yang telah disiapkan oleh Raja Louise, “Dress ini lumayan juga” ucap Eden sesaat setelah selesai mengenakan dress sambil melihat bagian roknya kemudian berjalan keluar kastil tempat ia menginap semalam.
Eden berjalan dengan suasana hati yang lebih baik, ia bahkan tak segan menerima sapaan dari para pelayan yang berpapasan dengan dirinya, tentunya dengan senyum ramah yang terkembang di wajahnya. Tidak sengaja Eden bertemu dengan Damian saat hampir sampai di Istana Vie Rose, Damian terlihat seperti sedang mengawasi sesuatu, Eden melihat Damian dari arah samping dan sejenak ia sempat terpesona oleh paras dan kharisma yang dimiliki oleh Damian, seperti ada serbuk berlian yang bertaburan disekitar Damian, akan tetapi Eden lekas sadar lalu menggelengkan kepala. Eden pun menyapa Damian, “Pendeta?! Kenapa anda ada di sini?” tanya Eden sambil berjalan mendekati Damian, mendengar sapaan Eden lantas membuat Damian menjawabnya dengan ramah, “Hanya sedang melihat-lihat saja, bagaimana kondisimu?” Damian bertanya balik pada Eden yang direspon dengan anggukan kepala dan sedikit tersenyum.
“Ngomong-ngomong, kosongkan jadwal mu selama seminggu, kita harus ke ruang 0, aku akan melatih mu agar bisa mengendalikan Naga Api tanpa bantuan ku” seraya melihat ke arah Eden.
“Apa? jadi saya belum berhasil sepenuhnya?” tanya Eden sedikit bingun dengan ajakan Damian.
“Pokoknya ikuti saja arahan ku maka kau akan tahu ruang apa yang ku maksud” Sambil menyentuh pundak Eden dan sedikit mendekat.
Eden menerima ajakan Damian dengan menganggukkan kepala, “Apakah anda sudah sarapan?” tanya Eden pada Damian.
“Sarapan? Maksudmu sarapan di hari yang sudah siang seperti ini?” tanya Damian seraya merentangkan tangan kirinya ke samping menunjukkan bahwa hari sudah siang.
“Ahhh maksud saya makan siang, apakah anda bersedia makan siang bersama saya?” tanya Eden membenahi kalimat tawaran yang salah sebelumnya.
“Tentu saja, tunjukkan jalannya” ucap Damian yang langsung menerima tawaran Eden tanpa berpikir terlebih dahulu.
“Baiklah saya akan menunjukkan jalannya” sambil tersenyum berjalan mendahului Damian, “Ternyata
bila dipahami sifatnya hampir sama dengan Sri Isaac Xavier, apakah aku harus kelelahan seperti saat menempuh pendidikan di Kuil Suci? semoga Damian tidak semerepotkan Sri dan jangan sampai dia memintaku menggunakan panggilan aneh..” gumam Eden dalam hati yang merasa ada persamaan antara Damian dan juga Sri Isaac Xavier.
Sesampainya di Istana Vie Rose Eden disambut dengan tangis haru oleh Adel, ia memeluk erat kakaknya dan terus terisak seraya menyebut kakaknya terus menerus. “Heii.. hentikan, kau sudah melakukan ini lebih dari 30 menit” ucap Eden seraya melepaskan pelukan erat Adel dan mengusap air mata menggunakan jari-jari tangan.
“lebih baik kita masuk.. ah iya aku lupa, Pendeta mari kita masuk” ucap Eden yang lantas membuat Adel melirik ke arah Damian kemudian menundukkan kepalanya, ia terlihat takut dan tidak berani berlama-lama menatap Damian.
Sedangkan Damian yang sedari tadi memperhatikan Eden dan Adel hanya bisa diam tanpa melerai keduanya, akan tetapi setelah dipersilahkan Damian baru berjalan mendekati Eden.
“Cecilia apakah kau sudah menyiapkan makan siang? Aku akan makan bersama Pendeta Damian dan juga Adel” bertanya pada cecilia sambil menarik kursi untuk ia duduk, akan tetapi Adel justru terlihat tidak senang, “Ah tidak kakak, aku sudah sarapan.. lebih baik kau..”
“eeeyyy.. bagaimana bisa aku tidak makan dengan adik ku ini” seraya menarik Adel kemudian mendorongnya duduk di kursi, “Silahkan duduk pendeta” ucap Eden mempersilahkan Damian untuk duduk.
Suasana canggung pun mulai terasa antara Adel dan Pendeta Damian, keduanya hanya diam bahkan tidak saling menyapa, sadar bahwa terlah terjadi sesuatu di antara keduanya membuat Eden lekas mendamaikan keduanya.
