
“Eden... Eden..” terdengar suara berat seorang pria yang secara terus menerus memanggil nama Eden, peristiwa ditemukannya Eden dalam kondisi terendam air pagi ini sempat menggegerkan Istana Vie Rose dan
mengundang rasa khawatir rekan-rekan Eden begitu juga Raja Louise. Dokter Kerajaan telah dipanggil untuk memeriksa keadaan, hasilnya Eden dalam kondisi baik dan sedang terlelap tidur, mendengar diagnosa dokter tak lantas membuat Raja Louise percaya begitu saja, ia terus meminta agar dokter memeriksa secara
teliti kebenaran kondisi Eden saat ini, namun hasilnya sama saja seperti diagnosa sebelumnya.
Setiap satu jam berlalu Raja Louise mencoba membangunkan Eden, dan ini sudah ke 4 kali ia memanggil nama Eden berharap dia akan segera siuman dan menjelaskan kebenaran yang terjadi semalam sampai membuatnya terlelap dalam bak mandi berisi penuh Air.
“Eden.. Eden.. Eden...” sambil memegang tangan Eden kemudian membelai lembut rambut panjang yang terurai Raja Louise berusaha membangunkan Eden, usaha kali ini berhasil, sayup-sayup mata Eden perlahan terbuka untuk memfokuskan pengelihatan sekitar, ia mendapati Raja Louise sedang duduk di atas ranjang sambil memegang tangannya, bingung dengan keberadaan Raja Louise membuat Eden bertanya, “Kenapa Yang Mulia bisa berada di sini?” sambil mengusap-usap mata kemudian bangun perlahan dan duduk.
“Syukurlah kau sudah siuman” memeluk erat kemudian melepas lantas mengelus perlahan rambut Eden kemudian menyentuh pipinya yang lembut.
“Sadar? Apa maksud Yang Mulia? Saya hanya sedang tidur” sedikit menguap berbicara pada Raja Louise kemudian ia lekas mengingat kejadian semalam dan membuat tubuhnya membatu sesaat, ditambah lagi beberapa rekannya sedang berada di dalam kamar dengan menunjukkan ekspresi khawatir.
“Tunggu dulu, aku ingat sesuatu, baiklah akan ku jelaskan,, kalian jangan memasang wajah seperti itu,kalian terlihat sangat menyeramkan..” menarik bibirnya memaksa agar bisa tersenyum dan membuat rekannya berhenti khawatir.
“Kita akan tahu kondisi Eden setelah utusan dari kuil suci datang.. beberapa hari yang lalu telah datang surat pemberitahuan mengenai pendamping khusus dari kuil suci.. aku harap kalian tidak terlalu mengkhawatirkan nona Eden, karena semua kejadian ini pasti ada sebab dan juga cara mengatasinya” Jose memberitahukan mengenai kedatangan utusan kuil suci pada seisi ruangan, ia sengaja melakukan hal itu agar rekan Eden tidak terlalu khawatir hingga membuat pekerjaan masing-masing terhambat. Setelah mendengar hal ini rekan-rekan yang berada di dalam ruangan tidak memiliki pilihan lain selain menunggu utusan dari kuil suci untuk menjelaskan kondisi yang dialami oleh Eden, mereka pun memilih untuk pergi keluar dan membiarkan Eden
beristirahat.
“sayang sekali ya.. padahal beberapa hari lagi aku ingin mengajak mu pergi keluar..” dengan nada suara lesu Raja Louise memberitahukan niatan untuk mengajak Eden keluar Istana akan tetapi belum selesai berbicara Eden langsung menutup mulut Raja Louise dan menjawab dengan lantang, “Saya ikut!” serunya bersemangat, namun tangan kecil yang menutupi mulut Raja Louise pun disingkirkan segera, “Tidak!” membalas jawaban Eden dengan nada yang lebih tinggi seolah tidak mengizinkannya pergi.
“Aku akan ikut, harap dicatat dalam agenda ku tuan Jose” kembali menutup mulut Raja Louise dan kali ini lebih rapat sampai Raja Louise tidak bisa menyingkirkan tangan mungil Eden, ia lantas menyerah dan menganggukkan kepala setuju bila Eden ikut. Mendapati hal ini membuat Eden segera menarik tangannya dengan cepat agar Raja Louise tidak jengkel dan marah atas perlakuan tidak sopan dirinya terhadap Raja negara ini, tak habis akal Eden lantas melempar senyum membuat hati Raja Louise luluh dan berhasil meredam amarahnya.
