
“Sial.. aku tidak bisa langsung menangkap mangsa besar itu!” gumam Pieter yang merupakan perwakilan Dewan Keamanan Wilayah yang sempat bersitegang dengan Raja Louise sebelumnya, padahal ia sudah sangat yakin bahwa bersama pasukan yang ia bawa dapat menangkap Adel dan menyeretnya ke kantor
pusat Dewan Keamanan Wilayah. Sayangnya, penangkapan yang ia lakukan telah berhasil digagalkan oleh sebuah berkas dari perjanjian masa lalu, ia sama sekali tidak berfikir bahwa dokumen lawas itu dapat menahan seseorang untuk tetap berada di suatu wilayah, harus diakui bahwa Raja The Great Aztec adalah
pemimpin yang hebat karena bisa memikirkan efek dari perjanjian lama bila terapkan pada masa depan atau masa sekarang. Saat ini Pieter sedang dalam perjalanan untuk menghadap pimpinan Dewan Keamanan Wilayah yaitu panglima Sacheverell yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Pieter sangat menghormati atasannya sehingga ketika ia sampai tidak langsung memberikan laporan melainkan menunggu atasannya sampai selesai memeriksa dokumen yang ada di atas meja.
“Jika ada yang ingin kau sampaikan cepat katakanlah” ucap panglima Sacheverell yang ternyata memperhatikan keberadaan Pieter di dalam ruang kerjanya.
“Anu.. begini tuan..”
“Jika itu sebuah kabar kegagalan maka kau tau konsekuensinya Pieter” ucap panglima Sacheverell yang belum
apa-apa memberikan peringatan, sehingga membuat Pieter gugup.
Ia meneguhkan hati, seraya menarik nafas panjang dan menatap mata panglima Sacheverell, “Kami gagal
membawa tersang..” belum selesai berbicara panglima Sacheverell melempar cangkir pada Pieter dan mengenai kepalanya hingga mengeluarkan darah.
Pieter yang merasa takut pada kemarahan panglima Sacheverell pun memilih untuk diam lantas menundukkan kepala, tubuhnya sedikit bergetar karena terkejut dengan tindakan yang ia terima dari panglima Sacheverell.
“Setidaknya kau harus menggunakan kata yang baik dan benar, katakan saja ‘belum berhasil’, kalau kau mengatakan ‘gagal’ berarti kita kalah. Aku paling benci kekalahan. Kau mengerti kan?” tanpa rasa bersalah selagi mengelap tangan karena tumpahan kopi yang ia lemparkan panglima Sacheverell memberi teguran keras pada bawahannya tersebut.
Mendengar hal ini membuat Pieter hanya bisa mengangguk, ia tidak berani membantah panglima Sacheverell karena ia tahu resiko lebih parah akan diterimanya jika sekali saja membangkang.
“Dan tuan, ada hal lain yang ingin saya sampaikan mengenai putra Pangeran Oscar, dia sudah kembali dan kini tinggal di The Great Aztec” sedikit ragu, namun Pieter berusaha menyampaikan kabar yang menurutnya penting untuk diketahui oleh panglima Sacheverell mengingat atasannya itu pernah memiliki hubungan dengan Pangeran Oscar di masa lalu.
“Alejandro. anak itu rupanya sudah kembali, kedepannya akan sedikit merepotkan tetapi kau tahu apa yang
harus dilakukan. Sambut kedatangannya nanti” ucap panglima Sacheverell memberi perintah pada Pieter, dan segera setelah diberi perintah Pieter pun keluar dari ruangan panglima Sacheverell.
Ia berjalan menuju keluar kantor Dewan Keamanan Wilayah, sepanjang perjalanan hanya helaan nafas yang terdengar dari mulut Pieter, ia sejenak berhenti dan mengelap darah pada dahinya bekas luka lemparan cangkir yang dilakukan oleh panglima Sacheverell tadi. Kadang rintihan kecil terdengar saar Pieter berusaha membersihan noda darah pada lukanya, “Apa kau gagal lagi?” suara seorang perempuan menyapa dengan pertanyaan memecah fokus Pieter. Perempuan itu tidak lain adalah Beatrice, ia datang ke wilayah Cemos
dengan tujuan tertentu, keduanya kini saling berhadapan melihat satu sama lain, Beatrice berusaha memembatu Pieter untuk menghilangkan darah pada dahinya menggunakan sapu tangan, akan tetapi tangan Beatrice lekas ditepis oleh Pieter.
