LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Salah Langkah



***


Pertemuan lanjutan diadakan di Istana Vie Rose, bertempat di ruang kerja Eden, Cecilia, Diana, Laura dan Kate tengah duduk menunggu seseorang, dia adalah Chris. Malam iniCecilia berusaha membuktikan pengelihatannya mengenai seseorang yang terasa familiar. Setelah ditunggu cukup lama Chris akhirnya datang memenuhi panggilan Cecilia, karena terlambat ia pun masuk dan meminta maaf, “Maafkan aku karena terlambat, banyak..” ucapannya terhenti ketika Cecilia buru-buru menarik tangannya kemudian mendorongnya duduk ke kursi.


“Cepatlah duduk, aku ingin kau memastikan sesuatu” ucap Cecilia terburu-buru seraya duduk di sebelah Chris, ia kemudian memberikan selembar kertas dengan sket wajah seseorang, “Coba perhatikan, aku yakin kau pasti tahu siapa orang ini” ucap Cecilia seraya menunjuk gambar yang ia pegang.


Chris menatap selembar kertas yang ditunjukkan oleh Cecilia, matanya lekat memandang, memahami siapa sosok yang terlihat familiar ini, tiba-tiba pupil matanya melebar, ia seolah mengenali sosok yang ada dalam gambar, “Ini?


Paman Jason?” ucap Chris menyebutkan nama sosok yang ia lihat melalui gambar.


“Benar bukan? Aku yakin itu pasti dia” seraya menggebrak meja dihadapannya.


“Jadi kau bertemu dengannya? Apa kau yakin?” mencoba memastikan bahwa yang dilihat oleh Cecilia tidak salah.


Seraya menganggukkan kepala Cecilia mengkonfirmasi kebenaran tersebut, “Aku dan Diana tidak sengaja bertemu di depan toko milik pelukis Richardo. Awalnya aku sempat tidak menyadarinya, akan tetapi lama kelamaan bila dipahami itu memang sosok dirinya, karena itulah aku meminta Richardo untuk emnggambar sketsa wajah guna


menunjukkannya padamu” tutur Cecilia menjelaskan kronologi pertemuan dirinya dengan Jason.


“Tunggu dulu, bisakah kalian menjelaskan siapa sosok yang sedang kalian berdua bicarakan?” ucap Diana yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya, namun tidak mengenali sosok yang sedang dibicarakan.


“Jason Ludwig, sosok yang sedang kami bicarakan adalah paman dari nona Adel. Tidak seharusnya


dia berada di sini, karena dia bukan merupakan warga asli wilayah ini. Yang artinya jika dia berhasil menyebrang maka sudah dapat dipastikan ada orang dalam yang membantu penyebrangannya sampai kemari” Jawab Chris seraya melihat ke arah Diana, ia terdengar berbicara serius menjelaskan sosok Jason pada Diana.


“Tunggu dulu, pengamanan wilayah ini sangatlah ketat, meskipun dengan bantuan seseorang bukankah akan sangat sulit untuk menembus pintu suci?” ucap Kate yang seolah masih belum percaya pada ucapan Chris.


“Kate benar, bagi orang luar tidak akan mudah masuk melalui pintu suci karena pintu itu diciptakan oleh Sri Isaac Xavier” imbuh Laura yang setuju pada pendapat Kate.


“Atau mungkinkah orang yang membantu Jason, pria yang disebut nona Adel adalah orang yang sama?” ucap Cecilia yang tiba-tiba tersadar ada sebuah kejanggalan.


“Kalau hak itu benar kemungkingkinan besar mereka tidak melewati pintu utama. Seperti yang kita ketahui bahwa portal pelindung yang semakin melemah bisa saja ada oknum-oknum tertentu untuk memanfaatkannya” imbuh Chris melengkapi asumsi Cecilia.


“Lebih baik kita segera mengirim pesan pada Pangeran Arthur, informasi ini bisa membatu mereka yang sedang berada di wilayah Hibrid”.


