LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Old Mansion



“Haahhh aku bisa gila jika terus bersama dengannya, bagaimana mungkin aku memanggil pria berusia 78 tahun dengan panggilan kakak.. ouughhh aku sudah cukup kesal dengan sifat kekanakan Sri Isaac Xavier sekarang ditambah Damian.. tahan emosi mu tahan Eden..” ucapan Eden menjadi tidak karuan saat ia tengah dalam perjalanan menuju kamar bersama Adel. Penyebabnya adalah Damian dan ia merasa sudah cukup meladeni permintaan yang aneh-aneh.


“Memang kenapa kak? Beliau sepertinya sangat perhatian..” mendengar Adel berbicara membuat Eden langsung menoleh ke arah Adel dan ia pun tidak melanjutkan ucapannya.


“Perhatian? Yang seperti itu hanya akan menjadi beban, kenapa sih aku harus berurusan dengan kakek-kakek yang kurang perhatian” ucap Eden ketus yang lantas berjalan kembali menuju kamar.


Adel menduga bahwa sang kakak memang sedang kesal atas sikap Damian terhadap dirinya, meskipun tampak aneh ketika sebuah perhatian malah menyulut emosi kakaknya. Sesampainya di kamar, Eden dikejutkan oleh macam-macam gaun yang telah tertata rapih dibagian kiri dan juga kanan pintu masuk. Gaun yang tertata rapih itu terlihat begitu mewah dan tidak biasa, selain itu Hansel sudah berdiri menunggu kedatangan Eden, turut berasamanya seseorang yang agak asing dan belum pernah dilihat oleh Eden.


“Anda sudah kembali nona” dengan senyum ramah yang khas, Hansel menyapa Eden.


“Hansel, gaun ini untuk apa?” tanya Eden seraya mendekat pada Hansel.


“Maafkan hamba karena datang tanpa pemberitahuan, gaun yang anda lihat merupakan gaun yang akan anda gunakan dalam acara pemberkatan pernikahan nona, dan disebelah hamba adalah madam Marry dia yang mendesain semua gaun ini khusus untuk anda” sambil serentangkan tangan kanan Hansel memperkenalkan seorang desainer pada Eden.


“Salam, nona Eden.. perkenalkan hamba madam Marry, semoga anda menyukai gaun yang hamba desain, silahkan hamba akan mendampingi anda untuk melihat” madam Marry dengan ramah memperkenalkan diri pada Eden, kemudian mengajak Eden untuk melihat-lihat gaun karyanya.


Eden pun berkeliling melihat satu persatu gaun yang tergantung rapih, semua gaun yang ada dihadapannya terlihat begitu anggun dan elegant, tiba-tiba rasa tidak percaya diri menghampiri Eden, seraya menyentuh salah satu gaun Eden pun melihat ke arah tubuhnya sendiri. Mendapati Eden tengah melihat tubuhnya sendiri membuat madam Marry lantas menyentuh pundaknya, “Anda memiliki tubuh yang indah, cobalah salah satu gaun, saya akan membantu anda memakaikannya” ucap madam Marry seraya mengambil gaun berwarna hitam yang sebelumnya disentuh oleh Eden dan kemudian menarik tangan Eden untuk mengajaknya menuju ruang ganti.


Sambil membenahi pakaian yang telah dikenakan oleh Eden, Madam Marry pun mulai berbincang dengannya, “Hamba belum pernah melihat seorang perempuan yang menyentuh gaun berwarna hitam, pasti anda menyukai warna ini kan?” tanya madam Marry pada Eden.


“Apakah terlalu kelihatan?” seraya menyentuh bagian rok kemudian memutar sedikit badannya untuk memastikan apakah gaun ini cocok dikenakan olehnya.


“Warna hitam sangat jarang digunakan oleh wanita bangsawan karena dianggap memilki makna negatif, padahal warna hitam melambangkan sesuatu yang kuat dan bila itu berkaitan dengan perasaan makan


warna hitam juga dapat diartikan sebagai cinta yang mendalam. Hamba mengajak anda ke sini agar bisa mencoba gaun ini dan untuk memperlihatkan bahwa anda pantas mengenakan gaun. Anda hanya perlu percaya diri nona, hamba sudah mendengar banyak tentang anda, di dunia ini memang hanya anda yang paling pantas untuk mendampingi Raja Louise naik Takhta”


Mendengar penjelasan dari madam Marry membuat rasa percaya diri Eden tumbuh kembali, saat melihat ke arah cermin tubuhnya yang berbalut gaun terlihat sangat anggun tidak seperti yang ia sangka sebelumnya.


