LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Ruang Nol



“Semoga nona berhasil menyelesaikan latihannya bersama Pendeta Damian” gumam Cecilia.


Setelah Eden dan Damian masuk, tak lama kemudian Gate pun hilang secara perlahan, rekan-rekan yang mengantar Eden kembali pada rutinitas masing-masing, begitupula Raja Louise dan Pangeran Arthur yang


kembali bekerja, kecuali Adel dan Pangeran Alejandro, keduanya memilih masuk ke Istana Vie Rose untuk reuni karena seperti yang diketahui bahwa keduanya merupakan tetangga saat tinggal di kota Thalsa.


Adel meminta Cecilia untuk memberikan jamuan yang terbaik bagi Pangeran Alejandro, karena ia ingin sahabatnya ini merasa nyaman. Jamuan yang diminta oleh Adel sudah tersaji di atas meja, keduanya mulai berbincang sambil memakan camilan, “Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan mu di sini nath.. ah tidak haruskah aku memanggil mu Yang Mulia?” tanya Adel seraya menggigit kue kering yang tersaji di atas meja.


“Kau ini sama saja seperti kakak mu, panggil saja nama asliku, Leandro, Eden memanggilku seperti itu” jawab Alejandro seraya menghirup aroma teh dalam gelas kemudian menyeruputnya sekali dan meletakkannya di atas meja.


“Leandro? Panggilan yang bagus, jadi di mana kau tinggal?” tanya Adel pada Alejandro, meskipun keduanya merupakan teman dekat, akan tetapi karena status sosial Alejandro yang jauh lebih tinggi membuat Adel berbicara dengan bahasa yang kaku.


“Istana Bulan, lain kali mampirlah kesana jika kau bosan, ngomong-ngomong ceritakan bagaimana kau bisa sampai di sini?” Alejandro tiba-tiba tertari dengan keberadaan Adel di The Great Aztec padahal sudah jelas


Adel bukan merupakan wara asli.


Mendengar pertanyaan Alejandro spontan membuat Adel menghela nafas panjang, “Eden menghilang, orang tua ku meninggal, aku nekat menyebrang, aku selamat lantas bekerja di toko roti di pusat kota, kemudian


Cecilia menemukan ku dan aku berhasil bertemu dengan kakak” seraya mengangkat tangannya sejajar dengan wajah kemudian menaikkan jari tangannya satu persatu saat menceritakan gambaran umum perjalanannya menuju The Great Aztec.


“Bagaimana bisa menyebrang? Maksudku kau kan bukan berasal dari wilayah ini” sedikit menyanggah cerita Adel mengenai proses dirinya menyebrang.


“Sepertinya kakak tidak menceritakannya padamu mengenai dalam tubuh ini terdapat setengah energi jiwa milik kakak, dulu aku sempat hampir mati karena tenggelam dan entah bagaimana kakak memberikan sebuah gelang yang kemudian membuat ku sadar. Padahal waktu itu ibu dan ayah sudah berusaha


mati-matian mencari pengobatan, tapi justru kakaklah yang berhasil membuatku sembuh” setelah selesai bercerita Adel lantas menyandarkan bahunya pada kursi. “Hari-hari di sini terasa melelahkan, berkat kakak aku tidak merasa kesepian karena ada rekan-rekannya yang selalu menemaniku” seraya memandangi langit-langit Adel berbicara kembali.


“Katakan, kenapa kau kemari? Bukankah waktu itu kau sempat pindah?” sambil menegakkan tubuh kemudian sedikit condong ke arah depan, Adel pun gantian bertanya pada Alejandro.


“Sama sepertimu, aku memiliki cerita yang sangat panjang, yang jelas aku kembali karena ajudanku mengatakan bahwa Eden masih hidup” kembali meraih cangkir di atas meja kemudian menyeruput tehnya.


“Ajudan? Apakah dia Chris? Aku penasaran mengapa Chris tidak memberitahukan padamu sejak awal? Dia kan bekerja pada kakak sejak ia tiba di wilayah Anotherworld ini” ucap Adel yang semakin tertarik dengan hubungan antara Alejandro dan Chris.


“Sebenarnya saat tahu bahwa Eden sudah berada di sini cukup lama aku sempat ingin membunuhnya karena tidak segera memberitahuku sejak awal. Seandainya dia memberitahukannya sejak awal maka..”


“Maka kakak tidak akan bertunangan dengan Raja Louise? Begitu kan maksudmu” ucap Adel memotong kata-kata yang terlontar dari mulut Alejandro.


