LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Teman Lama



“Tidak ada cara lain, hamba akan memberitahukan sesuatu pada anda, seseorang yang anda kenal saat ini sedang berada di sana. Bahkan dia berada dalam kelompok kami”


Mendengar ucapan si ajudan lantas membuat Alejandro terkejut akan tetapi ia berusaha mengendalikan pikirannya dan untuk memastikan kebenaran ini ia lantas bertanya, “Kau yakin?” ucap Alejandro seraya


mengernyitkan alis yang dijawab oleh si ajudan dengan anggukan kepala seraya memberikan sepucuk surat yang kemudian segera dibaca oleh Alejandro. Ia sangat ingat betul tulisan tangan yang sedang ia baca, “Persiapkan semuanya, aku akan kembali ke The Great Aztec” ucap Alejandro memberi perintah pada si ajudan yang disambut suka cita oleh dirinya.


Tepat pada hari ini Pangeran Alejandro sedang menempuh perjalanan menuju The Great Aztec bersama para pasukan yang mendampingi hingga rombongan sampai di pusat kota The Great Aztec. Kedatangan dari Alejandro tentunya sempat menimbulkan tanda tanya besar karena seorang Pangeran yang telah lama mengasingkan diri kini tiba-tiba kembali hingga sempat membuat orang-orang berkerumun hanya untuk melihat paras dari sang Pangeran. Seperti yang semua orang duga mengenai keluarga Kerajaan bahwa paras sang Pangeran memang tak kalah tampan dari Raja Louise dan Pangeran Arthur, kedatangannya telah menjadi topik pembicaraan yang hangat di tengah masyarakat luas.


Sesampainya di altar utama Istana, Pangeran Alejandro di sambut secara langsung oleh kedua sepupunya yakni Raja Louise dan Pangeran Arthur, mereka secara bergantian memberikan pelukan hangat pada sepupu yang telah lama tinggal di negeri yang jauh diseberang sana.


“Senang berjumpa dengan mu lagi kakak” ucap Alejandro memeluk hangat Raja Louise dan tetap memanggilnya dengan sebutan kakak kemudian melepas dan berganti memeluk Pangeran Arthur.


“Ternyata adik kecil kita sudah tumbuh dewasa” ucap Pangeran Arthur yang memeluk kemudian melepasnya lalu mengacak-acak rambut Alejandro.


“Hentikan. Aku bukan anak kecil lagi tahu” menggertak kedua kakak sepupunya itu yang masih saja memperlakukan dirinya seperti seorang anak kecil, padahal usianya sudah menginjak 20 tahun.


“Tapi bagi kami kau masih seperti anak kecil, lebih baik kita masuk.. sudah lama kau tidak kembali mungkin saja kau lupa jalan kan?” ucap Pangeran Arthur sedikit menggoda Alejandro dengan kata-kata.


“Hei sudahlah jangan menggodanya terus” ucap Raja Louise yang menegur prilaku kekanakan Pangeran Arthur.


Ketiganya lantas pergi menuju ruang perjamuan karena sudah menjadi tradisi bila tamu penting datang akan diadakan sebuah sambutan, namun hanya mereka bertiga yang berada di sana dan menghabiskan waktu bersama.


***


(Istana Vie Rose)


Hari berjalan begitu cepat, tidak terasa besok Eden akan melaksanakan upacara pemberkatan pertunangan dengan Raja Louise. Setelah sekian lama rencana mempersatukan keduanya selalu tertunda karena banyak kejadian tidak menyenangkan telah dialami oleh Eden sehingga menyebabkan keduanya harus berpisah beberapa waktu lalu. Saat pertama kali dinyatakan sebagai pemenang dalam pertandingan tahun lalu sebenarnya Eden masih merasa ragu atas perasaannya terhadap Raja Louise. Seseorang yang tiba-tiba memaksa ingin menikahi dirinya padahal tidak banyak moment bahagia yang mereka alami, bahkan pertemuan mereka dapat dikatakan sebagai sebuah kebetulan yang telah digariskan oleh takdir. Cinta pada pandangan pertama adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan Raja Louise kala itu, seandainya bisa menolak Eden mungkin akan melakukannya tapi karena yang ada dihadapannya adalah Raja maka tidak ada celah baginya untuk menghindar. Berulangkali menyatakan perasaan, akan tetapi Eden masih belum bisa meyakinkan diri terhadap perasaannya, hingga suatu ketika saat melihat secara langsung Raja Louise bersama wanita lain entah mengapa amarahnya jadi meningkat, hatinya pun terasa sakit, tanpa sadar selama ini Eden telah jatuh hati pada sosok Raja Louise yang pantang menyerah berusaha mengambil hatinya. Ia melamunkan segalanya yang berkaitan dengan Raja Louise di teras balkon kamarnya, sendiri sambil menikmati udara malam yang menyejukkan tubuhnya.


