LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Ruang Kendali



"Jadi siapa kau sebenarnya?!" seru seorang pria dengan suara berat yang khas, dia adalah Pangeran Arthur yang sedari tadi tanpa disadari telah mengawasi Adel selama berada di Istana Vie Rose.


"Kenapa adik yang telah putus hubungan tiba-tiba datang mengarungi samudra untuk menemukan kakak tiri yang belum pasti di mana keberadaannya, bukankah ini sangat janggal" Pangeran Arthur berusaha menekan Adel, ia ingin membuat Adel berbicara alasan dan tujuannya datang ke The Great Aztec.


"Saya tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan, akan tetapi kakak sudah berpesan untuk hanya berbicara dengan Chris juga Cecilia dan tidak berbicara dengan orang asing” Adel menjawab Pangeran Arthur dengan tenang, ia memang belum tahu identitas asli pria yang sedari tadi menanyainya tanpa henti. Meskipun demikian Adel sudah memperhatikan si pria dan ia dapat menyimpulkan bahwa si pria bisa saja seorang bangsawa atau memiliki posisi lebih tinggi di Istana karena ia bisa dengan mudah masuk ke Istana Vie Rose.


"Pangeran, maafkan hamba yang tidak mengetahui kedatangan anda, hamba akan memberikan jamuan untuk anda di ruang lain" ucap Cecilia yang datang menghampiri Pangeran Arthur, ia merasa tak enak hati karena tidak menyambut kedatangan Pangeran dengan baik.


"Tidak perlu, kau bisa menyiapkannya di sini" jawab Pangeran Arthur sambil menunjuk meja makan tempat Adel sedang menikmati sarapan


"Baik akan segera hamba siapkan" jawab Cecilia yang kemudian pergi, ia merasakan firasat buruk akan terjadi dengan keduanya, namun Cecilia berusaha untuk tetap tenang dan mengawasi agar tidak terjadi pertengkaran antara Pangeran Arthur dan Adel.


Pagi itu keduanya berada di meja makan yang sama, menikmati sarapan tanpa banyak berbicara, sebenarnya pikiran buruk terhadap Adel masih saja mengusik Pangeran Arthur, namun ia tidak bisa begitu saja  mengungkapkannya karena Cecilia berada di dekat keduanya. Agar dapat meredam perang dingin


antara Pangeran Arthur dan Adel maka Cecilia memutuskan untuk menyajikan makanan penutup yang telah dibuat dengan resep Adel sebelumnya yaitu cheese cake kesukaan nona Eden. Cecilia lantas mempersilahkan keduanya untuk menyantap makanan penutup yang telah tersaji di atas meja makan, satu gigitan saja membuat Pangeran Arthur jatuh cinta dengan rasanya, penasaran akan hidangan ini spontan membuat Pangeran Arthur bertanya pada Cecilia,


"Kau yang membuatnya?" tanya Pangeran Arthur yang kembali memakan sesuap cheese cake.


"Tentu saja bukan Yang Mulia, kue ini merupakan resep buatan nona Adel" jawab Cecilia yang lantas membuat Pangeran Arthur bingung harus bereaksi seperti apa, agar tak terasa canggung Adel pun berbicara pada Pangeran Arthur.


"Kue ini salah satu makanan favorit kakak, saya merasa senang bila pangeran menyukainya dan juga mohon maaf atas ketidaksopanan hamba sebelumnya" dengan rendah diri kali ini Adel meminta maaf tulus dari dalam hati, ia tak mengira bahwa Pangeran Arthur adalah orang yang mudah tertarik dengan makanan lezat sama seperti kakanya Eden.


"Ehhemm.. ya harus ku akui kue ini rasanya benar-benar lezat, terimakasih karena telah membawanya ke dalam Istana" sambil merapihkan cara duduk dan menelan sisa kue di mulutnya Pangeran Arthur pun menyambut Adel meskipun belum sepenuhnya percaya, dan begitulah keduanya mulai berbicara, meskipun canggung tetapi Cecilia telah berhasil membuat Pangeran Arthur dan nona Adel untuk tidak saling curiga satu sama lain.


“Tapi nona, apakah anda kurang istirahat? Sejak bangun pagi anda terlihat lemas dan wajah anda sedikit pucat” tanya Cecilia yang sedari tadi memperhatikan Adel karena hari ini Adel memang tampak lemas tidak seperti sebelumnya saat Chris pertama kali Chris datang ke Istana.


