
kegaduhan terjadi di istana The Great Aztec karena kedatangan utusan dari kuil suci, benar bahwa pendeta agung telah mengirim seorang utusan untuk membantu agar Eden segera sadar, utusan tersebut adalah Lloyd.
(sebelumnya di kuil suci)
pendeta Isaac Xavier sangat fokus membaca surat dari keluarga Lewis, isinya begitu tak terduga.
Jose menuliskan pesan bahwa ia sedang bersama keturunan Anna Lewis yang sekarang berada di The Great Aztec.
mendengar nama kota itu membuatnya berhenti membaca dan sedikit marah, ia bahkan meremas surat yang di pegang karena terdapat nama tersebut alu melemparnya ke lantai yang membuat Lloyd kebingungan,
"Sri apakah anda sungguh akan membuangnya seperti itu?"
tanya Lloyd sambil memungut surat yang telah kusut.
"kalau perlu bakar saja! aku tak suka dengan nama tempat yang ada di surat tersebut"
ucapnya dengan nada sedikit tinggi
"tapi Sri sampai kapan anda akan terus seperti ini, sudah bertahun-tahun lamanya anda melakukan perang dingin dengan pemimpin The Great Aztec"
ucap Lloyd mencoba menenangkan emosi pendeta Isaac Xavier.
"aku tidak akan datang kesana, tidak akan pernah!"
ucap si pendeta yang masih saja memendam rasa amarah pada the Great Aztec
"asalkan anda tau Sri, pemimpin terdahulu The Great Aztec sudah lama mati, dan sekarang sang anak lah yang menggantikan nya.. "
"apa bedanya!"
menyela perkataan Lloyd
"mereka itu sudah membiarkan Anna Lewis meninggal tanpa mengusut tuntas siapa pelakunya, bahkan mereka tak coba untuk mencari keturunan Anna Lewis yang memiliki takdir sesungguhnya"
imbuhnya mengungkapkan rasa kekecewaan yang mendalam.
bagi Lloyd yang telah mendampingi Sri Isaac Xavier selama tujuh belas tahun hal tersebut merupakan wajar, dan ia dapat mengerti kenapa Sri Isaac Xavier begitu marah pada The Great Aztec sampai menghentikan semua kegiatan ceramah nya di negara tersebut.
ia dapat memahami situasi itu, namun juga tetap berusaha membujuk Sri Isaac Xavier agar sedikit lebih luluh dan membuka hati karena surat yang datang hari ini.
Lloyd mencoba mencairkan suasana dengan berbicara kembali,
"hamba dengar sang raja baru juga akan segera menikah, nama calon ratu nya adalah Eden, padahal dia perempuan tapi kenapa namanya seperti laki-laki ya hahaha"
sontak ucapan Lloyd membuat Sri menoleh sinis ke arahnya, ia seperti mengingat sesuatu mengenai nama Eden.
Lloyd yang merasa tak nyaman dengan tatapan Sri Isaac Xavier kemudian mengalihkan pandangan dengan membuka surat yang ia pungut sebelumnya.
pelan-pelan ia membuka dan mulai membaca dalam hati, bola matanya bergerak dan tiba-tiba berhenti seolah terkejut.
"Sri hamba rasa anda harus membacanya sampai selesai, tertulis pesan darurat di dalamnya dan nama anak itu.."
ucapnya sedikit terbata-bata yang membuat Sri Isaac Xavier tak sabar kemudian merebut surat tersebut dan membacanya kembali sampai selesai.
sambil memperhatikan Sri Isaac Xavier membaca Lloyd memberikan analisa nya tentang isi surat tersebut dan menduga bahwa seseorang telah mencelakai keturunan Anna Lewis dengan sengaja.
"lalu nama nya kenapa bisa sama dengan nama calon ratu, bukankah itu kebetulan Sri"
ucap Lloyd yang masih saja tak sadar dengan kebenarannya.
setelah selesai membaca, Sri Isaac Xavier kemudian menuliskan sebuah pesan lalu membuka laci dan mengambil sebuah botol kecil.
ia kemudian membuka botol tersebut, mengisinya dengan air lalu menutup matanya, ia sedang fokus untuk memasukkan sesuatu ke dalamnya.
cahaya putih kebiruan keluar dari tangan nya yang kemudian ia masukkan ke dalam botol berisi air lalu cepat-cepat ia menutup botol tersebut.
