
“Terimakasih atas bantuan anda tuan, kami permisi dulu” seru Diana yang segera berpamitan meninggalkan studio. Ada yang aneh dari raut wajah Cecilia, saat di dalam studio ia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan setelah selesai ekspresi wajahnya juga tetap sama, hal ini tentu saja mengundang tanya dari Diana.
“Hei, apa ada sesuatu yang mengusik pikiran mu? Sedari tadi ku perhatikan kau tampak murung setelah Richardo bercerita tentang sosok pria yang tidak sengaja kau tabrak di pintu masuk. Jangan katakan kau
mengenalnya” ucap Diana seraya sedikit menyenggol Cecilia.
Tiba-tiba saja Cecilia menghentikan langkahnya, ia kemudian menatap Diana dengan serius, “Sepertinya aku tahu siapa dia” ucap Cecilia seraya berbalik kemudian berjalan menuju studio Ricardo, ia segera membuka pintu membuat Ricardo terkejut melihat kedatangannya kembali.
“Tolong, gambarkan 1 wajah lagi untukku” ucap Cecilia seraya memberikan kantong berisi koin emas yang ia letakkan di atas meja.
4 jam berlalu, gambar yang Cecilia pesan akhirnya pun selesai, ia memandangi sket wajah seorang pria, hal ini pula yang menarik Diana untuk ikut melihat.
“Kau mengenalnya?” tanya Diana sambil ikut memegang ujung kanan kertas bergambar wajah seprang pria.
“Aku rasa begitu, untuk memastikannya aku harus bertemu dengan Chris” ucap Cecilia kemudian menggulung kertas yang ia pegang, segera setelahnya ia dan Diana berpamitan pada Richardo, keduanya pun kembali
menuju Istana. Rencana pertemuan yang pada awalnya akan dilaksanakan malam tadi kini harus tertunda karena Cecilia meminta tambahan sket wajah baru, namun sangat kebetulan Kate dan Laura juga masih belum selesai memeriksa dokumen di ruang lembaga masing-masing. Sehingga ketika keduanya sampai di Istana mereka memilih untuk beristirahat sambil menunggu Kate dan Laura selesai dan berniat melakukan rapat keesokan harinya, karena diskusi tidak akan dapat berjalan jika salah satu di antara mereka tidak hadir.
***
Tepat saat fajar, rombongan Pangeran Arthur, Alejandro, Lucas, Marco dan Justin tiba di kantor pusat Dewan Keamanan Wilayah, di depan altar panglima Sacheverell bersama dengan Pieter menyambut kedatangan
mereka. Sejujurnya mereka sendiri tidak menyangka bahwa panglima Sacheverell lah yang akan menyambut mereka secara langsung, memngingat tabiat buruknya yang sudah sangat terkenal dalam memperlakukan tamu. Mau tidak mau baik Pangeran Arthur dan Alejandro harus merespon dengan baik atas sambutan yang diberikan oleh panglima Sacheverell, namun tetap berhati-hati dengan sambutan baiknya ini. Mereka turun dari kuda satu persatu, sedangkan panglima Sacheverell dan Pieter berjalan mendekat untuk menyapa mereka.
“Selamat datang Yang Mulia, merupakan suatu kehormatan dapat menyambut tamu dari ujung benua ini di kantor Dewan Keamanan Wilayah” seraya mengulurkan tangan agar Pangeran Arthur mau menjabatnya.
“Tentu saja, siapapun tamu yang datang bukankah sebagai pemimpin dari Deman Keamanan Wilayah anda wajib menyambut dengan baik” seraya menjabat tangan panglima Sacheverell, Pangeran Arthur seolah menyindir tabiat panglima Sacheverell yang terkenal tidak baik dalam menyambut tamu.
“hahahaa.. anda ini benar-benar sudah berubah ya” tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran Pangeran Arthur namun ditanggapi setengah hati oleh Pangeran Arthur beserta rekannya yang lain, seolah hanya formalitas saja.
“Apakah dia putra dari Pangeran Oscar? Lama tidak bertemu” ucap panglima Sacheverell sambil menoleh ke arah Alejandro kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, namun sikap dingin justru ditunjukkan
Alejandro dan sempat membuat panglima Sacheverell merasa bahwa ia sedang dibenci oleh anak mantan rekannya itu. Sadar bahwa suasana semakin memanas, lantas membuat Alejandro menekan emosi dirinya dan lekas menjabat tangan panglima Sacheverell.