“Benarkah? Tapi aku merasa baik-baik saja” sambil menyentuh wajah dan lehernya Adel pun menjawab Cecilia, ia memang merasa lemas sejak bangun tadi dan sejujurnya Adel bangun terlalu siang karena biasanya ia selalu bangun pagi buta. Agar Cecilia tidak khawatir Adel pun menjawab dengan tersenyum.


(Di sisi lain dan di waktu yang bersamaan)


Eden dan Raja Louise tengah menghabiskan waktu bersama dengan duduk di meja makan sambil menyantap hidangan yang telah disajikan.


"Apakah anda yang memasaknya?" tanya Eden spontan merasa penasaran apakah Raja Louise akan melakukan tindakan tak terduga seperti saat ia marah sebelumnya.


"Tentu saja, apakah kau suka?" Raja Louise balik menanyakan rasa masakan yang telah susah payah ia buat.


"Pantas saja tidak enak" ucap Eden ketus membuat beberapa pelayan yang mendengarnya merasa takjub akan keberanian Eden merendahkan kemampuan Raja Negara ini.


"Waahhh.. kau sangat buruk dalam penilaian, aku menyiapkan ini dengan sungguh-sungguh bahkan memilih bahan terbaik di Anotherworld dengan tanganku sendiri" sambil menunjukkan jari tangannya kepermukaan Raja Louise mengeluhkan respon tidak biasa yang ditunjukkanEden terhadap masakan buatannya.


"Ini? anda memilihnya sendiri?" sambil menunjuk salah satu hidangan menggunakan garpu.


"Tentu saja" seru Raja Louise yang masih kesal dengan respon cuek Eden. Bukannya menjawab, Eden malah tertawa kecil, sadar bahwa tertawanya mengalihkan perhatian membuat Eden lantas buru-buru merapihkan diri dengan mengatur suara.


"ehhemm ehhemm.. ya pokonya hidangan kali ini lumayan" Eden kembali berbicara sambil menyantap hidangan dengan lahap, Raja Louise sadar bahwa masakannya memiliki rasa lezat karena Eden hanya fokus makan tanpa bersuara, ia lantas tersenyum lega, kali ini ia tahu benar bahwa mungkin saja Eden merasa gengsi untuk memuji kemampuan memasaknya. Hanya dengan melihat Eden makan saja membuat Raja Louise merasa senang dan puas sehingga membuat ia dapat menikmati hidangan hari itu dengan lahap sama seperti Eden.


"Kalau seperti ini aku jadi ingin memasak untuk mu setiap hari" sambil menyantap makanan Raja Louise mengutarakan keinginan dari lubuk hatinya.


"Kalau begitu lakukan" Eden merespon keinginan Raja Louise dan kali ini ia tak berusaha menolak seperti biasanya.


"Apakah kau bersedia memakannya jika aku yang memasak?" tak percaya dengan kalimat yang ia dengar, Raja Louise pun Kembali bertanya untuk memastikan.


"Tentu saja, selama hidangan itu seenak iii...." Eden tiba-tiba menghentikan ucapannya, ia keceplosan mengatakan hidangan Raja Louise enak padahal jelas-jelas sebelumnya ia hanya mengatakan lumayan. Eden buru-buru mengalihkan pembicaraan agar Raja Louise tak menyadari bahwa ia sedang berbohong. "Iii .. itu.. aku yakin Yang Mulia sudah mendengar bahwa adik hamba berada di Istana, saya mohon izinkan dia tinggal di sini"


"ya tentu saja, dia bisa tinggal di sini sampai kapan pun, lagi pula kakaknya juga akan segera menikah denganku jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.. ngomong-ngomong bagaimana jika bulan depan?"


"Pernikahan" jawab Raja singkat tanpa basa-basi, hal ini membuat Eden spontan batuk dan memutahkan sedikit minuman yang ada dalam mulutnya.


"Kenapa anda selalu saja membahas persoalan itu, masih banyak hal mendesak yang tentunya lebih penting dibanding pernikahan.. contohnya masalah rakyat dan bulan depan bukankah terlalu cepat" seolah tak senang Eden berbicara persoalan lain, kini ia terlihat ingin berkelit dari topik ‘pernikahan’ padahal sebelumnya ia sempat setuju untuk menikah cepat.


"Tapi pernikahan ini juga permintaan rakyat.. seandainya kau tahu bahwa selama ini sudah banyak surat masuk mendesak pernikahan kita.. aku sudah berusaha semaksimal mungkin menunda namun kali ini aku sudah tidak bisa menolak" Raja Louise memberikan alasan masuk akal berdasarkan apa yang telah ia alami selama ini.


