LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Target



Musim dingin dua tahun yang lalu, masa di mana siswa tingkat akhir mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasioal. Mereka berdua sangat giat belajar dan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, suatu ketika di hari menjelang sore Eden merasa lelah karena belajar sehingga membuatnya beristirahat di rooftop gedung sekolah. Sambil memakan bekal, Eden duduk sendiri melamunkan banyak hal yang tentunya tidak penting dan tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran. Nathan yang tahu bahwa Eden selalu datang ke


tempat ini setiap menjelang sore pun mengikutinya dan mencoba untuk mengagetkan, namun gagal, “Kau tidak terkejut sama sekali?” tanya Nathan kemudian duduk di sebelah Eden seraya mengambil roti isi yang ada di kotak makan Eden.


Seraya menghela nafas kemudian mengigit roti Eden pun menjawab, “Sepertinya aku ingin menikah saja”


“Hei! Jaga ucapan mu! Kau kan masih di bawah umur” Nathan pun memarahi Eden.


“Aku bermimpi lagi” seraya menoleh ke arah Nathan.


“Kali ini apa lagi? Kau sudah sering memimpikan hal-hal aneh seperti Naga lalu sekarang apa lagi?” sedikit sinis menanggapi Eden.


“Menikah. Aku mimpi menikah, pria itu mengenakan pakaian klasik, mungkin dia seorang Pangeran” kembali melahap roti yang ada di tangannya.


“Bodoh. Mana ada pangeran yang mau menikah dengan mu” seraya memukul pelan dahi Eden.


“Hei! Aku ini masih puber tahu! Jadi wajar saja bila aku memimpikan hal-hal semacam itu, pangeran kuda putih dan semacamnya, semua remaja perempuan pasti pernah mengidamkan sosok pria seperti itu” berbalik


membentak Nathan, namun tidak terlalu terdengar jelas karena Eden berbicara dengan mulut terisi makanan.


“Kalau aku Pangerannya apa kau mau aku nikahi? Hei ayolah menikah denganku saja” ucap Nathan seraya tersenyum manis seperti seekor anak kucing yang lucu.


“oh benarkah? Jadi Nathan kami ini seorang Pangeran? Pantas saja banyak siswi yang menyukaimu, ah iya aku tahu itu karena kau adalah Pangeran di sekolah ini” ucap Eden seolah meledek Nathan kemudian memalingkan wajahnya.


“Hei, aku serius. Jawab pertanyaanku tadi. Menikahlah denganku, pasti kau tidak akan menyesal” sedikit merengek meminta jawaban dari Eden.


“Jika kau benar-benar seorang Pangeran maka aku akan menikahi seorang Raja, agar kita bisa menjadi saudara” sambil tertawa kecil setelah memberikan jawaban untuk Nathan.


Mendengar hal ini membuat Nathan sedikit kecewa karena ia sudah memberitahukan identitas diri yang sesungguhnya pada Eden, namun tidak ditanggapi serius oleh Eden.


(Istana malam ini)


“Ahh aku pusing, aku sangat pusing sekali. Otak ku tidak kuat untuk menerima percakapan mereka” ucap Eden seraya memegang kepala kemudian berjalan menuju balkon di lantai 2, ia sepertinya ingin menenangkan diri.


Sesampainya di balkon, Eden kemudian menggerutu, ia terus mengeluhkan pesta hari ini, saking kesalnya ia sampai melepas sepatu hak tingginya dan terus berjalan mendekat pada tepian balkon.


“Untung saja pemandangan malam ini sangat indah, jika tidak sudah ku hancurkan Istana ini” sedikit berteriak kemudian menoleh ke belakang dan tak sengaja mendapati Alejandro sedang melihat ke arahnya, sepertinya sudah sedari tadi ia mengikuti Eden.


Mendapati temannya sedang berdiri menatapnya membuat Eden lantas tersenyum kemudian melepaskan sepatu hak tinggi yang ia pegang dan lantas berjalan mendekat pada Alejandro, begitupun Alejandro yang berjalan mendekati Eden. Saat keduanya sudah dekat Eden pun melompat meraih pundak Alejandro untuk


memeluknya, begitupun sebaliknya, Alejandro meraih pinggang Eden dan memberikan pelukan erat. Setelah sekian lama terpisah pada akhirnya keduanya dipertemukan kembali di wilayah asing ini dengan identitas asli yang melekat pada keduanya, Alejandro sebagai Pangeran dan Eden sebagai kesatria terpilih.