“Pendeta, anda mungkin bisa mendeteksi bahwa adik saya berasal dari luar wilayah Anotherworld, akan tetapi separuh tubuhnya dialiri oleh energi jiwa milik saya sendiri, coba perhatikan baik-baik” ucap Eden mencoba mengklarifikasi identitas Adel agar Damian tidak salah paham.
Mendengar penjelasan Eden membuat Damian lantas memeriksa kebenarannya, ia pun melihat ke arah Adel, terus memperhatikannya dengan teliti dan sontak pupil matanya membesar. Melihat ekspresi wajah Damian membuat Eden berasumsi bahwa ia baru menyadarinya, “Benarkan yang saya ucapkan sebelumnya? Kami sempat berbagi jiwa saat Adel hampir mati tenggelam dulu, saya harap kedepannya anda tidak salah paham dengan identitas Adel. saya tidak mungkin dengan tenang membiarkannya masuk ke Istana jika dia tidak memiliki energi jiwa yang berasal dari wilayah ini. Sayangnya hanya saya dan mungkin pendeta Damian saja yang dapat mendeteksi energi dalam tubuh Adel” tutur Eden secara jelas memberikan alasan Adel berada di The Great Aztec dan juga memberi teguran agar tidak salah paham terhadap adiknya.
“Aku bahkan baru pertama kali melihat hal semacam ini, katakan bagaimana bisa ini terjadi?” rasa penasaran membuat Damian mulai bertanya mengenai hubungan Eden dan Adel yang terikat dengan energi jiwa.
“Ceritanya cukup panjang.. saya lelah kalau harus mengulang cerita yang sama lagi” sambil sedikit menguap Eden menyepelekan pendeta Damian.
“Kau.. berani-beraninya tidak menjawabku.. siapa yang mengajarimu tata krama semacam ini? Katakan padaku, akan ku hancurkan orang itu” ucap Damian sinis setelah mendapat penolakan dari Eden.
“Sri Isaac Xavier.. beliau lah yang mengajari saya” ucap Eden sambil terus mempertahankan pokerface dihadapan Damian.
“Apa? jadi paman yang mengajari mu? Kalau begitu aku tidak jadi menghancurkan apapun,, biarlah jika kau tidak mau menceritakannya aku tidak apa-apa dan tidak akan penasaran” Damian lekas mengurungkan niatnya setelah mendengar nama Sri Isaac Xavier disebut.
Hal ini tentu saja mengundang gelak tawa kecil antara Eden dan juga Adel, keduanya saling bertatapan karena menganggap Damian lucu.
“Heeiiii kenapa kalian tertawa? Apanya yang lucu?” seru Damian bertanya pada Eden seraya menyentuh wajahnya memastikan bahwa tidak ada yang aneh pada dirinya.
“Ehhmmm.. tidak Pendeta, makanannya sudah siap, mari kita makan” Eden tidak ingin menjawab dan malah mengalihkan fokus dengan beralasan makan.
Ketiganya kini tengah menyantap makan siang bersama, tidak banyak percakapan yang terucap kecuali hanya percakapan ringan dan senyum kecil yang terkembang di antara Eden dan Adel ketika mendengar Damian menceritakan masa lalu dirinya selama tinggal di Kuil Suci. Sebagai seorang pendeta Damian sudah terbiasa melakukan ceramah diberbagai negara sehingga ia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain, akan tetapi hanya beberapa orang beruntung yang dapat berkomunikasi secara langsung seperti saat ini, Eden dan Adel termasuk ke dalam golongan orang beruntung tersebut. Selama percakapan berlangsung, sifat asli Damian pun nampak, ia jauh lebih ramah meskipun sedikit ada bumbu-bumbu amarah ketika bercerita apalagi saat Eden tidak merespon tentu ia tidak sungkan menyindir ketidaksopanan Eden tersebut, sedikit mirip dengan sifat pemarah Sri Isaac Xavier, namun yang ini masih bisa ditangani.
“Ahhh.. aku kenyang sekali” ucap Eden seraya meletakkan alat makan kemudian bersandar pada kursi sambil sesekali menyentuhperutnya.
“Kau makan banyak sekali, apa kau ini seekor ****?” celetuk Damian yang dengan santainya meledek porsi makan Eden.
“Ap.. apaa? ****? Apakah wajah ini terlihat seperti reinkarnasi seekor ****?” tak percaya dengan apa yang ia dengar lantas membuat Eden menegakkan posisi duduknya, ia berbicara sambil menunjuk wajah berusaha
menyangkal ucapan Damian.
