
‘Kerja bagus’ gumam Beatrice, ia sepertinya telah merencanakan tindakan ini sebelumnya. ‘Jika kau pamit undur diri sekarang, ini akan menjadi penghinaan bagi tuan rumah tapi jika kau bertahan bukankah akan
sangat memalukan duduk bersama bangsawan kelas atas dengan noda sebesar itu?’ senyum simpul terlihat jelas dari bibir Beatrice, ia menantikan tindakan mana yang akan dilakukan oleh Eden untuk membuktikan bahwa seperti apa sifat
aslinya.
“Dasar pelayan tidak sopan!” seru Riana memaharahi prilaku ceroboh pelayan yang menumpahkan teh panas yang ada di teko. Di sisi lain Melisa merasa ada kejanggalan pada pelayan tersebut seolah memang sengaja untuk ditumpahkan karena tidak wajar jika menumpahkan air dari teko yang jelas-jelas memiliki tutup dan bukan menumpahkan teh dari secangkir gelas yang bisa saja tidak sengaja. Eden menanggapi keteledoran si pelayan dengan tenang, ia tidak lantas memarahi ataupun menindak tegas si pelayan justru ia hanya mengusap usap gaun kemudian bekas teh hilang begitu saja, “Ini bukan masalah besar, lihatlah sudah hilang” sambil tersenyum Eden berbicara dengan tenang agar tamu yang hadir tidak khawatir pada gaunnya.
“Ba.. bagaimana bisa anda?”, “apakah itu sihir?” sahut yang lain penasaran dengan kekuatan Eden.
Eden tersenyum kembali menanggapi pertanyaan yang dilontarkan padanya, “Bukan, ini merupakan tenaga dalam, saya yakin anda pasti tau bahwa saya telah membuat ikatan dengan naga api jadi saya mendapatkan
kekuatan besar itu juga dalam tubuh saya” sambil membuka lalu menutup telapak tangan kanannya eden menjelaskan secara singkat agar para tamu undangan yang hadir tidak bingung melihatnya. Beatrice tak menghiraukan kegaduhan di depannya, ia justru terlihat cuek dan tidak mencerminkan sikap sebagai tuan rumah yang ramah, hal ini dikeranekan ia lumayan kesal melihat Eden tetap tinggal dan malah pamer kekuatan.
“Ini sangat menakjubkan, saya belum pernah melihat kekuatan semacam itu” ucap seorang bangsawan memuji kemampuan Eden, “Benar, anda sangat beruntung karena mandapat berkah” sahut yang lain merasa kagum pada kemampuan yang dimiliki oleh Eden, “Anda tidak perlu berkecil hati nona, kami bukanlah
orang yang seperti anda bayangkan.. Tugas yang anda jalankan merupakan ketetapan Dewa, jika kami yang ditakdirkan belum tentu kami bisa mengambil keputusan hebat dan menantang bahaya seperti anda” ujar Riana berusaha menenangkan hati Eden, tampak jelas bahwa Eden memiliki rasa ragu dan seolah ingin menutupi kekuatannya dihadapan orang lain.
“Benar, anda tidak perlu menutup-nutupi kemampuan spesial anda, kami sangat bangga bahwa anda bisa hadir di tengah-tengah kami demi menjadi pelindung wilayah ini.. Ngomong-ngomong saya dengar dulu Putri Beatrice juga sempat menempuh bahaya untuk membuat ikatan dengan sang Naga Api, apakah itu benar?” tiba-tiba Melisa mengalihkan pembicaraan dan membuat tamu yang hadir menjadi terlaihkan fokusnya pada
Beatrice.
Beatrice yang sedari tadi dengan tenang menyeruput teh tiba-tiba menghentikan kegiataannya, ia lantas meletakkan cangkir yang ia pegang lalu berusaha menjawab rasa penasaran orang-orang terhadap dirinya. “Ahh bagaimana anda bisa tau ? saya telah bersusah payah menyembunyikan kejadian ini agar tidak diketahui orang banyak tetapi ternyata anda sudah mengetahuinya” sambil tersenyum canggung merespon pertanyaan Melisa.