Beberapa saat berlalu, keduanya kini sedang berdiri berdampingan melihat pemandangan malam kota The Great Aztec sambil bernostalgia mengingat-ingat kenangan semasa mereka berada di kota Thalsa.


“Kau sangat hebat karena bisa pergi sampai sejauh ini Eden, bahkan dengan gelar yang melekat padamu saat ini, itu benar-benar sangat luar biasa” ucap Alejandro melontarkan pujian terhadap Eden.


“Entahlah, ini harus dikatakan hebat atau tidak, akan tetapi berkat takdir yang telah digariskan aku berulangkali selamat dari maut” seraya menghela nafas menjawab Alejandro.


“Maut?” sedikit bingung dengan cerita Eden.


“Iya maut, pertama kali saat harus melewati segitiga bermuda perahu yang ku tumpangi hancur karena ombak dan membuatku tenggelam. Aku mengira saat itu merupakan hari terakhirku akan tetapi aku salah, saat terbangun aku sudah berada di The Great Aztec bersama Jose, Cecilia dan Chris. Lalu kedua kali saat


bertarung dalam arena pertandingan, lawanku yang bernama Kate menggoreskan belati yang dilapisi racun paling mematikan di wilayah ini, sampai membuatku koma selama beberapa hari, tapi pada akhirnya aku tetap selamat dan sekarang Kate sudah menjadi rekan dalam kelompokku, garis besarnya mereka yang pernah melawan ku dalam arena pertandingan saat ini masuk dalam kelompok kami. Ketiga, seorang wanita bangsawan yang berambisi ingin menjadi ratu berusaha untuk mencelakaiku, bahkan ada campur tangan dari bibi mu yang bernama Rosemary, tapi aku kembali selamat atas bantuan dari rigala Artic dan juga tiga orang yang kini telah menjadi rekan dalam kelompok kami. Keempat, beberapa hari yang lalu aku hampir kehilangan kendali atas tubuhku karena Naga Api berusaha menguasainya, Istana Matahari dan taman pribadi Raja menjadi saksi bisu kengerian waktu itu. Semua kejadian semacam ini telah aku alami setahun


belakangan, dan aku rasa karena takdir belum terlaksana sehingga nyawaku selalu terselamatkan” tutur Eden menceritakan secara lengkap kejadian-kejadian yang sempat ia alami selama tinggal di wilayah Anotherworld.


“Pasti sangat menakutkan melalui itu semua sendiri? Kau yang terbiasa hidup tenang di kota Thalsa harus mengalami kejadian semacam ini pasti sangat membuatmu terkejut” ucap Alejandro seraya mengelus perlahan rambut Eden.


“Awalnya seperti itu, tapi lama kelamaan aku semakin berani untuk menghadapi segala marabahaya yang akan datang menghampiriku” ucap Eden kemudian menoleh ke arah Alejandro, “Ngomong-ngomong sepertinya aku sudah tidak bisa memanggil nama Nath lagi, haruskan aku memanggil mu ‘Alejandro’, ‘Ale’ atau ‘Leandro’?”


“Yang terakhir kedengarannya bagus, ‘Leandro’ aku suka nama panggilan ini” seraya tersenyum melempar tatapan hangat ke arah Eden.


“Oh ya, aku penasaran bagaimana bisa kau bertemu dengan kakak? Maksudku bagaimana kalian bisa sampai pada tahap ini?” tanya Alejandro yang merasa penasaran pada hubungan Eden dan Raja Louise.


“Ceritanya panjang, bagian itu akan ku ceritakan lain kali” sambil berkedip memberi kode pada Alejandro.


“Hei.. sekarang saja, aku sangat penasaran” sedikit merengek agar Eden mau menceritakannya.


“Sudah kubilang tidak sekarang, nanti kita tidak akan memiliki alasan untuk bertemu, lagi pula Louise itu orang yang pencemburu” ucap Eden yang kemudian mendekat dan berbisik pada Alejandro.


“Siapa yang cemburu? Aku bisa mendengar mu” seru Raja Louise seraya berjalan menghampiri Eden dan juga Alejandro yang sedang berdiri di ujung balkon. Mendengar seruan dari berasal dari arah belakang membuat Eden dan Alejandro spontan menoleh.


“Tuh kan, belum apa-apa dia sudah muncul dalam sekejap” kembali mendekatkan kepala pada Alejandro kemudian berbisik.


