
Saat tengah asyik menikmati acara bersama Leandro, tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri keduanya, bukan putri bangsawan melainkan pria paruh baya yang tampak seperti preman, akan tetapi dari pakaian yang mereka kenakan terlihat seperti petinggi suatu negara, karena kain sutra emas tidak pernah berbohong mengenai harga.
“Selamat malam nona, perkenalkan saya Paul, menteri perhubungan dari negara Cemos dan mereka merupakan bawahan saya” ucapnya ramah menyapa Eden.
“Selamat malam tuan Paul dan pengikutnya” jawab Eden singkat dengan senyum yang dipaksakan, hanya ujung bibir yang naik namun hatinya tidak tulus bahkan Eden sempat melemparkan tatapan mata tajam pada
orang dihadapannya.
“Apakah boleh saya berbicara dengan anda sebentar?” tanya Paul pada Eden yang membuat Alejandro lantas maju memasang badan, “Kau bisa berbicara padaku”.
“Hentikan” ucap Eden seraya memegang tangan Alejandro, “Mari berbicara tuan Paul” imbuh Eden.
“Lebih baik kita pindah ke tempat yang lebih nyaman” ucap Paul seraya merentangkan tangan kanan seolah mengajak Eden untuk pindah.
“Tidak ada tempat yang lebih nyaman untuk berbicara di aula kecuali di tempat ku berdiri saat ini, maka berbicaralah di sini tuan Paul” ucap Eden yang enggan diajak pergi dari tempatnya saat ini.
“Angkuh sekali”gumam paul dalam hati merasa tak senang dengan penolakan yang ditunjukan Eden terhadap dirinya, seraya melirik ke arah Alejandro, Paul seolah merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang lain di dekat Eden.
“Anda pasti sudah mendengarnya, dia adalah Pangeran Alejandro yang sempat menghilang dari The Great Aztec, tolong tunjukan rasa hormat anda pada keluarga Raja Louise” seraya mengernyitkan alisnya, Eden
lantas mengkritik sikap tidak sopan Paul terhadap Alejandro.
Mendengar hal ini lantas membuat Paul buru-buru minta maaf atas sikap kurang ajarnya terhadap Pangeran Alejandro, “Mohon maafkan atas ketidaksopanan hamba Yang Mulia” seraya menundukkan kepala dihadapan Alejandro.
“Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan” ucap Eden pada Paul.
“Begini nona, saya ingin memberikan sebuah hadiah yang merupakan benda paling langka di wilayah Anotherworld ini” seraya menunjukkan sebuah kotak kemudian membukanya, tampak jelas sebuah kalung berlian yang sangat indah dan sejenak membuat Eden terpaku.
“Kalung ini merupakan berlian berharga yang bernama Angel Tears karena untuk mendapatkannya perlu perjuangan yang sangat besar. Berlian jenis ini hanya bisa didapatkan di laut yang cukup dalam dan lokasinya berada disekitar segitiga bermuda” tutur Paul menjelaskan secara singkat mengenai Angel Tears seraya memberikan kotak berisi berlian pada Eden.
Ketika mendengarkan penjelasan dari Paul, Eden pun sadar akan kemana pembicaraan mengarah, “Lantas apa inti dari ini semua?” ucap Eden yang masih terus melihat Angel Tears.
“Anda adalah seorang kesatria terpilih yang akan melaksakan tugas di masa depan, saya hanya ingin anda mengetahui tentang fakta mengenai Angel Tears yang sangat sulit didapatkan. Bila saja anda bersedia
membuka akses menuju segitiga bermuda untuk mengambil berlian jenis ini kemudian dipasarkan keseluruh wilayah Anotherworld Bukankah ini akan menjadi kerjasama yang menarik dan menguntungkan bagi kita berdua nona?” seraya mendekatkan diri pada Eden, Paul berusaha merayu Eden agar mau bekerjasama dengan dirinya.
“Hanya membuka akses?” tanya Eden seraya mengambil berlian Angel Tears dan mengangkatnya sejajar dengan mata.
“Benar sekali nona, jika anda setuju kita dapat membagikan keuntungannya menjadi dua” ucap Paul antusias karena melihat Eden seolah tertarik dengan tawarannya.
“Berapa jumlahnya?” tanya Eden yang terus memandangi berlian Angel Tears dihadapannya.
“Iya nona? Ahh tentu saja kita akan membaginya sebesar 50:50” semakin antusias dengan pertanyaan Eden.
“Tidak, maksud ku jumlah berlian ini di Anotherworld saat ini ada berapa?” tanya Eden seraya melirik ke arah Paul.
