LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Another Way



“Kau yakin dengan kebenaran berita ini?” tanya Beatrice pada seorang pelayan yang memberikan laporan mengenai kejadian yang menimpa Eden sebelumnya. Si pelayan pun mengangguk dan menjamin bahwa laporan yang ia ceritakan merupakan fakta.


“Kalau begitu kau boleh pergi” ucap Beatrice mempersilahkan si pelayan pergi.


“Putri bukankah ini kesempatan baik untuk menyerang?” Ucap Charlotte pada Beatrice memberikan saran licik padanya. “Kita bisa menggunakan kejadian ini sebagai senjata kuat dalam pertemuan nanti” imbuh Charlotte menyelesaikan ucapannya.


“Kau benar Charlotte, kejadian ini bisa kita manfaatkan sebagai kartu as untuk menyerangnya pada pertemuan nanti” seolah setuju dengan saran Charlotte bahwa ia akan menggunakan kejadian ini sebagai


kelemahan Eden dan akan menyerangnya pada pertemuan pemimpin negara yang akan diadakan beberapa minggu lagi.


Sebelumnya sempat ada pertemuan yang sama dan diadakan di Kuil Suci, namun Eden tidak ikut dalam pertemuan tersebut karena ia memang malas mengikutinya. Hal ini sempat menjadi masalah kecil karena


ketidakhadiran Eden membuat beberapa pemimpin negara kecewa tidak dapat bertemu dengan kesatria terpilih secara langsung. Pada pertemuan berikutnya sengaja memilih The Great Aztec sebagai tempat pertemuan agar mereka bisa bertemu dengan kesatria terpilih, seharusnya tidak ada alasan bagi Eden untuk tidak hadir pada pertemuan berikutnya.


“Lalu putri, nyonya Rosemary meminta anda untuk mengambil sesuatu” ucap Charlotte sambil menunjukkan sepucuk surat yang ia ambil dari kantong bajunya.


Beatrice lantas menerima surat yang diberikan Charlotte dan membacanya, membaca isi surat yang dikirimkan oleh Rosemary membuat pupil mata Beatrice membesar, ia terkejut mendapati benda yang diminta oleh Rosemary, “Gila! Ini sudah keterlaluan! Dia itu penyihir hitam yang mengerikan!” seru Beatrice seolah tidak senang atas permintaan Rosemari.


“Kau pasti sudah membacanya bukan? Bagaimana bisa aku mengambil darah, rambut dan juga kuku dari musuh ku?!” kembali melanjutkan ucapannya seraya meremas surat yang ia pegang kemudian melemparnya ke lantai.


Mendapati respon tidak senang Beatrice justru membuat Charlotte memperingatinya mengenai perjanjian, “Tapi anda harus melaksanakannya nona, jika tidak ada harga yang harus anda bayar karena tidak


menurutinya” sambil menunjukkan senyum simpul pada Beatrice, Charlotte berusaha menekan mental Beatrice.


“Apa maksudmu?!” terkejut dengan ancaman Charlotte lantas membuat Beatrice mengernyitkan alis dan juga sedikit membentaknya.


“Keluarga, anda pasti juga ingat bahwa anda telah menandatangani sebuah perjanjian yang tak biasa dengan nyonya Rosemary” Charlotte berbicara sambil melemparkan tatapan tajam pada Beatrice dan seketika


membuat sekujur tubuh Beatrice merinding dibuatnya. Ia tidak merespon peringatan Charlotte dan hanya bisa terdiam mengingat isi perjanjian yang telah ia tandatangani, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri karena bingung harus berbuat apa.


“Baguslah jika anda mengingatnya, kedepannya hamba harap anda akan terus menuruti perintah nyonya Rosemary” ucap Charlotte kemudian pergi meninggalkan Beatrice sendiri.


“Arrrrrrrggggghhhhhhhhhh” tepat setelah Charlotte pergi Beatrice berteriak kencang sambil memporak-porandakan seisi ruangan, ia sangat kesal karena tidak memiliki kebebasan seperti yang ia mau. Sekarang dirinya sudah sepenuhnya di kuasai oleh Rosemary.