Beberapa saat berlalu Eden pun akhirnya mau mencoba gaun-gaun yang rekomendasikan oleh madam Marry, pilihan gaun terbaik menurutnya jatuh pada gaun berwarna putih tulang, karena akan digunakan pada hari spesial maka ia memilih warna ini yang bermakna kesucian. Setelah selesai mencoba Eden juga berpesan untuk membuatkan gaun bagi Adel dan juga Cecilia juga rekannya yang lain beserta jas bagi pria, madam Marry menyanggupi permintaan tersebut.


***


Setelah ditinggal pergi oleh Eden, Damian pun berkunjung ke Istana Pangeran Arthur, ia terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki pekerjaan karena sedari tadi mondar-mandir mencari jalan menuju Istana Pangeran Arthur. Saat di Kuil Suci Damian sudah terbiasa didampingi oleh seorang asisten, saat ini ia sedang sendirian dan merasa gengsi bila bertanya mengenai jalan, dan pada akhirnya ia berhasil menemukan Istana Pangeran Arthur berkat bantuan salah seorang penjaga kebun yang merupakan pengikut setia ceramah Damian.


Mengetahui dari pelayan bahwa Damian sedang dalam perjalanan menuju Istana pribadinya membuat Pangeran Arthur lekas keluar untuk menyambut kedatangan sang pendeta. Benar saja Damian datang diantar oleh seorang tukang kebun membuatnya merasa tidak enak hati dan lekas menghampiri Damian, “Pendeta Damian, saya dengar anda kesulitan mencari jalan, seharusnya biar saya saja yang bekunjung ke mansion anda” ucap Pangeran Arthur seraya berjalan mendekat.


“Ini tidak sulit kok, beruntung ada salah satu umatku yang bersedia mengantar sehingga aku tidak tersesat” ucap Damian berusaha menutupi bahwa dirinya sempat tersesaat karena tidak tahu jalan.


“Kalau begitu mari masuk ke dalam, saya harus menjamu anda” ucap Arthur mengajak Damian masuk seraya merentangkan tangan kanan seolah mempersilahkan.


“Tidak, dari pada itu aku ingin kau mengantar ku ke suatu tempat” dengan tegas menolak ajakan Pangeran  Arthur dan malah meminta hal lain.


“Anda ingin diantar kemana Pendeta?” Pangeran Arthur pun bertanya karena ia penasaran dengan tempat yang ingin dituju oleh Pendeta Damian.


“Di sebelah timur ada sebuah istana atau mungkin mansion yang tidak berpenghuni, karena terkunci aku tidak dapat masuk ke dalam, tolong bukakan pintunya untuk ku” Damian menjelaskan mengenai tempat yang ingin ia tuju seraya menunjuk ke arah utara.


Mendengar tempat yang ingin dikunjungi oleh Damian membuat Pangeran Arthur mematung, ia tidak lekas menjawab karena tahu tempat mana yang dimaksud oleh Damian.


“Ada apa? apakah tempat itu terlarang?” tanya Damian yang menduga bahwa tempat yang ia maksud mungkin saja tempat yang tidak boleh dimasuki setelah melihat ekspresi wajah Pangeran Arthur.


“Tentu saja bukan seperti itu Pendeta, baiklah saya akan mengantarkan anda” segera menerima permintaan Damian agar tidak membuatnya curiga mengenai tempat yang ingin dikunjungi.


Pangeran Arthur pun mengantarkan Damian sesuai dengan ucapannya tanpa menanyakan alasan mengapa Damian ingin ke sana, menyadari ada hal yang janggal membuat Damian menyimpulkan bahwa Pangeran Arthur bisa saja tahu apa yang ingin ia lakukan.