“Hentikan, aku bisa melakukannya sendiri” ucap Pieter sinis yang merasa tidak butuh bantuan dari Beatrice, ia
pun berjalan pergi untuk mencari air bersih.
“Kenapa?” tanya Beatrice yang berlari mengikuti Pieter, namun Pieter hanya diam seribu bahasa dan tidak ingin menjawab Beatrice, hingga sampailah ia di dekat kolam air mancur.
“Kenapa tidak bicara? Aku bertanya padamu” ucap Beatrice yang berdiri tepat disamping Pieter.
“Ini semua gara-gara kau. Luka ini aku dapatkan karena gagal menindaklanjuti laporan yang kau kirim” seraya
mengeluarkan sapu tangan miliknya dan membasahi menggunakan air lalu membersikan lukanya secara perlahan.
“Apa? jadi kau gagal? Seharusnya ini berhasil bukan?” ucap Beatrice yang juga bingung karena kegagalan Pieter melaksanakan tugas.
Mendengar pertanyaan Beatrice membuat Pieter kesal, ia melempar tatapan sinis pada Beatrice, “Ini semua
salahku. Seandainya dulu aku berhasil mencegahmu pergi ke The Great Aztec mungkin sekarang aku tidak akan terluka”.
“Hei.. maaf” seraya merebut sapu tangan milik Pieter lantas membantunya membersihkan luka.
Pieter tidak menjawab, ia bahkan tidak menolak bantuan Beatrice, keduanya kini terdiam dalam sunyi, tidak ada sepatah katapun yang terucap, hal ini dikarenakan Beatrice dan Pieter memiliki hubungan yang sangat dekat sebagai sahabat. Sedari kecil keduanya sudah saling mengenal, mereka tumbuh dan besar dilingkungan yang sama sebelum kota Eufrat menjadi Kerajaan. Dalam hubungan persahabatan antara perempuan dan laki-laki pasti ada salah satu yang memiliki perasaan, begitu pula dengan hubungan persahabatan antara Beatrice dan Pieter. Orang pertama yang memiliki perasaan adalah Pieter, ia sudah berusaha mengungkapkan perasaan, namun gagal karena Raja Louise lah orang yang pertama berhasil mendapatkan Beatrice kala itu sehingga membuat Pieter memilih untuk mundur. Lambat laun karena hubungan
keduanya semakin merenggang dan akhirnya memilih untuk berpisah maka Pieter kembali berusaha keras untuk mendapatkan hati Beatrice, hingga sekarang setiap ia mengungkapkan perasaan Beatrice selalu menolaknya karena ia menganggap Pieter sebagai sahabat. Bahkan terakhir kali saat Beatrice akan pergi sebagai upeti untuk The Great Aztec, Pieter kembali berusaha menahannya agar tidak pergi, namun usaha ini gagal. Hal ini tentu saja sangat menyakitkan bagi Pieter karena pada akhirnya Beatrice hanya melihat Raja Louise seorang dan bukan dirinya, begitu pun pada kasus hari ini, Beatrice kembali berusaha mendapatkan cinta dari Raja Louise dengan menghalalkan segala cara.
***
”Kenapa? Kenapa hanya momen itu? aku merasa masalah itu sudah selesai tapi mengapa teringat kembali?” gumam Eden seraya berjalan masuk ke dalam air danau suci yang telah dipindah tempatkan sebagian kecil ke dalam air di dalam goa.
“Air danau suci memang yang terbaik” ucap Eden spontan tepat setelah hampir seluruh tubuhnya terendam oleh air. “Haruskah aku menyelam ? ya tentu saja harus dilakukan, mumpung Pendeta Damian mengizinkan ku” ucap Eden seraya tersenyum kemudian berenang mengarungi seluruh kolam, ia bergerak kesana kemari seolah tidak ada rasa lelah yang terasa dalam tubuh. Hingga pada satu titik ia berhenti tepat di dekat pohon yang berada di tengah kolam, ia memandangi pohon yang ada dihadapannya terlihat tinggi karena Eden sedang berada di dalam kolam. Daun-daun yang hampir berubah seluruhnya menjadi warna merah muda, “Bahkan kau juga akan mekar, apakah sudah saatnya bagimu untuk gugur?” tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tidak mungkin dijawab oleh pohon.