“Aku ingat betapa kau sangat menyukai kakak sejak kecil, aku bahkan sempat iri karena kau hanya memperhatikannya, tapi aku sadar rasa suka mu pada kakak berbeda dengan rasa suka yang kau tunjukkan padaku dan pada teman-teman yang lain. Leandro, untuk hal semacam ini aku tidak bisa membantu mu. Raja Louise sepertinya sudah tergila-gila pada kakak, kau tidak mungkin memiliki kesempatan” Adel pun lantas memberikan sedikit nasihat padanya.


“Ya, aku tahu itu. Aku pun tidak ingin terlalu memaksakan rasa suka Eden terhadap diriku karena selama di kota Thalsa aku sudah berulangkali menyatakan perasaan padanya tapi ia selalu menolakku, cerita yang sangat dramatis” kemudian meminum teh kembali.


Percakapan keduanya terhenti sampai disitu, setelahnya tidak ada percakapan yang lebih penting kecuali hanya berbagi ilmu mengenai wilayah Anotherworld karena keduanya saat ini sedang membaca buku bersama-sama namun dengan tema berbeda, Adel sedang membaca buku sejarah sedangkan Alejandro sedang membaca buku sastra klasik.


***


“Pendeta” seru Eden memanggil Damian yang berjalan di depannya.


“Kakak. Panggil aku kakak” dengan tegas mengoreksi Eden.


Mendengar hal ini malah membuat Eden terdiam, ia sangat canggung bila harus memanggil Damian dengan nama tersebut, bahka ia menundukkan kepala seraya menggatuk pelipisnya.


“Kenapa tidak memanggilku lagi?” tanya Damian yang tidak senang dengan keheningan yang tercipta barusan.


“Kau tidak punya mulut ya?” kemudian berhenti berjalan dan membuat Eden menabrak punggung Damian, hal ini sontak membuat Damian menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Eden, “Sudah tidak punya


mulut juga tidak punya mata, apa sih bagusnya dirimu?” kata-kata yang terlontar dari mulut Damian memang terdengar menyakitkan, akan tetapi Eden sudah terbiasa mendengar kata semacam ini dari Sri Isaac Xavier sehingga ia tahu bahwa Damian hanya sedang mengkhawatirkan dirinya.


“Tidak.. saya hanya..”


“Kau punya mulut juga ternyata” kembali berbicara pada Eden kemudian melanjutkan langkahnya.


“Tahan Eden tahan, kau hanya akan berada di sini selama seminggu, tahan lah, kau sudah pernah mendengar hal yang lebih parah dari Sri Isaac Xavier”gumam Eden dalam hati seraya menggenggam Erat bajunya kemudian berjalan kembali mengikuti Damian.


“Kita sudah sampai, ini adalah ujung jalannya” kemudian membuka Gate besar yang ada dihadapannya dan tibalah keduanya di sebuah ruangan yang diceritakan oleh Damian. Ruangan ini berbentuk seperti Goa, sebuah pohon terlihat tumbuh dibagian pusat dengan lubang yang membuat seseorang melihat langit biru, ruangan ini tampak menakjubkan dan tanpa sengaja membuat Eden terpaku karena takjub dengan pohon yang tumbuh dihadapannya tersebut. Ia lantas berjalan mendekati pohon itu, “Aku yakin kau pasti akan memuji karyaku” gumam Damian yang merasa bangga dengan Ruang nol ciptaannya ini. Bukannya menanggapi, Eden malah terus berjalan melewati Damian dan hanya fokus pada apa yang ia lihat saat ini, ia bahkan tak sengaja sempat berbicara “Indah sekali”.



“Ya.. ini sangat menakjubkan pendeta” ucap Eden seraya menoleh ke arah Damian kemudian tersenyum senang.


“Prok!” suara tepuk tangan satu kali memecah suasana kala itu, suara tepukan ini berasal dari Damian yang dengan sengaja ingin menghentikan kesenangan Eden.


“Sudah cukup kagumnya, kau harus segera berlatih” ucap Damian yang di balas tatapan sinis oleh Eden seolah ia kesal karena Damian sangat pandai merusak suasana. Mau tidak mau Eden harus menuruti perintah Damian karena dia adalah gurunya saat ini, dengan setengah hati dan terlihat malas Eden pun meletakkan tasnya di dekat dinding goa kemudian mengikuti Damian keluar dari Ruangan. Lagi-lagi Eden disuguhi dengan pemandangan indah alam sekitar, kali ini di luar ruang Nol terdapat sungai dengan air terjun kecil dan juga pepohonan rindang disekitarnya membuat siapapun yang melihat pasti akan terpesona dibuatnya. Damian lantas mencuri pandang, melihat ke arah Eden yang terpaku karena pemandangan indah ini, ia pun merasa bangga karena hasil penataannya sangat disukai oleh Eden, Damian tidak mengada-ngada  karena hal ini terpancar jelas dari wajah yang ditunjukan oleh Eden


“Aku menang dari Sri Isaac Xavier. Haruskah aku mengirimkan mimpi dengan penampakan Eden seperti ini? Ya baiklah aku akan mengirimkannya”gumam Damian seraya menggerakkan jari telunjuk ke arah Eden, tangan bergerak seolah sedang membentuk sebuah kotak kemudian melemparnya ke atas langit.


