
“Panass.. pa..pa..nas... air.. aku butuh air” terbata-bata berbicara sambil menahan rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
“Bertahanlah.. kita akan segera sampai di Istana” ucap Raja Louise seraya memeluk Erat Eden yang duduk di hadapannya, kini Raja Louise tengah berpacu dengan waktu karena ia terpaksa membawa Eden kembali ke Istana menunggangi Kuda.
Sebelum kembali ke Istana, Raja Louise sempat mengirim pesan pemberitahuan melalui burung pos, surat itu saat ini telah diterima oleh Jose sehingga ia tengah mempersiapkan segala hal yang diminta oleh Raja Louise,
yaitu membuka gerbang Istana bagian selatan, lalu mensterilkan jalan yang berada disekitar sana hingga menuju Istana Matahari. Bukan tanpa alasan, Raja Louise menginginkan hal ini karena ia tidak ingin seorang pun mendengar kondisi Eden yang sedang memburuk, ia juga tidak ingin bila kondisi ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu dengan menggunakannya sebagai kelemahan Eden dan menyerangnya di masa depan. Raja Louise memang telah memikirkan hal-hal semacam itu demi melindungi Eden.
Sesampainya di Istana Matahari, Jose telah menunggu Raja Louise dan telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan dalam kamar pribadi Raja Louise, segera setelahnya Jose menutup rapat pintu kamar, hanya Raja Louise dan Jose saja yang berada di dalam kamar. Raja Louise membaringkan Eden di atas Ranjang, ia lantas melepas satu persatu pakaian hingga menyisakan gaun bagian dalam yang sangat tipis. Mendapati hal ini sempat membuat Jose mengurungkan niat untuk ikut membantu dan memilih untuk membalikkan badan karena melihat Eden yang hanya menggunakan gaun bagian dalam merupakan tindakan yang tidak sopan.
“Yang Mulia, melihat kondisi nona Eden apakah tidak sebaiknya memanggilkan dokter kerajaan?” Jose memberanikan diri untuk memberi saran pada Raja Louise.
Namun, saran dari Jose segera di tolak oleh Raja Louise, “Tidak..! kondisi Eden saat ini bukanlah kondisi yang bisa membaik karena obat dari dokter” menjawab Jose sambil mengompres bagian tangan Eden menggunakan handuk basah.
“aa..iii..rrrrrr... aku butuh air.. tolong bawa aku ke bak mandi” gumam Eden setengah sadar sambil berbicara sedikit melantur.
“Tidak.. bertahanlah.. ku mohon” ucap Raja Louise menolak halus keinginan Eden sambil terus mengompres Eden menggunakan handuk basah.
“air... sudah ku bilang aku mau air!” kali ini dengan sedikit membentak Eden memaksa Raja Louise agar mau memberinya air, namun RajaLouise bersikeras tidak ingin memberi yang Eden minta dan terus membasahi tubuh Eden perlahan menggunakan handuk basah.
Merasa kesal lantas membuat Eden menepis tangan Raja Louise lalu memalingkan wajah, sedangkan Raja Louise mengambil handuk yang terjatuh karena tepisan tangan Eden sebelumnya kemudian tetap lanjut mengompres Eden lagi.
“sudah ku bilang aku ingin air!” sambil menepis dan menoleh ke arah Raja Louise, Eden terlihat frustasi karena permintaannya tidak dikabulkan, air matanya bahkan hampir keluar karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa saat berlalu, Eden pun mulai menjadi lebih tenang, tidak seperti sebelumnya ia kini telah memejamkan mata setelah Raja Louise yang sabar dan teliti memberikan komresan air secara terus menerus dan kini tubuh Eden tengah berstirahat dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Aku rasa cara ini telah berhasil membuatnya lebih baik..” sambil memeriksa dahi menggunakan telapak tangan Raja Louise mulai mengajak bicara Jose.
“iya anda benar Yang Mulia, melihat kondisi nona Eden saat ini sepertinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya” sambil berjalan mendekat pada Raja Louise untuk mengambil alat kompres dan berniat menggantinya dengan yang baru.
“Emosinya semakin tidak stabil, aku harap utusan dari kuil suci segera datang...” ucap raja Louise seraya berdiri untuk merenggangkan ototnya kemudian menghadap ke arah Jose.