***
Di suatu tempat yang tidak diketahui lokasinya, Adam Lewis dan Rosemary sedang menyusun sebuah benda, tersusun lengkap dengan ukiran mantra pada lima pilar yang berdiri tegap sepertinya Rosemary ingin membuat semacam portal. Uniknya mantra yang tertulis pada setiap pilar mengeluarkan warna ungu gelap yang redup, “Apakah berhasil?” tanya Rosemary pada Adam Lewis yang mengawasi sedikit jauh dari pilar.
“Aku rasa belum, kita seperti telah melewatkan sesuatu. Kemarilah dan lihat cahaya yang keluar tampak redup” melambaikan tangan memanggil Rosemary untuk mendekat.
“Sial” sambil menggigit ujung kuku Rosemary tampak gelisah tepat setelah melihat karyanya yang lagi-lagi gagal, hal ini sudah kali ke 10 ia tidak berhasil menyelesaikan portal semenjak keberhasilan Eden membuat
ikatan dengan Naga Api.
“Di mana letak kekeliruannya?! Bagaimana ini kita terus menerus gagal” Adam Lewis pun ikut gusar, ia mondar mandir ke sana kemari sambil sesekali mengelus kepala dan sedikit menjambak. Terlihat jelas keduanya tampak sangat frustasi karena selalu gagal.
“Tidak, kita harus tetap mencobanya” seru Rosemary yang kembali membulatkan tekadnya
“Mencoba katamu! Dasar J*lang sialan!!”seru Adam Lewis mulai mengumpat dan mengucapkan kata kasar karena merasa tidak senang dengan sikap pantang menyerah Rosemary.
Tak terima dengan gertakan Adam Lewis membuat Rosemary langsung mencekik leher Adam Lewis kemudian mendorongnya ke tanah hingga tubuhnya terjatuh, meskipun seorang perempuan Rosemary adalah seorang penyihir hitam yang memiliki kekuatan luar biasa besar.
“Jaga ucapan mu, kau harus ingat siapa yang memimpin di sini!” suara Rosemary terdengar berat dan dalam, ia terlihat begitu marah pada Adam Lewis dan dengan sengaja memberinya peringatan kecil. Tak mampu melawan Adam Lewis terus berusaha menyingkirkan tangan Rosemary yang mencengkram erat lehernya, ia serasa mau mati dibuatnya, “sa..sad..darr..lah” terbata-bata mengingatkan Rosemary agar menghentikan kekuatan gelap yang hampir mengendalikan seluruh tubuhnya, untung saja Rosemary cepat sadar dan lekas melepas cengkraman tangannya terhadap Adam Lewis.
“Uhuuk... uhuukkkk...” Adam Lewis berusaha mengendalikan nafasnya yang sempat hilang karena cekikan Rosemary, dengan santainya tanpa rasa bersalah Rosemary bangkit kemudian mendekati pilar-pilar portal yang ia buat.
“itu... mungkinkah kita harus mengambil bagian tubuh orang yang mengunci Hydra?”
Sambil terus menata nafas Adam Lewis mengutarakan pendapatnya mengenai kemungkinan lain yang tertinggal sebagai bagian penting dalam pembuatan portal.
“mengambil?” terhenti dan sedikit bingung mendengar ucapan Adam Lewis.
“iya, seperti kau ketika ingin mencelakai seseorang, bukankah kau membutuhkan benda milik orang itu? Bisa saja ada perjanjian tertentu yang dibuat dengan sebuah pengorbanan atau semacamnya”
“Mungkinkah??” Rosemary segera teringat ada 2 kemungkinan mengenai orang yang telah menyegel hydra, bisa saja itu Sri Isaac Xavier atau Eden. Tak berlama-lama Rosemary segera mengambil tindakan dengan mengirim pesan pada Charlotte menggunakan burung pos agar ia bisa menyelidiki siapa yang terhubung dengan segel Hydra.
***
Di luar Istana, Cecilia menemani Adel berjalan-jalan di pusat Kota, keduanya sengaja pergi pagi buta agar tidak ketahuan Eden karena itulah mereka tidak mengetahui kejadian yang menimpa Eden saat ini.
“Eiiiyyyyyy.... ini belum ada apa-apanya, kita harus terus berkeliling sampai semua sudut terlewati” penuh semangat dan berapi-api Adel menolak keinginan Cecilia.
