
Pemandangan luar biasa indah terlihat membuat mata Eden terbuka lebar, ia lantas berlari menuju ke balkon, “wwoooaaahhhhhh.. indah sekali” seru Eden spontan karena merasa kagum atas pemandangan indah yang tersaji dari kamar Raja Louise, bahkan tak sedetik pun Eden memalingkan matanya. Karena situasi menjelang petang matahari terbenam terlihat jelas memancarkan warna jingga, sejauh mata memandang hamparan bebukitan dan berujung pada laut yang mengintip menambah sempurna pemandangan dari atas balkon kamar pribadi Raja Louise.
“Apakah kau menyukainya?” tanya Raja Louise pada Eden yang disambut senyuman dan juga anggukan kepala oleh Eden.
“Bahkan kau tidak memalingkan wajahmu, apakah memang seindah itu?” kembali bertanya pada Eden yang kembali direspon hanya dengan anggukan kepala, terlihat jelas matanya berbinar karena kagum akan keindahan senja hari ini.
Kini matahari benar-benar tenggelam, cahaya jingga perlahan menghilang dan berganti menjadi gelap membuat Eden seolah kembali pada kenyataan, “Ada 2 tempat yang memilki pemandangan indah matahari terbenam seperti ini, pertama di laut kota S, kedua, emm... ya harus saya akui di sini jauh lebih indah dari pemandangan matahari terbenam di bukit Tsigy” sambil tersenyum kecil menjelaskan pada Raja Louise.
“Apakah kau tau kenapa Istana ini dinamakan Istana matahari?” tanya Raja Louise yang menatap Eden dengan intens.
“sudah jelas kan, karena matahari memiliki cahaya yang bersinar terang, jadi dapat menjadi simbol seorang Raja yang menerangi rakyatnya” dengan percaya diri menjawab pertanyaan Raja Louise berdasarkan buku yang pernah ia pelajari.
Namun, Raja Louise malah menggelengkan kepala sambil mendekat pada Eden, meraih pinggang kecilnya kemudian mendudukannya di atas pembatas balkon, “Karena dari Istana ini dapat melihat pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam dari kedua sisi balkon, di sini dan juga di sisi yang satunya” sambil membelai lembut rambut panjang yang terurai.
Sedangkan Eden terdiam dan terpaku karena saat ini ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Raja Louse dari dekat, Eden sedang memperhatikan mata indah, hidung mancung dan bibirnya yang tipis, bahkan garis rahangnya terlihat begitu sempurna membuat Eden tanpa sengaja mengarahkan kedua tangan yang pada awalnya berada di pudak Raja Louise kemudian bergerak pergi menyentuh bagian wajah Raja Louise di ikuti dengan suara kecil memanggil namanya, “Louise” suara Eden terdengar lemah lembut membuat Louise menyambutnya dengan kecupan kecil pada telapak tangan Eden yang sedang menyentuh bagian pipi. Kecupan kecil membuat Eden segera tersadar bahwa ia telah bersikap kurang ajar sehingga Eden berniat menurunkan tangan, namun tak sempat Raja Louise mendahului dengan mengecup bibir Eden sejenak, kemudian kecupan itu berlanjut dengan sebuah ciuman, Raja Louise mulai melahap bibir Eden.
Ciuman terasa ringan membuat Eden memejamkan mata dan mengikuti alurnya, Eden bisa merasakan dengan jelas nafas Raja Louise, bibir lembut dan sentuhan tangan mendekap erat tubuhnya. Ciuman ringan dan lembut kini menjadi sedikit intens. Raja Louise terus mengulangi Ciuman ini hingga beberapa saat kemudian melepas dan menatap Eden dengan intens sambil mengelus perlahan rabut di dekat pelipis kemudian jarinya turun menyentuh ujung bibir Eden sambil mengusapnya perlahan, sedangkan Eden meluruhkan tatapan matanya namun sesekali ia sempat mencuri pandang menatap mata Raja Louise sambil menggigit ujung bibir bagian kanan bawah karena ia merasa sangat gugup hingga jantungnya berdebar cepat seperti mau copot.