Setelah menjabat tangan Alejnadro panglima Sacheverell menjabat tangan satu persatu rekan dari Pangeran Arthur, mulai dari Lucas, Justin dan terakhir Marco, ketiganya pun memperkenalkan diri pada panglima Sacheverell.
“Kalian pasti lelah, saya sudah menyiapkan tempat istirahat di asrama Dewan Keamanan Wilayah, mari” seraya menunjukkan jalan panglima Sacheverell berbicara pada para tamunya itu.
“Tidak, kami datang kemari bukan untuk tidur, ada hal yang harus kami bicarakan dengan anda” dengan tegas Pangeran Arthur menolak keramahtamahan dari panglima Sacheverell terhadap dirinya dan rekan-rekannya.
“Bagaimana jika sarapan?” ucap panglima Sacheverell menawarkan hal lain, akan tetapi tidak direspon sama sekali.
“Atau minum teh?” imbuh panglima Sacheverell mencoba menawarkan perjamuan yang lebih sederhana.
“Baiklah, masalah ini bisa dibicarakan sambil minum teh” ucap Pangeran Arthur menerima tawaran panglima Sacheverell.
“Sudah saya duga, Pangeran Arthur adalah sosok paling ramah di wilayah ini, berita itu memang benar adanya. Mari biar saya tunjukkan jalannya” ucap panglima Sacheverell memuji sopan santun dari Pangeran
Arthur, yang kemudian menunjukkan jalan menuju tempat perjamuan minum teh.
***
Hingga dipenghujung siang, Eden terus berlatih untuk mengendalikan energi Naga Api yang mengalir dalam tubuhnya, ia tidak pantang menyerah bila menyangkut latihan. Sejak awal memulai latihan, ia bertekad ingin
menyelesaikannya segera, karena waktu untuk memperkuat portal akan tiba tidak lama lagi. Memikirkan orang-orang yang ingin ia lindungi membuat Eden terus menunjukkan perkembangan, melihat kemampuan Eden yang meningkat secara signifikan membuat dirinya sempat kagum.
“Hei, apa kau tidak lelah? Beristirahatlah sebentar, sudah semalaman, maksudku sudah hampir 24 jam kau secara terus menerus berlatih” seru Damian yang mengawasi Eden berlatih dari kejauhan.
“Lalu apakah anda akan menggantikan saya berlatih?” seru Eden yang balik bertanya pada Damian.
“Hei.. apa maksud pertanyaan mu itu? kau seperti sedang memamrahiku” Damian tiba-tiba salah paham dengan pertanyaan Eden.
“Dia mulai lagi, tiada hari tanpa mengajak bertengkar” gumam Eden dalam hati seraya menggelengkan kepala dan memilih untuk tidak merespon Damian.
“Lihat.. bahkan sekarang kau berani tidak menjawabku. Apa-apaan sikap itu” seru Damian yang semakin terlihat kesal karena Eden bersikap acuh terhadap dirinya.
Lagi dan lagi, Eden memilih untuk diam dan tidak menghiraukan sikap kekanakan Damian yang terus menganggunya, ia terus berkonsentrasi hingga sebuah cipratan membasahi bajunya, spontan ia menengok dan mendapati Damian membuang muka.
Kesal karena ia diganggu seperti ini membuat Eden sempat ingin membalas perlakuan Damian terhadap dirinya, akan tetapi ia urungkan dan memilih untuk berkonsentrasi pada latihannya kembali. Cipratan kedua sedikit lebih dahsyat dan membuat sekujur tubuh Eden menjadi basah kuyub, ia kemudian menggenggam erat tanggannya dan menggeratkan gigi-giginya seolah sedang menahan emosi, “Aku sudah tidak tahan” gumam Eden yang kemudian beralih menghadap Damian, ia merentangkan kedua tangan, memancarkan warna merah di kedua sisi seolah akan mengeluarkan sesuatu, setelah diperhatikan, bebatuan di sekitar Eden mulai terangkat dan melayang cukup tinggi di atasnya. Bahkan satu batu besar yang sedang menjadi pijakan Eden pun ikut melayang. Melihat fenomena ini membuat Damian terpana dibuatnya, “Oh tidak, aku sudah salah mempermainkannya, aku lupa bahwa dia adalah seorang wanita yang bila sedang marah bahkan gunung pun bisa runtuh dibuatnya” gumam Damian pelan seraya mundur perlahan.