Tidak bisa dipungkiri memang benar bahwa Adel memiliki stamina yang kuat dan tidak kenal lelah, beberapa hari tinggal di Istana membuat Adel merasa suntuk dan tidak memiliki semangat hidup, hal ini karena ia diwajibkan mengikuti kelas bangsawan yang disiapkan secara khusus oleh Eden. Sempat memprotes jadwal ketat yang harus ia jalani membuat Eden mengizinkan Adel untuk libur 1 hari dalam seminggu dan hari ini tepatnya ia mendapatkan libur karena itu Adel tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebelum sampai ke tempat tujuan Adel meminta Cecilia membelikan beberapa bungkus roti untuk memberi makan burung merpati, sampailah keduanya pada sebuah alun-alun yang berada tepat di pusat kota. Alun-alun Saint Mark Y Valiente khas dengan altar yang sangat luas dan juga menara yang menjulang tinggi dengan jam dinding yang besar berada di setiap sisi, bagian bawah dikelilingi oleh kolam yang cukup luas dan jalan kecil yang hanya diperuntukan petugas yang menjaga Alun-alun ini.
“Ku dengar nama Saint Mark Y Valiente merupakan nama seorang pahlawan di The Great Aztec, apakah beliau nenek moyang pendiri wilayah ini?” tiba-tiba menanyakan arti dibalik nama Saint Mark Y Valiente yang digunakan sebagai nama Alun-alun.
“Begitulah nona, hamba sempat mendengar bahwa nama Saint Mark Y Valiente sempat tidak boleh diucapkan oleh siapapun kecuali Raja karena merupakan nama orang paling dihormati di wilayah ini” menjelaskan secara singkat sejarah nama Saint Mark Y Valiente pada Adel.
“Lalu siapa Raja yang mengubah peraturan tersebut sehingga kaum biasa bisa menyebut nama Alun-alun ini?” Adel lanjut bertanya karena penasaran, ia lantas mengambil sepotong roti kemudian melemparkan serpihannya agar burung merpati datang mendekat.
“Bukan Raja, orang yang berhasil membuat nama Alun-alun ini di sebut adalah nyonya Anna Lewis, ibu dari nona Eden.. hamba dengar setelah berhasil dalam misi beliau mendapatkan sebuah kartu istimewa dan hanya ada 1 di wilayah Anotherworld, beliau kemudian meminta agar semua orang boleh menyebut nama Alun-alun ini, Valiente merupakan nama kesatria pertama yang menjaga portal pelindung, karena beberapa kejadian di masa lalu sempat membuat sejarah keluarga nona Eden disembunyikan.” Cecilia menjelaskan cerita yang ia ketahui mengenai Alun-alun Saint Mark Y Valiente dan tak lama kemudian burung merpati mulai berdatangan mematuk serpihan roti yang ditabur oleh Adel.
“Ternyata orang-orang di sini masih begitu kolot ya, mereka sangat ketat pada aturan dan lebih mementingkan ego sampai-sampai melarang hal-hal yang tidak merugikan mereka” Adel pun mengeluh setelah mendengar cerita dari mulut Cecilia. Saat tengah asik memberi makan burung merpati, tak sengaja seseorang menyenggol pundak Adel hingga membuatnya berteriak kesakitan, “aww..” serunya membuat si pejalan kaki yang sedang mengobrol dengan rekannya pun menoleh pada Adel.
Bukannya meminta maaf si pejalan kaki justru membelalakkan mata seolah terkejut mendapati sosok Adel berdiri tepat dihadapannya, begitu pula Adel yang semakin lama diperhatikan, wajah dari orang yang menabaraknya mirip dengan orang yang ia kenal, “paman Parker?” Adel memanggil sosok pria dihadapannya namun si pria buru-buru meminta maaf, “Maafkan saya sudah teledor menabrak anda,, saya permisi dulu” terburu-buru pamit sambil terus menundukkan kepala.
Tidak menyerah Adel pun terus memanggil nama orang yang kemungkinan ia kenal tersebut, “Paman Parker, itu pasti anda” seru Adel berusaha mengejar, namun Cecilia dengan cekatan mencegah Adel agar tidak pergiM lebih jauh lagi
“Nona..! Nona Adel! berhenti, anda bisa saja salah orang.” sambil memegang erat lengan Adel dan menahannya agar berhenti berjalan.
“Nona, anda harus mengendalikan emosi anda, bisa saja wajah tuan tersebut hanya mirip sekilas dan mungkin saja tuan tadi shock karena nona berbicara dengan nada tinggi, anda tahu bahwa di Kota ini masih menggunakan tata krama berbeda dengan dunia luar. Wajar jika beliau langsung pergi” Cecilia terus berusaha menenangkan Adel agar dia tidak menuruti prasangka terhadap orang lain.
“Kau benar Cecilia, aku terlalu gegabah..” ucap Adel dengan suara yang terdengar lirih..