“Aku sampai tidak menyadari sejak kapan mulai memiliki rasa terhadapnya. Kalau diperhatikan segala tentang dirinya tampak begitu sempurna sampai tidak ada celah bagiku untuk menolak dirinya. Ya kecuali


ada hal yang tidak bisa aku toleransi, tempramentnya” gumam Eden seraya membayangkan sosok Raja Louise dalam benaknya yang terlihat sangat sempurna.


“Malam ini sepertinya aku tidak akan bisa tidur cepat, apakah di masa depan aku benar-benar bisa duduk mendampingi Raja Negara ini?” ucap Eden seraya berjalan masuk ke kamar tidur lantas merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menghela nafas berulang kali dan memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. Eden kemudian memiringkan tubuhnya sambil menatap gaun yang terpajang di bagian kanan ruang kamarnya, gaun itu tampak sangat indah di mata Eden, tak lama kemudian ia pun tertidur lelap.


***


Membicarakan banyak hal terutama kedua kakak sepupu yang mendengarkan cerita dari Alejandro selama menjalani kehidupan di negeri seberang, keduanya sangat antusias sampai tidak terasa waktu semalaman berlalu begitu saja dan matahari sudah menunjukkan sinarnya. Berbincang mengenai kehidupan masing-masing seolah tidak ada habisnya, dan Raja Louise baru ingat bahwa hari ini merupakan pemberkatan pertunangan dirinya, begitupula Pangeran Arthur yang baru mengingat bahwa permintaan Damian harus dikabulkan hari ini. Keduanya bergegas bangkit dari kursi dan mengambil jas masing-masing. “Aku harus bersiap karena hari ini pemberkatan pertunangan ku.. sampai jumpa lagi nanti” ucap Raja Louise yang segera berjalan pergi, “Aku juga ada urusan penting, nanti kita bicara lagi” seru Pangeran Arthur yang juga berpamitan dan terburu-buru pergi meninggalkan Alejandro sendirian.


“Cih.. dasar mereka itu, baru semalam bertemu sudah pergi meninggalkanku lagi. Dasar tidak setia” menggerutu setelah ditinggal pergi kedua kakaknya, seraya meminum air di gelas yang kosong dan hanya tersisa beberapa tetes saja, “Ternyata airnya sudah habis, ya akupun harus kembali beristirahat. Baiklah jadi kemana aku harus pergi? Apakah Istana Vie Rose ? atau haruskan aku pergi menuju Istana Bulan? Di antara kedua Istana itu seharusnya salah satunya adalah tempat tinggal ku, tapi..” gumam Alejandro yang tidak yakin harus pergi ke Istana yang mana, “Haruskah aku mencarinya dulu? Mungkin jika berjalan-jalan sebentar aku akan menemukannya” ucap Alejandro yang berniat ingin mencari ajudan setia yang entah bagaimaimana lupa memberitahu di mana ia tinggal. Alejandro lantas pergi untuk berjalan-jalan seraya mengingat-ingat kembali jalan Istana, dulu saat masih kecil ia tinggal di Istana Bulan yang letaknya berdekatan dengan Istana Matahari tempat Raja Louise dan Pangeran Arthur tinggal. Hingga kini tempat itu masih dikosongkan demi menghormati mendiang Pangeran Oscar atau ayahanda dari Alejandro, lagi pula selama ini Raja Louise juga Pangeran Arthur tetap mengharapkan Alejandro untuk kembali ke The Great Aztec dan membiarkannya tidak berpenghuni namun tetap dibersihkan setiap waktu.