Di Kuil Suci dan diwaktu yang bersamaan, Sri Isaac Xavier sedang memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, ia terlihat sedikit gelisah karena alisnya mengerut hingga membuatnya membuka mata. Sepertinya ia telah menerima kiriman mimpi dari Damian yang memperlihatkan Eden sedang tersenyum senang di ruang Nol, mendapati bahwa cucunya telah benar-benar dekat dengan Damian lantas membuat Sri Isaac Xavier sedikit kesal. Kekesalan ini juga diketahui oleh Lloyd yang sedari tadi sudah berada di dalam ruangan sambil menunggu Sri Isaac Xavier terbangun. Karena Lloyd adalah seorang pendeta yang menjunjung tinggi adat dan norma sekitar sehingga ia pun menyapa Sri Isaac Xavier yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“Selamat siang Sri sepertinya anda sedang bahagia” ucap Lloyd seraya tersenyum pada Sri Isaac Xavier akan tetapi sapaannya ini justru dibalas dengan tatapan sinis membuat Lloyd merasa terkucilkan hingga tidak berani menyapa. Ia merasa bersalah karena dugaannya salah mengira bahwa Sri Isaac Xavier sedang dalam keadaan yang bahagia.


“Katakan, siapa yang lebih baik? Aku atau Damian?” tanya Sri Isaac Xavier seraya melemparkan tatapan mata yang tajam terhadap Lloyd yang semakin membuat Lloyd merasa tidak percaya diri dengan jawabannya.


Ia tidak boleh memihak akan tetapi dalam situasi seperti ini Sri Isaac Xavie harus dipilih, “Te.. Tentu saja Anda jauh lebih baik. Usia anda jauh lebih tu.. Dewasa dibandingkan Pendeta Damian, Pengalaman anda juga jauh lebih banyak, tentu saja anda yang terbaik” seraya mengacungkan jempol pada Sri Isaac Xavier.


“Jika kau adalah Eden, siapakah yang akan membuat mu nyaman? Aku atau Damian?” kembali bertanya dan kali ini lebih serius.


“Tentu saja tidak keduanya” gumam Lloyd dalam hati ketika memposisikan dirinya sebagai Eden.


“Sri lebih baik anda menghukum saya, saya permisi dulu” ucap Lloyd yang segera setelahnya lari secepat kilat meninggalkan Sri Isaac Xavier karena ia tidak ingin terlibat dalam urusan aneh ini.


“Dasar Lloyd. Beraninya pergi sebelum menjawab pertanyaanku” gumam Sri Isaac Xavier yang sedikit kesal karena Lloyd pergi begitu saja, “Aku harus ke ruang itu” dengan penuh tekad dan ambisi Sri Isaac Xavier menguatkan niatnya untuk pergi ke ruang nol buatan Damian.


“Hahahaha.. hahahaa... hahahaa..” tiba-tiba suara tawa Damian pecah karena telah berhasil mengirim mimpi pada Sri Isaac Xavier ditambah respon kesal yang ditunjukkan oleh Sri membuatnya puas. Eden yang melihat Damian tertawa lepas membuatnya merasa aneh, karena di sekitar sini tidak ada yang lucu, “Jangan pedulikan Eden, jangan pedulikan, pura-pura tidak tahu adalah cara paling benar untuk menghadapi Pendeta Damian” gumam Eden dalam hati seraya mengelus-elus dadanya.


***


Surat yang sebelumnya dikirim oleh Paul telah sampai pada Dewan Keamanan wilayah, isi surat itu sontak membuat pupil mata pemimpin Dewan Keamanan wilayah terbuka lebar. Segera setelahnya ia pun memberi perintah dan mengirim beberapa pasukan ke The Great Aztec menggunakan Gate agar pasukan lekas sampai dilokasi tujuan. Merasa ada pergerakan aneh di halaman Istana sontak membuat Raja Louise memerintahkan Jose untuk memeriksa dan benar saja sesampainya di halaman utama sebuah Gate terbentuk, tamu tak diundang akan segera datang.