***


Selama satu malam penuh Pangeran Arthur, Alejandro, Lucas, Justin dan Marco membahas rencana lanjutan agar bisa membawa Adel kembali tanpa adanya kekerasan, tepat setelah selesai melakukan rapat sepucuk surat pun datang. Surat ini berasal dari The Great Aztec yang dikirim oleh Diana, setelah membaca isi surat tersebut, Pangeran Arthur meminta rekan-rekannya untuk mengumpulkan bukti, ia segera membagi tugas, Marco, Justin akan pergi ke wilayah lain untuk mencari sosok yang dilihat oleh Adel menggunakan dua lembar gambar yang dikirimkan oleh Diana, sedangkan Lucas akan mencari informasi mengenai titik-titik pengaliran di wilayah Cemos, sedangkan Pangeran Arthur dan Alejandro akan tetap tinggal untuk menemui panglima Sacheverell. Mereka lantas bergerak muntuk melaksanakan misi yang telah ditetapkan oleh Pangeran Arthur, begitupun Diana dan kawan-kawan yang mulai ikut bergerak, berencana ke seluruh pelosok negeri di wilayah Anotherworld, kecuali Cecilia yang tetap tinggal di Istana Vie Rose untuk berjaga-jaga bila Eden kembali ke Istana.


***


(Di suatu tempat yang tidak diketahui)


Seseorang tengah membaca sepucuk surat ditangan, matanya lekat memandang seolah sedang memahami maksud yang ingin disampaikan melalui sebuah tulisan. Setelah selesai membaca keseluruhan surat, ia lantas merespon dengan menganggukan kepala, responnya seperti paham akan sesuatu, “Dia memintaku untuk memulai segala sesuatu” gumamnya berbicara pada seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya.


“Jika memang demikian, bukankah kita harus memberi kabar pada yang lain tuan Jason?” tanya seseorang tersebut pada sosok yang ternyata adalah paman Jason.


“Segera kirimkan surat pada yang lain” ucap Jason dengan suara berat memberi perintah pada bawahannya.


***


Beberapa hari berlalu rekan-rekan Eden telah berpencar sesuai dengan tugas dan porsi masing-masing dalam mencari informasi mengenai sosok yang pernah ditemui oleh Adel dan juga Jason yang tidak sengaja ditemui oleh Cecilia. Selama beberapa hari ini pula mereka saling bertukar informasi termasuk dengan Pangeran Arthur dan juga Alejandro, namun anehnya selama beberapa hari ini panglima Sacheverell sangat sulit untuk ditemui sehingga membuat Pangeran Arthur memutuskan untuk memberitahukannya pada Raja Louise yang saat ini sedang berada di Istana dan untuk sementara ini Raja Louise akan membantu dengan koneksi yang ia miliki.


 Lucas dan Justin mendapat tugas untuk menyususuri dua negara yakni Hibrid dan juga Assiria, kebetulan hari ini merupakan hari terakhir mereka berada di negara Hibrid, keduanya tengah pergi menuju sebuah bar di pinggiran kota untuk menemui seseorang yang mereka kenal saat masih menjadi Blood Hunter. Orang tersebut lah yang berhasil menjadikan Lucas, Justin dan Marco awbagai Blood Hunter kelas kakap, mereka memanggilnya Hugo, usianya kini sudah tidak muda lagi, akan tetapi ia masih menyempatkan waktu untuk menemui mantan muridnya dulu.


“Anda sudah datang” seru Marco seraya berdiri menyapa Hugo yang sedang berjalan mendekati keduanya di sudut bar.


Marco lantas mengeluarkan dua lembar kertas dan lantas menunjukkan apa yang ada di dalamnya pada Hugo, “Apakah anda bisa membantu kami untuk menemukan dua orang ini? Kami tahu bahwa selama ini anda telah banyak menjual informasi penting mengenai seseorang, jadi, kami mohon jual lah informasi mereka pada kami” ucap Marco yang menunjukkan ekspresi wajah serius dihadapan Hugo.


Perlahan Hugo pun meraih dua lembar kertas bergambar sketsa wajah, ia lantas memperhatikannya dengan seksama mencoba mengingat apakah pernah ada seseorang dengan wajah sama yang pernah ia temui, “Akan kucoba untuk mencari informasi mengenai orang ini, tetapi bila kulihat dengan seksama sosoknya seperti tidak asing di mataku” ujar Hugo yang masih menatap sketsa wajah yang sedang ia pegang.