“Kalian sedang berbisik tentang apa? dan bagaimana kalian bisa saling mengenal?” tanya Raja Louise penasaran dengan hubungan antara Eden dan juga Alejandro.


Mendengar hal ini lantas membuat Eden menggandeng tangan Alejandro menggunakan tangan kirinya, “Kenalkan dia adalah sahabatku, kami berada di sekolah yang sama saat masih di kota Thalsa” tesenyum manis dan dengan rasa bangga memperkenalkan Alejandro pada Raja Louise sebagai sahabatnya.


“Karena anda tidak pernah bertanya, ayo Leandro kita masuk ke aula perjamuan” ucap Eden yang menjawab cuek pertanyaan Raja Louise kemudian berjalan melewatinya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena Eden meraih tangan kanan Raja Louise menggunakan tangan kanan kemudian menggandengnya sama seperti ia menggandeng Leandro.


“Ah.. dasar, kalau begini aku tidak jadi cemburu” ucap Raja Louise seraya tersenyum setelah diperlakukan sama seperti ia memperlakukan Alejandro. Mendapati keharmonisan hubungan keduanya membuat


Alejandro sempat tersenyum namun terlihat dipaksakan, sebenarnya ia sedikit merasa cemburu, akan tetapi ia sadar dengan batasannya.


“Jadi kapan perjamuannya selesai?” tanya Eden pada Raja Louise.


“Mungkin sekitar larut malam” jawab Raja Louise singkat.


“Sudah kuduga akan begini” ucap Eden yang terdengar sedang mengeluh.


“Apa kau mengantuk?” tanya Raja Louise yang sedari tadi masih menatap Eden.


“Ya sedikit, tapi aku tidak boleh pergi begitu saja kan, bagaimana dengan para petinggi negara?” dengan raut wajah malas Eden menjawab pertanyaan Raja Louise.


“Aku sudah menemui mereka semua, dan ya seperti biasa mereka ingin ikut ambil bagian dalam misi mu di masa depan” jawab Raja Louise menjelaskan secara singkat obrolan mereka selama Eden tidak ada.


“Begitu ya, aku sih tidak masalah asalkan mereka ikut turun tangan sendiri tanpa melibatkan orang lain” mendengar ucapan Eden membuat Raja Louise tiba-tiba berhenti, “Kenapa? Apa ucapan ku keterlaluan?” tanya Eden yang penasaran mengapa Raja Louise tiba-tiba berhenti.


Sebaliknya, justru Raja Louise mengacungi jempol atas kata-kata yang terucap dari mulu Eden, “Bagus, aku suka syarat mu itu” sambil tersenyum pada Eden.


“Louise, kau mengagetkan ku saja, kukira kau akan marah” seraya mengoyakkan tangan Raja Louise Eden pun mengeluhkan sikap aneh yang ditunjukkan barusan.


Setelah percakapan barusan ketiganya pun berjalan memasuki aula tempat perjamuan berlangsung, suasana tampak sangat ramai, para tamu tampak menikmati acara yang diadakan malam ini. Begitupun Eden yang


semakin merasa tenang ketika Alejandro mendampinginya selama acara berlangsung, baginya bersama seorang sahabat dekat jauh lebih baik saat melalui apapun dan seperti itulah yang sedang Eden rasakan.


***


Di Istana Vie Rose, Adel sedang menikmati pemandangan langi dari balkon ruang utama di lantai dua hal ini dikarenakan ia masih dibawah umur sehingga tidak dapat ikut serta pada acara perjamuan malam ini, tanpa sadar Lucas telah menemani Adel dengan cara berdiri di belakang sambil memperhatikannya memandangi langit.


“Sudah 2 jam kau terus beridiri seperti itu, apa kau tidak lelah?” tanya Lucas sambil berjalan mendekat kemudian duduk pada kursi yang ada di bagian kiri pintu.


“Astaga! Kau mengagetkan ku saja” seru Adel seraya menyentuh dada karena terkejut mendengar Lucas menyapanya secara tiba-tiba. “Benarkah sudah selama itu? Aku bahkan tidak sadar, kedua kakiku bahkan terasa baik-baik saja. Imbuh Adel yang lantas berjalan mendekat pada Lucas kemudian duduk berhadapan dengannya.


“Lihatlah, bahkan cookie yang tadinya renyah sekarang sudah menjadi lembek” sambil memakan cookie yang ada di meja lalu menuangkan teh pada gelas kosong di sebelah teco kemudian menyeruputnya. “Bahkan


tehnya sudah dingin” ucap Lucas setelah selesai menyeruput habis teh yang ia tuangkan dalam gelas.