Melihat wajah Eden yang memerah sambil menggigit ujung bibir membuat Raja Louise lekas mencium bibir Eden lagi, kali ini Raja Louise menggendong Eden dan berjalan masuk ke kamar tidur sambil terus menciumnya dengan lebih intens. Tepat di samping ranjang Raja Louise menurunkan Eden tanpa melepas ciuman intensnya, ia mulai melepas satu persatu pakaian Eden hingga menyisakan dress bagian dalam berwarna putih dan tipis. Ia lantas mengarahkan Eden menuju ranjang, kemudian menidurkan Eden secara perlahan kini Raja Louisemerangkak di atas tubuh Eden sambil terus memberikan ciuman bahkan sesekali Raja Louise memberi gigitan kecil pada bibir bagian bawah Eden, namun ciuman panas itu tiba-tiba begitu saja berhenti, sambil beranjak dari tempat tidur Raja Louise berkata, “Kita sudahi sampai di sini” kemudian berdiri meninggalkan Eden yang tergeletak di atas ranjang.
“Apa?!” seru Eden terkejut mendengar ucapan Raja Louise, ia pun duduk terpaku menatap calon suaminya itu.
“Lalu apakah harus kita teruskan saja? baiklah mari kita teruskan” sambil mengusap bibir
bagian bawahnya, Raja Louise kembali mendekat pada Eden, sepertinya ia sengaja ingin menggodanya.
“Tidak..!” dengan suara yang lantang Eden menolak, ia sangat malu karena dibanding Raja Louise seolah dirinya lah yang terlihat sangat ingin meneruskan ciuman tanggung tadi. saking malunya membuat Eden spontan menundukkan kepalanya.
Melihat ekspresi malu yang ditunjukan Eden membuat Raja Louise tersenyum senang, ia lantas mendekati Eden lalu mendaratkan kecupan kecil di bagian kening sambil berbicara, “Beristirahatlah, aku akan bekerja di ruangan itu.. Jika butuh sesuatu datanglah ke sana” sambil menunjuk sebuah pintu yang menghadap ke tempat tidur kemudian berlalu pergi meninggalkan Eden.
Eden pun sedikit melirik untuk memastikan bahwa Raja Louise benar-benar pergi dan setelahnya Eden membanting keras tubuhnya keranjang, ia memporak-porandakan seprei, selimut dan juga bantal sambil terus menyalahkan dan menyesali perbuatannya karena seolah menginginkan kelanjutan ciuman Raja Louise. Tubuhnya kini telah sepenuhnya tertutup selimut, sambil melamunkan sesuatu Eden lantas bergumam, “Bahkan aku sampai tidak sadar seluruh pakaian ku hampir terlepas semua. Louise itu benar-benar pandai memanjakan wanita.. ciihhh” dengan wajah yang tampak memerah Eden terus bergumam tak karuan.
Beberapa jam berlalu Eden menghabiskan waktunya sendiri di dalam kamar Raja Louise, ia sudah mengerjakan banyak hal sendiri seperti makan malam yang di antar secara khusus ke dalam kamar, kemudian berkeliling melihat seluruh isi kamar, lalu berguling-guling di atas kasur, dan saat ini rasa bosan
sedang menghampiri Eden.
“Ahh... aku bosan..” menggerutu karena merasa telah melakukan segala hal, “Apakah Louise baik-baik saja? Dia bahkan tidak kembali untuk makan. Apakah dia sedang tertidur karena energinya tidak sengaja terserap?” bergumam sambil melihat telapak tangan kemudian bangkit dari tidurnya. “Aku harus ke sana” ucap Eden seraya merapihkan gaun kemudian memakai sandal lalu berjalan menuju ruang kerja Raja Louise, bila diperhatikan kamar yang ditempati oleh Raja Louise saat ini berbeda dengan kamar yang pernah di bakar oleh Eden beberapa waktu lalu, justru kamar ini jauh lebih luas dan interiornya sangat mewah.