“Lihatlah,, kau semakin mirip **** jika menunjukkan wajah seperti itu.. kau tidak percaya dengan ucapan ku? Aku bisa melihat kehidupan sebelumnya” kembali menyulut amarah Eden dengan mengomentari ekspresi wajahnya.
“Kalau anda bisa melihat kehidupan sebelumnya, bukankah itu keajaiban?” ucap Eden yang sudah lelah menanggapi Damian.
“Tapi ini benar adanya, jika Sri Isaac Xavier terlahir dengan keistimewaan dapat melihat masa depan maka aku lahir dengan anugerah sebaliknya, apa kalian tahu berapa usia Sri Isaac Xavier?” tanya Damian pada keduanya yang di respon gelengan kepala oleh Adel, sedangkan Eden menjawab dengan pengetahuan yang ia miliki.
“100? Ahh tidak seharusnya lebih dari itu kan?” ucap Eden seraya mengangkat jari telunjuk kemudian menurunkannya.
“Sudah ku duga, tidak banyak orang tahu berapa usia Sri Isaac Xavier. Jadi akan ku ceritakan sejarah singkatnya. Beliau terlahir dengan keistimewaan dapat melihat masa depan dan juga ditugaskan untuk membentuk dan melindungi wilayah ini, ‘Anotherworld’ adalah nama yang dia berikan bagi wilayah ini tepat setelah memisahkan diri dari dunia luar. Mengenai usia aku bahkan tidak tahu berapa, mungkin dari 200 atau 300 bahkan bisa lebih dari itu. Dia merahasiakannya sehingga orang-orang tidak tahu angka yang sesungguhnya” tutur Damian menceritakan sejarah lahirnya Sri Isaac Xavier secara singkat dan juga jelas.
“Lalu bagaimana dengan anda?” tanya Adel penasaran terhadap sejarah Damian.
“Aku terlahir sebagai pelengkap Sri Isaac Xavier dan menjadi kebalikan dari keistimewaan dan tugasnya. Kalian pasti mengerti maksudku” seolah enggan menceritakan mengenai dirinya sendiri dan hanya menjawab singkat agar keduanya menginterpretasikan sendiri maksud dari kata-kata yang ia ucapkan.
Eden dan Adel lantas terdiam dan memikirkan ucapan Damian, setelah paham keduanya lantas menutup mulut dengan kedua tangan masing-masing dengan pupil mata yang melebar karena terkejut dengan hasil analisis masing-masing.
“Jadi benar anda lahir dengan keistimewaan dapat melihat masa lalu?” ucap Adel.
“Lalu anda terlahir dengan tugas dapat menghancurkan wilayah ini?” imbuh Eden melengkapi ucapan Adel sebelumnya.
Mendengar analasis keduanya yang nyaris tepat membuat Damian menganggukkan kepala, akan tetapi ia mengkoreksi bagian analisis dari Eden, “Aku rasa bukan menghancurkan, maknanya negatif bila didengar oleh banyak orang, mungkin menata ulang adalah kata yang tepat untuk meenggambarkan tugasku”.
“Apakah orang-orang tahu mengenai hal ini pendeta?” tanya Eden pada Damian.
“Ya, tentu saja mereka tahu akan hal ini. alih-alih menghormatiku banyak orang lebih merasa takut karena kekuatan penghancur ah tidak kekuatan menata ulang yang ku miliki” mendengar penjelasan Damian membuat Adel merinding, ia mengingat kejadian sebelumnya saat Damian membentak dirinya, kengerian itu masih terngiang dalam benaknya hingga kini dan sulit untuk dilupakan. Eden justru sebaliknya, ia tidak merasa takut ataupun ngeri malah menanggapinya dengan santai tanpa rasa takut sama sekali.
“Ternyata benar, meskipun kekuatan ini sangat menakutkan akan tetapi setelah mendengarnya kau sama sekali tidak menunjukkan rasa takut dari sorot mata mu” ucap Damian seraya memangkukan dagu pada telapak tangan yang ia tegakkan di atas meja makan.
“Untuk apa hamba takut, takdir adalah sesuatu yang pasti” kemudian meminum segelas air yang tersaji di atas meja dan meletakkan gelasnya kembali.
“Ku dengar Eden adalah nama yang diberikan oleh Sri Isaac Xavier? Jadi sebutkan siapa nama lengkap mu?” terus menatap Eden intens.
“Eden Georgia Ludwig” jawab Eden singkat.
“Apa? jadi kau tidak menggunakan nama keluarga ibu mu?” sedikit terkejut mendengar nama lengkap Eden.
