
***
Hari ini merupakan hari penetapan status Adel sebagai tahanan wilayah, status ini meningkat setelah sebelumnya panglima Sacheverell secara resmi mendapatkan surat suara mayoritas yang menginginkan Adel diadili berdasarkan hukum wilayah. Atas dasar hal ini maka tidak akan nada satu orang pun yang dapat mencegah maupun menolak keputusan tersebut, termasuk The Great Aztec. Setelah mendapat kabar ini, Pangeran Arthur segera mengirimkan pesan pada rekan-rekannya yang sedang melaksakan misi masing-masing di pelosok wilayah, bahkan kabar ini pun ia sampaikan melalui sepucuk surat yang ia kirimkan pada pendeta Damian, Pangeran Arthur merasa harus memberitahukannya pada Eden karena masalah ini menyangkut nyawa adiknya. Segala keputusan atas Kembali atau tidaknya Eden berada di tangan Damian, karena saat ini Eden masih menjadi tanggungjawab Damian sebagai pembimbingnya.
Raja Louise pun juga tak luput dari pemberitahuan ini, melalui sepucuk surat yang sedang berada di tangan, kini ia tahu mengenai perkembangan terakhir kasus yang tengah membelit Adel. Setelah selesai membaca tanggannya spontan meremas surat tersebut seraya menggeratkan giginya seolah ia sedang merasa kesal atas pemberitahuan yang disampaikan oleh Pangeran Arthur. Raja Louise lantas memberi perintah pada Jose untuk mempersiapkan
keberangkatannya menuju kantor pusat Dewan Keamanan wilayah.
Di lain sisi, Marco dan Lucas tengah menunggu kedatangan Hugo, kali ini secara khusus Lucas meminta untuk memberikan informasi yang mereka cari lebih cepat dari hari yang telah mereka sepakati sebelumnya. Hal ini dikarenakan mereka sudah tidak memiliki waktu untuk menunggu lebih lama lagi dan benar saja Hugo datang dengan membawa informasi yang mereka berdua inginkan. Pertemuan berlangsung di pinggiran kota agar
mereka lebih laluasa dan juga untuk menghindari keramaian, sesaat setelah memberikan secarik kertas berisi informasi Hugo pun bergegas pergi meninggalkan mantan rekannya tersebut.
Lucas dan Marco juga pergi dari lokasi pertemuan dan tiba di sebuah tempat yaitu sudut kota tepatnya di depan sebuah bangunan yang mangkrak atau terbengkalai.
Lucas pun membuka secarik kertas yang diberikan oleh Hugo dan kemudian membacanya bersama Marco, mata keduanya terbelalak setelah selesai membaca seluruh infromasi yang tertulis jelas tanpa kurang sedikit pun,
“Ini” ucap Lucas seraya menoleh kea rah Marco, begitupun Marco yang melihat ke arah Lucas dan merespon dengan cara menganggukkan kepala. Tanpa berlama-lama Marco memanggil burung pos dan mengirimkan kertas itu pada rekannya Diana. Tepat setelah mengirimkan surat, tiba-tiba Lucas dan Marco di kepung oleh sekelompok pasukan bersenjata yang siap melumpuhkan keduanya. Awalnya mereka memasang kuda-kuda dan siap untuk melawan, akan tetapi, pasukan terus saja datang dan jumlahnya melebihi kapasitas kemampuan perlawanan keduanya sehingga mau tidak mau mereka menyerah. Salah seorang komandan pasukan mendekat kemudian
mengikat tangan Lucas dan juga Marco dengan erat sehingga keduanya tidak dapat bergerak bebas apalagi mencoba untuk kabur.
“Atas dasar surat ini lah kami diperintahkan untuk menangkap kalian berdua” ucap si komandan seraya menunjukkan surat penangkapan dengan segel milik Dewan Keamanan Wilayah. Kurang lebih surat tersebut
mengungkapkan bahwa Lucas dan Marco telah melakukan kejahatan berat yaitu mencuri informasi rahasia di wilayah Assiria. Hal ini tentu saja telah menyalahi aturan, sama halnya seperti The Great Aztec wilayah Assiria juga
memiliki hak istimewa dimana kejahatan pencurian informasi merupakan sebuahpelanggaran berat dan sialnya Lucas beserta Marco melupakan hal ini.