“Hei.. aku kan bercanda, kau tidak perlu mengambil hati. Ayo turunkan. Aku tidak mungkin melawan dirimu, kau menang” ucap Damian mencoba menahan Eden.
“Ingat aku ini adalah kakak mu, sesama saudara harus saling menyayangi” imbuh Damian yang terus mencoba menenangkan Eden.
“Maaf” gumam Damian, yang tentu saja tidak terdengar oleh Eden.
“Hei, maaf” seru Damian mengulangi ucapannya, seraya tertunduk dan memalingkan wajah.
“Cobalah untuk meminta maaf dengan tulus” jawab Eden seraya menoleh ke arah Damian.
“M.. ma... ah sudahlah pokoknya itu tadi yang kuucapkan” seraya menyilangkan tangan kemudian duduk seraya memejamkan mata.
Mendapati sikap yang ditunjukan Damian membuat Eden tersenyum, ia langsung sadar bahwa ini pertama kali bagi Damian meminta maaf pada seseorang, terlihat jelas Damian sangat malu dan seolah telah kehilangan harga dirinya.
***
Dalam ruang perjamuan, teh telah disajikan pada masing-masing gelas, satu persatu dari mereka meminumnya untuk menghormati persiapan yang telah dilakukan oleh tuan rumah.
“Saya sudah mendengar maksud kedatangan anda kemari karena seorang tahan, saya rasa kurang bijak bila anda datang hanya untuk memberi pembelaan pada penjahat” seraya meletakkan cangki teh, panglima Sacheverell kemudian membuka percakapan, ia terlihat begitu arogan.
Mendengar pernyataan ini sontak membuat Pangeran Arthur, Alejandro, Lucas, Justin dan Marco menjadi tidak berselera untuk meminum teh dalam gelas yang sedang mereka pegang, hingga pada akhirnya secara
serentak mereka meletakan gelas di atas meja.
“Bila membicarakan masalah bijak bukankah anda yang jauh lebih tidak bijak dengan mengirimkan bawahan anda menangkap seseorang di wilayah hukum negara lain? Anda harus ingat bahwa masih ada perjanjian lama yang menjadi dasar dalam menyusun hukum suatu negara” dengan tenang Pangeran Arthur menjawab panglima Sacheverell, ia bahkan merasa bahwa pertanyaan ini tidaklah membuat dirinya tertekan.
Mendengar jawaba Pangeran Arthur lantas membuat panglima Sacheverell tersenyum simpul, “Perjanjian lama ya? Perjanjian usang yang seharusnya diperbaharui, bukankah begitu Yang Mulia? Saya heran mengapa
wilayah lain harus mematuhi perjanjian negara anda, saat ini kita telah memasuki era baru dan sudah sepatutnya menaati peraturan tertinggi wilayah ini yaitu peraturan yang dimiliki oleh Dewan Keamanan Wilayah karena, tugas kami sangat besar dalam mengamankan wilayah ini.” Tutur panglima Sacheverell yang secara tidak langsung menyanjung lembaga yang sedang ia pimpin.
“Sebelum kesatria terpilih muncul, kami lah yang telah mengamankan wilayah ini selama bertahun-tahun, jasa kami begitu besar, oleh karena itu” tiba-tiba berhenti sejenak dari ucapannya.
“Bukan” seru Alejandro membantah pernyataan panglima Sacheverell, yang membuat lawan bicaranya sontak menoleh.
“Bukan anda yang mengamankan portal, anda hanya mengirim penjaga tanpa bisa berbuat apa-apa, Sri Isaac Xavier lah yang menggantikan tugas kesatria terpilih selama berpuluh-puluh tahun bahkan beratus tahun hidupnya sambil menunggu kesatria terpilih lahir ke dunia ini.” Dengan lugas Alejandro menjelaskan sosok pelindung yang sesunggunya dari sudut pandangnya.
“Apakah ada bukti bahwa Sri Isaac Xavier yang melindungi portal selama ini? Kau kan tinggal di luar wilayah, pendapatmu masih diragukan dalam diskusi ini” seolah tidak ingin kalah dengan argumen dari Alejandro, maka panglima Sacheverell terus saja mengelak.
“Meragukan Sri Isaac Xavier bukankah sama saja dengan merendahkan merendahkan keilmuan dari Sri Isaac Xavier? Hati-hati, anda bisa saja dihukum karena salah dalam berucap” Lucas yang kesal mendengar panglima Sacheverell pun pada akhirnya angkat bicara.
