LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Altar Eksekusi



 Akibat hukuman yang dijatuhkan pada kedua rekan Eden membuat The Great Aztec terkena imbasnya, sektor


perdagangan sempat berhenti dan mogoknya beberapa perdana mentri karena menolak mendukung Eden menjadi ratu. Hal ini tentu saja membuat Raja Louise murka dan bertanya-tanya bagaimana rumor palsu bisa tersebar begitu cepat seperti sekarang ini, akan tetapi ia belum bisa menemukan pelakunya karena si pelaku melakukan


pekerjaannya dengan sangat rapih. Berkas yang biasanya bisa ditangani oleh kedua asistennya yaitu Hansel dan Jose kini menumpuk kian banyak dan hanya Raja Louise yang dapat menyelesaikan berkas tersebut. Imbas yang cukup membuat Raja Louise tertahan dalam ruang kerja tanpa bisa menyelesaikan permasalahan rekan-rekan Eden, ia memiliki firasat buruk bahwa masalah ini tidak akan selesai sampai Eden kembali dari pelatihan, sejujurnya Raja Louise cukup merasa kesal dengan setumpuk berkas di atas meja dan sesekali terdengar suara gebrakan


meja hingga membuat Hansel dan Jose tidak berani menasehati atapun mengajak Raja Louise berbicara.


“Temukan orang itu apapun yang terjadi” seraya menggebrak meja, Raja Louise memerintahkan


bawahannya untuk mencari siapa dalang dibalik tersebarnya rumor palsu di kalangan masyarakat dan juga pejabat.


Rumor dahsyat ini sebenarnya tidak merugikan bagi Raja Louise, akan tetapi sangat merugikan Eden dan membuat posisinya saat ini terancam turun dari kandidat kuat sebagai Ratu The Great Aztec. Masalah sector perdagangan Raja Louise tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena cadangan kekayaan The Great Aztec yang tidak pernah devisit, justru jika para pedagan dari negara lain memaksakan diri untuk tidak berdagang dengan The Great Aztec maka mereka sendiri lah yang rugi. Karena barang dagangan dengan harga termahal dan paling laris di wilayah Anotherworld hanya bisa didapatkan di The Great Aztec.


“Lalu, tutup semua akses perdagangan sampai waktu yang belum ditentukan, ingat timbun semua barang dagang, bila perlu tarik semua dari pasaran, beri mereka pelajaran! biarkan wilayah Anotherworld menjadi gelap. ketidakadaan barang ini di pasaran akan membuat semua roda pemerintahan runtuh, kau tau barang apa yang


ku maksud” ucap Raja Louise memberi perintah pada Jose yang segera ia laksanakan sesuai perintah dari Raja Louise.


Barang yang dimaksud oleh Raja Louise adalah batu bara, di wilayah Anotherworld, hanya The Great Aztec dan gunung Tarsa lah yang memiliki tambang batu bara. Gunung Tarsa merupakan wilayah yang tidak dapat dicapai oleh siapapun, hal ini dikarenakan sang Naga api yang mendiami gunung tersebut dan juga tertutupnya akses menuju kesana akibat dari mantra yang tertanam selama puluhat tahun sehingga menyebabkan negara The Great Aztec menjadi satu-satunya yang memasok batu bara ke seluruh wilayah Anotherworld. Pada masa ini batu bara digunakan sebagai tenaga untuk menghidupkan penerangan dan jika batu bara berhenti dipasok maka bisa dipastikan bahwa roda pemerintahan bahkan roda perekonomian akan berhenti.


“mereka salah karena memutuskan perdangan hanya karena rumor palsu, betapa bodohnya mereka menggunakan rumor itu untuk membuat The Great Aztec runtuh” gumam Raja Louise seraya tersenyum menyeringai. Sifat kejamnya sepertinya telah Kembali, ia kini tidak akan ragu lagi untuk berbuat kekejaman terhadap negara lain.


Penyebar rumor palsu itu tidak lain adalah Beatrice, ia melakukan cara kotor untuk memuluskan aksinya dalam melengserkan Eden dari posisinya saat ini. Bahkan ia tidak ragu memerintahkan pasukan bayaran untuk menyebar rumor palsu mengenai adik angkat Eden yaitu Adel, rumor tersebut menyebutkan bahwa Adel merupakan seorang penyihir jahat dari wilayah luar yang menyusup dan dengan sengaja ingin menguasai wilayah Anotherworld melalui kuasa Eden sebagai kesatria terpilih. Akibat dari rumor palsu ini membuat Eden dan Adel mendapat julukan sebagai Rubah bersaudara (penggunaan istilah rubah diibaratkan sebagai seseorang yang licik).


