LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Perjamuan Minum Teh



Hari ini merupakan hari perjamuan minum teh diadakan, bertempat di kebun Mansion Lily, Beatrice mengundang perwakilan bangsawan kelas atas yang sekiranya dapat menjalin relasi menguntungkan di masa depan dengan dirinya. Ia sengaja mengundang Eden dalam perkumpulan untuk menunjukan sifat asli Eden yang terbiasa berada dalam medan pertempuran tidak layak menjadi Ratu The Great Aztec.


Semua tamu undangan telah hadir mengenakan busana terbaik mereka dan seperti biasa mereka duduk sambil berbicang mengenai kekayaan dan status sosial masing-masing keluarga. Diantara tamu undangan yang hadir ada Emely Brooks dan  Franciss Morgan yang telah diketahui sebelumnya kedua keluarga ini pernah memiliki masalah sengketa kepemilikan budak Diana dan Laura yang kini menjadi pengikut setia Eden. Meskipun mereka sudah tidak tertarik mengenai posisi pendamping raja namun rasa penasaran membawa mereka datang untuk melihat secara langsung si upeti yang sempat menjadi bahan perbicangan di seluruh penjuru The Great Aztec, tentu saja sebagai pembanding secantik dan se-elegant apa putri dari negara kecil yang dengan berani datang menyerahkan diri tanpa ada masalah apapun.


Seperti yang mereka duga, Beatrice tampak biasa saja dan tidak semenarik perempuan bangsawan di The Great Aztec, namun dari segi sikap dan perilaku ia tak tertandingi, begitu terlihat elegant, hal ini menunjukkan bahwa ia telah dididik dengan baik selama tinggal di negaranya.


“Saya tidak menyangka bahwa anda begitu anggun dan elegan, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang” Ucap Melisa anak dari bangsawan Clorince yang mulai memuji penampilan Beatrice, pujian merupakan hal yang biasa dilontarkan dalam setiap acara pergaulan kelas atas, meskipun pujian kebanyakan tidak tulus tapi telah menjadi budaya dalam acara tersebut.


“Iya benar, saya pun demikian” yang lain seolah tidak ingin kalah memuji tuan rumah perjamuan kala itu.


“Ahh anda tidak perlu melebih-lebihkan, saya tidak pantas menerima pujian sebaik itu, mengingat putri bangsawan di The Great Aztec jauh lebih cantik dan anggun dibandingkan saya” beatrice pun balik merespon pujian yang diberikan dengan baik agar menjadi lebih akrab dengan hadirin yang ia undang.


“Ngomong-ngomong apakah masih ada yang belum datang? Kenapa anda seolah sedang menunggu seseorang?” Melisa yang penasaran mulai bertanya karena sedari tadi pesta minum teh belum di mulai dan hanya berbincang kecil saja tidak seperti pesta teh pada umumnya.


Mendengar pertanyaan ini membuat Beatrice tersenyum simpul, ia memang menunggu seseorang menyanyakan hal itu, “Sebenarnya pesta minum teh kali ini sedikit berbeda dari pesta minum teh kebanyakan, karena saya secara khusus mengundang tamu spesial” sambil menunjukkan wajah sumringah Beatice memberikan penjelasan singkat pada tamu yang hadir.


“apakah baginda akan datang?” Pertanyaan ini spontan keluar dari mulut salah satu tamu yang hadir dan membuat yang lain semakin penasaran.


“saya sudah meminta beliau untuk datang, namun karena sibuk sayangnya baginda tidak bisa hadir, lalu sebagai gantinya saya mengundang nona Eden dalam perjamuan kali ini” Beatrice berbicara lemah lembut dan terdengar manis seolah apa yang ia ucapkan adalah kenyataan padahal itu hanyalah sebuah omong kosong belaka, ia ingin melihat ekspresi wajah para nona bangsawan ketika nama Eden disebutkan. Dari sekian banyak hanya dua orang yang berekspresi seolah tak suka yaitu Emely Brooks dan  Franciss Morgan, sedangkan yang lain terlihat biasa, mereka begitu pandai menjaga ekspresi wajah tenang dihadapan Beatrice.


“ternyata nona Eden juga hadir” ucap melisa sambil tersenyum namun raut wajahnya menjadi sedikit kaku.