“Ah.. haruskah aku memaafkannya?” seru Eden yang tiba-tiba sadar akan sesuatu, matanya terbuka lebar seolah telah mendapat jawaban atas emosi yang sempat hinggap saat latihan. “Ya benar, kalau dia tidak
meminta maaf padaku bukankah seharusnya aku lebih berjiwa besar dengan memafkannya terlebih dahulu? Benar, seharusnya sudah ku lakukan sejak dulu” ucap Eden seraya tersenyum kemudian melihat ke arah pohon lagi, tanpa disadari ketika Eden menemukan solusi untuk dirinya sendiri air yang awalnya berwarna
biru kemudian sedikit bercahaya seperti sedang berkedip sekali. “Oh.. jadi kau juga setuju dengan pemikiran ku tadi?” seraya melihat sekeliling dan sedikit menjauh untuk memastikan apakah benar kolam ini bercahaya. “Baiklah, aku sudah memaafkan mu Louise” seraya tersenyum kemudian kembali mendekat ke tepian dekat
akar pohon berada. “Baiklah aku akan berendam sebentar lagi, di sini terasa sangat nyaman” seraya menghela nafas kemudian menyandarkan kepala dengan nyaman di atas tangan yang ia letakkan di antara akar pohon, dan tanpa terasa kenyamanan itu menghantarkannya tertidur lelap.
“Ngomong-ngomong kenapa dia lama sekali? Apa mungkin ini akan berlangsung sampai besok pagi?” gumam Damian dalam hati yang sedang berada di luar goa untuk menunggu Eden keluar. “Eiiiyyyy mana mungkin? Tidak, dia pasti akan segera keluar” Damian berbicara sendiri seolah membantah prasangka terhadap Eden.
Malam berlalu begitu cepat, tepat seperti prasangka Damian, hingga fajar menyingsing Eden belum keluar dan Damian telah begadang semalaman menunggu Eden keluar dari Goa.
“Dia benar-benar di sana semalaman, seharusnya kemarin aku memberi batas waktu” seraya berkedip dengan kantung mata yang terlihat membesar, Damian seolah menyesali kesalahan.
Tak berselang lama, Eden pun keluar dari dalam goa, ia berjalan seraya merenggangkan otot-ototnya dan sesekali menguap lalu menggosok-gosok mata untuk mengembalikan pandangan yang sedikit kabur karena ia
baru bangun tidur.
“Astaga! Anda mengagetkan ku saja, Pendeta! Apa yang anda lakukan di sana? Kenapa anda duduk seperti preman?” seru Eden terkejut saat melihat Damian menatapnya sinis. “Maksud saya kenapa anda menempatkan badan dengan cara melipat kedua lutut, bertumpu pada telapak kaki, dengan pantat tidak menjejak tanah” tiba-tiba merubah ucapan kasarnya mengenai cara duduk Damian dengan cara mendeskripsikan menggunakan bahasa yang lebih sopan, (duduk seperti preman yang dimaksudkan Eden adalah duduk berjongkok).
Kesal karena Eden terlihat lebih segar membuat Damian lantas berdiri kemudian mengacungkan jari telunjuk, “Beraninya. Beraninya kau tidur dan tidak memberitahu ku?! Lihatlah betapa royalnya aku menunggu mu semalaman dan tidak tertidur tapi.. tapi kau malah tidur! Murid macam apa yang mempermainkan gurunya seperti ini?” dengan tangan yang sedikit bergetar juga suara yang getir Damian menegur keras sikap Eden.
Akan tetapi dari sudut pandang Eden, Damian terlihat seperti seseorang yang sedang setengah tidur jadi Eden sama sekali tidak takut pada teguran Damian. “Apakah anda sedang mengigau Pendeta?” tanpa rasa bersalah
dan kurang peka Eden pun bertanya pada Damian.
“Apa? mengigau kata..” namun belum selesai berbicara Eden sudah memotong perkataan Damian.