(Di waktu yang sama) di sekitar tempat pertemuan
antara Lucas dan Marco dengan Hugo sebelumnya ternyata Hugo lah yang telah memberitahukan pelanggaran yang dilakukan oleh mantan rekannya tersebut. Sebenarnya saat sedang mencari informasi, Hugo sempat ketahuan oleh bawahan dari Raja Noah, dia sempat digiring secara paksa untuk menemui Raja Noah dan
mengaku siapa yang telah menyuruhnya mencari informasi yang sangat rahasia tersebut. Awalnya Hugo bungkam, namun kemudian ia membuka mulut setelah Raja Noah mengancamnya menggunakan bawahan setianya yang disiksa secara keji dihadapannya. Begitulah kronologi yang membuat Lucas dan juga Marco ditangkap
atas tuduhan yang seharusnya diterima oleh Hugo.
“Maafkan aku” gumam Hugo seraya tertunduk menyesal karena telah membahayakan Lucas dan juga Marco.
***
(Ruang Nol)
Setelah beberapa hari melakukan latihan secara mandiri dan diawasi oleh Damian, kini Eden sudah bisa mengendalikan kekuatan naga api yang biasanya mencoba untuk memprovokasi dirinya. Kurang lebih sekitar 80% Eden sudah memegang kendali atas tubuhnya sendiri, hanya butuh waktu sedikit lagi baginya agar bisa sepenuhnya mengendalikan dan bila telah tercapai maka Eden akan dengan mudah menggunakan kekuatan naga api untuk melindungi dirinya dari musuh. Tidak mudah bagi Eden untuk bisa sampai pada level ini hanya dalam waktu beberapa hari, jika tekadnya tidak kuat bisa saja ia hancur karena kehilangan kendali, apalagi masih ada beberapa kemarahan yang terpendam dalam hati yang bisa meledak kapan saja dan dapat memicu kekuatan naga api untuk menguasai tubuhnya. Jika hal ini terjadi, bukan hanya portal pelindung yang hancur akan tetapi keseimbangan dunia yang telah terjaga selama ini dapat rusak karena hal tersebut. Sebelumnya secara diam-diam Damian telah mendapatkan sepucuk surat pemberitahuan mengenai perkembangan yang saat ini sedang terjadi di wilayah Anotherworld, selain itu ada beberapa surat lain yang menumpuk dan tentunya dikirim oleh seseorang yang tidak memiliki pekerjaan yaitu Sri Isaac Xavier. Ia memprotes keras Damian yang telah mengunci gerbang menuju ruang nol tanpa sepengetahuannya sehingga menyebabkan dirinya gagal mengunjungi Eden berulang
kali, hanya surat saja yang bisa sampai ke ruang nol, sedangkan Sri Isaac Xavier tidak. Sepertinya Damian sengaja menghalangi Sri IsaacXavier untuk masuk karena bisa saja kehadiran Sri dalam ruang nol dapat mengganggu konsentrasi Eden dalam berlatih.
“Eden” seru Damian yang berdiri di sebrang tempat Eden Latihan. Kini Eden sedang berdiri di sebuah batu besar sembari mengendalikankekuatan naga dengan memunculkan semacam cahaya berwarna merah yang keluar dari
dalam tubuhnya.
Mendengar panggilan suara Damian lantas membuat Eden hilang fokus, ia menoleh kea rah Damian dan perlahan keuatan yang sedang ia keluarkan pun menghilang.
“Iya?!” seru Eden menjawab, “Ada apa pendeta?” imbuh Eden yang lantas bertanya pada Damian.
“aku ingin menyampaikan sesuatu pada mu” ucap Damian mulai berbicara serius pada Eden.
Merasa bahwa apa yang akan disampaikan oleh Damian merupakan hal yang serius lantas membuat Eden berjalan mendekat, ia berhati-hati melompat ke atas bebatuan agar bisa sampai pada Damian.
“hal apa yang ingin anda sampaikan?” tanya Eden tepat setelah sampai di hadapan Damian.