bersama surat yang telah terlipat rapih, Sri Isaac Xavier memberikan botol tersebut pada Lloyd dan memberikan perintah,
"pergilah sampaikan pesan ku padanya, lalu minumkan ini pada keturunan Anna Lewis, setelah sadar kau harus membawanya kemari"
ucapnya dengan tegas.
tak mengerti situasi, Lloyd pun sempat kebingungan,
"apa?"
tanya nya heran
"lusa kau harus sudah membawanya kemari"
"apa? bagaimana bisa? jarak dari kuil suci menuju the Great Aztec s.a.n.g.a.t j.a.u.h"
ucapan Lloyd yang tadinya keras lama kelamaan semakin pelan karena Sri Isaac Xavier menatapnya dengan sinis dan seolah memintanya untuk mandi di danau suci hingga membuatnya tak kuasa menolak.
"kau ini benar-benar bodoh! kau kan bisa menggunakan gate! dasar asisten tidak berguna"
ucap Sri Isaac Xavier kembali memarahi Lloyd.
Lloyd sebenarnya masih tak terima dengan perintah Sri Isaac Xavier yang semena-mena terhadap dirinya, namun karena tak ingin mandi di danau suci hingga membuatnya menuruti perintah, ia pergi dengan perasaan sedih yang nampak jelas dari wajahnya.
begitulah kira-kira kronologi Lloyd di utus oleh pendeta agung ke The Great Aztec.
dengan wajah kuyu dan kantong mata yang semakin terlihat jelas Lloyd berjalan menuju istana Vie Rose tempat Eden di rawat, ia diantarkan secara khusus oleh Jose.
sesampainya di kamar Eden terlihat Cecilia masih setia menemani Eden dan merawatnya, kedatangan utusan dari kuil suci membuat Cecilia sedikit terkejut.
wajahnya tampak bingung dan lidahnya menjadi kaku karena tak tau apa yang harus ditanyakan pada utusan kuil suci tersebut.
hal ini dikarenakan Lloyd yang terlihat begitu kelelahan seperti mayat hidup,
"aku tau apa yang ada dalam benak anda nona, tolong jangan menanyakan hal itu"
merespon Cecilia lalu berjalan mendekati Eden.
"beliau adalah utusan kuil suci yang akan membantu agar nona Eden segera sadar"
ucap Jose mencoba menjelaskan identitas Lloyd.
"aah.. begitu, silahkan tuan"
kemudian mempersilahkan Lloyd untuk duduk di sebelah Eden.
Lloyd pun duduk di sebelah Eden, ia membuka tutup botol berisikan cairan yang sebelumnya berikan oleh pendeta agung Isaac Xavier.
ia pun meminumkannya pelan hingga tak tersisa setetes pun dalam botol tersebut.
setelah itu Lloyd mulai membacakan doa-doa untuk kesembuhan Eden, tak berselang lama cahaya perlahan muncul semakin lama semakin terang, bukti bahwa cairan telah bekerja membersihkan segala penyakit yang ada dalam tubuh Eden, lama kelamaan cahaya tersebut kembali meredup.
setelah selesai membacakan doa-doa, Lloyd pun berdiri agak menjauh dari ranjang Eden, ia menghampiri Jose dan berdiri tepat di sampingnya.
"braakkkkk"
suara pintu yang di buka secara paksa, Louise lah yang melakukannya.
"kak, kakak hentikan, ini demi kesembuhan Eden"
ucap Arthur yang berjalan mengikuti Louise, ia mencoba menghalangi Louise masuk ke kamar Eden karena Arthur tau bahwa utusan kuil suci sedang melakukan pengobatan terhadap Eden.
"kau! beraninya kau masuk ke istana tanpa seizin ku!!"
seru Louise yang terlihat sangat marah melihat Lloyd
"hamba lah yang mengundang utusan kuil suci yang mulia, jadi hamba mohon hukumlah hamba"
ucap Jose lirih sambil berlutut di hadapan Louise mencoba memohon ampun untuk Lloyd.
suasana dalam ruangan tersebut begitu menegangkan, Louise dengan raut wajah yang penuh amarah, Arthur yang bersikeras melawan Louise, Jose yang dengan rendah hati memohon ampun, dan Lloyd yang kebingungan dengan situasi dihadapannya.
"hentikan"
suara lirih memecah fokus mereka, suara itu berasal dari bibir seorang wanita,
"hentikan"
suara samar yang berasal dari ranjang, sedari tadi Eden telah sadar dan melihat Louise sedang melampiaskan amarahnya.
karena baru sadar Eden belum bisa berkonsentrasi namun pada akhirnya ia mampu berbicara dan mencegah Louise untuk tidak marah lagi.