“sejujurnya diantara kami belum pernah ada yang bertemu dengannya kecuali nona Emely Brooks dan  nona Franciss Morgan, bukankah begitu?” seru seorang tamu yang hadir sambil melirik kearah kedua bangsawan tersebut.


“saya sudah mendengar mengenai masalah itu, anda berdua tidak perlu khawatir karena tujuan diadakannya pesta teh kali ini adalah untuk memperkenalkan diri saya kepada bangsawan di The Great Aztec, kedepannya mohon bantuan dari nona-nona sekalian” tak ingin membuat Emely Brooks dan  Franciss Morgan merasa tidak nyaman, Beatrice pun mengalihkan pembicaraan, sekaligus ia bersikap rendah diri agar terlihat baik di mata para undangan yang hadir dalam pesta pertamanya.


“saya dengar dia tidak pernah melakukan pergaulan kelas atas, bukankah itu sebuah kewajiban bagi kaum bangsawan, apalagi dia akan menduduki posisi Ratu. Relasi adalah hal yang penting untuk mencapai posisi


tertinggi, benarkan nona-nona sekalian?” Beatrice mulai menyinggung kebiasaan Eden yang bertolak belakang dengan kebiasaan bangsawan kebanyakan.


“jika dia hadir, bukankah akan merepotkan?” ucap Riana Macmillan yang menanggapi pendapat Beatrice dengan sedikit canggung. “kami merasa nyaman dengan kelompok pergaulan atas tanpa kehadiran nona Eden. Bukan berarti kami mengucilkannya tetapi karena dunia kami dan dunianya berbeda. Anda mengerti maksud ku bukan?” imbuh Susane yang ingin menegaskan bahwa hadir atau tidaknya Eden dalam sebuah perjamuan tidak akan berdampak apapun.


“sejujurnya kami sudah tidak tertarik dengan posisi selir atau pendamping Baginda Raja, karena nona Eden unggul di segala bidang, kami datang karena penasaran pada keberanian anda untuk menjadi upeti.. apakah anda memiliki maksud tertentu putri ? padahal bila dilihat anda pun sudah kalah telak dari nona Eden” tiba-tiba Melisa yang sedari tadi bertutur kata ramah ketika berbincang dengan Beatrice kini telah berbalik menyerangnya, sungguh hal yang di luar dugaan karena Beatrice tidak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu. Rasa gugup mulai menghampiri Beatrice, terlihat jelas dari raut wajah bahwa ia


sedang memikirkan kata yang tepat untuk mengelak. Saat akan menjawab tiba-tiba barisan pelayan memasuki tempat perjamuan minum teh sambil membawa sebuah nampan emas yang tertutup kain merah, seolah ada benda spesial yang sengaja ditutupi.


Mohon izin, saya adalah Lorenzo, pemilik toko perhiasan Pearl, sebelumnya secara khusus saya diminta untuk membuatkan hadian dari permata yang sangat langka di wilayah Anotherworld.


“kalau boleh tau, siapa yang sudah repot-repot menyiapkan hadiah seperti ini tuan?” tanya seorang tamu undangan yang hadir karena penasaran, seperti yang diketahui bahwa toko perhiasan Pearl merupakan toko


perhiasan terbaik di The Great Aztec karena perhiasan yang di ukir dan di bentuk oleh toko tersebut memiliki kualitas terbaik.


Sambil tersenyum bangga Lorenzo memberikan kode pada para pelayan untuk membuka kain merah yang menutupi hadiah istimewa ini, Lorenzo tidak pernah mengecewakan dalam setiap pekerjaannya, terbukti bahwa batu langka bisa ia sulap menjadi satu set perhiasan mewah yang terdiri dari cincin, kalung, gelang dan juga anting. Selain itu terdapat ukiran berbeda pada setiap set hadiah sehingga menimbulkan kesan elegan dan unik pada hasil kerja Lorenzo ini. Satu set perhiasan diantar kehadapan tamu yang hadir tidak terkecuali


“waahhh ini sangat cantik” Ucap seorang bangsawan mengagumi hadiah perhiasan yang diberikan oleh Eden karena benar-benar tampak cantik. “benar, aku baru pertama kali melihat batu yang bisa disulap penjadi perhiasan secantik ini” sahut yang lain seolah setuju dengan pendapat sebelumnya.