“Seorang sedang berusaha menembus pintu masuk ke ruang nol, Tindakan apa yang harus ku lakukan? Membiarkannya atau mengusirnya?” tanya Damian meminta pendapat Eden.
Mendengar pertanyaan ini tentu saja membuat Eden terlihat serius menanggapi Damian,”Tentu saja anda harus memperingatinya, menerobos pintu masuk ruang nol bukankah merupakan sebuah pelanggaran? Maksud
“atau haruskah saya mencoba kekuatan ini untuk mengusir si pengganggu itu?” seraya nmengepalkan telapak tangan dihadapan wajah Damian dan menganggukan kepala seolah memberikan penawaran pada Damian.
Respon tak biasa yang ditunjukan oleh Eden sempat membuat Damian tersenyum karena ia merasa bahwa mereka sudah saling terkoneksi mengenai hal yang harus dilakukan tanpa menyebutkannya secara detil.
“Tapi orang tersebutmungkin saja akan sangat merepotkan bagimu” ucap Damian seolah ingin tahu lebih lanjut respon dari Eden.
“Untuk saat ini tidak ada seorang pun yang saya takutkan pendeta, siapapun asalkan bukan Sri Isaac Xavier saya sanggup menghadapinya” ucap Eden dengan sorot mata yang memperlihatkan semangat membara.
“Kalau begitu kit harus menemui orang tersebut sekalian menguji coba kekuatanmu pada orang tersebut” seraya tersenyum simpul dan lantas mengajak Eden pergi untuk menemui orang yang berusaha menerobos masuk ke ruang nol.
(di waktu yang sama di gate menuju ruang nol)
Sri Isaac Xavier sedang berusaha untuk menerobos masuk melalui jalur yang ia buat sendiri, tentunya selain Damian dan Eden, Sri Isaac Xavier juga memiliki akses untuk masuk, akan tetapi Damian dengan sengaja
menempatkan mantra khusus agar hanya dirinya dan Eden yang dapat masuk ke ruang nol. Hal ini tentu saja sempat membuat Sri Isaac Xavier murka dengan prilaku seenaknya Damian. Bahkan saking murkanya ia berniat menghancurkan tempat itu menggunakan kekuatannya, beruntung niatan buruk itu berhasil dicegah oleh Lloyd
yang bersedia menjadi bulan-bulanan Sri Isaac Xavier dengan cara mendengarkan amarah yang dikeluarkan melalui ucapan keras dan sesekali menendang-nendang tanah yang sedang mereka pijak.
“Sri, tenanglah, hamba yakin Pendeta Damian memiliki alasan mengapa beliau menanam mantra khusus di sini. Anda pasti ingat kejadian saat nona Eden sedang melaksanakan ritual puncak di danau suci, Rosemary
berhasil menyusup kala itu dan mungkin saja atas dasar inilah pendeta Damian berusaha melindungi dari orang yang berniat jahat seperti Rosemary.” Ucap Lloyd yang dengan sabar mencoba memberi pengertian pada Sri Isaac Xavier. Hal ini ia lakukan agar Sri tidak berburuk sangka pada Damian. Mendengar ucapan Lloyd yang terdengar bijak membuar Sri Isaac Xavier terdiam sejenak, dan merespon Lloyd.
“Melindungi? Hei dasar kau pendeta magang, sudah belasan tahun mengikutiku bagaimana bisa kau tidak tahu sifat Damian.” Ternyata dua kalimat yang keluar dari mulut Lloyd justru semakin membuat amarah Sri Isaac Xavier menjadi-jadi, ia lantas melempar lirikan mata sinis terhadap Lloyd. Mendapati hal ini sontak membuat Lloyd merinding dan lantas berusaha mengalihkan pandangan matanya dari Sri Isaac Xavier.
“Lihatlah Sri, gatenya terbuka” seraya menunjuk ke arah depan, Lloyd merasa sangat lega karena timingnya sangat pas sehingga dapat menyelamatkan dirinya dari amukan Sri Isaac Xavier. “Terimakasih sudah menyelamatkanku nona Eden” sedikit berkaca-kaca seraya bergumam dalam hati.