“Bahkan meskipun dingin kau tetap menghabiskannya, seharusnya biarkan saja.” ucap Adel sinis pada keluhan Lucas.


“Ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau berada di pesta perjamuam?” tanya Adel seraya menyeruput teh dingin yang sudah tertuang di dalam gelasnya.


“Aku hanya malas, tidak ada hal menarik yang bisa dilakukan oleh kami kaum berkasta rendah dalam pesta semacam itu” ucap Lucas seraya mengorek telinga kanan menggunakan jari telunjuk kemudian membuang


kotorannya, ia terlihat sangat tidak ingin membahas pesta perjamuan.


“Lalu bagaimana dengan yang lain?” tanya Adel sambil meletakkan gelasnya di atas meja.


“Justin, Marco, Kate, Diana dan Laura memang hadir di pesta perjamuan tapi sebentar lagi mereka akan kembali, pesta perjamuan tidak semenarik yang orang ceritakan.  Asal kau tau saja, mereka yang hadir dalam pesta perjamuan tidak benar-benar datang untuk menikmati acara, melainkan bertransaksi, entah para orang tua berusaha menjodohkan anak mereka dengan bangsawan lain, dan kebanyakan mereka datang hanya untuk membentuk relasi juga mencari muka dihadapan penguasa. Seandainya yang saat ini mendampingi Raja Louise adalah putri seorang bangsawan maka akan ada banyak orang yang mendekat pada ayah dari si putri bangsawan untuk membuat relasi dengannya. Tetapi karena yang duduk mendampingi Raja Louise adalah Eden maka mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekat. Takhta Ratu adalah tempat paling tidak aman bagi seorang perempuan, pantas jika Raja Louise dengan sengaja menempatkan Eden di sana, karena meskipun tanpa dukungan dan relasi ia telah memiliki pondasi yang sangat kuat karena takdirnya sebagai kesatria terpilih.”


“Tapi bukankah kakak tetap akan bisa dilengserkan?” tanya Adel tiba-tiba menyela cerita Lucas.


“Mana berani mereka menentang pilihan Raja Louise, bahkan siapapun yang sudah di undang dalam acara ini dengan sengaja tidak hadir aku bisa menjamin keesokan harinya gelar mereka akan di copot. Kau tahu,


kekuatan Raja Louise sebagai seorang pemimpin bukanlah main-main. Ia berhasil menunjukkan bagaimana caranya mengatasi bangsawan rakus yang mencoba bermain licik melalui politik dengan cara menghabisi mereka secara langsung, itulah mengapa ia dikenal sebagai Raja yang berkuasa dengan tangan dingin. Dibandingkan pemimpin negara lain, Raja Louise adalah yang terkuat sampai saat ini. Bahkan jika dia mau mungkin bisa saja dia menaklukan seluruh wilayah dibawah kepemimpinannya, tetapi seperti yang kau lihat, beliau sama sekali tidak tertarik untuk memperluas wilayah” jelas Lucas menutup ceritanya.


“Kenapa begitu? Kenapa tidak memperluas wilayah? Padahal beliau bisa melakukannya” ucap Adel yang merasa janggal karena Raja Louise tidak memperluas wilayahnya.


“Karena merepotkan, memimpin The Great Aztec saja sudah merepotkan apalagi mempin seluruh wilayah. Dulu di negara ini tempat bersarang para tikus berjubah. Mereka menghancurkan lawan melalui politik, aku


sangat kagum ketika Raja Louise berhasil menekan tikus-tikus itu. Aku sangat berharap bahwa tidak ada yang akan menargetkan Eden"


***


(Waktu yang sama di Aula pejamuan)


Saat tengah asyik menikmati acara bersama Leandro, tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri keduanya, bukan putri bangsawan melainkan pria paruh baya yang tampak seperti preman, akan tetapi dari pakaian yang mereka kenakan terlihat seperti petinggi suatu negara, karena kain sutra emas tidak pernah berbohong mengenai harga.


“Selamat malam nona, perkenalkan saya Paul, menteri perhubungan dari negara Cemos dan mereka merupakan bawahan saya” ucapnya ramah menyapa Eden.


“Selamat malam tuan Paul dan pengikutnya” jawab Eden singkat dengan senyum yang dipaksakan, hanya ujung bibir yang naik namun hatinya tidak tulus bahkan Eden sempat melemparkan tatapan mata tajam pada


orang dihadapannya.