
“Sihir yang cukup kuat tertanam di sekitar Istana, sihir yang tidak bisa terdeteksi oleh pendeta biasa, apakah Louise atau Arthur tahu akan hal ini?” gumam Damian dalam hati merasakan ada kejanggalan di sekitar istana, ia tidak berhenti memikirkannya setelah masuk ke ruang istirahat.
“Sumbernya sangat jelas berada di sebelah timur adalah sihir baru, selain itu ada beberapa sihir yang sudah tertanam puluhan tahun di sini. Andai saja aku tidak mencari pohon 100 tahun mungkin akan terlambat menyadari kejanggalan ini, aku harus mencari tahu siapa yang pemilik sihir ini. Jika dibiarkan bisa membahayakan sekitar” sambil melihat ke luar melalui jendela Damian tengah mengawasi titik tanam dari sihir yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
“Ah tidak, aku harus ke sana sekarang” segera setelahnya Damian pergi menuju sumber kekuatan sihir, ia merasa harus menyingkirkan sihir yang tertanam selama puluhan tahun di Istana karena sihir ini telah menyalahi aturan tanpa mengindahkan sihir suci yang berada di Istana.
Damian pada akhirnya memilih untuk pergi mengunjungi tempat dengan sihir yang telah tertanam lama di Istana, sesampainya di tempat tujuan ia begitu terkejut karena sihir itu tertanam di bawah sebuah bangunan
mansion namun tidak berpenghuni, Damian mengurungkan niatnya untuk mendekat karena tidak memiliki akses untuk masuk meskipun ia seorang keturunan Pendeta Agung. Hal ini tentu saja menyalahi aturan, untuk itu Damian lekas pergi meninggalkan mansion kosong itu menuju tempat lain.
Tempat kedua cukup mengejutkan Damian, karena kekuatan sihir tertanam disekitar altar utama Kerajaan yang jelas-jelas merupakan tempat lalu-lalang bagi banyak orang yang keluar masuk Istana. Tidak ada pilihan lain selain mengambilnya sekarang, karena bila dibiarkan begitu saja mungkin akan menjadi sumber malapetaka di masa depan, untuk itu Damian bergegas mendekati lokasi tempat sihir tertanam yaitu berada di sebuah air mancur.
Damian mengulurkan tangannya dan menarik kekuatan itu keluar, efek yang ditimbulkan tidak terlalu dahsyat namun membuat sekitar kolam air mancur sedikit retak, dengan hati-hati Damian berhasil menggenggam
sihir yang berupa permata hitam tersebut. Tak ingin membuat gaduh lantas membuat Damian segera pergi meninggalkan altar dan menuju lokasi berikutnya.
Lokasi ketiga terletak di sebelah barat, sesampainya di lokasi tersebut Damian dapat melacak titik akurat di mana sihir tertanam yaitu berada di sebuah Danau buatan. Lokasi yang lebih mudah dari pada lokasi sebelumnya, karena berada di alam jadi dengan mudah Damian dapat menariknya keluar tanpa menimbulkan kegaduhan, meskipun gelombang lumayan dahsyat muncul saat sihir itu tertarik oleh tangan Damian, dan kali ini wujudnya masih sama berupa permata hitam.
Setelah mendapatkannya Damian lantas pergi menuju pohon keramat, tujuan ia datang kesana adalah untuk memusnahkannya di tempat suci sekaligus agar dapat menetralkan energi negatif yang mungkin saja bisa
menyebar disekitar. Bila pemusnahan dilakukan di lingkungan tanpa sihir suci akan membahayakan sekitar sehingga Damian memilih pohon keramat.
Sesampainya di pohon keramat Damian menggenggam erat kedua benda yang ada ditangannya hingga lebur menjadi serpihan kecil, seperti ia sedang menghancurkan roti kering, semudah itu bagi Damian untuk menghalau kekuatan jahat.
“Rosemary” gumam Damian yang segera sadar bahwa permata hitam mengandung kekuatan sihir Rosemary.
***
“Sial!!!!!!” seru Rosemary seraya membuka mata, awalnya ia sedang berkonsentrasi untuk membuat portal akan tetapi fokusnya terpecah setelah sadar bahwa permata hitam yang ia tanam di sekitar Istana dihancurkan oleh seseorang.
“Apa yang terjadi?” tanya Adam Lewis yang terkejut dengan suara keras Rosemary barusan.