“Apakah nama keluarga adalah hal yang penting? asalkan mereka mengenal saya dengan nama ‘Eden’ itu saja sudah cukup.. lagi pula nama ini adalah nama keluarga yang sudah saya pakai sejak tinggal di dunia luar”
“Bagaimana jika aku juga memberimu nama tengah, tapi kau harus menggunakannya dengan nama keluarga ibu mu, bagaimana? Maksudku, kau tinggal diwilayah ini sudah seharusnya kau menyertakan nama mendiang ibu mu” Damian terlihat seolah ingin memberi perhatian pada Eden.
“aku tidak boleh kalah dari paman, aku akan memberikannya nama bagus agar dia juga menggunakannya” dalam hati Damian bergumam, ia berusaha berkompetisi dengan Sri Isaac Xavier mengenai nama yang digunakan Eden.
“Tergantung seperti apa nama yang akan anda berikan, mari kita dengar” Eden meneriwa tawaran Damian, ia mulai tertarik pada percakapan ini.
“Josephine.. Eden Josephine Lewis”
Mendengar nama yang diucapkan Damian membuat Eden sedikit tersentak, “Nama yang indah” ucap Eden dalam hati merasa jatuh cinta pada nama yang diberikan oleh Damian.
“Bagus dia menyukainya” gumam Damian dalam hati seraya tersenyum melihat Ekspresi Eden.
“Saya bersedia menggunakan nama itu asalkan anda mengizinkan Adel menggunakannya juga” seraya melirik ke arah Adel.
“Tentu saja! Adik mu bisa menggunakan nama itu juga” Damian terlihat sangat antusias dan mengizinkan Adel menggunakan nama tersebut.
“Lalu aku sedikit risih karena kau selalu memanggil ku pendeta, ku dengar kau juga memiliki panggilan khusus terhadap Sri Isaac Xavier? Kalau begitu kau juga harus memanggil ku dengan panggilan khusus sama seperti kau memanggilnya” sedikit merajuk dan terkesan iri pada Sri Isaac Xavier.
“Ah.. itu anda benar, ta.. tapi ini membuat saya merasa tidak nyaman” rasa canggung menyelimuti Eden, ia berusaha menolak keinginan Damian secara halus.
“Tidak bisa! Memiliki nama panggilan khusus adalah syarat wajib jika kau ingin berguru mengendalikan Naga Api pada ku!” sedikit berseru untuk menegaskan bahwa nama panggilan khusus adalah syarat wajib.
“ha..ha..ha.. baiklah kalau begitu, berapa usia anda?” tertawa canggung seraya menanyakan usia Damian.
“Aku ini masih muda, coba tebak berapa usia ku?” Damian justru berbalik meminta Eden untuk menebak usianya.
“Dari semangat dan kekuatan anda sepertinya anda berusia 30 tahun” ucap Eden asal menebak agar percakapan mereka lekas selesai.
“Kau ini tidak pandai menebak, aku memang terlihat masih muda tapi tidak sekecil itu” (menurut Damian usia 30 tahun adalah usia anak kecil). “Usia ku 78 tahun, silahkan berikan panggilan yang cocok untuk ku” imbuh Damian yang pada akhirnya menyebut usianya.
“Kalau begitu apakah aku harus memanggil anda kakek?” seraya tersenyum namun dalam hati ingin segera mengakhirinya.
“Tidak, kakek adalah panggilan untuk Sri Isaac Xavier.. bagaimana dengan kakak? Aku ini masih remaja tahu” dengan bangga menyebut dirinya masih remaja hingga membuat siapapun yang mendengar merasa canggung begitupun Eden dan Adel yang saling bertatapan seolah-olah bingung harus berekspresi bagaiaman kecuali tersenyum walaupun hanya ujung bibir atas yang terangkat demi menghormati Damian.
“Adel, sepertinya kita ada urusan mendadak.. baiklah kalau begitu kami permisi dulu” secepat kilat meraih tangan Adel lantas mengajaknya berlari cepat untuk meninggalkan Damian.
“hei.. hei kau mau kemana, kenapa tidak sopan.. hei..!” Damian berteriak kencang namun Eden sama sekali tidak menghiraukannya.
Eden hanya ingin segera terbebas dari permintaan ngawur Damian, ia sudah merasa cukup canggung memanggil Sri Isaac Xavier dengan panggilan kakek dan sekarang ditambah Damian yang ingin dipanggi kakak, bagi Eden hal ini sama saja dengan pelecehan terhadap orang suci atas dasar itulah ia terburu-buru pergi.