Saat sedang berjalan-jalan di taman utama Kerajaan, perasaan segar muncul dalam hati Pangeran Alejandro, ingatan-ingatan bahagia semasa kecil muncul kembali bersama kedua saudaranya yang sering bermain di


tempat ini, kala itu Raja Louise berusia 12 tahun, Pangeran Arthur 7 tahun dan Alejandro berusia 4 tahun, meskipun berusia sangat muda kana tetapi ia masih mengingat beberapa kenangan indah yang tak akan terlupakan selama tinggal di Istana.


***


Di Istana Vie Rose semua orang tengah sibuk mempersiapkan diri, beberapa pelayan khusus mmembantu Eden memakai gaun dan beberapa pelayan lain bertugas mendandani Eden agar ia terlihat cantik. Riasan natural dengan rambut panjang merah yang di tata rapih sedemikian rupa menambah kesan elegant yang terlihat dari Eden, perpaduan yang sangat cocok dengan gaun yang sedang ia kenakan. Adel dan Cecilia tidak terlambat untuk menyaksikan proses yang dijalani oleh Eden sebelum moment pemberkatan, pujian pun terdengar dari mulut para pelayan yang melihat secara keseluruhan penampilan Eden, “waahhh anda cantik sekali, tidak seperti biasanya, aura yang anda pancarkan memang beda” ucap salah seorang pelayan yang diikuti anggukan kepala oleh pelayan yang lain seolah setuju dengan pendapat si pelayan.


“Jadi maksudmu biasanya aku tidak terlihat cantik? Dasar kalian ini” ucap Eden seraya menyentuh pinggang kanan dan kiri secara bersamaan.


“Ahh bukan begitu maksud kami nona” terbata-bata karena takut ucapan mereka telah menyinggung Eden.


Melihat hal ini lantas membuat Eden lekas tersenyum karena sebenarnya ia hanya ingin menggoda para pelayan saja, “Terimakasih” ucap Eden yang membuat para pelayan pun tersenyum lebar.


“Yang Mulia, Izinkan hamba membacakan urutan acara hari ini” Ucap Jose sembari berbicara sesaat setelah persiapan selesai dilakukan oleh para pelayan terhadap Raja Louise.


“Acara akan dimulai pukul 9 pagi ini, bertempat di altar pohon keramat, setelah itu acara akan dilanjutkan di aula untuk menemui tamu undangan yang hadir dalam acara pertunangan anda” secara singkat Jose menjelaskan gambaran keseluruhan rangkaian acara yang akan dilaksanakan.


“Bagaimana dengan Alejandro? Kau juga menyiapkan pakaian untuknya bukan?” tanya Raja Louise seraya mengancingkan ujung lengan tangannya.


“Tentu saja Yang Mulia, hamba telah mengirim seseorang untuk mengantarkan Pangeran Alejandro menuju Istana Bulan sesuai dengan perintah anda” Jose menjawab Raja Louise seraya menyerahkan sebuah dokumen untuk ditandatangani.


“Kau masih juga membawa pekerjaan untukku pada saat seperti ini” sedikit kesal seraya melempar tatapan tajam pada Jose, akan tetapi Jose terlihat gugup dan tidak mau menjawab Raja Louise.


“Baiklah karena ini hari bahagia maka aku akan langsung menandatanganinya tanpa membaca, agar semua cepat selesai” ucap Raja Louise seraya menandatangani dokumen yang diberikan oleh Jose kemudian menutupnya dan memberikannya kembali pada Jose.