“Hahahaha…. Hahahaaa” suara gelak tawa terdengar mengisi seluruh ruanga, suara tersebut keluar dari mulut Beatrice, dengan lipstick merah menyala ia membuka lebar mulutnya dan terdengar begitu puas. Hal ini berkaitan dengan rumor yang ia sebar, walnya ia hanya menjadikan Eden sebagai target akan tetapi efek yang ditimbulkan sangatlah luar biasa besar, selain berhasil membuat banyak masyarakat kecewa terhadap Eden, rumor palsu ini juga membuat sektor perdagangan The Great Aztec lumpuh.


“kau terdengar sangat senang” ucap Pieter yang berada di dalam ruangan bersama Beatrice.


“hahaha… tentu saja, aku tidak menyangka ini akan berefek sangat besar. Seharusnya sudah dari dulu aku melakukannya” jawab Beatrice seraya menstabilkan suara setelah sebelumnya tertawa kencang.


“benar, seharusnya kau sudah melakukan ini dari dulu tanpa harus kehilangan harga diri dengan datang ke Istana itu sebagai upeti” ucap Pieter sinis atas jawaban Beatrice.


“hei.. jangan membahas masalah itu, ya harus ku akui memang kedatangan k eke The Great Aztec merupakan sebuah kesalahan, tapi aku memiliki alasan tersendiri mengapa harus datang langsung ke sana” Beatrice seolah sedang mengeluarkan tameng untuk membela diri dari Pieter.


“alasan? Untuk memastikan bahwa orang itu masih mencintaimu? Kau begitu naif” seraya membuang pandangan ke arah lain, Pieter kembali menjawab Beatrice dengan sinis.


“kau pun juga naif Pieter, sudah jelas aku tidak mencintaimu tapi kau masih saja mengikutiku seperti ini” seraya tersenyum simpul Beatrice malah balik memutar fakta mengenai Pieter.


“Sudahlah” sedikit menghela nafas dan lantas pergi meninggalkan Beatrice di ruangannya.


“Kenapa pergi? Akui saja apa yang ku ucapkan ini benar” seru Beatrice mencoba menahan Pieter agar tetap berada di ruangan.


Ucapan Betarice sempat membuat Pieter berhenti dan sedikit menoleh ke arah belakang, “ingatlah, ini kali terakhir aku membantu mu, awalnya aku mengira target mu hanyalah Louise tapi kau begitu serakah sampai menginginkan posisi sebagai kesatria terpilih. Aku akan berhenti sampai di sini, ingatlah aku sudah memperingkan mu sebelumnya” setelah selesai berjalan, Pieter kemudian berjalan pergi dan benar-benar meninggalkan Beatrice.


“cihh.. memang siapa dia beraninya mengancamku. Lagi pula tidak ada yang bisa menghentikan rumor semacam ini, karena sekali tersebar akan sulit untuk dibersihkan. Tamatlah riwayat perempuan itu.” Seraya tersenyum simpul Beatrice merasa sangat percaya diri dengan hasil yang akan dia dapatkan.


****


Selama di dalam penjara Lucas dan Marco diperlakukan tidak manusiawi, mereka terus menerus disiksa tanpa ada alasan yang mendasari Tindakan tersebut. Hingga suatu ketika tepat sehari sebelum panglima Sacheverell secara langsung mendatangi tempat penyiksaan, kala itu Lucas dan Marco sudah pada kondisi yang tidak baik, keduanya babak belur dan bercucuran darah.


Dengan angkuhnya panglima Sacheverell mendekati keduanya, ia menekuk kedua kakinya dan kini tepat berada di depan wajah Lucas, ia kemudian menyentuh kepala Lucas dan menghadapkan wajah ke arahnya, “Katakan, di mana dia menyembunyikan benda itu” ucap panglima Sacheverell bertanya pada Lucas yang lantas di sambut gelak tawa oleh Marco.


“ha..ha..ha..hahhaha”


Tak terima pemimpinnya di rendahkan membuat salah seorang prajurit kembali memukul Marco hingga membuatnya memutahkan darah.


“katakan jika tidak teman mu akan mati” sedikit mengancam Lucas menggunakan Marco.


