LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Altar Eksekusi 2



Setelah berhasil masuk ke dalam ruang nol, Sri Isaac Xavier lantas melihat-lihat sekeliling, ia mengamati seriap detil yang diciptakan oleh Damian seolah ingin mencari-cari kekurangan dari ruang yang diciptakan tersebut. Sayangnya setelah hampir satu jam berkeliling, Sri Isaac Xavier tidak mendapati celah untuk mengkritik Damian karena ruang nol buatannya ini nyaris sempurna.


“Sepertinya tempat ini terlalu sempurna di mata anda” celetuk Damian sedikit memberi sendiran pada Sri Isaac Xavier yang terlihat sangat jelas berusaha mengkritik karyanya.


“Eheemmm..” seraya berjalan mendekati Eden dan tidak menghiraukan ucapan Damian, “Eden, Tunjukkan hasil latihan mu padaku, apakah sepadan dengan lamanya kau berada di sini” imbuh Sri Isaac Xavier seraya menoleh ke arah Damian seolah ia tengah memberikan teguran atas situasi di luar sana yang tidak diketahui oleh Eden. Sri


Isaac Xvier telah menganggap Damian sembrono karena merahasiakan keadaan adik dan rekan Eden saat ini, padahal informasi ini sangat penting bagi Eden. Mungkin tujuan Damian baik, akan tetapi bila terlambat sedikit saja bisa jadi saat keluar dari ruang nol nanti Eden tidak dapat bertemu dengan adik dan kedua rekannya karena mereka telah di eksekusi. System kerja waktu di ruang nol jauh berbeda dengan dunia luar, 1 hari di ruang nol sama dengan 7 hari di luar sana dan Eden telah melewati waktu kurang lebih 4 minggu dalam ruang nol. Waktu ini tentu saja terasa sangat lama bagi mereka yang berada di luar karena itulah Sri Isaac Xavier yang datang secara langsung ke ruang nol setelah sebelumnya surat yang ia kirim tak mendapat balasan dari Damian, ia ingin melihat sejauh mana Eden sudah menguasai kemampuannya dan berharap bahwa pelatihan yang diberikan oleh Damian membuahkan hasil.


“Eeyyy.. lama bagaimana maksud anda? saya baru 3 hari berada di sini, ini masih sangat sebentar” seraya tersenyum dan mengibaskan telapak tangan Eden menjawab Sri Isaac Xavier.


Mendengar hal ini tentu saja sempat membuat Sri Isaac Xavier bereaksi dengan mengernyitkan alis, kemudian melirik ke arah Damian karena menyadari bahwa Eden tidak tahu mengenai system kerja waktu di ruang nol.


“Kenapa anda bereaksi demikian?” tanya Eden setelah melihat ekspresi wajah Sri Isaac Xavier kemudian menoleh ke arah Damian dan sayangnya Damian malah menjawab seolah ia tidak tahu apa-apa.


“Anda berdua aneh sekali” seraya memiringkan kepala kemudian menegakkannya lagi, ia kini berjalan ke tengah-tengah sungai melalui beberapa bebatuan dan segeralah ia sampai di sana. Eden kemudian menutup mata, dan mulai berkonsentrasi, cahaya merah perlahan keluar dari tubuhnya yang semakin lama cahaya tersebut semakin


membesar. Cahaya ini semacam kekuatan dari dalam tubuh yang sengaja di keluarkan dan akan semakin membesar bila menyerap energi disekitarnya. Saat di rasa cukup Eden lantas membuka mata, bola matanya kini berubah yang pada awalnya berwarna biru menjadi merah persis seperti mata seekor naga.


Melihat Eden dari kejauhan membuat Sri Isaac Xavier terdiam, ia tidak bereaksi apapun saat melihat Eden seperti saat ini, seolah ia masih belum puas dengan hasil latihan yang sangat lama tersebut.


“It’s show time” ucap Damian seraya menjentikkan jari tangan kanannya dan sesaat setelahnya perubahan pun terjadi.


Energi Eden yang awalnya terpancar berwarna merah kini berubah menjadi biru, diikuti dengan warna bola mata yang juga berubah menjadi kebiruan. Pada dasarnya kekuatan naga berasal dari elemen api, dan dalam elemen api ada level panas tertinggi, merah level satu, biru level dua dan hitam utuk tingat panas paling tinggi. Melihat bahwa kemampuan pengendalian Eden sudah pada tingkat lanjutan membuat Sri Isaac Xavier sedikit tersentak dan sepertinya ia sudah cukup puas dengan latihan yang diberikan oleh Damian.