“Kkrriiiieeeettt....” suara pintu terbuka, Eden berusaha agar tidak bersuara namun gagal karena pintu terbuka dengan cepat. “masuklah, kau tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti sekarang” seru Raja Louise yang seolah mengetahui bahwa lambat laun Eden akan mengunjunginya di ruang kerja.
Karena sudah ketahuan Eden lantas menutup kembali pintu dengan rapat, ia melihat sekeliling ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun dan hanya berdecak kagum melihat penataan ruang kerja raja Louise yang dilengkapi dengan begitu banyak buku menyerupai perpustakaan, bahkan mungkin perpustakaan kerajaan akan kalah dengan desain penataan ruang milik Raja Louise. Meskipun tengah fokus bekerja, mendapati kunjungan Eden membuat Raja Louise sesekali mencuri pandang, ia bahkan tak sengaja tersenyum kecil melihat keluguan ekspresi yang ditunjukkan oleh Eden saat melihat-lihat seisi ruangan. Sebenarnya Raja Louise sedang menantikan pujian yang akan dilontarka dari mulut mungil Eden, namun setelah ditunggu pujian yang diharapkan tak kunjung terdengar. Tidak seperti biasanya Raja Louise yang sudah cukup kenyang mendapat pujian dari banyak orang kini malah terlihat haus akan pujian dari Eden bahkan
sepertinya ia tidak bisa hidup bila sehari saja Eden tidak memujinya.
"Jika diperhatikan sepertinya kamar ini berbeda dengan yang waktu itu" Ucap Eden sambil terus melihat-lihat sekeliling.
"Tentu saja karena ini kamar pribadi dan hanya kau lah wanita yang masuk ke kamar ini" Jawab Raja Louise atas pertanyaan Eden sambil menutup beberapa dokumen kemudian mengambil yang lainnya.
"Cihh.. dasar pembohong" gumam Eden lirih, ia sepertinya tidak bisa percaya dengan ucapan Raja Louise yang mengatakan bahwa dia lah wanita satu-satunya.
Eden lantas berjalan mendekat dan beridiri tepat di samping kursi Raja Louise, ia menengok dokumen yang tengah diperiksa oleh Raja Louise dan membuat pupil matanya membesar.
“Kemarilah” menarik tangan Eden hingga membuatnya duduk di depan Raja Louise, posisi duduk Eden seperti sedang dipangku namun sebenarnya ia sedang duduk pada ujung kursi bagian depan jadi tidak benar-benar di pangku oleh Raja Louise.
“Lihatlah, ini merupakan peta wilayah The Great Aztec, lalu halaman selanjutnya merupakan peta keseluruhan wilayah Anotherworld” sambil mendekatkan tubuh hingga menempel pada punggung Eden Raja Louise menunjukkan dokumen apa yang sedang ia periksa.
“Tapi, peta ini jauh berbeda dengan peta yang pernah ku lihat selama ini” tiba-tiba berbicara non formal pada Raja Louise, bila sedang berdua seperti saat ini terkadang Eden lebih nyaman berbicara santai pada Raja
Louise.
“Kau paham juga rupanya, ini adalah peta paling akurat mengenai wilayah Anotherworld, masih ada peta akurat mengenai negara lain dan hanya aku saja yang menyimpan” sambil membukakan satu persatu peta yang berada di balik dokumen-dokumen dihadapannya.
“Tapi, untuk apa? Maksud ku untuk apa anda memiliki peta ini? Kita kan sedang tidak berperang” celetuk Eden yang seolah merasa aneh ketika seorang Raja suatu negara menyimpan peta akurat pada kondisi yang sedang damai seperti saat ini”
“Justru hal inilah yang patut diwaspadai, tidakkan ini terasa terlalu tenang?” Mendengar pendapat Raja Louise lantas membuat Eden terkejut, ia menoleh ke belakang menatap Raja Louise lalu kembali melihat isi peta dan
menyadari suatu hal.
“Apakah tanda ini??” sambil menunjuk dan dengan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
“Benar sekali dugaan mu, ini merupakan tanda negara kecil yang telah mendapatkan kemerdekaan, lalu tanda yang berwarna kuning merupakan wilayah yang sedang berproses membentuk negara baru. Selama 20 tahun terakhir sangat mudah bagi suatu wilayah untuk mengajukan kemerdekaan dengan mendirikan negara baru” menjelaskan beberapa detil mengenai negara-negara kecil yang baru merdeka.