“Ah maksud anda berlian ini? Tentu saja hanya ada satu di Anotherworld, jika anda menginginkannya saya akan memberikannya pada anda sebagai bentuk jadi kerja sama kita nona” seraya menunjuk berlian Angel Tears yang ada dihadapan Eden.
“Apa kau yakin? Tapi sepertinya yang sedangku pegang ini adalah barang palsu” ucap Eden seraya menggenggam erat berlian yang ada ditangannya kemudian menghancurkannya dan sontak tindakan Eden ini membuat Paul terkejut.
“Tuan Paul, lain kali bila anda ingin mengajak bekerjasama setidaknya bawalah barang asli dan bukan tiruan seperti ini. Tunjukkan itikad baik anda dengan tidak membohongi calon relasi anda” kemudian melempar
kotak kosong yang sebelumnya digunakan sebagai tempat Angel Tears. Eden yang melihat ekspresi terkejut Paul merasa sangat puas, sedangkan Paul segera melempatkan tatapan mata penuh kebencian terhadap Eden.
“Bagaimana kau bisa..” ucap Paul bertanya pada Eden
“Bisa tahu kalau ini barang palsu? Meskipun aku terbiasa melakukan tugas dilapangan bukan berarti aku tidak tahu barang asli dan palsu. Anda sangat meremehkan mata ini” seraya menunjuk matanya yang sekilas menunjukkan kornea mata mirip seekor Naga, melihat mata yang ditunjukan oleh Eden membuat Paul dan pengikutnya terkejut dan merinding dibuatnya.
Kesal karena merasa sudah dipermainkan lantas membuat Paul memberikan ancaman, “Ingatlah anda akan menyesali perbuatan anda malam ini” seraya menunjuk-nunjuk Eden kemudian pergi meninggalkannya Eden.
“Wooahhh.. kau hebat sekali” Alejandro memberikan pujian seraya mengacungkan dua jempol pada Eden.
“Kau ini apa-apaan sih” seraya melempatkan tatapan sinis pada Alejandro karena tidak senang mendapat pujian.
“Tapi kau benar-benar sangat hebat. Aku tidak menyangka kau akan setenang ini menghadapi orang semacam itu” melemparkan tatapan penuh kekaguman terhadap Eden.
“Dia itu seorang pejabat sekaligus pedagang yang kikir. Aku hanya mengira-ngira saja bahwa berlian tadi adalah palsu. Logikanya bila berlian ini berada di segitiga bermuda bukankah manusia biasa manapun tidak
akan bisa mendapatkannya? Dia ini berpikir aku sangat bodoh atau bagaimana sih” meluapkan kekesalannya karena telah diremehkan oleh orang lain.
“Logika mu memang masuk akal sih. Orang seperti dia sudah seharusnya diberi pelajaran agar tidak kurang ajar” seraya menganggukan kepala setuju pada tindakan yang telah dilakukan oleh Eden.
Paul dan pengikutnya angkat kaki dari aula perjamuan, mereka sangat kesal karena telah diremehkan oleh Eden, amarah itu tidak dapat terbendung lagi hingga membuat Paul memberi perintah pada salah satu pengikutnya untuk mengirim surat pada dewan keamanan wilayah. Entah apa isi surat yang akan dikirimkan tersebut, yang jelas Paul sedang berusaha membalas perbuatan Eden padanya.
The Great Aztec. Sang pemilik acara Raja Louise dan Eden juga merasa lega karena sudah terlaksana sebuah acara yang sempat tertunda karena berbagai halangan sebelumnya, kini keduanya sudah merasa tenang telah memiliki ikatan satu sama lain melalui pertunangan.
***
Keesokan harinya merupakan hari di mana Eden harus pergi menuju ruang nol bersama Pendeta Damian, semalam Cecilia sudah mengemasi beberapa pakaian Eden yang terdiri dari pakaian latihan dan juga pakaian tidur, tidak lupa ia menyiapkan selimut tipis untuk berjaga-jaga bila ruang nol merupakan tempat yang dingin. Disadari atau tidak, Eden lebih sering pergi ketimbang tinggal di Istananya sendiri, padahal tugasnya masih cukup lama untuk terlaksana. Fakta ini sempat membuat Cecilia merasa prihatin atas tugas majikannya, seolah sang majikan tidak pernah memiliki waktu hanya untuk beristirahat, karena itulah ketika Eden merengek ingin tidur Cecilia memberikan waktu lebih meskipun harus memangkas waktu lainnya sebagai ganti jam tidur Eden, seperti kemarin sebelum persiapan perjamuan. Tanpa terasa, Cecilia kini sudah lebih memahami Eden dibandingkan sebelumnya, ikatan keduanya seolah secara natural terbentuk tanpa disadari oleh keduanya.