“Yang Mulia..” seru Jose seraya berlari mendekat pada Raja Louise sesaat setelah ia memeriksa halaman Istana utama. “Tepat seperti yang anda duga, tamu tak diundang akan segera datang Yang Mulia. Melihat simbol yang terukir pada Gate dapat dipastikan bahwa tamu ini berasal dari Dewan Keamanan wilayah” tutur Jose menjelaskan mengenai apa yang ia saksikan secara langsung di halaman Istana utama.


“Aneh sekali, untuk apa Dewan Keamanan datang kemari? Mungkinkah ada kaitannya dengan portal yang semakin melemah?” ucap Raja Louise menduga-duga maksud kedatangan Dewan Keamanan.


“Hamba tidak yakin mengenai hal itu Yang Mulia, akan tetapi sebaiknya kita menunggu hingga mereka keluar dari Gate”


Beberapa jam kemudian Gate pun terbuka, barisan tentara keluar serempak dan membentuk barisan keamanan, Raja Louise ditemani oleh Pangeran Arthur, Jose dan beberapa pejabat lain menunggu  di depan Gate untuk menyambut kedatangan perwakilan Dewan Keamanan wilayah di Istana Siang ini. Dari barisan muncul seseorang yang berjalan mendekati Raja Louise dan memberikan sebuah gulungan surat resmi lengkap dengan cap Dewan Keamanan wilayah. Surat itu pun segera dibaca oleh Raja Louise, ia sedikit terkejut setelah membaca seluruh isinya karena tujuan pasukan Dewan Keamanan wilayah datang adalah untuk menjemput seorang penyusup yang telah tinggal cukup lama di Istana The Great Aztec yaitu Adel. Setelah selesai menbaca, Raja Louise lantas menyerahkannya pada Jose yang kemudian ikut membaca bersama Pangeran Arthur, keduanya sama terkejutnya setelah selesai membaca seluruh isi gulungan tersebut, “Kakak!” seru Pangeran Arthur yang seolah meminta kakaknya untuk memberikan pembelaan bagi Adel.


“Ini adalah The Great Aztec, apapun yang terjadi di negaraku merupakan urusan ku dan kalian tidak berhak menyeret siapapun dari sini” ucap Raja Louise yang melempar tatapan tajam pada perwakilan yang menyerahkan surat gulungan padanya.


“Karena pelaku telah menerobos wilayah tanpa izin dan diketahui bahwa pelaku bukan merupakan warga asli Anotherworld sehingga masalah ini menjadi tanggungjawab Dewan Keamanan Wilayah” dengan tegas menolak peringatan yang diucapkan oleh Raja Louise kemudian memerintahkan pasukan untuk bergerak mencari Adel.


“Berhenti!” seru Raja Louise berteriak dengan lantang kembali memberikan peringatan pada pasukan yang mulai bergerak.


“Raja Louise, tidak ada alasan bagi anda untuk mencegah kami” tidak mengindahkan peringatan Raja Louise dan semakin besikap arogan.


“Kami masih memiliki perjanjian lama, seharusnya kau tahu salah satu isi yang menyebutkan bahwa ‘segala kejahatan yang terjadi di The Great Aztec baik itu kejahatan ringan maupun berat menjadi urusan pribadi


negara dan akan diselesaikan sendiri tanpa campur tangan Dewan Keamanan Negara’ saya yakin pemimpin Dewan Keamanan Negara mengetahui hal ini” kembali memberi peringatan berdasarkan perjanjian lama yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk Dewan Keamanan Negara.


“Tapi, sebagai pemimpin negara anda seolah dengan sengaja membiarkannya tanpa memberi hukuman karena itulah Dewan Keamanan Negara akan mengambil tindakan tegas atas masalah ini” setelah mendengar penjelasan ini membuat Raja Louise terdiam, ia mengakui bahwa selama ini ia membiarkan Adel begitu saja dan tidak mengindahkan identitas aslinya yang berasal dari luar wilayah.


Mendapati Raja Louise yang terdiam membuat perwakilan yang sebelumnya berbicara pada Raja Louise pun memerintahkan pasukannya untuk bergerak menjemput Eden, sesuai informasi yang tertera bahwa Adel saat ini tinggal di Istana Vie Rose, maka dari itulah ia dan pasukan bergerak lokasi.


“Kakak! Seharusnya kau mencegah mereka. Bagaimana jika Eden sampai tahu?!” seru Pangeran Arthur tidak setuju dengan Raja Louise yang membiarkan pasukan Dewan Keamanan Negara masuk begitu saja.


“Karena itulah, tugas mu mencegah siapapun untuk memberitahu Eden, aku akan segera menyelesaikannya sebelum Eden kembali”