“Seseorang telah menghancurkan permata hitam yang ku tanam di Istana” sedikit gagap dan tangannya bergetar hebat Rosemary menjawab Adam Lewis.
“Tenang lah” sambil meraih kedua tangan Rosemary, Adam Lewis berusaha menenangkannya.
“Sri Isaac Xavier saat ini memiliki kondisi yang lemah, ia tidak akan sanggup menghancurkan permata hitam begitu saja. Lantas apakah mungkin dia sudah kembali?” ucap Rosemary yang merasa khawatir akan kemunculan seseorang.
“Kau tidak memiliki rasa takut pada Sri Isaac Xavier tapi kenapa kau malah memiliki rasa takut pada keturunannya? Tenanglah, kau harus berkonsentrasi agar portal ini segera terbentuk dengan sempurna” kembali menenangkan Rosemary dengan kata-kata yang mungkin bisa meredakan rasa khawatirnya.
(Flashback)
Rosemary dan Damian memiliki sejarah masa lalu yang cukup panjang, mereka adalah guru dan murid yang pernah bekerjasama selama Rosemary menempuh pendidikan di Kuil Suci. Damian lah yang mengetahui bakat sihir Rosemary sejak awal dibanding Sri Isaac Xavier meskipun dia juga merupakan pendidik di Kuil Suci. Damian yang membimbing Rosemary memperlajari sihir suci hingga ia menjadi ahli, alasan mendasar mengapa Damian melakukan hal ini ialah karena ibu Rosemary merupakan rekan sekelas ketika menempuh
pendidikan di Kuil Suci dulu. Ibu Rosemary bernama Ava Caroline dia adalah seorang Saintness yang sayang dihormati di Kuil Suci. pengabdiannya pada Kuil Suci sangatlah besar, selain itu ibunya memiliki paras yang cantik dan jelita, karena paras inilah yang membuat ibu Rosemary memilih untuk menjadi Saintness dan tidak menikah seumur hidupnya. Sayangnya nasib buruk menghampiri Ava, kecantikan dari seorang Saintness telah membutakan mata Raja Julius Leopard Aaron yang memimpin The Great Aztec kala itu, Raja Julius terkenal sebagai Raja mata keranjang, ia pun memaksa untuk menikahi Ava yang tentunya sempat ditentang oleh berbagai pihak. Akan tetapi sang Raja tidak menyerah begitu saja, ia menggunakan berbagai cara agar bisa menjadikan Ava sebagai selir di Istana dan penculikan adalah cara paling menjijikkan yang digunakan oleh Raja Julius untuk mendapatkan Ava.
Kala itu Ava baru selesai memanjatkan doa malam di aula utama, awalnya ia bersama beberapa orang, namun mereka berpisah dipersimpangan karena arah yang akan mereka tempuh berbeda. Saat akan kembali
ke asrama ia dicegat oleh orang-orang tak dikenal yang mengenakan pakaian layaknya penghuni Kuil Suci.
Awalnya Ava hendak menyingkir akan tetapi kedua orang ini terus menghalangi jalan hingga membuatnya sempat meilirik kearah dua orang tersebut yang membuatnya menyadari bahwa kedua orang ini bukan merupakan bagian dari Kuil Suci, “Kalian bukan penghuni kuil suci, siapa kalian sebenarnya?!” sedikit menggertak kedua orang asing yang berdiri dihadapannya. Namun gertakan ini justru tidak mempan dan kedua orang asing ini semakin menyudutkan Ava kemudian memukul kepala bagian belakang Ava hingga membuatnya pingsan. Singkat cerita Ava akhirnya berhasil dibawa ke The Great Aztec dan malam itu menjadi saksi bisu kekejian seorang Raja Julius yang berani merenggut kesucian seorang Saintness.
Ia membawa paksa Ava ke Istana kemudian mempersuntingnya secara sembunyi-sembunyi. Mengetahui kejadian ini membuat Sri Isaac Xavier sangat murka atas penculikan yang dilakukan oleh Raja Julius ia bahkan mengancam akan menghentikan ceramah di The Great Aztec bila sang Raja tidak mengembalikan Ava dalam keadaan utuh. Setelah surat peringatan dikirimkan berikutnya balasan pun di terima dengan cepat berupa tulisan tangan dari Ava yang menginginkan untuk tidak kembali ke Kuil Suci karena kesuciannya telah direnggut.