“Hahahaha.. hahahaa..” seraya memukul pelan meja dan memegang perutnya, panglima Sacheverell pun tertawa terbahak-bahak. “Lucu sekali, aku bisa mendengar kata-kata seperti ini dari seorang kesatria rendahan sepertimu, tau apa kau soal hukum?” tawa yang tadinya meledak tiba-tiba berhenti dan ekspresi wajah panglima Sacheverell langsung berubah seraya melempar tatapan tajam pada Lucas. Tak berselang lama Pieter pun memberi sebuah dokumen pada panglima Sacheverell, ia meliriknya sejenak dan kembali tersenyum simpul lalu memberikan dokumen tersebut ke Pangeran Arthur.
Pangeran Arthur menerima dokumen yang diberikan, kemudian membacanya hingga membuat matanya terbelalak, ia menatap tajam ke arah panglima Sacheverell, “Kau!” seru Pangeran Arthur yang sangat marah setelah membaca dokumen yang ia berikan.
“Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, tersangka yang akan dipindahkan dan menjalani hukuman sesuai dengan aturan dari Dewan Keamanan Wilayah, hal ini sudah disetujui oleh ke enam negara besar. Sebagai
seorang Pangeran anda tentunya tahu mengenai hukum suara mayoritas. Bahkan meskipun saya pernah berhutang nyawa pada seseorang, saya tidak akan dapat menggantikan hukuman dengan nyawa sendiri karena para pemimpin negara sudah memberikan persetujuan pada kami” kembali berbicara dan terlihat arogan, panglima Sacheverell seolah ingin menunjukkan kekuatan apa yang ia miliki dan betapa liciknya dia sehingga siapapun tidak bisa melawan.
“Kau!! Beraninya kau!” seru Marco seraja berdiri menggebrak meja.
“Mulai sekarang saya hanya akan berbicara pada orang yang memiliki status tinggi saja, permisi” seraya berdiri kemudian berjalan meninggalkan Pangeran Arthur dan rombongannya.
“Sial!” seru Marco kembali menggebrak meja karena kesal pada panglima Sacheverell.
“Seharusnya kita selesaikan masalah ini secara jantan” ucap Justin yang juga tersulut emosinya pada prilaku panglima Sacheverell.
“Aku juga kesal, akan tetapi Sacheverell bukan orang yang bisa dihadapi dengan sebuah pertarungan. Dia adalah orang paling licik di Anotherworld, kita harus memikirkan cara untuk mengalahkannya dengan taktik
yang lebih licik” ucap Pangeran Arthur yang berusaha menenangkan emosi rekan-rekannya.
“Kakak benar, yang ku ketahui Sacheverell adalah orang paling licik dan culas, menghadapi dengan cara yang sama adalah solusi terbaik yang bisa kita lakukan”
Setelah pertemuan hari itu, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan kantor pusat Dewan Keamanan Wilayah dan mencari tempat penginanapan, kebetulan Pangeran Arthur memiliki sebuah villa dipinggiran kota
sehingga mereka pun memutuskan untuk tinggal sementara di tempat itu sambil menyusun rencana selanjutnya.
***
Pertemuan lanjutan diadakan di Istana Vie Rose, bertempat di ruang kerja Eden, Cecilia, Diana, Laura dan Kate tengah duduk menunggu seseorang, dia adalah Chris. Malam ini Cecilia berusaha membuktikan pengelihatannya mengenai seseorang yang terasa familiar. Setelah ditunggu cukup lama Chris akhirnya datang memenuhi panggilan Cecilia, karena terlambat ia pun masuk dan meminta maaf, “Maafkan aku karena terlambat, banyak..” ucapannya terhenti ketika Cecilia buru-buru menarik tangannya kemudian mendorongnya duduk ke kursi.
“Cepatlah duduk, aku ingin kau memastikan sesuatu” ucap Cecilia terburu-buru seraya duduk di sebelah Chris, ia kemudian memberikan selembar kertas dengan sket wajah seseorang, “Coba perhatikan, aku yakin kau pasti tahu siapa orang ini” ucap Cecilia seraya menunjuk gambar yang ia pegang.
Chris menatap selembar kertas yang ditunjukkan oleh Cecilia, matanya lekat memandang, memahami siapa sosok yang terlihat familiar ini, tiba-tiba pupil matanya melebar, ia seolah mengenali sosok yang ada dalam gambar, “Ini? Paman Jason?”