Tak disangka moment ini lah yang ditunggu oleh Eden sedari tadi, ia menunggu Raja Louise dan Jose lengah dan tidak memperhatikan dirinya karena ia telah menahan rasa panas sejak tadi agar ia bisa segera berlari menju kamar mandi. Benar saja saat berbalik menghadap Jose, Eden lantas membuka selimut dan melemparnya ke arah Raja Louise dan juga Jose hingga membuat keduanya kalang kabut menyingkirkan selimut yang menutupi keduanya.
“Sekarang saatnya”
ucap Eden dalam hati seraya mengintip, Moment inilah yang dimanfaatkan oleh Eden untuk berlari secepat kilat menuju kamar mandi, hasratnya yang begitu besar terhadap air hingga membuatnya hampir kehilangan akal sehat hingga menipu Raja Louise.
“Brakkk..” Eden telah berhasil masuk ke dalam kamar mandi, ia segera mengunci rapat pintu, ia telah paham denah kamar Raja Louise setelah sebelumnya menginap di Istana Matahari selama beberapa hari.
***
(Di suatu tempat dan di waktu yang bersamaan)
Damian tengah berkonsentrasi menata ulang ruang khusus yang diperuntukan bagi Eden. Ruang ini dapat dikatakan sebagai Ruang 0 atau zona netral yang nantinya akan digunakan sebagai tempat penyembuhan dan pemulihan energi bagi tubuh Eden. Karena sudah lebih dari 100 tahun ruang ini tidak digunakan membuat Damian harus menata ulang dengan cara membentuknya kembali menggunakan Energi alam. Tubuh
Damian yang masih muda seharusnya dapat menyelesaikan pembentukan ruangan ini dengan cepat, namun secepat apapun itu tetap memakan waktu lebih dari 2 minggu dan ini sudah berjalan kurang lebih 10 hari, ruang pun sudah terbentuk sekitar 70%, dapat digunakan beberapa hari lagi.
Ada yang sedang mengganggu pikiran Damian hingga membuatnya membuka mata, sekelebat bayangan mengenai Eden yang sedang berubah dikuasai oleh Naga Api membuat konsentrasi Damian terpecah. Keduanya telah terkoneksi tepat setelah Sri Isaac Xavier menunjuk Damian sebagai pendamping Eden, ia
tidak bisa membiarkan Eden dikuasai sepenuhnya oleh Naga Api , karena keberhasilan misi menjaga portal pelindung bergantung pada Eden yang bisa mengendalikan Naga Api atau tidak. Seperti saat ini, tubuhnya sepenuhnya telah dikendalikan oleh Sang Naga Api karena Eden tidak mampu meredam energi panas yang terus menjalar keseluruh tubuhnya. Segera setelah menyadari hal ini membuat Damian bangkit dari pertapaa, kemudian membuka Gate pribadi miliknya untuk menuju ke The Great Aztec. Gate milik Damian mulai terbentuk di sekitar taman Istana Matahari membuat siapa saja yang melihat sontak terkejut, hal inilah yang kemudian dilaporkan pada penjaga sekitar lalu diteruskan pada Hansel yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju Istana Matahari. Mendapati hal ini membuat Hansel memilih untuk menunggu di dekat Gate, karena Gate tersebut memiliki lambang kuil suci sehingga hansel sudah tahu siapa sosok yang akan muncul dari Gate tersebut.
***
(Di kamar pribadi Raja Louise)
Mendengar suara bantingan pintu membuat Raja Louise dengan sigap berlari mengejar Eden, meskipun terlambat mencegah Eden masuk, namun ia tetap berusaha merayu Eden agar mau keluar menemuinya dan tidak langsung merendam tubuhnya ke dalam air.
“Eden.. ku mohon keluarlah.. kita harus bicara” sambil mengetuk pintu Raja Louise berbicara untuk membujuk Eden agar ia mau keluar.