Setelah membaca isi surat yang dikirimkan oleh Ava membuat hati Sri Isaac Xavier sakit hati, ia belum bisa merelakan seorang Saintness berbakat seperti Ava meninggalkan Kuil Suci. atas dasar inilah kemurkaan Sri Isaac Xavier bermula dan The Great Aztec harus membayar atas dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap Kuil Suci di kemudian hari.
Di wilayah Anotherworld jika seseorang menikahi Saintness maka anak mereka akan menjadi seorang penyihir, begitulah awal mula kekuatan Rosemary berasal. Ia dibesarkan dilingkungan yang baik dalam Kerajaan bersama kedua saudara yang bernama Oscar Nicholas Louivian dan Leopard William Cesar yang merupakan ayahanda dari Louise juga Arthur. Alasan mengapa Rosemary dikirimkan ke Kuil Suci adalah karena sang ibu ingin ia meneruskan cita-cita sebagai Saintness, sebagai anak yang patuh Rosemary pun mengikuti perintah ibunya dan mengambil pendidikan di Kuil Suci. Latar belakang keluarga yang merupakan keturunan Raja The Great Aztec sempat menjadi pertimbangan Sri Isaac Xavier untuk tidak menerimanya, akan tetapi berkan bujukan dari Damian membuat Sri Isaac Xavier luluh dan lantas menerima Rosemary menempuh pendidikan di Kuil Suci.
Rosemary tergolong murid yang pendiam, karena itu ia hanya berteman dengan Jose seorang (baca episode 52) , saat menempuh pendidikan segalanya berjalan lancar, hingga pada akhirnya Rosemary mendengar kabar bahwa sang ibu mendapat perlakuan keji dari ayahnya karena telah mengirim Rosemary ke Kuil Suci tanpa sepengetahuan dirinya, hingga pada akhirnya sang ibu tewas di tangan ayahnya sendiri. Rasa benci dan dendam terhadap sang ayah mulai tumbuh dalam hati kecil Rosemary, ia teringat akan kenangan semasa kecil ketika banyak orang menganggap dirinya aneh karena bisa menggunakan sihir. Ditambah lagi orang yang sangat ia suka yaitu Eliot menolak pernyataan cinta darinya karena ia malah menyukai orang lain yaitu Anna Lewis. Masa terpuruk Rosemary pun di mulai setelah ia lulus dari pendidikan di Kuil suci, ia berjuang sendiri terpisah dari Jose, tidak ada yang menjadi penyemangat hidupnya kala itu, atas dasar inilah yang membuat Rosemary mengembangkan sihir hitam dengan kemampuannya sendiri. Lama kelamaan Rosemary
Kala itu suasana di Istana utama cukup ramai karena ada beberapa tamu yang turut hadir ingin menemui Raja, suara langkah kaki terdengar nyaring berjalan mendekati Raja Julius suara itu berasal dari sepatu hak tinggi Rosemary.
“Rosemary” seru Raja Julius menyapa anaknya.
Akan tetapi bukannya membalas sapaan, Rosemary malah tersenyum simpul seolah menunjukkan bahwa ia menginginkan sesuatu.
Kini ia berdiri tepat di depan tangga menuju singgahsana Raja Julius, “Apa yang akan terjadi bila saya menaiki tangga ini Yang Mulia” ucap Rosemary sambil menatap intens sang ayah. Pertanyaan ini sempat membuat orang-orang disekitar memperhatikan Rosemary.
“Hanya Raja yang boleh naik ke tempat ini, jika kau memaksa ingin naik maka itu bisa dianggap sebagai pemberontakan” dengan perasaan tenang Raja Julius menjawab pertanyaan Rosemary.
Mendengar jawaban sang Raja membuat Rosemary kembali tersenyum dan lantas melangkahkan kaki menaiki tangga, sontak tindakan Rosemary ini menimbulkan kegaduhan disekitar bahkan di antara mereka berteriak dan menyebut Rosemary penghianat.
Tak terima seseorang menghina dirinya membuat Rosemary menembakan sihir hitam ke arah orang yang berteriak padanya, sihir itu membuat orang tersebut kurus kering hingga menewaskannya dengan sekejap.