Melihat hal ini membuat Jose sempat merasa lega, ia bahkan menelan ludahnya karena berhasil melewati situasi sulit, “Baiklah kalau begitu Yang Mulia, nanti Hansel akan datang kemari untuk menjemput dan


mengantas anda menuju altar. hamba permisi dulu” seraya menundukkan kepala Jose memberi salam kemudian keluar dari kamar Raja Louise dan menutup pintunya sesegera mungkin. Tak disangka Pangeran Arthur telah menunggu dirinya di dekat pintu, “Bagaimana apakah berhasil?” tanya Pangeran Arthur pada Jose, yang membuat Jose lantas memberikan dokumen yang sedang dipegang olehnya.


“Yang Mulia, hamba mohon jangan libatkan hamba dalam urusan seperti ini, jika anda meminta langsung pada Raja Louise, hamba yakin beliau akan mengabulkannya karena anda adalah adik kandungnya” dengan wajah sedikit murung Jose memberi nasehat pada Pangeran Arthur.


“Eiiyyy mana mungkin, kakak pasti akan langsung menolak jika aku yang meminta. Lalu terimakasih atas bantuannya, kau memang bisa diandalkan” seraya tersenyum Pangeran Arthur memberi pujian terhadap


keberhasilan Jose.


“Sebenarnya apa isi dokumen ini sampai anda meminta hamba untuk melakukan hal seperti ini? Jatung hamba serasa mau copot tadi” seraya memegang dadanya Jose pun bertanya pada Pangeran Arthur.


“Pendeta Damian meminta sesuatu padaku dan aku tidak bisa menolaknya begitu saja.. emm ini bukan sesuatu yang sulit kok, sederhana namun efeknya cukup besar hehe” sedikit ragu Pangeran Arthur menjelaskan gambaran umum isi dokumen seraya menunjukkan ibu jari dan jari telunjuk seolah akan menyatu yang menggambarkan kata ‘sedikit’.


“Jangan katakan?!” ucap Jose yang lekas sadar isi dokumen dalam sekejap tepat setelah mendengar sedikit penjelasan dari Pangeran Arthur.


“Eiiyyy ini tidak seperti yang kau bayangkan” seraya tersenyum kaku seraya menggaruk pelipisnya kemudian berlari sekencang-kencangnya.


“Dasar anak nakal! Beraninya melibatkan orang tua pada masalah seperti ini.. berhenti jangan lari” Seru Jose sambil berlari mengejar Pangeran Arthur, namun ia kehilangan jejak karena sang Pangeran berlari sangat cepat.


“Tidak kusangka, Jose dapat berlari secepat itu” ucap Pangeran Arthur yang telah sampai di depan tempat istirahat Damian, ia berniat memberikan dokumen yang telah ditandatangani oleh Raja Louise padanya.


***


Tak terasa Alejandro telah menghabiskan waktu selama satu jam lebih dengan duduk di kursi taman, ia lupa tujuan awalnya untuk menemui si ajudan. Ia lantas bangkit dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan taman, tak sengaja ia bertemu dengan si ajudan dan langsung menyapa, “Yang Mulia” ucap si ajudan sedikit menundukkan kepala dihadapan Alejandro.


“Rupanya kau di sini, baru saja aku akan mencari mu, Chris” ucap Alejandro menyebut nama si ajudan. Chris yang selama ini menjadi pendamping Eden merupakan anak dari pengawal setia Pangeran Oscar, ia memiliki


seorang anak bernama Chris yang juga mengabdikan dirinya sebagai ajudan setia Alejandro. Selama ini ia telah memiliki dua pekerjaan sebagai pendamping Eden sembari mengawasi situasi yang sedang berlangsung di Istana dan ketika ia mendapat giliran menjenguk Eden maka Chris menggunakan kesempatan ini untuk melihat keadaan Alejandro.


“Hamba akan mengantar anda menuju Istana Bulan untuk bersiap Yang Mulia” ucap Chris pada Alejandro, akan tetapi sebuah suara mengalihkan keduanya.


“Chris!” seraya berjalan mendekati Chris, dia adalah Eden bersama Cecilia dan juga Adel yang mendampingi dirinya menuju altar.


Mata Alejandro dan mata Eden saling bertemu dan membuat keduanya sama-sama terkejut melihat satu sama lain.


“Eden?!” ucap Alejandro


“Nathan?!” Ucap Eden