“ini semua salahku, tidak seharusnya aku meminta mereka meminum ramuan buatan penyihir itu, bahkan tubuhku sekarang sudah mulai dipenuhi tanda menjijikkan” gumam Beatrice dalam hati seraya menatap kedua tangan kemudian menjambak rambut dan setelah itu sedikit membuka baju pada bagian pundak, terlihat jelas ada tanda berwarna hijau gelap yang bergerak memanjang seperti sulur bunga.


Mendengar teriakan Beatrice membuat ujung bibir Charlotte naik, ia tersenyum di atas penderitaan yang dialami oleh orang lain, “Lawan lah, teruslah melawan maka tubuhmu akan sepenuhnya berubah menjadi menjijikkan. Manusia serakah yang tidak tahu terimakasih seperti dirimu pantas mendapatkan balasan semacam itu” gumam Charlotte dalam hati seraya berjalan pergi.


***


Di Istana Vie Rose, Adel masih duduk di depan perapian, sepertinya ia masih merasa trauma terhadap ucapan Damian hingga membuatnya terus diam dan melamun sendirian. Tidak banyak yang ia kerjakan sedari tadi kecuali hanya memandangi api yang terus menerus melahap kayu bakar hingga habis tak tersisa. Mendapati Adel yang sedari tadi menyendiri membuat Chris dan Cecilia yang menemani pun ikut merasakan kesedihan yang sedang dialami oleh Adel, keduanya tidak banyak bicara melainkan hanya duduk di dekat Adel. Tak berselang lama beberapa rekan yang lain yaitu Kate, Diana dan Laura pun ikut bergabung menemadi Adel, mereka tidak banyak berbicara setelah tahu kejadian yang menimpa Adel saat berada di Istana Matahari.


“Apakah kakak akan benar-benar pulih sepenuhnya?” dalam keheningan sekitar Adel tiba-tiba bertanya mengenai kemungkinan tingkat kesembuhan Eden.


“Tentu saja nona, anda tidak perlu khawatir karena nona Eden sudah pernah mengalami kejadian yang lebih parah dibanding sekarang” Ucap Chris mencoba menenangkan Adel.


“Benar nona, kejadian hari ini masih belum ada apa-apanya dibanding sebelumnya, nona Eden sudah berulangkali hampir mengalami kematian dan selalu berhasil selamat. Anda tidak perlu khawatir” imbuh Cecilia yang mencoba ikut menenangkan Adel.


***


Proses pemulihan pun dimulai, berawal dari Pangeran Arthur yang membuat mantra pelindung berwujud cahaya biru yang mucul mengelilingi Eden lalu dilanjutkan dengan rantai pelindung yang telah menguncierat kedua kaki dan tangan  Eden di dalam tanah. Setelah yakin bahwa Rantai pelindung terikat dengan Erat lantas membuat Damian mulai menyalurkan Energi alam yang berada disekitar menuju tubuh Eden. Tak disangka baru beberapa menit dimulai mata Eden terbuka lebar namun bola matanya berubah menjadi warna merah, ia berusaha bangkit akan tetapi gagal karena rantai yang mengikat begitu kuat hingga berhasil menahannya untuk tetap tertidur dengan tubuh tertutup tanah.


Matanya berkeliling mencari penyebab dirinya tertahan, dan ia pun menemukan dua orang yang sedang melihat dirinya, sepertinya kesadaran diri Eden masih belum sepenuhnya kembali, sang Naga Api sedang menguasai tubuhnya.


Eden saat ini sedang terjebak dalam dirinya sendiri, di sebuah ruang yang tidak ia kenali, gelap namun lantainya mengeluarkan cahaya berwarna biru. Eden sendiri merasa bingung dengan tempatnya berada saat ini, ia terus bertanya dalam hati mengenai apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari tempat asing ini. Tak berselang lama, sayup-sayup sebuah bayangan mulai muncul, semakin lama semakin jelas terlihat, “Anda?!” seru Eden mengenali sosok yang sedang berjalan mendekat padanya, dia adalah Damian Xavier.