Eden tidak ingin membuat posisi Beatrice semakin tersudut sehingga membuatnya ikut menjawab pertanyaan Melisa, “Saya mendengar dari Pendeta Agung bahwa Putri Beatrice adalah kandidat kuat yang bisa saja membuat ikatan dengan sang Naga Api, anda adalah sosok wanita yang hebat sehingga membuat saya sempat mengagumi kemampuan anda” sorot mata Eden terlihat luruh, ia mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya, Beatrice menyadari bahwa kalimat yang diucapkan Eden merupakan pujian pertama yang ia dengar setelah sekian lama melaksanakan misi. Bukannya merasa senang justru Beatrice merasa kesal
mengapa harus Eden yang memuji dirinya bukan orang terdekatnya kala itu, justru hal ini membangkitan ingatan menyakitkan atas kegagalannya di masa lalu.
“Terimakasih atas pujian nona Eden, saya merasa terhormat mendapat pujian ini.. Jika nona tidak keberatan
bagaimana kalau kita melakukan latihan bersama kapan-kapan?” sambil tersenyum manis Beatrice memiliki niatan tertentu dengan cara menawarkan latihan bersama.
“Tentu saja, saya bersedia” tanpa ragu Eden langsung menerima tawaran Beatrice, namun bedanya Eden murni tanpa ada niatan tertentu karena ia memang kagum pada Beatrice.
Pertemuan pertama yang di hadiri oleh Eden berjalan dengan lancar, ia bisa menangani situasi dengan baik meskipun beberapa hari sebelumnya ia merasa gugup akan melakukan kesalahan pada kemunculan pertamanya dipergaulan kelas atas. Eden juga bersyukur karena ia sempat mendapatkan pendidikan etika
bangsawan selama tinggal di Assiria, Noah dengan sengaja mengatur jadwal yang ketat baginya dengan memberikan pendidikan Etika, sejarah, bahkan tata negara, kala itu Noah memang berniat menjadikan Eden sebagai pendampingnya sehingga semua pelajaran yang dapat menjadi pendukung eksistensi Eden wajib diberikan.
Bangsawan yang menghadiri acara telah kembali ke rumah masing-masing termasuk Eden, namun Beatrice tetap berdiam diri duduk di kursi, ia mengingat kata pujian yang terlontar dari mulut Eden sebelumnya hingga
***
Hari menjelang sore, dalam perjalanan kembali menuju Istana Vie Rose Eden merasa tubuhnya berkeringat karena berjalan cukup jauh padahal ia sudah memakai dress dengan bahan yang lembut dan tidak panas, namun tak seperti biasa tubuhnya cukup banyak mengeluarkan keringat hingga membuatnya risih. Untuk menghilangkan hawa panas, Eden pun memutuskan pergi ke danau buatan di dekat Istana Vie Rose, “Aku akan pergi ke danau, tolong ambilkan beberapa pakaian kering ke sana” berhenti sejenak memberi perintah pada beberapa pelayan yang mengikutinya sedari tadi. “dan tolong panggilkan Cecilia” imbuh Eden mengakhiri perintahnya kemudian pergi ke arah yang berlawanan dengan arah para pelayan. Sesampainya di tempat tujuan ia lantas melepas bagian luar dress kemudian masuk ke dalam danau dan menyelam selama beberapa saat, ia kembali muncul ke permukaan sambil sesekali berenang ke sana dan kemari untuk mendinginkan hawa panas dalam tubuhnya, “Aku tidak tahu bahwa berenang bisa membuat badan terasa sejuk” gumam Eden yang sambil mengusap rambut ke arah belakang, ia berusaha merapihkan rambut yang berantakan karena air.
Seperti yang diperintahkan, Cecilia datang menemui Eden di danau buatan dan kali ini ia datang bersama Adel, sepertinya ia sedang bosan. “Kakak!!” seru Adel sambil berlari mendekati danau buatan lalu menceburkan diri kedalamnya, Adel berenang mendekati Eden kemudian sesekali mencipratkan air ke arah kakaknya, sepertinya Adel sengaja ingin menggoda kakaknya. Melihat Adel yang terus-terusan mencipratkan air membuat Eden sempat kesal karena dipermainkan, Eden pun berusaha membalas Adel dengan mencipratkan air, namun justru hal luar biasa terjadi Eden malah tidak sengaja mengeluarkan tenaga dalam dan mendorong air sekuat tenaga sampai membuat air tersebut menjadi sebuah senjata yang membelah tanah di sekitar tepian danau.