“Apakah semua perlengkapanku sudah siap?” tanya Eden pada Cecilia seraya menata rambut dan akan mengikatnya, melihat hal ini membuat Cecilia segera mendekati Eden kemudian membantunya mengikat rambut, “Semuanya sudah saya siapkan dengan rapih nona”.
“Wah.. jika kau yang mengikat rambut ku mengapa bisa serapih ini?” ucap Eden melemparkan pujian pada Cecilia.
“Bagaimana ini? Jika saya tidak ikut mungkin rambut nona akan selalu berantakan karena tidak bisa mengikat rambutnya dengan benar” ucap Cecilia seraya menyentuh pipinya seolah merasa kasian pada Eden.
“Hei.. hanya mengikat rambut tanpamu aku bisa” seraya menoleh ke arah Cecilia dan melemparkan tatapan sinis kemudian keduanya tersenyum.
“Anda selalu saja pergi seperti ini karena tugas, saya berharap anda akan mendapatkan waktu istirahat yang banyak setelah misi di masa depan selesai” mendengar ucapan Cecilia membuat Eden secara spontan memeluknya tanpa sepatah kata pun. Terlihat sangat jelas bahwa keduanya sangat dekat hingga tidak ragu untuk memberi pelukan satu sama lain seperti saat ini.
“Sudah saatnya, Pendeta menunggu nona Eden di luar” ucapan Chris memecah suasana haru yang sedang berlangsung antara Eden dan Cecilia sehingga membuat keduanya melepas pelukan dan berjalan pergi menuju keluar Istana Vie Rose.
Seperti biasa, rekan-rekan Eden menunggunya keluar untuk mengantarnya pergi, hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi mereka setiap kali Eden melaksanakan tugasnya secara mandiri. Mereka yang melihat Eden
berjalan menggendong tas pun tersenyum menyambut kedatangannya, sedangkan Eden berlari kecil menuju rekan-rekannya itu dan lantas memberikan pelukan pada Diana dan Kate sekaligus hingga membuat keduanya mendekat pada Eden.
“Jaga diri anda baik-baik” ucap Kate seraya menepuk bahu Eden yang tak lama kemudian rekan-rekan yang lain ikut memeluk Eden secara bersamaan. Pemandangan yang mengharukan ditunjukan oleh Eden dan
rekan-rekannya, sesaat kemudian mereka melepas pelukannya terhadap Eden dan giliran Adel yang mendapat pelukan dari kakaknya itu. “Jangan nakal, turuti semua perintah Cecilia” seraya mengacak-acak rambut adiknya.
“Hei aku bukan anak kecil tahu” seraya memalingkan muka setelah mendengar pesan dari Eden, melihat ekspresi lucu adiknya membuat Eden gemas dan tertawa kecil.
Tak berselang Lama Raja Louise, Pangeran Arthur dan Pangeran Alejandro datang untuk ikut mengantar kepergian Eden, ketiganya juga mendapat pelukan perpisahan dari Eden dan sedikit lebih lama memeluk Raja Louise karena mungkin saja Raja Louise akan sangat merindukan Eden.
“Ehemm..” suara Pendeta Damian yang membuat Eden lekas melepas pelukannya terhadap Raja Louise.
“Pendeta!” seru Eden yang lantas mendekati Damian.
“Kita harus segera pergi, bukalah gatenya” ucap Damian memberi perintah pada Eden.
“Apa? saya yang harus membukanya? Bagaimana caranya?” tanya Eden yang bingung dengan perintah Damian.
“Aku akan mengajarkan mu, gate ini jauh berbeda dengan gate yang pernah kau gunakan dalam perjalanan dari Kuil Suci menuju The Great Aztec dulu. Ini seidkit rumit tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Kemarilah.”
Seraya menarik tangan Eden dan mengajaknya menuju danau buatan yang berada di dekat Istana Vie Rose. Rekan-rekan Eden pun mengikutinya pergi, begitupun Raja Louise, Pangeran Arthur dan Pangeran Alejandro yang turut serta mengikuti kemana Eden pergi.
“Disanalah gerbang seharusnya terbuka” ucap Damian seraya menunjuk Danau.
“Bukankah seharusnya kita membuat Gate di lokasi yang terbuka dan luas seperti sebuah halamn?” timba-tiba melemparkan pertanyaan berdasarkan pengalaman pribadi setelah membuka Gate.