“Baiklah, kami mohon bantuannya secepat mungkin untuk menemukan kedua orang ini” ucap Lucas pada Hugo.


“Apakah ada sesuatu yang mendesak mengenai orang ini sehingga membuat kalian seolah terburu-buru” tanya Hugo yang kemudian menekuk dua lembar kertas yang sebelumnya ia lihat.


“Sejujurnya memang kami sedang terdesak, ada sebuah masalah yang berkaitan dengan adik teman kami dan kami haru segera membantunya” tutur Lucas pada Hugo.


“Teman? Apakah yang kalian maksud adalah gadis yang pernah kalian tolong?” tanya Hugo sedikit bingung, akan tetapi teringat pada Eden, seseorang yang dekat dengan Lucas dan Marco.


Mendengar hal ini membuat Lucas dan Marco serentak menganggukkan kepala, “Benar, kami sedang menemui masalah yang cukup sulit, ditambah saat ini gadis itu ah maksudku Eden sedang melakukan latiha Bersama pendeta Damian” ucap Marco menjawab pertanyaan Hugo.


“Tunggu dulu, gadis yang kalian tolong dan seseorang yang bernama Eden, apakah mereka orang yang sama?” tanya Hugo pada Marco mencoba memastikan identitas dari Eden.


Mendengar hal ini membuat keduanya Kembali menganggukkan kepala, “Benar” ucap Marco


singkat.


“Eden adalah gadis yang pernah kami tolong, singkat cerita dia adalah kesatria terpilih yang harus memperkuat portal pelindung. Setelah ingatannya Kembali dia merekrut kami sebagai pelatih sekaligus pengawal pribadinya di The Great Aztec” imbuh Lucas melengkapi cerita Marco sebelumnya.


“Jadi begitu, pantas saja kalian bersedia menetap di suatu wilayah hal ini karena gadis itu bukanlah orang biasa. Tetapi aku sangat mendukung keputusan kalian ini, tidak mudah untuk terikat dengan sebuah pekerjaan akan tetapi bila hal itu dilakukan demi seseorang yang hebat seperti gadis itu maka aku pun akan melakukan hal yang sama” ucap Hugo pada Marco dan Lucas. “Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus segera pergi” imbuh Hugo seraya berdiri dan berpamitan pada kedua rekannya tersebut, mereka lantas saling bertukar pelukan sebelum berpisah.


***


Beberapa hari ditolak oleh panglima Sacheverell, sempat membuat Pangeran Arthur dan Alejandro kelabakan, seperti yang diketahui bahwa panglima Sacheverell adalah seseorang yang sulit untuk ditemui karena selama menjabat sebagai pemimpin Dewan Keamanan Wilayah ia sengaja menyalahgunakan kekuasaanya dengan cara terus menghindari orang-orang yang ingin menemuinya. Ia merasa telah merasa menjadi orang paling penting di wilayah Another World sehingga sikap angkuhnya semakin menjadi-jadi. Namun kali ini, panglima Sacheverell sudah tidak dapat menolak permintaan keduanya untuk bertemu karena Raja Louise telah mengirimkan sepucuk surat padanya, “Surat ini pada akhirnya akan datang juga” gumam panglima Sacheverell seraya meremas surat yang ia pegang. “Pieter, jemput tamu kita di pintu depan” ucap panglima Sacheverell memberi perintah pada Pieter.


“Baik tuan, dan ada beberapa surat yang datang pagi ini, saya akan meletakkannya di atas meja kerja anda” seraya meletakkan beberapa pucuk surat di atas meja kerja panglima Sacheverell, “Saya permisi dulu” seraya berjalan pergi keluar ruangan setelah berpamitan pada panglima Sacheverell.