“Kau yakin sudah mematikan semua jalur air?” tanya Raja Louise sambil sedikit menoleh ke arah Jose yang berada tepat di belakangnya. “Hamba yakin semua saluran air yang menuju ke kamar yang mulia telah dimatikan. “Tapi kenapa tidak terdengar suara apapun” gumam Raja Louise yang kembali menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Hawa panas mulai keluar dari sela-sela pintu bagian bawah, Raja Louise spontan melihat kebawah dan mendapati kaki-kakinya terasa panas, “Eden!!!” seru raja Louise kemudian menggedor pintu berulang kali, ia terus menghantam pintu menggunakan tangannya. Karena tak berhasil membujuk Eden membuat Raja Louise lantas pergi ke arah lemari dan menekan sebuat tembok ke dalam yang membuat sebuah tembok terbuka lebar, disanalah Raja Louise menyimpan Pedang sakti miliknya, pedang berwarna hitam berlambang bunga pada bagian pegangan dan juga berukiran kerberos pada bagian penopang. Ia dengan sigap mengambil pedang tersebut lalu kembali menuju depan kamarmandi, mengayunkan pedangnya dan seketika membuat pintu hancur hanya dalam satu kali tebasan saja.
Tepat seperti dugaannya, kamar madi saat ini tak ubahnya seperti perapian yang memancarkan hawa panas berasal dari Eden yang terduduk kaku seolah tengah kehilangan kesadaran dirinya. Tubuhnya berubah menjadi warna merah dan kulitnya terlihat seperti laava berwarna merah yang memancarkan energi panas disekitar. Alasan mengapa sebelumnya Sri Isaac Xavier menuliskan surat agar Eden menghindari Air adalah karena air merupakan lawan dari api, bila secara terus menerus terkena air dapat membuat Energi yang pada awalnya stabil menjadi meledak hebat, seperti yang saat ini sedang terjadi. Eden ketika ia merasa panas selalu mencari air bahkan bisa berjam-jam berendam di dalamnya, hal-hal ini lah yang menyebabkan kontrol tubuhnya terhadap kekuatan sang Naga Api terlepas hingga tubuhnya sudah tidak mampu membendung kekuatan yang teramat besar akibat guyuran air yang secara terus menerus mengenai tubuhnya. Lain cerita ketika ia hanya sekedar mandi tanpa merasakan hawa panas dalam tubuh, hal itu tidak berpengaruh pada kontrol kekuatannya terhadap naga, akan tetapi jika ia dengan sengaja berendam saat suhu tubuh meningkat akan menimbulkan kontrol tubuhnya semakin berkurang.
Mendapati kabar bahwa Eden kehilangan kesadaran membuat rekannya berbondong-bondong pergi ke Istana Matahari secara bersamaan, tak terkecuali Adel yang juga pergi bersama Cecilia karena sebelumnya ia sedang berada di perpustakaan terpisah dari rekan Eden yang lain. Tak disangka saat tengan berjalan ada seseorang yang menghalangi yaitu Beatrice, keduanya tak sengaja berpapasan dan berhenti sejenak untuk saling menyapa.
“sepertinya anda sedang terburu-buru nona” ucap Beatrice mengomentari cara berjalan dari Adel. Sapaan dari Beatrice ini tidak serta merta membuat Adel tersinggung, justru dengan pandainya Adel dapat mengontrol wajah dan juga menjawabnya dengan suara lembut seperti yang seharusnya bangsawan lakukan.
“ohh.. maafkan saya bila cara berjalan saya telah membuat putri merasa risih, akan tetapi dari pada mengomentari cara berjalan saya bukankah lebih baik putri memberikan penilaian terhadap gaun yang saya kenakan?” dalam hal sindir menyindir Adel merupakan ahlinya, ia cepat tanggap pada situasi yang akan menyudutkan seseorang seperti saat ini.
Mendengar hal ini sempat membuat Beatrice terkejut, ia tidak tahu bahwa seseorang yang berasal dari luar wilayah Anotherworld bisa sefasih itu dalam berbicara bahasa setempat, apalagi ia membicarakan mengenai penilaian sebuah gaun yang merupakan tata krama bagi keturunan bangsawan.
“Menarik” ucap Beatrice dalam hati sambil tersenyum sinis.
“Sepertinya saya baru melihat anda, kalau boleh tahu anda berasal dari keluarga bangsawan yang mana? Sebutkan marga anda” Beatrice berusaha menyudutkan Adel karena ia memang tidak memiliki marga ataupun berasal dari keluarga bangsawan.