“Maaf karena pertemuan kedua kita harus ditempat seperti ini, ada hal yang harus aku beritahukan pada dirimu. Saat ini jiwa mu telah terkunci di sini dan tubuh mu telah berhasil dikuasai oleh kekuatan Naga Api” ucap Damian langsung menjelaskan inti masalah yang sedang dialami oleh Eden.


“Apa maksud anda? Lalu.. lalu jika terkunci bagaimana anda bisa masuk ke dalam sini?”


Masih bingung atas penjelasan Damian lantas membuat Eden kembali bertanya agar lebih jelas.


“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya Eden pada Damian.


“Pertama-tama ikuti arahanku, duduklah” mulai memberikan pengarahan yang lantas membuat Eden duduk pada kedua kakinya.


“Bukan duduk yang seperti itu.. duduk bersila, kau ini tidak paham” ucap Damian ketus karena kesalahpahaman Eden mengenai posisi duduk yang tidak semestinya.


“Seharusnya anda berbicara dengan jelas dong, kenapa aku yang disalahkan sih” dengan berbicara bahasa tidak formal Eden pun mulai menggerutu atas arahan Damian yang tidak detil sambil mengubah posisi duduknya menjadi bersila.


“Sekarang pejamkan mata mu, kendalikan dirimu, dan lawanlah kekuatan Naga Api yang sedang berusaha merebut tubuh mu” arahan lanjutan dari Damian membuat Eden segera mengikutinya.


Benar saja saat memejamkan mata ia tengah berhadapan dengan Naga Api, keduanya saling menatap mata masing-masing dan Naga Api terlihat sangat marah, ia melemparkan tatapan seolah ingin membunuh Eden.


“Wooooaahhhh.. mengerikan sekali” sambil menyentuh dada Eden lantas membuka matanya.


“Apa yang kau lakukan, seharusnya kau meneruskannya” sedikit memearahi Eden karena dengan cepat ia membuka mata padahal baru beberapa detik matanya terpejam.


“Tapi dia sangat menakutkan, tidak seperti saat di Gunung Tarsa, tatapan mata kali ini jauh berbeda..” menggebu-gebu menceritakan apa yang ia lihat.


“Tentu saja berbeda, di Gunung Tarsa Naga Api tidak punya pilihan selain mengikuti perjanjian, akan tetapi setelah mengikat perjanjian sifat yang ia bawa masih perlu ditaklukan dan itulah tugas yang harus kau selesaikan saat ini, kalian harus menyatu seutuhnya jika tidak kau akan mati” dengan detil memberi penjelasan sekaligus menegaskan hal buruk yang terjadi bila Eden gagal menaklukan sifat asli Sang Naga Api.


“Buas, Kejam, Kuat, Pemberani, dan Pelindung, lima sifat yang menganduk makna buruk dan juga baik sekaligus, kau harus menaklukannya” ucap Damian kembali meyakinkan Eden.


“Tapi bagaimana caranya?” Eden yang tidak memiliki bekal ilmu apapun untuk menaklukan Naga Api merasa sangat bingung dengan tindakan yang harus ia lakukan.


Melihat Eden yang gusar membuat Damian mendekat pada Eden, ia pun duduk dihadapan Eden lalu menyentuh pundaknya, “Dengarkan aku, kau pasti bisa melakukannya karena kau adalah kesatria terpilih”.


Eden masih terus memikirkan cara yang harus ia lakukan hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu mengenai mimpi yang terus datang ketika ia masih berada di kota Thalsa (Episode 1).


Mimpi yang terus menerus datang hampir setiap malam dan mimpi itu selalu sama yaitu mengenai Naga Api, dalam mimpi Eden berhadapan langsung dengan sang Naga Api yang seolah ingin membunuhnya. Namun tidak sempat membunuh justru Eden berhasil membuatnya takluk dengan menempelkan tangan pada bagian kepala Sang Naga Api


“Baiklah akan ku coba sekali lagi”ucap Eden dalam hati seraya menutup kedua mata dam mulai berkonsentrasi lagi.


“Semoga berhasil, kami menunggu mu di luar” ucap Damian dan seseaat setelahnya ia pun menghilang dari hadapan Eden.