“yaa, kita tidak pernah bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja kan, terbukti bahwa hanya dari sebuah batu bisa menjadi perhiasan yang sangat cantik seperti ini” ucap Melisa seolah memberi sindiran pada Beatrice yang mencoba menggiring opini buruk terhadap Eden.


(seminggu sebelum pertemuan)


Eden secara khusus telah mengirim surat pada Melisa Clorince, surat tersebut berisi perintah pengangkatan dirinya sebagai pengawas rumah tangga Istana, nantinya Melisa akan bertugas menyeleksi dan melatih para


pelayan yang masuk ke dalam Istana. Posisi ini merupakan posisi tertinggi yang bisa didapatkan oleh seorang perempuan Bangsawan karena merupakan kehormatan bisa berperan langsung dalam mengurus Istana. Selain itu Eden memintanya menunjuk beberapa orang untuk mendampinginya bertugas karena Eden sepenuhnya telah memberikan posisi tersebut pada Melisa. Melihat kebaikan hati Eden memberikan posisi ini membuat Melisa tersentuh, tidak sia-sia selama ini ia selalu menggiring opini mengenai Eden dalam setiap kesempatan dipergaluan kelas atas yang ia hadiri, hasilnya kini banyak bangsawan yang sudah tidak


ingin mencoba menyingkirkan Eden dari posisinya saat ini, ia juga mengingatkan rekan-rekan pergaulan kelas atasnya mengenai kasus yang menimpa Liliana karena beberapa hari yang lalu ia telah resmi dicopot gelar bangsawannya kemudian diasingkan untuk mengurus camp perbatasan sebagai pelayan. Setelah kedatangan Eden ke The Great Aztec, Melisa merasakan dampak perubahan luar biasa yang ditimbulkan, awalnya kaum perempuan yang dipandang lemah dan tidak memilki kemampuan kini mulai dipandang karena bakat masing-masing. Karena itulah Melisa bila diberi kesempatan untuk melayani Eden maka ia akan siap melaksakan tugas tersebut dan tugas itu datang hari ini membuat Melisa merasa tersanjung atas kepercayaan Eden terhadap dirinya.


(di taman Mansion Lily, tempat perjamuan minum teh diadakan)


Setelah selesai menjelaskan mengenai perhiasan Lorenzo pun pamit undur diri, tak berselang lama Eden pun datang bersama Raja Louise, sungguh di luar dugaan membuat para tamu yang hadir lekas berdiri dan menyambut kedatangan Baginda Raja, tak lupa mereka pun memberi salam serentak. Kebohongan Beatrice terungkap, ia seselumnya menyebutkan bahwa Baginda sedang sibuk namun Baginda datang sendiri dengan ke dua kakinya mengantar Eden menuju tempat perjamuan minum teh. Pasangan ini benar-benar terlihat harmonis, mereka tak canggung untuk menunjukkan kemesraan satu sama lain, meskipun jarang muncul


bersama di depan publik namun sudah menjadi rahasia umum di dalam Istana bahwa Baginda Raja lah yang terus menerus menempel pada Eden meskipun sudah berulang kali Eden berusa menghindar. Meminta Raja Louise untuk mengantar merupakan bagian dari rencana Eden, hal ini ia utarakan sesaat setelah Raja Louise


mengajaknya menikah. Tujuannya tidak lain agar ia menetapkan posisi sebagai satu-satunya wanita yang ada di hati Raja Negara ini, sekaligus memperingatkan Beatrice akan posisinya yang hanya sebagai upeti. Sebelumnya Eden tidak pernah tertarik maupun penasaran pada kehidupan Raja Louise, semenjak Beatrice muncul entah kenapa ia merasa cemburu tetapi enggan mengakui padahal ini terlihat jelas oleh radar orang-orang di sekitar Eden, terutama Cecilia.


“salam dari kami Yang Mulia” ucap tamu yang hadir secara serempak memberi salam pada Raja Louise yang di balas dengan satu kali anggukan kepala.