“Tepat seperti yang anda duga pendeta, tempat ini memang terlarang untuk dimasuki karena dulu seorang penyihir pernah lahir dan tumbuh di sini” seraya membuka kunci menggunakan sihir suci Pangeran Arthur pun menjawab Damian.


“Cepat atau lambat, tempat ini akan diketahui juga oleh anda ataupun Sri Isaac Xavier, awalnya hamba menduga bahwa beliau lah yang akan datang untuk mendampingi Eden, ternyata justru anda yang berada di sini dan saya tidak bisa menutupi dari anda” tutur Pangeran Arthur yang lantas membuka pintu tepat setelah sihir suci berhasil membuka kunci.



Setelah pintu terbuka aura dingin pun menyelimuti seisi ruangan, keduanya lantas masuk ke dalam mansion, “Sudah berapa lama tempat ini dibiarkan saja?” tanya Damian untuk memastikan usia sihir yang tertanam melalui jangka waktu sejak mansion ditinggalkan.


“Sejak saya kecil mansion ini sudah di tutup, mungkin tepat setelah beliau meninggal, ‘Ava’ saya bingung harus memanggil beliau dengan sebutan apa karena beliau sebelumnya merupakan seorang Saintness” seraya menyebut nama ibu dari Rosemary namun Pangeran Arthur ragu harus memanggil dengan sebutan apa.


“Asal kau tahu saja, Ava adalah temanku, kami berguru di kelas yang sama. Teman lama yang memiliki kisah tragis, bukankah dunia ini begitu kejam terhadap manusia sebaik dirinya” Damian pun sedikit bercerita mengenai hubungan dirinya dengan Ava pada Pangeran Arthur, seraya berjalan mencari sumber kekuatan sihir yang tertanam dalam mansion tersebut.


“Benarkah?! Saya baru mengetahui hal ini, sejujurnya tidak ada yang tahu mengenai beliau kecuali hanya kakak seorang” seru Pangeran Arthur yang terkejut mendengar cerita Damian mengenai hubungan keduanya.


“Kita tidak perlu membicarakannya lagi, karena Kuil Suci telah memberikan pemakaman yang layak dulu, lalu kedatangan ku ke sini bukan untuk mengorek masa lalu seseorang. Tetapi di sini tertanam kekuatan sihir dan ku rasa sudah puluhan tahun berada di dalam sini” sambil menghentakkan kaki pada lantai menunjuk lokasi kekuatan sihir yang dimaksud.


“Apa? jadi di sini ada kekuatan sihir? Kami semua hanya tahu bahwa tempat ini berhantu sehingga harus dikunci menggunakan sihir suci” ucap Pangeran Arthur yang kembali terkejut mengetahu fakta mengapa mansion harus dikunci menggunakan kekuatan suci.


“Dasar leluhur mu sangat pandai menyembunyikan sesuatu, di dunia ini mana ada yang namanya hantu, mereka tercipta karena pikiran kalian yang membayangkan hal-hal menakutkan. Mundurlah, aku akan mengambilnya dan mungkin akan sedikit merusak lantai bagus ini” ucap Damian seraya mengarahkan tangan kanan ke lantai dan menyedot kekuatan sihir yang ia maksud. Lantai pun mulai retak karena tak kuat menahan besarnya kekuatan sihir yang telah tertanam selama puluhan tahun di bawah tanah, namun pada akhirnya sihir itu berhasil di ambil oleh Damian dan kini telah berada dalam genggaman tangannya.


“i.. itu.. Anda berhasil pendeta” terbata-bata berucap dan kagum pada kekuatan Damian yang dapat dengan mudah menyentuh permata hitam dan kini sedang berada dalam genggaman tangannya.


“Masih ada satu tempat lagi, lokasinya agak jauh dan berada di bagian belakang Istana. Aku rasa tempat itu telah ditinggali sehingga aku tidak dapat seenaknya masuk” ucap Damian seraya mengantongi permata hitam pada jubah bagian dalam agar tidak menimbulkan aura negatif di sekitar.


“Ah.. mansion itu memang baru-baru ini ditinggali, jika anda ingin ke sana hamba bersedia untuk mengantar” dengan senang hati Pangeran Arthur akan mengantar Damian, keduanya pun segera keluar dari mansion untuk menuju ke lokasi selanjutnya.