“empat minggu, tentu saja dia sudah berada pada level lanjutan” ucap Damian spontan yang malah membuat Sri Isaac Xavier menoleh kemudian seolah akan memberikan pukulan pada Damian, akan tetapi Damian berusaha membela dirinya agar ia tidak mendapat pukulan dari pamannya itu, “Tolong jangan pukul, terakhir kali anda memberikan pukulan hingga membuat saya terpental sampai gunung Tarsa. Anda tahu benar bahwa kekuatan kita saling bertolak belakang dan pada dasarnya karena terlahir sebagai ‘pelengkap’ dari diri anda membuat saya tidak bisa sekalipun membalas pukulan anda. Karena jika saya membalas hal ini sama saja dengan melawan hukum semesta sehingga bisa merusak tatanan alam yang telah anda ciptakan sebelumnya” seraya meringkuk seolah tidak ingin mendapat pukulan dari Sri Isaac Xavier.


Mendengar hal ini membuat Sri Isaac Xavier menurunkan tangannya, “Dasar, pandai sekali kau memberikan alasan, baiklah kau selamat dari pukulan tapi lain kali tidak ada hal semacam ini lagi. Jangan pernah bermain-main dengan nyawa seorang manusia, apalagi mereka adalah orang terdekat Eden. Renungkanlah, kau tahu benar kesalahan mu sudah nyaris melewati batas” ucap Sri Isaac Xavier memberikan teguran pada Damian.


“Baik, saya mengerti Sri, saya siap untuk menerima hukuman dari anda” Damian menjawab Sri Isaac Xavier dengan wajah tertunduk.


“mulai sekarang kau harus menghilangkan sifat kekanak-kanakan mu itu, usia mu sudah lebih dari 70 tahun, kau sudah mulai dewasa”


“kekanakan? padahal beliau sudah berusia 100 tahun lebih juga masih kekanakan” gumam Lloyd seraya sedikit melirik pada Sri Isaac Xavier.


“Kau sedang mengutuk ku?” tiba-tiba menoleh ke arah Lloyd seolah-olah Sri Isaac Xavier bisa mendengar isi hati seseorang.


Hal ini sontak membuat nyali Lloyd menciut ia kemudian mencoba mengalihkan perhatian, “lihatlah nona Eden sangat hebat Sri” seru Lloyd seraya menunjuk ke arah Eden dan Sri Isaac Xavier pun spontan menoleh, sejenak ia terdiam seolah merasa kagum sekaligus bangga atas kemampuan Eden yang telah meningkat dengan pesat.


“sudah saatnya bagi dia untuk kembali” ucap Sri Isaac Xavier seraya menoleh ke arah Damian. “dan jelaskan padanya situasi saat ini, ini adalah tanggungjawab mu” imbuh Sri Isaac Xavier yang lantas melambaikan tangan pada Eden mencoba untuk memanggilnya agar menyudahi sesi pertunjukan kekuatannya itu.


***


Di suatu tempat, lokasi Rosemary dan Adam Lewis bersembunyi, kini tampak ada yang berbeda dari wujud Rosemary, tubuhnya mengeluarkan lendir dan terlihat seperti bersisik di beberapa bagian. Hal ini dikarenakan ilmu sihir yang sedang ia kembangkan untuk memanggil makhluk mitologi kuno. Pada awalnya ia ingin memanggil Hydra dengan caranya sendiri akan tetapi efek samping dari ilmu sihir yang ia kembangkan malah memaksanya untuk membuat perjanjian dengan makhluk mitologi lain yaitu Ekhidna. Perjanjian yang sudah terjalin selama bertahun-tahun lamanya ini berisi tentang Ekhidna yang akan membantu Rosemary membangkitkan Hydra tapi dengan syarat Rosemary harus mau menjadi wadah atau raga baru bagi Ekhidna. Tentu saja demi memuluskan aksinya Rosemary setuju dengan hal tersebut, Ekhidna akan mendominasi dalam tubuh Rosemary pada masa-masa tertentu terutama saat purnama ketika Ekhidna harus bergantin kulit sekaligus mengisi perutnya yang lapar.