Kini Eden kembali berhadapan dengan Sang Naga Api, kali ini Sang Naga Api terlihat lebih mengancam dibanding sebelumnya, tidak ada keramahtamahan dari hewan mitologi terkuat ini kecuali hanya tatapan mata yang ingin segera membunuh Eden dengan satu kali semburan api. Melihat reaksi tidak biasa dari sang Naga Api membuat Eden tetap berusaha bersikap tenang, karena pada dasarnya menghadapi hewan buas hal yang dilakukan pertama kali adalah tenang dan harus terlihat tidak merasa terancam dengan kehadiran si hewan buas. Ia bahkan mengingat-ingat acara tv yang biasa dia tonton di kota Thalsa mengenai seorang penakluk hewan, hanya perlu tenang dan tidak boleh membuatnya terpancing amarahnya.


“Baiklah Eden, kau pasti bisa” Gumam Eden dalam hati meyakinkan dirinya dan kemudian melaksanakan hal yang harus ia lakukan.


Di waktu yang sama di taman pribadi Raja, Pangeran Arthur sudah mulai kelelahan karena harus menahan Eden pada posisi tetap tertutupi tanah, berulang kali Eden memberontak dengan cara menyalurkan Energi


panas yang begitu hebat dan sempat membuat tangan Pangeran Arthur serasa seperti terbakar. Namun, berkat bantuan Damian, rasa panas itu perlahan mereda karena ia juga menyalurkan energi alam pada rantai pelindung yang telah dibuat oleh Pangeran Arthur.


Kurang lebih sudah dua jam berlalu, hampir separuh lebih tanaman yang ada di taman pribadi Raja sudah mengering padahal taman ini cukup luas dibanding taman lain yang ada di Istana The Great Aztec, jika dalam


waktu satu jam kedepan Eden masih belum berhasil menaklukan sifat Naga Api maka proses pemulihan ini akan berakhir sia-sia.


“Apakah anda yakin sudah memberi pengarahan dengan benar?” tanya Pangeran Arthur pada Damian sambil terus menahan rantai pelindung sekuat tenaga.


“Kita percayakan saja pada Eden” jawab Damian singkat.


Kembali pada Eden, saat ini ia sedang menerapkan cara yang pernah ia lihat dalam mimpi mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk menaklukan Naga Api. Dengan niat dan tekad hati yang kuat Eden memberanikan diri untuk berdiri tegap dihadapan sang Naga sambil menjulurkan tangan kanan kedepan dan membuka telapak tangan ke arah sang Naga Api. “Kau Pasti bisa Eden” gumam Eden dalam hati karena ia yakin bahwa cara ini akan berhasil.


Namun ia salah menduga, petunjuk dalam mimpinya salah besar karena justru tindakan yang dilakukan oleh Eden membuat sang Naga Api tersulut amarahnya hingga membuat sang Naga Api berusaha menyemburkan api ke arah Eden, saat ini sang Naga Api sedang mengumpulkan api dalam mulutnya, sadar bahwa ia akan diserang membuat Eden dengan cekatan menghindari semburan dan bersembunyi di tempat yang tidak terlihat.


“Sial, aku terlalu gegabah bila mengira petunjuk dalam mimpi dapat menaklukan Naga Api dengan mudah, apa yang harus ku lakukan” gumam Eden yang bingung karena ia tidak berhasil menaklukkan Naga Api. Sesekali ia menggigit kuku ibu jari sambil terus memikirkan cara agar bisa segera menaklukan Naga Api yang sedang menguasai seluruh raganya. Hingga sesaat terlintas dalam benak Eden untuk mengeluarkan panah bumerang, “Tunggu dulu, apa mungkin aku bisa memanggil panah bumerang ke sini.. haruskah aku mencobanya?” gumam Eden mempertimbakan untuk mengeluakan panah bumerang yang merupakan senjata sakti miliknya.


“Baiklah, aku harus mencobanya” ucap Eden kemudian memejamkan mata, berkonsentrasi untuk memanggil panah bumerang keluar dan beberapa saat kemudian senjata saktinya itu benar-benar muncul dalam genggaman tangannya.


“Berhasil!!”