Keduanya pun menunggu hingga gate terbuka dengan sempurna, setelah beberapa saat terlihat bayangan dua orang yang sedang berjalan bak supermodel yang memancarkan aura berbeda, satu orang dengan aura berwarna biru menyala sedangkan yang satunya dengan aura berwarna merah bak api yang sedang menyala.
Sayangnya kekerenan keduanya tiba-tiba sirna tatkala Eden terbatuk karena asap berlebihan yang sengaja dibuat oleh Damian, selain itu semangatnya seketika menciut ketika mendapati orang yang mencoba menghancurkan
gate tidak lain dan tidak bukan adalah Sri Isaac Xavier. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan Eden lekas berakting sesaat setelah kedua bola matanya bertemu dengan mata Sri Isaac Xavier. Eden pun berlari seraya memanggil Sri Isaac Xavier, “Sri!” seraya memeluk kemudian lanjut berbicara, “saya sangat merindukan anda” melanjutkan aktingnya supaya tidak ketahuan. Mendengar ucapan Eden lantas membuat Sri Isaac Xavier tersenyum senang seraya menganggukkan kepala
beberapa kali.
Melihat perubahan mendadak sikap Eden membuat Damian terkejut, ia menggelengkan kepala beberapa kali karena rencananya gagal total.
“Pendeta Damian, kenapa anda tidak menyambut paman anda? Bukankah ini sangat tidak sopan” seru Eden seolah ingin membuatnya terlihat dipihak Sri Isaac Xavier.
Mendengar Eden malah membuat Damian merasa kesal, ia lantas berbalik meninggalkannya tanpa ada satu patah kata pun yang terucap.
“Pendeta..! Pendeta Damian” seru Eden berulangkali berusaha menahannya gara tidak pergi.
“Sepertinya pendeta Damian sedang Lelah, bukankah sebaiknya kita segera masuk Sri? Benarkan pendeta Lloyd?” ucap Eden tiba-tiba ingin melibatkan Lloyd dalam sandiwaranya, pada dasarnya Lloyd peka dengan ajakan Eden dan segera menjawabnya, “Benar sekali apa yang diucapkan oleh nona Eden, sebaiknya kita
segera masuk”.
Kemudian mereka bertiga pun masuk menyusul Damian.
***
3 hari berlalu pasca penangkapan Lucas dan Marco, kini keduanya akan diadili berdasarkan putusan sidang telah dilaksanakan sebelumnya dan keduanya dijatuhi hukuman mati. Selama 3 hari ini Pangeran Arthur telah berusaha untuk meminta keringanan hukuman atas keduanya, namun sayangnya tidak ada pasal yang dapat meringankan kejahatan Marco dan Lucas. Raja Louise bahkan sibuk menghubungi semua relasi yang ada agar bisa membantunya untuk membuat hakim meringankan putusannya, akan tetapi usahanya sia-sia, semua relasi yang
biasanya mendekat bahkan menyembah Raja Louise tiba-tiba menjauh begitu saja, seolah mereka tidak ingin turut campur dalam masalah negara tetangga, apalagi mereka merasa tidak akan mendapat keuntungan jika membantu Raja Louise. Sempat salah seorang petinggi negara Hibrid memberi persyaratan yang mustahil pada raja
Louise dengan memasang wajah angkuh ia mulai berbicara, “Bagaimana jika anda menjadikan putri saya sebagai ratu lalu, Eden akan saya jadikan sebagai selir. Anda harusnya berpikir logis, menikahi seorang gadis yatim piatu tidak akan memberikan anda keuntungan, bukankah begitu?” seraya melirik kea rah para perdana mentri yang kemudian menertawai Raja Louise. Sebuah penghinaan yang sangat menyakitkan hatinya karena mereka berani menghina calon ratu The Great Aztec, hal ini tentu saja sama dengan mengina dirinya sebagai pemimpin negara.
“Ingatlah hal ini, saat negara mu runtuh nanti, The GreatAztec tidak akan pernah memberikan bantuan!” sedikit membentak kemudian pergi meninggalkan ruangan sang Raja Hibrid, memang terdengar angkuh, namun beginilah seharusnya yang terjadi, sebenarnya ia sangat ingin melemparkan pedangnya kea rah kepala sang raja, akan tetapi karena Raja Louise teringat dengan Eden makai a pun mengurungkan niatnya tersebut.