Cecilia yang menyaksikan Adel sedang tersudut membuat Cecilia melangkah maju, ia berusaha menghalangi Adel agar tidak terpancing dalam jebakan Beatrice, “Ah.. nona kita harus segera pergi, maafkan kami putri.. kami permisi dulu” sambil menggenggal erat tangan Adel dan berjalan melewati Beatrice.
“Aku mengundang anda untuk minum teh nona..” seru Beatrice sambil berbalik ke arah belakang membuat Adel dan Cecilia seketika berhenti berjalan kemudian menoleh ke arah Beatrice dan menjawab undangannya tersebut, “Baiklah.. saya sungguh merasa terhormat putri mau mengundang saya.. kalau begitu saya permisi” kemudian berlalu pergi setelah menerima undangan dari Beatrice.
Cecilia merasa khawatir dengan tindakan Adel yang menerima undangan Beatrice, ia ingin berbicara namun tidak berani takut menyinggung perasaan Adel.
Sedangkan Adel yang peka terhadap kegelisahan Cecilia lantas berusaha menenangkannya, “kau tidak perlu khawatir, ini hanya pesta minum teh..” sambil terus berjalan Adel mulai berbicara pada Cecilia.
“Ta.. tapi bagaimana jika terjadi sesuatu?” dengan wajah pucat Cecilia berusaha menahan Adel agar tidak pergi menghadiri undangan Beatrice.
Langkah Adel tiba-tiba terhenti, membuat Cecilia yang berjalan di belakangnya pun ikut berhenti. Adel lantas berbalik kemudian meraih tangan Cecilia, “Percayalah, aku pasti bisa menangani Rubah itu” sambil tersenyum meyakinkan Cecilia kemudian berjalan kembali. Setidaknya mendengar Adel percaya diri membuat Cecilia merasa sedikit lega karena ia pun tahu bahwa Adel tidak akan bertindak gegabah dalam menghadapi orang baru.
Kini keduanya telah sampai di altar utama Istana Matahari yang sangat luas dan berbeda dari Altar Istana Vie Rose, tepat dipersimpangan Adel dan Cecilia bertemu dengan rekan-rekan Eden, mereka lantas berhenti
sejenak, “kalian baru sampai?” tanya Diana pada Adel dan Cecilia.
“iya, kami dari perpustakaan, bagaimana dengan kalian?” Cecilia bertanya balik pada Diana dan Rekannya yang lain.
“Seperti yang kau lihat kami pun sedang berada di lokasi pelatihan dan terburu-buru kemari setelah mendengar kabar buruk ini” jawab Diana yang juga terlihat pucat karena mengkhawatirkan kondisi Eden.
“Kita harus bergegas” seru Marco mengajak semua rekannya untuk segera masuk dan tidak berlama-lama mengobrol.
***
Raja Louise sedari tadi sedang berusaha mendekat pada Eden, namun tidak berhasil, hawa panas yang terus dipancarkan keluar membuat kulitnya hampir terbakar setidaknya panas itu masih terasa dalam jarak 100 meter, namun saat ini jarak Raja Louise dan Eden hanyalah 15 meter saja.
“Hentikan Yang Mulia, anda bisa terbakar!!” seru Jose yang berusaha menghentikan Raja Louise melangkah lebih jauh, pada dasarnya Raja Louise adalah orang yang tidak bisa diperintah sehingga peringatan Jose pun
tidak ia Indahkan hingga sesaat setelahnya Pangeran Arthur datang dan menyeret kakaknya untuk menjauh.
“Hentikan!” seru Raja Louise memberontak saat Pangeran Arthur menyeretnya secara paksa dengan cara memegang erat kedua lengan Raja Louise dari arah belakang menggunakan kedua lengannya. Meskipun Pangeran Arthur terlihat tidak memiliki kekuatan namun ia memiliki bekal ilmu militer yang setara dengan kakaknya karena itulah kekuatannya hampir menyamai Raja Louise.
“Hentikan!!” kembali berteriak pada Pangeran Arthur.
“Kakak! kau tidak bisa memaksa masuk..!! meskipun darah dewa mengalir dalam tubuh kita akan tetapi fungsinya tidak untuk menahan panas yang dikeluarkan oleh Naga Api!! Bisa-bisa kaupun ikut terbakar di dalam!” baru kali ini Pangeran Arthur berani membentak kakaknya dihadapan orang lain, untuk pertama kalinya dia melawan Raja negara ini.