
“apa maksudmu?! Jika kau terlibat maka sama saja dengan kau ingin menggantikan hukuman keduanya? Kau mau mati?!” seru Raja Noah yang tidak habis pikir denganpermintaan Eden.
“ya sejujurnya aku ingin merasakan kematian itu seperti apa, akan tetapi bukan dengan cara seperti ini. Cukup katakana bahwa aku ikut terlibat dan akan ku ubah hukum tidak manusiawi seperti itu dengan kartu yang kumiliki” Eden pun menjelaskan alasan sebenarnya mengapa ia mengajukan diri untuk menggantikan hukuman
keduanya.
“lantas apa yang ingin kau aku lakukan?” tanya Raja Noah pada Eden yang lantas membuat Eden segera mendekat dan membuatnya sedikit berjinjit seraya berbisik pada Raja Noah.
Mendengar penjelasan Eden secara keseluruhan membuat Raja Noah menghela nafas panjang, seolah
merasa lega atas keinginan sebenarnya Eden.
“Baiklah aku akan melakukannya sesuai dengan perintah mu, akan tetapi aku ingin kau membayarnya dengan mewujudkan permintaanku” ucap Raja Noah yang lantas bersambung pada bayaran yang harus Eden lakukan bila keinginannya dikabulkan oleh Raja Noah.
“Ya apapun akan aku lakukan karena nyawa mereka jauh lebih berharga atas apapun”
“termasuk dirimu?” ucap Raja Noah menyela Eden
“Ya tentu saja, asalkan kau tidak meminta hati atau jantungku, aku bisa menurutinya”
“baiklah akan ku turuti permintaan mu, dan permintaanku kau hanya harus tinggal di Assiria untuk sementara waktu sampai aku memberitahukan apa yang aku inginkan” ucap Raja Noah yang secara misterius menginginkan agar Eden menetap sementara di Assiria.
“Baiklah, itu hal yang mudah” tanpa ragu Eden menyanggupi permintaan Raja Noah.
Noah pun kemudian mengulurkan tangannya sebagai tanda telah membuat kesepakatan, “Aku butuh cap darah” (cap darah merupakan sebuah janji yang harus ditepati oleh seseorang yang memberikan darahnya pada tangan orang lain).
“Hal ini tidak ada harganya dibandingkan nyawa mereka” seraya menarik sebilah belati pada pinggangnya kemudian menggores telapak tangan dan meraih tangan Noah, keduanya berjabat tangan dan sesaat setelahnya muncul sebuah cahaya merah kemudian meredup hingga membentuk sebuah cincin ikatan yang ada pada jari Noah. Cincin tersebut adalh cincin semu yang nantinya akan digunakan sebagai penagih janji, cincin ini akan menghilang hanya jika Eden telah menepati janjinya pada Noah.
“Apa ini sudah cukup?” tanya Eden seraya melepas jabatan tangannya dari tangan Noah.
“Ya” seraya menganggukkan kepala.
“Baiklah kalau begitu aku harus pergi” berpamitan pada Noah seraya membalikkan badannya
“Apakah tidak lebih baik kau tinggal di sini saja?” tanya Noah mencoba menahan Eden agar tidak pergi.
“tidak, aku memiliki urusan lain, sampai jumpa di hari eksekusi dan jangan datang terlambat” kemudian berlalu pergi meninggalkan Noah dalam ruangan sendiri.
“padahal ada banyak pintu di Istana dan dia masih saja memilih keluar melalui jendela” seraya menggelengkan kepala dan sedikit tersenyum.
Begitulah perjanjian antara Noah dan Eden terjadi, demi keselamatan Rekan-rekannya Eden rela mempertaruhkan segalanya.
***
(Hari dimana Eden tiba di Altar Eksekusi)
Keributan terjadi saat ia datang Bersama sang Naga Api dihadapan masyarakat yang sedang menyaksikan eksekusi terhadap terpidana Adel, Lucas, dan Marco. Mereka saling berbisik atas kemunculan tak biasa ini dan kagum terhadap kegagahan sang Naga Api yang selama ini hanya mereka dengar.