“baiklah kau yang meminta hal ini sendiri” seraya berdiri kemudian mengelap noda darah di pipinya,


“Siram tubuh mereka menggunakan air garam, dan gelandang keduanya esok hari menuju altar eksekusi, pastikan bahwa setelah eksekusi tubuh kedua baj*ngan ini menjadi santapan hewan liar”. Tanpa rasa ragu sedikitpun panglima Sacheverell memberi perintah yang kejam untuk menyiksa Lucas dan Marco.


Keesokan harinya hukuman mati akan dilaksanakan, Lucas dan Marco digiring menuju sebuah tanah lapang dengan kondisi mata tertutup dan tubuh keduanya diseret dengan kondisi tubuh yang hamper hancur karena banyaknya bekas luka yang belum mengering. Kejahatan keduanya termasuk dalam kategori kejahatan berat maka hukuman akan dilaksanakan secara terbuka dan disaksikan oleh masyarakat sekitar yang ingin melihat. Bukan


tanpa alasan tujuan hukuman boleh dilihat oleh umum agar tidak ada lagi orang yang mencontoh kejahatan berat seperti yang dilakukan oleh Lucas dan Marco. Cara panglima Sacheverell dikenal memerintah Dewan Keamanan Rakyat tanpa belas kasih pada seorang tahanan wilayah, seperti sekarang terlihat bahwa ia begitu keji memperlakukan Marco dan Lucas untuk memberi efek jera pada siapapun yang menyaksikan.


Masyarakat umum yang hadir untuk menyaksikan saling berbisik satu sama lain menggunjingkan kejahatan yang telah diperbuat oleh narapidana kali ini, ditambah beredarnya rumor palsu menjadi bumbu dalam eksekusi kali ini. Rumor tersebut berisi tentang kesatria terpilih lah memiliki kaitan dengan kejahatan yang telah dilakukan oleh narapidana, kesatria terpilih berperan sebagai pemimpin, ia memberi perintah untuk melalukan pencurian informasi. Akibat rumor ini masyarakat  umum kini mulai meragukan sosok kesatria terpilih yang akan melindungi wilayah ini.


“aku tidak menyangka bahwa kesatria terpilih terlibat dalam kejahatan ini” gumam seorang penduduk yang tengah berdiri di antara banyak orang.


“iya kau benar, sangat disayangkan padahal dia adalah sosok yang akan melindungi wilayah kita, jika memang dia sejahat itu bukankah dia harus mendapat hukuman juga?” jawab salah seorang menanggapi ucapan sebelumnya.


“tentu saja, dia akan mendapat hukuman, tunggu saja hal itu akan segera terjadi” sahut seseorang yang tiba-tiba ikut dalam perbincangan itu, dia adalah Beatrice yang juga hadir di antara penonton dan ikut menanggapi obrolan dua orang didekatnya. Ia saat ini mencoba untuk menyembunyikan identitas dengan cara berbaur bersama masyarakat sekitar, sepertinya telinga Beatrice terasa gatal ingin menanggapi rumor palsu yang berhasil menyebar dan menyudutkan Eden, tentu saja hal ini membuatnya sangat senang.


Di kursi utama panglima Sacheverell telah duduk manis berperan sebagai pemimpin yang akan memerintah eksekusi, ditemani oleh pemimpin negara Hibrid, Cemos dan Amon.


“tidakkah ini terlalu berlebihan?” ucap Raja Ethelstanpemimpin negara Hibrid pada panglima Sacheverell.


“benar, menyiksa saja sudah cukup, hukuman mati hanya akan menyisakan misteri yang tidak akan terjawab” imbuh Raja Richard pemimpin negara Cemos.


“terlihat jelas bahwa kau tidak benar-benar menegakkan hukum, kau mengincar sesuatu dan cara ini cukup kotor” imbuh Raja Amadeus pemimpin negara Amon.


“hukuman ini cukup pantas bagi mereka yang tidak menaati aturan Yang Mulia” sedikit meninggikan suara, “lagi pula jika saya mendapatkan benda itu bukankah negara Yang Mulia akan sangat diuntungkan?” panglima Sacheverell dengan berani menjawab ketiga Raja yang saat ini sedang duduk bersanding dengan dirinya, sungguh ia adalah orang yang paling berani menantang Raja tidak peduli meskipun jabatannya berada dibawah para pemimpin negara.


Mendengar ucapan panglima Sacheverell membuat ketiga raja yang segera memalingkan wajah seraya berdehem dan seolah tidak ingin melanjutkan pembahasan, “ya terserah kau sajalah, yang kami inginkan hanya bisa menguasai sector perdagangan di wilayah ini” ucap Raja Amadeus.