Untungnya air yang di dorong oleh Eden tidak mengenai Adel, hal ini sempat membuat ketiganya terkejut bukan kepalang, “Nona, anda tidak apa-apa?” seru cecilia menanyakan keadaan Adel, “kakak” ucap Adel sambil mendekat pada Eden, ia bebrapa kali memanggil kakaknya yang terlihat masih kaget atas tindakan yang hampir melukai dirinya.
Di sisi lain Eden tampak sedang terpaku melihat kedua telapak tangannya seolah ia sendiri tak menyadari memiliki kekuatan sebesar itu. “Kakak!” sekali lagi Adel memanggil Eden dan kali ini Eden langsung sadar bahwa Adel ada di dekatnya, ia pun mencoba menutupi agar Adel tidak khawatir, “door!!! Kau pasti terkejut.. hahaha” seru Eden berusaha mengalihkan perhatian Adel, ia tertawa meledek ekspresi terkejut Adel. “Hah.. dasar kau menyebalkan” jawab Adel ketus sambil mencipratkan air kembali pada kakaknya, kali ini keduanya pun bermain seperti biasa, cecilia yang melihat keduanya bermain pun merasa lega karena serangan sebelumnya merupakan bagian dari sandiwara Eden untuk menggoda adiknya.
Setelah puas bermain Eden, Adel dan juga Cecilia kembali menuju Istana Vie Rose, dalam perjalanan keduanya masih berbincang tentang banyak hal, karena merasa penasaran Eden pun memberanikan diri untuk menanyakan satu hal, “Bagaimana pagi mu hari ini? Aku terburu-buru pergi sehingga tak sempat berpamitan” tanya Eden sambil membelai lembut rambut Adel yang sedikit berantakan karena masih basah.
“Tentu saja menyenangkan” dengan senyum cerah menjawab pertanyaan Eden, “Tapi nona Adel selalu bangun siang, sepertinya gen keluarga anda berdua sangat cocok” sahut Cecilia menambahi kejadian yang tidak diceritakan Adel hingga membuat Adel sedikit cemberut, “Apa maksud mu gen keluarga kami sama? Asal kau tau selama tinggal di kota S kakak lah yang selalu bangun siang..” sambil menyilangkan tangannya Adel terlihat marah namun tetapimut hingga membuat Cecilia tertawa kecil melihat ekspresi marah Adel.
“Lihat kak dia malah menertawai ku” Adel mengeluhkan sikap Cecilia yang seolah tengah mempermainkannya sambil menggembukan kedua pipi, Eden hanya menanggapi dengan senyum kecil seolah ada yang sedang ia pikirkan.
(Ruang kerja Raja)
Sepucuk surat dengan segel kuil suci datang menuju Raja Louise, surat ini berisi pemberitahuan mengenai kedatangan Damian yang ditugaskan secara khusus oleh Pendeta Agung sebagai pendamping Eden hingga misi dilaksanakan. Setelah selesai membaca surat Raja Louise meminta agar Jose segera menyiapkan kamar khusus bagi utusan kuil suci karena yang bersangkutan akan segera datang, ia memperkirakan dua sampai tiga minggu kedepan adalah hari kedatangannya. Setelah memberi perintah Raja Louise kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertumpuk di atas meja.