Louise pun mendekati Eden, ia duduk di hadapannya..
"syukurlah kau sudah sadar"
ucap Louise begitu lembut pada Eden
Louise mencoba membelai rambut Eden namun Eden menepisnya.
setelah sadar ia bersikap sangat dingin pada Louise yang membuat Louise sedikit bingung dengan sikap Eden tersebut.
***
"syukurlah kau sudah sadar"
ucap Louise begitu lembut pada Eden
Louise mencoba membelai rambut Eden namun Eden menepisnya.
setelah sadar ia bersikap sangat dingin pada Louise yang membuat Louise sedikit bingung dengan sikap Eden tersebut.
ia kemudian menoleh ke arah belakang dan meminta semua yang ada dalam ruangan keluar.
"kriiieekkk"
suara pintu tertutup, Arthur mulai berbicara,
"firasat ku tidak enak, aku rasa akan terjadi perang yang lebih dahsyat dari perang dunia"
"Cecilia tolong antar pendeta Lloyd ke tempat istirahat"
perintah Jose pada Cecilia
"baik, mari hamba antar"
ucap Cecilia mencoba menunjukkan jalan.
(di dalam kamar Eden)
"apakah ada yang membuat mu tidak senang?"
tanya Louise pada Eden mencoba mencari tahu mengapa sikapnya berubah
"kau"
ucapnya singkat sambil memalingkan muka
"ya benar itu kau dan sikap tempramental mu!"
seru Eden yang kemudian menoleh ke arah Louise dengan tatapan penuh kebencian.
melihat Eden yang menunjukkan ekspresi tak senang terhadap dirinya membuat Louise tersenyum seolah meremehkan,
"lalu apa yang kau mau?!"
tanya Louise sedikit menggertak
"aku akan pergi ke kuil suci untuk bert.."
"tidak!!"
suara keras Louise memotong ucapan Eden
"kau tidak boleh kesana!"
jelas nya yang membuat Eden terdiam sejenak
"memang kenapa? apa urusannya dengan anda yang mulia?"
ucap Eden seolah menantang Louise
"karena kau adalah calon ratu.."
belum selesai berbicara Eden balas memotong ucapan Louise
"ratu?! kau bilang ratu?! bagaimana aku bisa menjadi ratu mu sedangkan aku tak ingat masa lalu ku! berhentilah melarang ku !"
seru Eden menyanggah pendapat Louise
"kau! beraninya kau.."
sambil mengepal erat tangannya sendiri, raja Louise benar-benar marah dengan apa yang di ucapkan Eden, tak ingin berlama-lama ia pun berdiri lalu berjalan keluar kamar.
"dengan atau tanpa persetujuan mu aku akan tetap pergi"
imbuh Eden yang membuat langkah Louise terhenti
"cobalah jika kau bisa"
ucap Louise seolah memberikan ancaman pada Eden
"raja Charles Philips Louise kau benar-benar keterlaluan!"
ucap Eden yang begitu marah dengan jawaban angkuh Louise, ia bahkan menggenggam erat selimut nya.
Louise keluar dengan menggebrak pintu yang membuat Jose juga Arthur terkejut dengan suara tersebut.
keduanya tak dapat berbicara banyak karena Louise terlihat sangat marah begitu juga Eden yang tetap mempertahankan egonya.
(di tempat lain di waktu yang sama)
Cecilia mengantar pendeta menuju ruang istirahat yang berada tak jauh dari istana Vie Rose, selama perjalanan tak ada hal menarik untuk di obrolkan hingga Cecilia sendiri yang membuka pembicaraan,
"mohon maafkan situasi yang canggung tadi, hamba harap anda mengerti"
ucap Cecilia lirih
"ohh itu tadi bukan apa-apa, justru akan aneh bila raja Louise tak marah dengan kedatangan ku"
jawab Lloyd memberikan pendapatnya terhadap situasi tadi
"tak satupun dari kami yang menyangka bahwa raja Louise begitu terobsesi dengan nona Eden"
imbuh Cecilia
Lloyd pun mulai memahami posisi Eden saat ini, dia lebih condong setuju dengan pemikiran pendeta agung sebelumnya.
"aku sudah mengatakan sebelumnya pada tuan Jose bahwa aku akan mengajak nona Eden ke kuil suci atas permintaan pendeta agung"
"iya hamba mengerti, hamba akan menyiapkan segala keperluan nona Eden, sudah sampai, disini ruang istirahat anda tuan"
mempersilahkan Lloyd untuk masuk kemudian Cecilia berpamitan pergi.