Melihat kebrutalan Rosemary menunjukkan sihir hitam dihadapan semua orang membuat Raja Julius lantas memerintahkan pengawal untuk menangkap Rosemary, akan tetapi para pengawal yang mendekat pun dihujani tembakan sihir hitam yang keluar dari tangan Rosemary, mudah baginya untuk membunuh seseorang menggunakan sihir miliknya. Hingga sampailah Rosemary tepat dihadapan sang Raja yang seolah
terlihat tak gentar menghadapi anaknya sendiri, “Kau! Beraninya menantang Raja! Kau sama seperti ibu mu yang seorang pembangkang!” menggertak Rosemary dengan kata-kata menyakitkan mengenai ibunya.
Kata yang terlontar dari Raja membuat Rosemary tersulut emosinya, ia lantas mengeluarkan kekuatan sihir dari telapak tangan lalu mengarahkannya ke Raja hingga membuatnya terangkat.
“Kau ingin membunuh ku!!! Beraninya kau melawan seseorang yang tubuhnya dialiri darah Dewa, Rosemary!!” sambil berteriak Raja Julius mengkritik serangan Rosemary yang seolah asal-asalan ingin mencelakai dirinya.
Bukannya merasa takut, justru Rosemary menanggapinya dengan tertawa lebar, “Hahahaha..... hahahahaa... Anda lucu sekali Yang Mulia sampai membuatku hampir mati karena tertawa” seru Rosemary yang kemudian
merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih dingin dan melemparkan tatapan tajam terhadap sang Raja.
“Hanya orang yang tubuhnya dialiri darah Dewa dapat membunuh Anda, begitukan maksud ucapan anda? Akan tetapi perlu diingat bahwa dalam tubuh ini juga dialiri darah Dewa, itu semua berkat anda jadi biarkan
saya berterimakasih dengan cara seperti ini” seraya membuat kekuatan hitam yang ia keluarkan menjadi sebilah pedang kemudian menusuk Raja hingga membuat darah terus mengalir keluar.
“Selamat tinggal ayahku tercinta” sambil berbisik ditelinga Raja Julius kemudian melempar tubuhnya ketangga hingga terguling kebawah.
“Yang Mulia...!!!” seru orang-orang disekitar yang menyaksikan secara langsung peristiwa mengerikan ini tanpa bisa berbuat apa-apa karena Rosemary menahan mereka dengan sihir hitam hingga tidak bisa bergerak sedikitpun.
Wajah Rosemary mendapat sedikit noda percikan darah sang Raja, ia dengan angkuhnya tertawa karena puas telah membunuh orang yang telah menyiksa sang ibu lalu ia pun duduk di singgasana Raja Julius.
Tak berselang lama, kedua saudara Rosemary pun datang setelah mendapat kabar terjadi pemberontakan di Istana utama, keduanya berpikir bahwa ada mata-mata dari negara lain yang berhasil menyusup masuk, akan tetapi dugaan mereka salah setelah melihat seseorang duduk di singgahsana Raja adalah Rosemary, saudara mereka sendiri.
“Rosemarry!!” seru Oscar sambil berjalan mendekati singgahsana.
“Hentikan perbuatanmu itu pemberontak!” ucap Cesar yang telah melabeli Rosemary dengan julukan pemberontak.
“Wohooo... tenanglah kakak-kakak ku, aku hanya ingin memberi pelajaran pada orang yang pantas mendapatkannya” dengan santai Rosemary menjawab Oscar dan Cesar.
“Tidak ada ampun bagi orang seperti dirimu!” ucap Cesar yang lantas mengeluarkan pedang suci miliknya kemudian berlari mendekat dan mengayunkan pedang pada Rosemary.
Sayangnya serangan ini ditangkis menggunakan sihir hitam jadi hanya sedikit luka gores yang ditimbulkan atas serangan ini.
“Kau sudah menyalahi aturan yang dibuat oleh leluhur!” ucap Cesar menggertak Rosemary karena mengginakan sihir hitam.
Rosemary yang mengalami sedikit goresan pada bagian pipi pun segera mengusap darah yang mengalir keluar seraya bangkit dari tempatnya duduk, “Aku masih belum ingin melawan kalian, ingatlah di masa depan
keluarga ini akan membayar semua kekejaman yang telah diperbuat terhadap ibuku” memberikan ancaman sekaligus peringatan kemudian menghilang dari pandangan semua orang.
Hari itu menjadi saksi peristiwa tercetusnya perang saudara antara Oscar dan Cesar melawan Rosemary.