Dari altar eksekusi Eden yang telah turun dari punggung Naga Api lantas berjalan menuju tempat Adel di siksa, seraya mengeluarkan sebilah pedang dari kejauhan ia menebaskan pedang tersebut dan muncul cahaya merah pekat memotong rantai dan tali pengikat yang mengekang Adel. Begitupun selanjutnya ia berbalik arah
menghadap Marco dan Lucas kemudian menebaskan pedangnya yang kemudian membuat ikatan keduanya terlepas begitu saja.
Tindakan Eden ini kemudian membuat semua orang terkejut dibuatnya, begitupun para petinggi yang ada di podium, bahkan panglima Sacheverell kesal dengan Eden. Tak berselang lama Sri Isaac Xavier datang dari arah belakang kursi podium yang membuat para pemimpin terkejut dan spontan berdiri untuk menyambut kedatangannya. Maklum saja dalam system kasta Anotherworld tokoh keagamaan yang telah mendapat gelar ‘Sri’ menduduki kasta tertinggi dalam system yang ada, dan hal tersebut bersifat mutlak. Satu persatu pemimpin negara komplotan dari panglima Sacheverell menunduk seolah memberi penghormatan dan mereka pun berusa meraih
tangan Sri Isaac Xavier agar mendapat berkah namun Sri Isaac Xavier segera menepis tangan-tangan yang berusaha menyentuh dirinya. Dengan raut wajah dingin Sri Isaac Xavier telah melempat tatapan tajam pada para pemimpin tersebut dan lantas berkata, “aku sudah menandai dahi kalian satu persatu dengan titik hitam
khusus, nantinya para penjaga tidak akan mengizinkan kalian menyebrangi white river” (white river Merupakan perbatasan yang harus dilewati setiap roh untuk menuju alam baka, jika mereka tertahan dan tidak dapat menyebrang itu berarti mereka akan terombang ambing dan tidak dapat menentukan nasib mereka kelak).
Mendengar hal ini sontak membuat kaki para pemimpin negara lemas dibuatnya, tubuh mereka bergetar hebat seraya memohon ampun bahkan mempertanyakan letak kesalahan mereka masing-masing hingga pantas diganjar dengan nasib buruk seperti itu.
“Apa salah kami pendeta yang Agung?” ucap Raja Ethelstanyang masih tak percaya atas apa yang mereka alami.
“Sudah tergambar jelas dari wajah kalian, orang-orang yang kikir dan hanya menginginkan harta benda hingga menghalalkan segala cara bahkan mencoba memanfaatkan kesatria terpilih dengan cara yang licik seperti sekarang” dengan suara rendah Sri Isaac Xavier menjawab pertanyaan tersebut.
“tapi adiknya merupakan penyusup bagaimana bisa kami membiarkannya begitu saja!” seru seorang pemimpin negara yang tidak terima karena disalahkan atas nasib buruk yang menimpa Adel.
“Sri, hamba mohon hentikan. Anda tidak perlu bertindak sejauh ini hanya untuk menghukum seorang manusia, kekuatan suci anda akan terbuang sia-sia” ucap Llyod yang berdiri di hadapan Sri Isaac Xavier berusaha mencegah tuannya agar tidak menyianyiakan kekuatannya.
Mendengar Lloyd membuat Sri Isaac Xavier lantas mengurungkan niatnya, ia lantas berjalan melewati para pemimpin kemudian duduk di kursi utama untuk ikut menyaksikan dari atas podium, “Ini adalah pertunjukan yang sesungguhnya” ucap Sri Isaac Xavier seraya mengibaskan jubah kemudian duduk.
panglima Sacheverell pun ikut meradang mendengar ucapan Sri Isaac Xavier, meskipun di sini dia berperan sebagai pemimpin eksekusi tetapi bila tokoh agama tertinggi di Anotherworld ikut dalam suatu urusan wilayah ia pun tidak dapat bertindak apapun karena Sri Isaac Xavier memiliki suara terbanyak sebagai seorang pemimpin keagamaan. Ia pun berusaha untuk tetap tenang menghadapi Sri Isaac Xavier dan memilih untuk duduk di kursi bagian belakang.
“saya harap anda tidak salah dalam membela seseorang Sri” ucap panglima Sacheverell yang direspon dengan senyum simpul oleh Sri Isaac Xavier tanpa menjawabnya.