Tanpa disangka, setelah keluar justru keduanya dihadang oleh seseorang tepat di halaman mansion, orang yang berani menghadang adalah Charlotte, ia sepertinya curiga dengan kekuatan sihir yang menghilang begitu saja semalam sehingga ia berniat datang untuk memastikan keadaan.


“Rambut putih dan mata biru, apakah dia Sri Isaac Xavier ataukah dia adalah Keturunannya? Nyonya Rosemary belum pernah memberikan ciri-ciri pasti perbedaan keduanya” gumam Charlotte dalam hati yang sedang menerka-nerka tentang sosok yang ada dihadapannya.


“Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya” seru Pangeran Arthur bertanya pada sosok yang ada di halaman.


Tidak ingin gegabah dan menimbulkan rasa curiga membuat Charlotte lantas memperkenalkan diri, ia lantas tersenyum dan sedikit menunduk, “Salam dari hamba Yang Mulia, perkenalkan nama Hamba Charlotte, hamba baru bekerja di mansion Lily dan sepertinya hamba kehilangan arah dan tersesat sampai ke sini”


“Kebetulan sekali kami akan ke mansion Lily, kita bisa pergi bersama” Pangeran Athur menawarkan pada Charlotte seraya berjalan mendekatinya.


“Ahh tidak Yang Mulia, kebetulan hamba ingin ke perpustakaan Istana, hamba permisi dulu” ucap Charlotte menolak secara halus dengan menggunakan alasan lain untuk menghindari pergi bersama dengan sosok Pendeta Suci yang sedang bersama Pangeran Arthur. Saat membalikkan badan kemudian baru beberapa langkah berjalan terdengar suara gertakan dari Damian, “Berhentilah penyihir!” seru Damian yang lantas membuat Pangeran Arthur sontak menoleh kearahnya kemudian kembali melihat ke Arah Charlotte yang tiba-tiba mematung tanpa sebab.


“Apa ini? Kenapa tubuhku terasa berat.. apakah ini kekuatan dari pendeta suci yang pernah diceritakan oleh nyonya Rosemary?” gumam Charlotte yang tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan, baru kali ini ia mengalami kejadian seperti sekarang dan rasa gugup tiba-tiba menghampiri dirinya.


Tak berlama-lama Damian lantas berjalan mendekati Charlotte, sedangkan Pangeran Arthur hanya terdiam dan tidak berniat ingin mencegah Damian untuk pergi. Kini Damian sudah berdiri tepat dihadapan Charlotte dan mengarahkan dagu Charlotte ke atas agar Damian dapat melihat matanya. Sejenak Damian menatap Charlotte secara intens akan tetapi ia tidak menemukan tanda bahwa Charlotte merupakan seorang penyihir, hal ini tentu saja membuat Charlotte bernafas lega karena ia tidak langsung ketahuan oleh Damian, berkat level penyihir kelas atas sehingga dia dapat dengan mudah menyembunyikan kekuatannya dihadapan semua orang.


“Se.. sepertinya anda telah salah menduga pendeta” terbata-bata berusaha berbicara pada Damian agar dia tidak curiga.


Mendengar suara Charlotte membuat Damian lantas melepaskan kekuatan yang sempat membuat Charlotte tertahan, dan kini Charlotte sudah bisa bergerak bebas dan tak sengaja menatap Damian sekali lagi, tanpa disengaja sebuah cahaya muncul pada dahi Charlotte sekilas tampak seperti sebuah mata ketiga yang membuat Damian segera meraih leher Charlotte kemudian mengangkatnya, “A.. ap.. apa yang a..n..da lak..ukan.. Pendeta” ucap Charlotte yang berusaha berbicara meskipun lehernya sedang tercekik.


Melihat kejadian ini membuat Pangeran Arthur lantas mendekati Damian, ia menyentuh tangan Damian dan berusaha menghentikannya, “Pendeta, tolong hentikan, dia bukan penyihir seperti dugaan anda” seru Pangeran Arthur terhadap sikap Damian yang mencekik Charlotte.


“Di mata ku sekali Penyihir akan tampak seperti penyihir. Sekuat apapun kau berusaha menyembunyikan identitasmu dari semua orang kau tidak akan pernah bisa menipu ku”