Kali ini Eden sudah tidak dapat menolak dengan alasan lain, menunda pun mungkin tidak bisa, ia akhirnya menyerah atas permintaan Raja Louise, "baiklah.. memang sudah seharusnya kita menikah sejak lama, karena


usia yang masih muda sejujurnya saya belum siap.. tapi kali ini saya akan menjalankannya seperti yang seharusnya"


"Terimakasih" senyum terkembang jelas dari bibir Raja Louise, ia senang karena permintaannya kembali dikabulkan oleh Eden, memang sudah sangat lama Raja Louise ingin mempersunting Eden, namun karena banyak kejadian tak terduga hingga menyebabkan ia harus menunda pernikahan. Raut wajah serius tampak jelas ditunjukkan oleh Eden, ia seperti sedang menyembunyikan hal penting dan hanya dirinya saja yang mengetahui masalah ini.


Raja Louise mulai membayangkan keinginannya untuk membina rumah tangga terutama mengenai keturunan sehingga ia pun berbicara mengenai hal itu pada Eden, “Aku sudah tidak sabar ingin memiliki


pewaris takhta, bagiamana jika anak kembar, lelaki dan perempuan. Jika lelaki dia akan mirip dengan ku dan jika perem...”


“Braakkk” suara gebrakan meja terdengar dari tangan Eden yang dengan sengaja meletakkan alat makan dengan keras. “Hentikan.. jika anda masih ingin makan bersama hamba maka hentikan pembicaraan ini, anda tahu benar bahwa di Istana memiliki protokol yang ketat tentang etika saat makan” sambil tersenyum kaku memberi peringatan pada Raja Louise menggunakan etika makan sebagai alasan karena ia terlihat tidak menyukai hal-hal yang berkaitan dengan keturunan.


Di mata Raja Louise, Ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Eden bukanlah Ekspresi tidak senang melainkan terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu, agar Eden merasa tenang Raja Louise pun memilih untuk mengalah dan berpura-pura tidak menyadarinya, “Baiklah, mari kita lanjutkan makannya.. Kau sudah sangat cocok menjadi Ratu negara ini bahkan sampai berani mengingatkan etika saat makan pada Raja negara ini” sambil melempar senyum pada Eden kemudian meneruskan makannya.


***


(Kuil Suci)


Hari ini merupakan hari pengukuhan Damian sebagai Anak Agung/Utusan Agungdi Kuil Suci, penobatan yang dihadiri oleh tokoh agama, beserta calon pendeta ini berlangsung khidmat. Anak Agung merupakan gelar yang diberikan khusus untuk Demian karena ia merupakan keturunan Sri Isaac Xavier yang nantinya akan menjalankan tugas bila Sri Isaac Xavier telah mangkat. Damian memiliki kekuatan yang sama dengan Sri Isaac Xavier, kekuatan yang secara khusus diberikan oleh dewa dengan tujuan sebagai penyeimbang dunia. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa wilayah Anotherworld telah terpisah dengan dunia luar hingga menyebabkan adanya dua dunia berbeda, dan beratus tahun lamanya Sri Isaac Xavier telah berhasil menjaga portal dua dunia hingga alam semesta kini masih seimbang. Semakin lama kekuatan Sri Isaac Xavier mulai melemah untuk itu atas persetujuannya makan kuil suci melaksanakan tugas mempersiapkan Damian sebagai penerus di masa depan.


Kekuatan yang dimiliki Sri Isaac Xavier dan Damian merupakan kekuatan yang berasal dari alam, energi tersebut tidak akan habis begitu saja sehingga ada metode-metode tertentu bagi Sri Isaac Xavier dan Damian untuk mengisi penuh kekuatannya. Tidak seperti sebelumnya, Sri Isaac Xavier telah membelah Sebagian kekuatan yang sengaja ia tinggalkan di gunung Tarsa sebagai penjaga gerbang menuju sang Naga api. Selain itu wilayah di sekitar gunung Tarsa telah lama ia seterilkan dengan kakuatan yang ia miliki sehingga banyak penghalang ilusi telah tercipta agar dapat menyeleksi kesatria baru yang mencoba untuk membuat ikatan dengan sang Naga Api. Kini tugasnya untuk mengantar kesatria terpilih telah selesai, semua kekuatan yang ia tanam telah kembali ke alam. Meski telah menyelesaikan satu proses namun Sri Isaac Xavier masih harus menjaga kekuatan jahat yang bersarang di bukit Tsigy yaitu Hydra. Energi jahat yang keluar telah berhasil menarik ketamakan orang-orang untuk memiliki kekuatan tersebut, sejauh ini belum ada yang berhasil namun ia masih harus waspada dan tidak boleh lengah.