“permisi tuan-tuan saya juga ingin menyaksikan” sapa Raja Noah yang datang dari arah belakang podium, ia sepertinya memberikan sebuah kejutan bagi para pemimpin yang hadi mengingat di wilayah Anotherworld hanya raja Noah dan Raja Louise yang tidak memberikan tanda tangan untuk surat keputusan mutlak yang sebelumnya di buat oleh panglima Sacheverell.
“ba..bagaimana anda..?” ucap Raja Richard terbata-bata karena melihat kedatangan Raja Noah tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“kenapa? Jangan terkejut seperti itu, saya jadi merasa bersalah” ucap Raja Noah seraya tersenyum simpul kemudian melewati barisan para Raja, lalu menyapa Sri Isaac Xavier kemudian duduk di kursi kosong, ia datang Bersama seorang asisten yang kini berdiri dan setia mendampingi Raja Noah.
Tak berselang lama Raja Louise pun datang ke podium Bersama Jose yang lagi-lagi membuat pemimpin negara komplotan panglima Sacheverell menciut dibuatnya.
“lihat, bukankah itu Sri Isaac Xavier?” seru seorang dari bangku penonton yang kembali menjadi pemicu kehebohan berikutnya setelah sebelumnya kedatangan Eden mencuri perhatian mereka.
“benar. Raja Noah dan Raja Louise juga hadir. Aku baru menyadarinya” seru yang lain mengimbuhi.
“apa yang akan terjadi? Mengapa mereka semua hadir?” tanya yang lain kebingungan atas kedatangan orang-orang penting di altar eksekusi.
“melihat bahwa kesatria terpilih melepas ikatan para tahanan sepertinya ada yang salah dengan eksekusi hari ini” ucap Alejandro yang tak sengaja mendengar percakapan dari beberapa orang di sebelahnya.
“hei.. jangan asal bicara, mereka adalah penjahat!” seru seorang dari bangku penonton
“jika aku asal berbicara mengapa Sri Isaac Xavier hanya diam saja menyaksikan kesatria terpilih melepaskan ikatan dari para penjahat? Bukankah ini berarti Sri mendukung Tindakan kesatria terpilih?” Alejandro menjelaskan fakta berdasarkan kejadian yang ia lihat saat ini hingga membuat beberapa orang yang mendengarkannya bergumam seolah mereka mulai ragu dengan eksekusi hari ini.
Di tengah Altar eksekusi Eden berdiri menancapkan pedang Naga yang ia miliki kemudian berseru dengan suara yang lantang hingga mengambil alih perhatian masyarakat yang hadir di kursi penonton.
“Aku ingin meluruskan suatu kesalahpahaman yang sedang terjadi. Aku datang dan berdiri dihadapan kalian bukan sebagai kesatria terpilih melainkan sebagai Eden Josephine Lewis, seorang kakak sekaligus seorang parter bagi rekan-rekanku”
“Ada sesuatu yang ingin aku buktikan mengenai adikku, untuk itu aku akan menunjukkan sesuatu” seraya memanggil busur panah keluar kemudian meletakkan sebuah gulungan yang ia arahkan pada Sri Isaac Xavier. Gulungan itu terbang melesat dan sampai pada Sri tepat tertangkap oleh tangan kanannya.
“seingatku seseorang tidak akan bisa masuk ke wilayah Anotherworld bila ia tidak lahir di wilayah ini. Akan tetapi adikku yang berasal dari luar wilayah telah berhasil masuk tanpa terluka sedikitpun” mendengar pernyataan ini membuat para penonton riuh, mereka kemudian menyadari bahwa yang diucapkan oleh Eden benar adanya.
“lantas, dengan gulungan di tangan Sri Isaac Xavier, seseorang yang paling suci di wilayah ini dan juga sebuah cermin dua arah milih pendeta Damian Xavier, aku akan membuktikan bahwa Adikku bukanlah seorang penyusup” pentonton kembali riuh setelah mendengar nama-nama yang disebutkan oleh Eden karena tidak ada satupun
orang yang berani terhadap dua tokoh keagamaan paling dihormati di wilayah Anotherworld.
“jika aku salah maka aku siap menerima konsekuensi hukuman yang berlaku di wilayah Anotherworld” kembali berseru dengan mempertaruhkan dirinya sendiri dalam perkara hukum yang sedang membelit adiknya tersebut.