Pada saat seperti inilah biasanya ia akan mengurung diri di sebuah ruangan tertentu yang dijaga ketat oleh Adam Lewis sendiri, selain itu Adam Lewis juga yang memberikan makanan secara langsung pada Ekhidna melalui raga Rosemary. Biasanya ia akan meminta mangsa utuh dan masih hidup seperti hewan liar di hutan, namun sudah 3 tahun belakangan ini Ekhidna meminta makan manusia yang masih hidup. Karena merasa tidak memungkinkan untuk mengajak orang datang ke lokasi persembunyian mereka maka Adam Lewis memilih untuk menipu orang miskin di sekitar kota dan memberikan imbalan dengan alibi Adam Lewis sedang mencari seorang pengasuh untuk mengurus ibunya yang sedang sakit. Imbalan pun tidak main-main, jumlahnya sangat menggiurkan yaitu 20000 koin emas untuk bekerja selama satu bulan. Sontak imbalan ini membuat beberapa orang yang mendengar tertarik bahkan sampai membuat mereka berebut untuk medapatkan perkerjaan yang dijanjikan oleh Adam Lewis tersebut. Hingga pada akhir nya selama 3 tahun terakhir Adam Lewis membuat perjanjian dengan calon pekerja yang akan dijadikan tumbal bahwa mereka akan dipekerjakan di tahun berikutnya bila kontrak dengan pekerja yang sebelumnya telah habis. Begitulah asal mula bagaimana Adam Lewis dan Rosemary dapat memenuhi keinginan Ekhidna untuk memangsa seorang manusia.


“Ini sangat menjijikkan dan juga melelahkan” seru Rosemary dari dalam ruangan sesaat setelah ia selesai memangsa seorang manusia.


“Haruskah..”


“Tidak! Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini” menyanggah ucapan Adam Lewis seraya membersihkan darah yang ada di sekitar mulutnya.


“Belum sepenuhnya, separuh tubuhku masih berupa ular” jawab Rosemary yang kemudian keluar dari sudut yang gelap menuju tengah ruangan yang agak terang.


“Sifat Emosional mu berasal dari ular siluman itu, kau harus lebih berhati-hati jangan sampai dia menguasai tubuh mu sepenuhnya” ucap Adam Lewis memperingati Rosemary agar tetap bisa menjaga control tubuhnya.


“ya, aku mengerti.. hanya tinggal satu langkah lagi untuk menjadikan wujud Ekhidna sempurna seutuhnya.. darah wanita itu” ucap Rosemary yang merujuk pada darah Eden.


“apa kau yakin car ini akan berhasil?” tanya Adam Lewis yang kembali meragukan Rosemary.


“Kali ini percayalah kita akan berhasil. Aku sudah mempersembahkan jiwaku untuk Ekhidna, dengan bantuannya kita pasti bisa membangkitkan Hydra, menggabungkannya dengan Ekhidna kemudian menguasai dunia ini” seraya tersenyum simpul dengan bola mata yang mirip seekor ular, Rosemary memberikan tatapan penuh keyakinan. ia kemudian membelah diri dan mengeluarkan seekor ular cobra yang meudian merayap keluar melalui lubang ventilasi di sebelah kanannya. entah kemana ular itu akan pergi, yang jelas Rosemary mengirimnya karena telah merencanakan sesuatu yang lain.


***


“mereka yang berada di altar eksekusi telah berbuat kejahatan yang tidak bisa ditoleransi, mencari informasi secara ilegal dan juga menyusup masuk ke wilayah yang bukan tanah kelahirannya” imbuh panglima Sacheverell yang membuat riuh para hadirin yang mendengarkan pidatonya, mereka bertanya-tanya mengenai kalimat terkahir yang terucap dari bibir panglima Sacheverell mengenai seorang penyusup. Seraya menunjuk Adel, panglima Sacheverell kembali melanjutkan pidatonya, “Perempuan yang duduk di atas kursi penyiksaan, dia adalah seseorang yang tidak pantas untuk kalian lihat, bahkan meskipun dia mati tubuhnya tidak akan diterima oleh tanah di wilayah ini” imbuh panglima Sacheverell yang membuat suasanya di kursi penonton semakin memanas dan kalimat umpatan kemudian keluar dari mulut semua orang, mengutuk Adel karena ia dianggap sebagai penjahat sesungguhnya.


Saking marahnya sehingga membuat masyarakat yang hadir kemudian melempari Adel dengan bermacam-macam benda, yang ada disekitar mereka. benda-benda yang dilempar pun ada yang berupa makanan basah, ranting kecil, bahkan batu pun di lempar ke arah Adel dan beberapa sempat mengenai bagian tubuh Adel hingga membuatnya sedikit terluka. Penghinaan besar-besaran terhadap Adel kini sedang berlangsung, Lucas dan Marco yang saat ini sedang berada di tempat eksekusi pemenggalan pun menjadi sangat marah melihat perlakuan semena-mena yang seharusnya tidak dialami oleh Adel. Mereka sempat memberontak dan berusaha melepaskan ikatan kencang yang melilit tubuh mereka akan tetapi semua usahanya sia-sia saja karena algojo yang akan mengeksekusi keduanya menekan tubuh mereka ke tanah sampai tidak bisa bergerak sama sekali.


Teriakan kesal, marah dan kata-kata umpatan keluar dari masyarakat yang hadir kala itu,  “Bunuh saja penyusup


itu!”