“maafkan atas keterlambatan saya, hari ini saya mengisi kelas berpedang di sekolah militer, saya harap para lady bisa mengerti kondisi saya” Eden berbicara dengan lemah lembut dan sopan menjelaskan mengenai alasan keterlambatan dirinya, ia tidak ingin berbasa-basi tentang kondisinya dan memilih untuk terus terang. Wajah cantik dan gaun anggun yang ia kenakan menambah pesona tersendiri yang terpancar jelas dalam diri Eden, meskipun baru pertama kali ia sama sekali tidak terlihat canggung dan justru membuat bangsawan teralihkan fokusnya, padahal bintang utama hari ini seharusnya Beatrice tapi Eden telah merebut perhatian sekitar.


Raja Louise kemudian mendekat ke telingan Eden, ia berbisik-bisik dan hanya mereka berdua yang tau apa yang sedang dibicarakan, “ehmm.. baiklah, semoga hari anda menyenangkan” ucap Eden merespon bisikan Raja Louise yang kemudian berlalu pergi meninggalkannya dalam perkumpulan. Rasa nyaman yang ditunjukan oleh Raja Louise tidak di buat-buat, hal itu terlihat nyata di mata semua orang.


“bagaimana bisa Baginda seromantis ini”, ucap Riana Macmillan yang masih tertegun melihat perhatian Baginda Raja terhadap Eden, “iya benar, sejujurnya saya belum pernah melihat Baginda bersikap seperti itu”


sahut yang lain seolah setuju pada pendapat sebelumnya. Eden memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan seputar raja, sebisa mungkin ia menghindar karena acara ini diadakan oleh Beatrice sudah seharusnya topik pembicaraan mengenai Beatrice dan bukan dirinya. Sempat merasa cemburu tetapi Eden bukanlah tipe


orang yang suka menjatuhkan harga diri orang lain dihadapan banyak orang, ia berkaca dari kejadian Liliana, meskipun Liliana bersikap jahat pada dirinya, namun Eden tidak sungguh-sungguh menginginkan liliana di hukum seperti saat ini.


“terimakasih atas undangan putri Beatrice, saya merasa terhormat karena bisa hadir di tengah-tengah pergaulan kelas atas yang sebelumnya tidak pernah saya datangi, sejujurnya ini pertama kali bagi saya jadi perlu banyak persiapan.. oh iya hamba harap para lady menyukai hadiah kecil yang saya berikan” cara bicara Eden yang lembut dan sikapnya yang sopan membuat tamu yang hadir merasa bersalah karena dulu pernah membicarakan hal yang tidak baik tentang dirinya. Justru hari ini Eden menunjukkan kelasnya sebagai bangsawan, bahwa meskipun ia bekerja di lapangan tetapi etika dasar seorang bangsawan justru sangat terlihat seperti ia telah berlatih lama.


“ahhh tidak, justru saya merasa terhormat karena nona bisa menghadiri undangan yang saya berikan ditengah jadwal anda yang sangat sibuk” tidak ingin terlihat buruk, Beatrice pun memasang senyum dan menyanjung Eden.


“karena semua tamu undangan telah hadir mari kita mulai perjamuan minum tehnya” ucap Beatrice kemudian menepuk tangan satu kali untuk memberi kode agar para pelayan masuk menghidangkan menu perjamuan hari ini. Teh chamomile merupakan teh yang dipilih sebagai perjamuan utama, di The Great Aztec jenis teh ini menjadi favorit kaum bangsawan, satu persatu tamu undangan menyeruput teh yang tersaji kemudian mengungkapkan rasanya sambil membual mengenai politik dan pendidikan. Eden hanya mendengarkan bualan itu tanpa ingin menanggapinya, “aahhhhhh... maafkan saya” seru seorang pelayan membuat suasana jadi hening sejenak.


Si pelayan telah menumpahkan teko berisi teh panas ke gaun Eden sehingga menimbulkan noda yang cukup terlihat, apalagi Eden mengenakan Dress berwarna cerah.


‘kerja bagus’ gumam Beatrice, ia sepertinya telah merencanakan tindakan ini sebelumnya. ‘jika kau pamit undur diri sekarang, ini akan menjadi penghinaan bagi tuan rumah tapi jika kau bertahan bukankah akan sangat memalukan duduk bersama bangsawan kelas atas dengan noda sebesar itu?’ senyum simpul terlihat jelas dari bibir Beatrice, ia menantikan tindakan mana yang akan dilakukan oleh Eden untuk membuktikan bahwa seperti apa sifat aslinya.