“lalu, mengenai kedua rekanku ini. Akan ada tamu spesial yang akan hadir, tamu ini berkaitan dengan beberapa orang yang ada di atas podium” seraya menoleh ke arah podium memberikan senyum simpul ke arah panglima Sacheverell dan komplotannya.
Tepat setelah memberikan pengumuman Damian Xavier datang menggunakan gate miliknya, sebuah cahaya biru keputihan mengikuti kemunculan dirinya. Ia berjalan menuju ke arah Eden yang di sambut dengan anggukan kepala oleh Eden seolah memberikan tanda.
Kedatangan Damian Xavier membuat penonton berdecak kagum karena Damian adalah sosok pendeta suci yang jarang menampakkan diri dihadapan banyak orang bahkan ia hanya muncul 1 tahun sekali itupun bila ada orang beruntung yang dapat mengenali wajahnya. Bagi para penonton melihat Damian hadir merupakan sebuah berkah yang tak disangka-sangka, mereka bahkan menyatukan tangan seraya berdoa mengiringi Langkah Damian di tengah Altar eksekusi.
Kini giliran Damian Xavier menunjukkan kekuatannya, ia pun memanggil cermin dua arah ke altar eksekusi, pemanggilan ini diiringi dengan kilatan petir yang menggelegar kencang, suaranya sempat membuat orang-orang ketakutan karena cermin ini hanya bisa muncul atas keinginan Damian. (cermin arah atau cermin suci merupakan
sebuah benda pusaka yang digunakan untuk membuktikan kebenaran mengenai seseorang. Cara membuktikannya seseorang akan masuk ke dalam cermin, bila cermin memunculkan warna sesuai aura maka orang tersebut tidak bersalah. Namun bila cermin tersebut memunculkan warna hitam maka ia bersalah dan resikonya orang tersebut tidak akan bisa keluar dari dalam cermin selamanya).
“Adikku akan berjalan masuk kedalam cermin, merah adalah warna auraku, jika warna merah yang muncul maka adikku merupakan bagian dari wilayah ini, akan tetapi jika warna yang muncul hitam maka ia bersalah dan akan terjebak selamanya di dalam cermin tersebut. Aku siap menerima hukuman bila hal buruk itu terjadi” seraya melihat ke arah bangku penonton berusaha agar masyarakat mempercayai cara yang akan ia gunakan untuk membuktikan bahwa adiknya tidak bersalah.
Damian yang berada tidak jauh dari cermin dua arah pun mempersilahkan agar Adel masuk, mendapati kode yang ditunjukkan oleh Damian lantas membuat Adel beranjak dari kursi hukuman. Selangkah demi selangkah ia jejaki, dengan kaki gemetar dan darah yang menetes dari beberapa bagian bekas penyiksaan, namun tak menghalangi
tekad kuat Adel terus berusaha sampai ke cermin dua arah. Dari kejauhan melihat adiknya yang tertatih berusaha berjalan agar sampai ke cermin dua arah tentu saja membuat hatinya hancur, ingin rasanya ia membantu namun Damian menghalangi Eden, karena langkah demi Langkah harus dilalui Adel sendiri, penilaian dari cermin dua arah atau cermin suci bergantung dari seberapa besar tekad dan usaha dari Adel. Tidak ada pilihan lain bagi Eden selain hanya berdiri sembari berharap bahwa sang adik akan segera sampai dan berhasil melewati cermin.
Para penton yang menyaksikan pun menjadi tak enak hati karena terlalu memojokkan Adel sebelumnya, karena bila dilihat dengan seksama Adel tidak lebih dari seorang gadis remaja dengan tubuh mungil nan lemah. Kaki-kaki kecilnya yang terluka parah terus berusaha untuk melangkah membuat Sebagian orang memilih untuk memalingkan pandangan mata mereka karena tidak tega dengan perjuangan yang tengah dilakukan oleh Adel. Menit demi menit pun berlalu pada akhirnya Adel pun sampai di depan cermin suci, ia melangkah masuk tanpa ragu, demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan demi membuktikan bahwa perjuangan sang kakak
untuk membuktikan identitasnya membuahkan hasil. Sesaat setelah Adel masuk cahaya pun muncul, sangat silau hingga membuat semua orang yang menyaksikan menutup mata mereka.