* * *
malam hari, Eden duduk termenung di balkon kamar nya, seolah ia sedang memikirkan sesuatu.
Louise lah yang ada dalam benaknya malam itu, ia merasa kecewa dengan sikap tempramen nya namun di sisi lain Eden juga merasa bersalah karena sudah berkata kasar terhadap Louise.
ia pun menghela nafas panjang, lalu bangkit dan memutuskan untuk menemui Louise di ruang kerjanya.
ia berjalan sendiri tanpa seorang pun yang menemani, sesampainya di ruang kerja Louise, Eden menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan keberadaan Louise namun ia tak menemukan sosoknya di sana.
Eden lalu memutuskan untuk pergi menuju kamar pribadi Louise, di depan kamarnya tampak beberapa pengawal yang sedang berjaga.
melihat kedatangan Eden membuat raut wajah si prajurit menjadi kikuk.
ia tak berani mengucapkan sepatah katapun apalagi mencoba melarang Eden sang calon ratu masuk.
dengan mudah Eden membuka pintu besar di hadapannya, ia masuk dan berjalan menuju kamar Louise yang pintunya terletak tepat di tengah ruangan.
Eden kemudian mengetuk pintu tetapi tak ada jawaban, ia kembali mengetuk pintu sampai tiga kali namun tetap tak ada jawaban.
ia pun memutuskan untuk membuka pintunya sendiri,
"ah.. ahh.. emmm ahh"
suara desahan seorang wanita terdengar jelas dari dalam kamar Louise.
Eden meneguhkan hatinya lalu berjalan mendekat, betapa terkejutnya Eden melihat seorang wanita sedang duduk di pangkuan Louise dengan pakaian sedikit terbuka.
Louise masih belum sadar dengan kejadiran Eden di dalam kamarnya, lalu si wanita yang sadar akan kehadiran Eden pun sontak terkejut dan menahan Louise.
"ya yang mulia, i itu"
ucap si wanita sambil menunjuk ke arah Eden.
Louise menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh si wanita, ia baru pertama kali melihat tatapan mata berbeda yang di tunjukkan Eden malam itu.
Louise pun acuh lalu menurunkan si wanita dari pangkuannya, si wanita buru-buru merapihkan pakainnya dan berdiri dengan sedikit menunjukkan keangkuhan terhadap Eden.
Louise berjalan mendekati Eden, namun Eden langsung merespon, ia tak hanya berdiri diam saja malah berjalan mendekat pada Louise.
keduanya hampir mendekat,
"tak.. tak.. tak.."
suara langkah kaki Eden yang terus berjalan melewati Louise.
Louise pun tak menyangka bahwa Eden malah melewati dirinya dan mendekat pada si wanita.
dengan kekuatan penuh Eden menampar si wanita tanpa berbicara apapun.
Eden lalu berbalik ke arah Louise, ia mendapati Louise juga melihat ke arahnya, ia terus berjalan dan hampur mendekati Louise.
Louise menduga bahwa Eden akan memukulnya sehingga ia sudah bersiap-siap untuk menerima serangan Eden.
namun dugaannya salah, Eden hanya berjalan melewatinya bahkan menatap pun tidak.
Louise sempat kebingungan dengan sikap Eden karena wanita normal pada umumnya akan melampiaskan kemarahan dengan cara memukul atau berteriak.
"braakkkkk"
suara bantingan pintu menandai keluarnya Eden dari kamar Louise.
Louise pun berjalan kembali mendekati si wanita, tak berselang lama
"tccssss" "booommmm"
Eden melesatkan anak panah api dan membuat pintu kamar Louise meledak dan terbakar.
sontak hal itu membuat Louise dan juga si wanita terkejut, ke dua matanya terbelalak melihat tindakan Eden.
tak sampai di situ, Eden bahkan melesatkan anak panah ke dua yang juga meledak membuat ruangan Louise terbakar.
"tccssss.. booommmm... wwuuuussss"
"terimalah hadiah dari hamba, sebuah kehangatan untuk kamar pribadi raja Charles Philips Louise, semoga yang mulia menikmatinya bersama dengan gelora api yang membara di atas ranjang yang mulia"
ucap Eden sambil sedikit tersenyum seolah puas dan bangga akan hal yang ia lakukan terhadap Louise malam itu.
ia pun berjalan pergi meninggalkan istana tempat Louise tinggal.