Di antara penonton turut hadir Pangeran Arthur, Alejandro dan juga Justin yang sebelumnya telah memiliki rencana untuk  melakukan penyergapan demi menyelamatkan kedua rekannya tersebut, akan tetapi sesampainya lokasi eksekusi mereka dibuat terkejut dengan banyaknya orang yang hadir untuk menyaksikan, bahkan diluar dugaan mereka justru tempat eksekusi terlihat bak arena pertandingan. Hal ini dikarenakan tempat eksekusi dipindah ke sebuah colloseum di mana tersedia kursi penonton dan juga podium utama. Rencana ketiganya menjadi berantakan karena mereka tak akan sempat menyelamatkan Lucas dan Marco akibat banyaknya pasang mata yang menyaksikan, mereka bertiga menyadari bahwa hal ini sengaja dilakukan  dan mungkin saja rencana mereka terbaca oleh panglima Sacheverell. Rekan-rekan yang lain yaitu Diana, Kate, Laura, dan Chris kini tengah sibuk mencari seseorang yang bisa meringankan hukuman dari Adel, sayangnya mereka berempat pun belum berhasil menemukan orang yang dimaksud.


Mendengar bahwa Lucas dan Marco akan dijatuhi hukuman mati membuat mereka sempat ingin ikut dalam misi pembebasan akan tetapi Pangeran Arthur tidak mengizinkan mereka ikut begitu saja, karena misi pencarian jauh lebih penting ketimbang penyergapan, untuk itulah mereka kini sedang berusaha mencari orang yang dimaksud oleh Adel sebelumnya.


Ketatnya penjagaan dan banyaknya penonton membuat Pangeran Arthur beralih ke misi B yaitu mengacaukan tempat eksekusi, plan B sengaja mereka siapkan jika situasi berbeda dari apa yang mereka perkirakan.


Setelah kedua tahanan di seret dan ditempatkan pada sebuah panggung eksekusi, kini giliran Adel yang digiring masuk namun mereka memperlakukan Adel masih dengan cara manusiawi. Adel pun digiring menuju sebuah kursi penyiksaan, kursi yang membuat siapapun duduk diatasnya merasa kesakitan. Melihat Adel digiring masuk membuat masyarakat yang menonton Kembali berbisik mempertanyakan identitas perempuan yang berada di kursi penyiksaan saat ini.


“siapa perempuan itu?”


“Apakah dia juga bagian dari komplotan yang akan di eksekusi?”


“tapi wajahnya tampak seperti seorang bangsawan”


Pertanyaan yang bergantian terlontar dari orang-orang yang bingung dengan sosok perempuan yang muncul dan duduk di kursi penyiksaan, akan tetapi tidak ada seorang pun yang berhasil menjawab pertanyaan mereka.


Tak berselang lama panglima Sacheverell beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju podium kemudian berdiri memandang ke arah masyarakat yang hadir dalam arena eksekusi ini seolah ingin mengumumkan sesuatu. Sontak berdirinya panglima Sacheverell membuat masyarakat terdiam sesaat dan ingin mendengarkan sebuah


pengumuman yang akan dilontarkan oleh panglima Sacheverell.


“Sangat disayangkan bahwa kita semua harus berkumpul di sini untuk menyaksikan sebuah tontonan yang mengerikan, akan tetapi kejadian ini tidak boleh dilewatkan bagi kita semua yang merupakan bagian dari wilayah Anotherworld” dengan suara lantang panglima Sacheverell mulai memberikan pidato.


“mereka yang berada di altar eksekusi telah berbuat kejahatan yang tidak bisa ditoleransi, mencari informasi secara illegal dan juga menyusup masuk ke wilayah yang bukan tanah kelahirannya” imbuh panglima Sacheverell yang membuat riuh para hadirin yang mendengarkan pidatonya, mereka bertanya-tanya mengenai kalimat terkahir


yang terucap dari bibir panglima Sacheverell mengenai seorang penyusup. Seraya menunjuk Adel, panglima Sacheverell kembali melanjutkan pidatonya, “Perempuan yang duduk di atas kursi penyiksaan, dia adalah seseorang yang tidak pantas untuk kalian lihat, bahkan meskipun dia mati tubuhnya tidak akan diterima oleh tanah di wilayah ini” imbuh panglima Sacheverell yang membuat suasanya di kursi penonton semakin memanas dan kalimat umpatan kemudian keluar dari mulut semua orang, mengutuk Adel karena ia dianggap sebagai penjahat sesungguhnya.