“Dia adalah pembawa sial bagi Anotherworld!”


“Dasar Jal*ng sialan!”


Mereka saling bersautan mengeluarkan umpatan yang ditunjukan pada Adel.


Adel yang mendengar hal ini tampak ketakutan dan hanya bisa terdiam, untuk pertama kali dalam hidup ia mendapatkan hujatan bertubi-tubi yang sangat menyakitkan, tubuhnya bahkan bergetar hebat sesaat setelah mendengar kata makian yang tiada henti terdengar.


“kami, Dewan Keamanan Wilayah telah mengambil keputusan untuk menyiksa penyusup itu sampai mati” seru panglima Sacheverell yang kemudian mengankat tangan kanan seolah memberikan komando untuk mulai memberikan penyiksaan pada Adel.


Melihat tanda ini membuat salah seorang algojo yang berada di dekat Adel mulai memberikan penyiksaan mulai dengan menyelipkan kain tebal pada mulut Adel untuk menahan suaranya agar tidak terdengar, lalu mengikatkan tali berduri yang terbuat dari besi tajam, ia mengikatkannya cukup kencang hingga membuat kulit kaki Adel tergores hingga mengeluarkan darah.


Baru penyiksaan pertama sudah membuat Adel menitihkan air mata, ia ingin berteriak akan tetapi suaranya tertahan oleh segumpal kain yang menyumbat mulutnya. Panglima Sacheverell yang melihat dari atas podium merasa sangat senang, ditambah ekspresi Lucas dan Marco yang juga merasa tersiksa karena tidak bisa menolong Adel, saking senangnya bahkan membuat panglima Sacheverell sedikit tertawa kecil. Merasa cukup dengan


penyiksaan kecil ini membuat panglima Sacheverell kembali memberikan aba-aba untuk menyudahi sesi kursi penyiksaan. Akan tetapi ia memberikan aba-aba kedua untuk melakukan penyiksaan lanjutan yang membuat si algojo melepas ikatan tali berduri dan juga melepas ikatan tangan Adel pada kursi, lantas si algojo menggiring Adel ke tengah altar kemudian membuat Adel berlutut.


Menyaksikan hal ini tentu saja membuat masyarakat yang hadir bersorak, mereka meneriakkan “hukum cambuk” secara serentak yang membuat panglima Sacheverell membuat panglima Sacheverell menyeringai. inilah yang ia nantikan, hukum mayoritas. Hukum mayoritas merupakan sebuah hukuman  yang diputuskan berdasarkan permintaan masyarakat, hukum ini berlaku ketika ada eksekusi terbuka seperti saat ini dan masyarakat berperan sebagai hakim yang bisa memutuskan sebuah hukuman bagi seorang penjahat berdasarkan suara mayoritas


saat hukuman terjadi dan bersifat mutlak. Hukuman ini biasanya akan membuat para pelaku kejahatan jera karena cambukan dari algojo tidak akan berhenti sampai orang tersebut benar-benar sekarat bahkan mati. Dari awal panglima Sacheverell seolah tidak berniat untuk membebaskan Adel karena semua yang berlangsung hari ini


telah ia rencanakan sebelumnya. di bangku penonton Pangeran Arthur, Pangeran Alejandro, dan juga Justin lantas mengepal erat tangan masing-masing, mereka merasa panglima Sacheverell sudah menyalahi aturan dengan memberi hukuman cambuk padahal sudah jelas bahwa pengasingan adalah hukuman maksimal yang seharusnya diterima oleh Adel.


Suasana semakin riuh karena penonton yang terus berteriak, mereka tidak sabar untuk menyaksikan hukuman cambuk ini dilaksanakan, tinggal menunggu komando dari panglima Sacheverell. Melihat antusiasme penonton membuat panglima Sacheverell yang duduk di podium lantas berdiri hingga semua penonton dapat melihatnya,


tangannya terangkat ke atas dan aba-aba telah resmi diturunkan. Pangeran Arthur, Justin dan Pangeran Alejandro telah bersiap turun ke altar untuk mengacaukan hukuman kali ini. Algojo telah siap memberikan cambukan pertama bagi Adel, ia mengayunkan tangan ke belakang dan…


“Booooommmmmm” sebuah suara yang amat keras mencegah hukuman itu terjadi, suara ini berasal dari sisi sebelah utara altar, dari sanalah kumpulan asap bercampur debu mengepul ke udara dan perlahan menghilang hingga menunjukkan sesosok besar yang tampak samar. Langkah kaki berat diikuti suara geraman membuat siapa saja yang mendengar merasa merinding dibuatnya. Dialah sang Naga Api, berjalan dengan gagah menampakkan wujud pada semua orang yang tentu saja bersama Eden yang duduk di atas punggungnya.