“Jumlahnya benar-benar tidak sedikit” gumam Eden seraya terus memperhatikan peta wilayah secara teliti.
“Hal ini yang sedang diwaspadai oleh pemimpin dari 7 negara, ditambah lagi pengiriman Beatrice sebagai upeti telah menjadi tonggak munculnya gerakan yang sama, setidaknya aku sudah menerima banyak laporan dari negara besar lainnya bahwa negara kecil mulai mengirimkan putri-putri mereka sebagai upeti. Bila dari awal akan menimbulkan pengaruh sebesar ini seharusnya aku langsung menolaknya” menggerutu seakan menyesali perbuatan yang telah ia lakukan.
“Kenapa anda tidak menolaknya? Apa karena dia mantan kekasih anda?” seketika muncul aura gelap setelah Eden berbicara.
“Apa kau cemburu?” tersenyum senang mendapati bahwa mungkin saja Eden sedang cemburu.
“Apakah terlihat bahwa aku sedang cemburu?” menoleh ke arah Raja Louise dan terlihat ekspresi wajah Eden seperti seorang istri yang cemburu pada wanita lain.
“sepertinya aku harus mencatat hari ini sebagai hari perayaan nasional” sambil membelai lembut rambut Eden.
Sadar bahwa Raja Louise sedang mengerjai dirinya lantas membuat Eden menepis tangan Raja Louise kemudian mencari dan mengambil dokumen lain secara acak.
“Apakah anda baik-baik saja?” tiba-tiba Eden menanyakan pertanyaan secara acak membuat Raja Louise sedikit bingung dengan maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Eden.
Eden lantas meraih telapak tangan Raja Louse kemudian menggenggamnya erat dengan kedua tangannya, “Apakah anda tidak merasa seperti tersedot atau semacamnya?”
Sadar bahwa pertanyaan Eden mungkin ada kaitannya dengan kejadian kemarin membuat Raja Louise menanggapinya dengan santai agar Eden tidak khawatir, karena ia sendiri tahu benar kekuatan macam apa yang dimiliki oleh Eden, “Jika bersentuhan seperti ini tidak berefek apapun pada ku, apa kau khawatir bila Naga Api akan menyedot energi ku?” pertanyaan ini sontak membuat Eden kembali menoleh ke arah Raja Louse, di sambut dengan kecupan kecil yang mendarat tepat di bibir Eden, “Bahkan melakukan hal barusan tidak akan menyedot energiku”
“Jadi anda sudah mengetahuinya?” tanya Eden pada Raja Louise yang dijawab dengan anggukan kecil membuat Eden sontak berdiri, kemudian berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Dia pasti terkejut bila mengetahui siapa sebenarnya diriku” gumam Raja Louise sambil tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di sisi lain Eden masih terkejut atas jawaban Raja Louise barusan, jika benar Naga Api tidak bisa menyedot energi Raja Louise maka pernikahan bahkan keturunan maka bisa saja terjadi bila itu dengan Raja Louise. Selama ini ia khawatir hanya akan menjadi seseorang yang menyulitkan, “Tunggu dulu, aku tidak bisa menyimpulkan dengan cepat. bisa saja ia hanya berbohong. aku tidak bisa begitu saja percaya pada kata-kata seorang pria. Tapi..” sejenak terhenti dalam lamunan sambil menyentuh bibir kemudian mengusapnya perlahan, ia sangat mengingat rasa yang begitu jelas melekat dalam benaknya mengenai ciuman yang mendarat di bibir kecilnya, tersadar lantas membuat Eden menggelengkan kepala. “hentikan.. hentikan pikiran kotor mu Eden” masih menggelengkan kepala dan melangkah menuju ranjang, ia tergeletak sambil memandangi langit-langit yang ada di kamar Raja Louise hingga kantuk mulai melanda membuat Eden tertidur lebih cepat dari biasanya.