***
Malam hari di Istana Vie Rose menyajikan pemandangan bulan sabit dan juga bintang yang terang melalui balkon kamar Eden, terlihat begitu indah sampai membuatnya terlarut sejenak dalam lamunan tak berujung. Lamunan pertamanya mengenai pesta minum teh, ia merasa tak enak hati berlama-lama mengikuti acara tersebut karena setelah acara selesai para tamu yang hadir terlihat lemas, ia sadar benar bahwa penyebab yang sesungguhnya adalah dirinya. Eden kembali mengingat perjanjian yang ia buat sebelum membuat ikatan dengan sang Naga Api, salah satu resiko yang akan terjadi adalah bahwa Eden akan menyerap energi makhluk hidup yang sedang berada disekitar. Bukan tanpa alasan, pada dasarnya Naga Api merupakan hewan mitologi dengan kekuatan yang begitu besar, kekuatan ini tidak semata berasal dari tubuhnya sendiri melainkan Naga Api secara berkala selalu mengumpulkan energi yang berasal dari alam, untuk itulah ia hanya mendiami wilayah gunung Tarsa selama beratus-ratus tahun karena sumber energi di wilayah tersebut mampu mencukupi kebutuhan sang Naga Api. Bahkan dikisahkan pada akhir hayat kesatria terpilih yang pertama (nenek moyang Eden) juga memilih gunung Tarsa sebagai lokasi terakhir untuk ia menghabiskan waktu disisa umurnya.
Merasa khawatir dengan orang-orang disekitarnya membuat Eden kini menjaga jarak dan membatasi waktu untuk bertemu dengan rekan-rekannya, bahkan mulai malam ini juga ia melarang Adel tidur dengannya. Pikiran negatif lain mulai muncul dalam benak Eden mengenai masa depan Adel yang tidak bisa terus menerus tinggal di wilayah Anotherworld, seandainya ia memiliki wewenang dan kuasa pasti ia akan membiarkan Adel tinggal disisinya, namun pemilik wilayah ini bukanlah dirinya melainkan ada 7 negara yang berdiri dengan perjanjian masa lalu yang tidak bisa dirubah. Perjanjian leluhur mengenai batas wilayah dan dunia luar yang telah menjadi dasar dalam tata negara di seluruh wilayah Anotherworld, bahkan gelar yang ia miliki sebagai seorang kesatria terpilih tidak memiliki pengaruh apapun bagi nasib Adel di wilayah ini, “Memikirkannya saja sudah membuatku sangat pusing, pendidikan terakhir ku hanyalah SMA bagaimana mungkin aku paham cara merubah dasar hukum wilayah” keluh Eden sambil memangkukan dagu menggunakan tangan kanan pada pembatas balkon di kamarnya.
Setelah itu ia melamun lagi, pikirannya pergi tanpa tujuan pasti hingga sebuah sengatan hebat menghampiri tubuhnya, rasa panas perlahan menjalar membuat ia jatuh tergeletak seketika. “Uuuggghhhhhhh.. panas.. rasanya panas sekali” Eden menggeram ia merasakan panas yang begitu hebat, sambil meringkuk kesakitan Eden ingin menghilangkan rasa panas yang seolah menggerogoti sel-sel dalam tubuhnya.
“Uugghhhhhhh... sa... sakit” geramnya kesakitan, ia sebenarnya ingin berteriak memanggil seseorang, namun untuk berbicara saja ia tak bisa, Eden terus berusaha bertahan dan menguatkan diri, perlahan ia pun bangkit meskipun tubuhnya saat ini gemetar hebat tetapi ia berhasil berdiri dengan kedua kakinya.
Kini Eden mulai melangkahkan kakinya perlahan, tertatih sembari merambat pada benda-benda sekitar yang bisa dijadikan untuk pegangan dan usahanya telah berhasil, Eden kini sampai kamar mandi. Tujuannya ialah untuk mencari air agar panas dalam tubuhnya bisa mereda, karena itulah Eden lekas menceburkan diri dalam bathtub berisi penuh air.
“Syu.. syuukuurrlah aku berhasil sampai di sini” gumam Eden pelan kemudian menyandarkan tubuhnya pada bathub agar ia bisa bernafas, bukannya membaik lama kelamaan Eden malah kehilangan kesadaran lalu matanya mulai terpejam dengan tubuh yang masih berada dalam air.
“kyyyyaaaaaaaaaa... nona!!!!”
Seorang pelayan berteriak mendapati Eden dalam kondisi tak sadarkan diri terbaring pada bathub kamar mandi, mendengar teriakan ini tentu saja membuat para pelayan berlari mendekat begitupun Cecilia dan juga Chris yang saat itu berada di dekat kamar Eden. Melihat majikannya dalam kondisi tak baik membuat Chris bergegas menggendong Eden dan memindahkannya ke atas ranjang, perlahan Chris membaringkan Eden.