“Lebih baik anda istirahat terlebih dahulu Pendeta, ini akan memulihkan kondisi tubuh anda” ucap Eden yang tidak tahu malu malah memberi nasihat pada seseorang yang jauh lebih tua dari dirinya.
“Tapi kau..” ucapan Damian kembali berhenti kala Eden mengacungkan telapak tangan ke arahnya, “Saya tahu, anda tidak perlu mencemaskan saya, saya bisa berkeliling di sekitar” ucap Eden seolah ia tahu apa yang akan di ucapkan oleh Damian, segera setelahnya Eden pun pergi meninggalkan Damian sendiri.
“Aku kesal.. argh aku benar-benar kesal” ucap Damian dalam hati seraya meremas baju miliknya, ia harus menahan amarah karena Eden sama sekali tidak merasa bersalah, kata maaf yang ditunggu oleh Damian pun tidak terucap dari bibir Eden, tak ingin terlarut dalam emosi membuat Damian lantas masuk ke goa untuk beristirahat sebentar.
***
(Istana The Great Aztec)
“Apa kau yakin ingin ikut dalam perjalanan ini? Padahal kau baru saja sampai” ucap Pangeran Arthur seraya melihat ke arah Alejandro yang sedang mengelus-elus kuda miliknya.
“Tentu saja kak, aku harus ikut. Berdiam diri di Istana juga tidak akan membuahkan hasil” seraya menganggukkan kepala Alejandro menjawab Pangeran Arthur.
“Baiklah, aku tidak bisa mencegah mu untuk tidak pergi, mari berangkat” ucap Pangeran Arthur yang kemudian melangkahkan kaki lalu menaiki kuda miliknya. Perjalanan kali ini akan dilaksanakan bersama
dengan Marco, Justin dan Lucas, mereka berencana menuju ke kantor pusat Dewan Keamanan Wilayah untuk menemui pemimpin mereka yakni panglima Sacheverell. Perjalanan mereka juga diketahui oleh Raja Louise dan telah mendapatkan izin secara langsung jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda kepergian kali ini.
***
Ketika Damian beristirahat, Eden pergi mengitari hutan di sekitar goa, ia penasaran dengan kondisi lingkungan yang telah dibentuk oleh Damian. Melihat bahwa pepohonan di sekitar terlihat seperti asli
membuat Eden sesekali menyentuhnya, bahkan ia tidak sengaja menemukan pohon berry liar sehingga membuatnya tertarik untuk mencicipi buah tersebut.
“Apakah ini tidak apa-apa bila dimakan?” gumam Eden yang meragukan buah berry di tangganya, namun dengan niat yang kuat pada akhirnya Eden mencicipi buah berry tersebut dan matanya berbinar karena rasa
berry yang ia cicipi sama persis seperti berry yang tumbuh di hutan. “Enak! Aku harus memetik beberapa untuk Pendeta Damian” ucap Eden yang kemudian kembali memetik buah berry hingga tangannya terisi penuh dan tidak ada ruang lagi. Setelah selesai memetik buah, Eden lantas kembali menuju sungai di dekat goa, sesampainya disana ia lantas meletakkan buah berry ada beberapa lembar daun, kemudian berlanjut untuk menangkap ikan. Seperti biasa, ia memanfaatkan panah bumerang untuk membidik ikan yang berenang di sungai, “Lebih baik kau ku manfaatkan untuk menangkap ikan seperti ini” seraya membidik pada ikan-ikan yang sedang berenang. Tidak hanya satu, akan tetapi lima sekaligus ikan yang berhasil di tangkap oleh Eden, “Hari ini sepertinya perburuan sudah selesai” seraya mengelap tangan yang basah seusai mengambil hasil tangkapan ikan.
Dari dalam goa, Damian yang telah selesai beristirahat pun keluar untuk memeriksa keadaan di luar, ia mencium aroma sedap seperti ada sesuatu yang sedang di panggang dan ia terpaku pada apa yang sedang
dilakukan oleh Eden, menatapnya dalam diam seolah ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya mengenai darah, sebuah tragedi dalam ingatan Damian yang cukup mengerikan sontak membuatnya menatap Eden dengan serius.