“Kalau begitu mari kita lanjutkan jalan-jalannya sebelum sore menjelang”
Setelah itu keduanya pergi melanjutkan acara jalan-jalan di pusat kota, waktu hari ini mereka habiskan dengan berbelanja banyak barang-barang untuk Adel dan tidak lupa mereka berdua juga makan di restoran terenak dan terlezat pada siang hari kemudian dilanjutkan dengan acara berbelanja lagi, begitu seterusnya hingga sore hari keduanya pun kembali ke Istana.
“Kakak!!” seru Adel memanggi Eden, tetapi tidak terdengar ada jawaban yang lantas Adel membuat Adel memeriksa seluruh kamar tidur bahkan sampai ke kamar mandi dan ruang ganti, namun ia tidak mendapati keberadaan sang kakak padahal ia sengaja kembali lebih awal untuk memberikan beberapa hadiah dan juga ingin menanyakan beberapa hal, wajah kecewa ditunjukkan Adel tampak jelas terlihat.
Tak berselang lama salah seorang pelayan datang dan memberitahukan keberadaan Eden saat ini, “nona, apakah anda sedang mencari nona Eden?” tanya seorang pelayan yang masuk saat akan mengantarkan baju bersih yang telah dilipat rapih.
“Apa kau tau di mana kakak?” tanya Adel sambil meletakkan beberapa tas belanjaan di atas ranjang Eden.
“Pagi tadi Yang Mulia datang kemari kemudian mengajak nona Eden pergi, hamba rasa nona tidak akan kembali malam ini” mendengar penjelasan dari salah seorang pelayan membuat Adel semakin murung, tidak tega melihat Adel menjadi sedih membuat Cecilia lantas menghiburnya dengan mengalihkan pada topik
lain.
“Nona, bukankah ini saatnya?” sambil mengedipkan mata dan membuat Adel tersenyum senang.
“Cecilia, kau tahu benar keinginan ku” Ucap Adel diikuti dengan suara sorakan kecil dan sedikit gerakan menari menggambarkan bahwa keduanya akan bersenang-senang malam ini. Maklum saja, sebelumnya Adel dilarang untuk melakukan hal sesuka hati, apalagi Eden selalu mengawasinya dengan ketat.
***
(Istana Matahari)
Malam ini giliran Eden harus tinggal sementara di Istana Matahari yang merupakan Istana utama tempat tinggal Raja Louise, awalnya Eden sempat menolak akan tetapi tinggal di Istana Matahari merupakan syarat yang diajukan oleh Raja Louise bila Eden ingin ikut keluar esok hari, selain itu Raja Louise juga mengkhawatirkan kondisi Eden sehingga ia ingin mengawasi Eden agar tidak mengulangi kejadian seperti tadi malam.
Eden berjalan sambil terus menggerutu karena tidak ingin datang ke Istana Matahari, ia menundukkan kepala karena rasa ragu yang terus menyelimuti pikirannya, “Dari semua tempat kenapa harus datang ke sini sih..” gumamnya seraya menghela nafas dengan bibir sedikit manyun karena tidak senang, langkahnya bahkan tiba-tiba terhenti membuatnya menghadap pada pilar di sebelah kiri, sambil membentur-benturkan kepala Eden kembali bergumam, “Kenapa harus ke sini, ahhh bodoh, kenapa harus mau diajak ke tempat ini sih”. “Hentikan” ucap seorang pria sambil meletakkan telapak tangan kanan pada pilar untuk menghadang agar Eden tidak terus membenturkan kepalanya pada pilar.
Melihat kepalanya tertahan membuat Eden lantas menoleh, orang yang menahannya adalah Raja Louise, ia lantas menghela nafas kemudian berdiri tegap menghadap ke arah Raja Louise namun masih tetap mempertahankan raut wajah malas dan bibir manyun kemudian melanjutkan langkahnya hingga sampai ke dalam kamar Raja Louise, “Kemarilah, aku ingin menunjukka sesuatu” berjalan mendahului Eden kemudian membuka pintu menuju balkon.
Pemandangan luar biasa indah terlihat membuat mata Eden terbuka lebar, ia lantas berlari menuju ke balkon, “Wwoooaaahhhhhh.. indah sekali” seru Eden spontan karena merasa kagum atas pemandangan yang tersaji
dari kamar Raja Louise, bahkan tak sedetik pun Eden memalingkan matanya. Karena situasi menjelang petang matahari terbenam terlihat jelas memancarkan warna jingga, sejauh mata memandang hamparan bebukitan dan berujung pada laut yang mengintip menambah sempurna pemandangan dari atas balkon kamar pribadi Raja Louise.
“Apakah kau menyukainya?” tanya Raja Louise pada Eden yang disambut senyuman dan juga anggukan kepala.