“Karena ruang nol merupakan tempat yang netral sehingga sifat elemen air adalah yang paling cocok dengannya, maka sudah menjadi sebuah keharusan bahwa elemen air menjadi okasi paling tepat sebuah Gate tercipta” menjelaskan secara singkat pada Eden yang diikuti dengan anggukan kepala oleh Eden yang seolah mengerti dengan penjelasn singkat dari Damian.
“Nah sekarang letakkan tangan mu ditepian Danau, ingatlah untuk menyentuh air kemudian berkonsentrasilah untuk memunculkan Gate, cara kerjanya sama dengan Gate yang pernah kau buat” ucap Damian memberikan arahan seraya menyentuk kedua pundak Eden kemudian mendorongnya mendekati
tepian danau.
Mendengar penuturan Damian yang sangat jelas membuat Eden lantas melaksanakannya seperti yang diarahkan, dan “wwuuuuussssshhhhhhhh” segera setelah tangan Eden masuk ke air sebuah Gate terbentuk dari air, perlahan naik seolah merambat dan terbentuklah Gate berwarna putih ke biruan. Mereka yang menyaksikan prosesi ini pun berdecak kagum atas kekuatan luar biasa Eden yang dengan mudah dapat menciptakan Gate dari elemen air, tanpa sengaja mulut mereka sedikit menganga karena takjub dengan pemandangan yang mereka lihat, kecuali Raja Louise yang terlihat tenang saat melihat kekuatan Eden.
“Berhasil” seraya tersenyum kemudian mengajak tos Damian, namun karena tidak mengerti dengan kode dari Eden membuat Damian hanya terdiam menatapnya seperti orang aneh. Eden lantas meraih tangan Damian, mengarahkan telapak tangan menghadap padanya kemudian memberinya tos. Eden terlihat senang seperti anak kecil dan sedikit meloncat-loncat dan sontak membuat Damian tersenyum atas tingkah polos Eden itu.
“Ah.. lalu bagaimana cara kita menuju tengah sana? Apakah harus berenang?” tanya Eden seraya meletakkan jari telunjuk tangan kanan pada pipinya seolah sedang memikirkan sesuatu.
Mendapati hal ini membuat Damian menggelengkan kepala karena Eden seperti tidak sadar akan kekuatan besar yang sedang bersarang dalam tubuhnya itu, ia lantas sedikit mendorong jidat Eden menggunakan jari telunjuk untuk membuatnya sadar.
“Aww” seru Eden setelah dahinya di dorong oleh Damian.
“Air itu akan membuatkan sebuah jalan untuk mu jadi kau hanya perlu melangkahkan kakimu diatasnya” ucap Damian seraya menggerakan dagunya sekali ke arah danau seolah sedang menunjuk.
“Benarkah? Apa bisa begitu? Baiklah saya akan mencobanya” ucap Eden dengan penuh semangat lantas melangkahkan kaki kanannya ke atas air di tepian danau diikuti dengan kaki kiri dan benar saja, air danau
bisa menopang tubuhnya. Kekaguman Eden tidak berhenti sampai disitu, ia pun sedikit menundukkan kepala untuk melihat apa yang ada dibawahnya dan terlihat ada sebuah energi yang bergerak sehingga membuat Eden sempat penasaran kemudian mencoba mengetesnya. Eden lantas melangkahkan kaki secara bergantian dan energi ini mengikuti setiap kali Eden melangkah, Woooaahhhhh” seru Eden yang kagum dengan menunjukkan mata yang berbinar. Melihat tingkah polos Eden dari jauh membuat Raja Louise spontan tersenyum karena gemas melihatnya, sontak hal ini membuat Pangeran Arthur dan Pangeran Alejandro menoleh ke arah Raja Louise dengan melemparkan pandangan mata yang aneh terhadap Raja Louise. Mendapati kedua adiknya sedang memperhatikan membuat Raja Louise lantas membalas keduanya dengan tatapan tajam sehingga baik Pangeran Arthur dan Pangeran Alejandro segera memalingkan wajah mereka, berpura-pura tidak tahu.
Tak ingin berlama-lama melihat Eden yang keasyikan bermain membuat Damian lantas merangkul pundaknya kemudian mengajaknya berjalan menuju Gate, tepat di depan Gate Eden berbalik ke arah belakang kemudian melambaikan tangan pada rekan-rekannya yang masih menunggunya di sebrang, seraya tersenyum lebar kemudian setelahnya Eden pun masuk bersama Damian.