“Jadi tugas apa yang harus hamba laksanakan paman?” ekspresi Damian menunjukkan bahwa Sri Isaac Xavier akan memberikan tugas penting pada dirinya. Keduanya sedang berada di ruang pribadi Sri Isaac Xavier.


“Jadilah pendamping kesatria terpilih” sorot mata tajam terlihat dari Sri Isaac Xavier, tidak biasanya ia memerintahkan Damian untuk menjadi pendamping langsung padahal tugas ini merupakan kewajiban Sri Isaac Xavier. “Tubuhku sudah kehilangan banyak kekuatan, aku hanya bisa menggunakan kekuatan yang tersisa untuk menjaga wilayah Tsigy dan juga portal. Sampai kesatria terpilih benar-benar siap, aku baru bisa mengisi ulang tenaga ku kembali, dan lihatlah” sambil menunjukkan beberapa helai rambut yang mulai berwarna hitam. Bagi Sri Isaac Xavier dan Damian ramput putih perak merupakan ciri khas dan bisa menjadi pertanda besarnya kekuatan yang dimiliki, namun jika berubah menjadi warna hitam itu artinya ia telah kehilangan Sebagian kekuatan dan harus segera mengisinya kembali. Pada kondisi saat ini mustahil bagi Sri Isaac Xavier untuk mengisi ulang kekuatannya karena ia sendiri masih memiliki tugas tersisa.


“Baiklah, saya mengerti paman.. lalu adakah hal-hal tertentu yang harus saya lakukan selama mendampingi kesatria terpilih?” Damian menuruti permintaan dari Sri Isaac Xavier sekaligus bertanya lebih rinci mengenai


tugasnya.


“Ada hal yang perlu kau ketahui, saat ini Naga Api sedang berusaha menyatukan diri seutuhnya dengan tubuh kesatria terpilih, proses ini akan berlangsung sampai purnama berikutnya. Selama proses ini berlangsung kau harus menyalurkan energi alam pada kesatria terpilih dan selalu ingat untuk menghindari air” mendengar penjelasan Sri Isaac Xavier membuat Damian mengingat dengan cermat hal-hal yang dilarang selama ia mendampingi kesatria terpilih, selain itu ada beberapa pesan penting lain yang membuat Damian sempat terkejut, “Jadi?” seru Damian setelah mendengar penjelasan terperinci mengenai hal yang tengah


dihadapi oleh kesatria terpilih.


“Karena itulah, tugas ini cukup berat untuk mu, dan kau harus pandai menjaga diri karena akan sangat berbahaya jika ia tidak terkendali, sebelum pergi siapkan dulu 'ruang itu'” mendengar kata ‘ruang itu’ sontak membuat Damian mematung, “tapi hanya anda yang bisa membuka dan pergi ke sana, saya tidak...”


“Kau sudah bisa pergi ke sana, siapkan ruangan itu.. mungkin paling cepat dua minggu atau bahkan satu bulan” memberitahukan penjelasan rinci mengenai ruang yang disebutkan oleh  Sri Isaac Xavier sebelumnya.


“Baiklah, akan saya siapkan secepat mungkin, kalau begitu saya permisi” Setelah selesai mendengar penjelasan dari Sri Isaac Xavier Damian lantas berpamitan, ia berencana akan pergi ke The Great Aztec lusa, karena lebih cepat pergi kesana maka akan lebih baik.


(Istana Vie Rose)


Eden tengah membersihkan badan dengan berendam dalam bak mandi, seperti biasa para pelayan dengan teliti melayani Eden, sebenarnya ia tidak terlalu suka bila tubuhnya disentuh oleh orang lain, akan tetapi ia tidak bisa menolak karena hal ini merupakan tugas para pelayan. Khusus hari ini Eden meminta air dingin untuk berendam, ia merasa tubuhnya agak panas dan berkeringat,


“Kenapa airnya tidak terasa dingin? Apakah hanya perasaan ku saja?” gumam Eden perlahan sambil mengayunkan tangan di dalam bak mandi untuk merasakan suhu air yang sekarang ia gunakan berendam, Eden tak ambil pusing dengan suhu air dan memilih untuk menikmati pelayanan mandi yang sedang dilakukan oleh para pelayan.