Sesaat setelah Pieter pergi, panglima Sacheverell mulai melihat surat-surat yang ada di atas meja kerjanya, tangannya tiba-tiba berhenti sejenak seolah mengenali sebuah stempel yang ada di salah satu surat, ia kemudian mengambil surat tersebut dan lantas membacanya. Senyum simpul terkembang dari bibir  panglima Sacheverell, ia


terlihat senang karena telah membaca sepucuk surat yang ada di tangannya dan ia pun berjalan ke sebuah sofa, kemudian duduk santai seraya menyeruput teh sambil menunggu tamu yang akan datang. Beberapa menit berlalu, Pangeran Arthur dan Alejandro pun masuk ke dalam ruang kerja panglima Sacheverell bersama dengan Pieter.


“Sepertinya tekad anda begitu kuat Yang Mulia, hamba tidak habis pikir, mengapa seseorang yang memiliki derajat tinggi seperti anda malah membela orang asing yang menyusup ke wilayah kita. Bahkan orang ini tidak istimewa dan tidak pantas untuk diperjuangkan sampai seperti ini” seraya meletakkan secangkir teh kemudian langsung berbicara pada Pangeran Arthur tanpa mengindahkan sopan santun yang berlaku di wilayah Anotherworld.


“Sebelum berbicara setidaknya kau harus mempersilahkan tamu duduk terlebih dahulu” ucap Pangeran Arthur seraya menatap panglima Sacheverell sinis, akan tetapi panglima Sacheverell malah menanggapinya dengan tertawa kecil, “Sayang sekali, anda menemui seseorang yang memanglah tidak memiliki sopan santun” ucap panglima Sacheverell yang kemudian beranjak dari tempat ia duduk lalu berjalan menghampiri Pangeran


Arthur seraya memberikan selembar kertas dengan cara sedikit menghentakkannya di dada kanan Pangeran Arthur.


“Anda terlambat Yang Mulia” sambil melirik kea rah Pangeran Arthur kemudian berjalan pergi meninggalkannya.


Selembar kertas yang diberikan oleh panglima Sacheverell pun kini berada di tangan Pangeran Arthur, ia sempat menoleh ke arah belakang untuk melihat panglima Sacheverell pergi kemudian melihat ke arah depan dan mulai membaca surat yang ia pegang. Pupil matanya tiba-tiba terbuka lebar, ia begitu terkejut hingga spontan meremas surat tersebut dan lantas berbalik mencoba menngejar panglima Sacheverell yang keluar dari ruangan. Sayangnya, panglima Sacheverell sudah tidak terlihat di sekitar, kesal karena terlambat menyadari membuat Pangeran Arthur sempat memukul tembok yang berada di dekatnya, “Sial!” serunya kesal.


“Kakak, apa yang terjadi?” tanya Alejandro kebingungan atas sikap yang ditunjukkan oleh kakaknya tersebut.


Pangeran Arthur tidak bisa berkata apapun, ia menyerahkan kertas yang sebelumnya sempat ia remas menggunakan tangannya pada Alejandro. Penasaran denga nisi surat membuat Alejandro menerima kertas kusut tersebut dan kemudian membaca isinya, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Alejandro sama seperti yang ditunjukkan oleh Pangeran Arthur sebelumnya, ia ikut kesal lantas meremas surat yang tengah ia pegang kemudian membantingnya ke lantai seraya sedikit menggeram.


“Sacheverell sialan!” seru Alejandro yang merasa sangat kesal melebihi respon yang ditunjukan oleh Pangeran Arthur sebelumnya.


Selembar kertas yang diberikan oleh panglima Sacheverell merupakan sebuah surat persetujuan mengenai eksekusi Adel yang telah ditandatangani oleh ke 6 kepala negara di wilayah Anotherworld. Meskipun tanpa persetujuan dari kepala negara The Great Aztec, eksekusi hukuman mati akan tetap dilaksanakan karena hukum di seluruh wilayah Anotherworld masih menganut asas mayoritas di mana sebuah hukuman dapat dilaksanakan melalui pemungutan suara, bila mayoritas setuju maka hukuman dapat dilaksanakan dan hukuman jenis ini bersifat mutlak atau tidak dapat diganggu gugat. Masalah hukuman yang akan dijalani Adel bergantung pada panglima Sacheverell, karena kini ialah yang memiliki hak untuk menentukan jenis hukuman apa yang akan ia pilih.