LALUNA: In To The New World

LALUNA: In To The New World
Legenda 7 Wajah



(Seminggu berlalu)


Siang hari yang lumayan terik mengantarkan Adel menuju pepohonan yang teduh, hari ini ia berjalan-jalan sendiri tanpa Cecilia karena banyak pekerjaan yang sediang ia urus. Ditambah lagi dengan kejadian semalam


membuat pekerjaan Cecilia semakin menumpuk karena selama Eden berada di Istana Matahari, Adel mengadakan pesta permaian setiap malam dengan beberapa rekan Eden sampai pagi, Adel tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersenang-senang dengan caranya sendiri bersama orang lain. Meskipun sangat menyenangkan, namun tetap ada hal yang mengganjal dalam hati, mengenai orang yang ia temui  minggu lalu di Alun-alun Saint Mark Y Valiente wajahnya sangat mirip dengan orang yang ia kenal.


“Apakah ada yang sedang mengangganggu pikiran mu” seru seorang pria memecah lamunan Adel siang itu, orang tersebut tidak lain adalah Pangeran Arthur.


“Ahh rupanya anda yang mulia” ucap Adel yang terdengar seperti tidak sungguh-sungguh ingin menyapa Pangeran Arthur.


“Ekspresi macam apa itu, seharusnya kau menyapaku dengan lebih bersemangat” keluh Pangeran Arthur atas sapaan tidak bersemangat yang ditunjukkan oleh Adel.


Adel lantas menghela nafas, “Pangeran, apakah anda tahu mengenai legenda 7 wajah?”


“Apa? Legenda 7 wajah???” kembali bertanya karena Pangeran Arthur belum pernah mendengar hal semacam itu.


“Di kota Thalsa, ah tidak maksudku di dunia luar ada sebuah cerita mengenai legenda 7 wajah. Dalam alam semesta ini satu orang memiliki 7 kembaran yang tersebar di seluruh dunia, lalu legenda ini diperkuat dengan


teori-teori mengenai dunia paralel yang memungkinkan kembaran kita sedang berada di dunia lain. Tetapi, wilayah Anotherworld dan dunia luar memiliki tahun yang sama, lalu wilayah Anotherworld juga merupakan bagian dari dunia yang sama dengan dunia ku..” Tiba-tiba berbicara melantur tidak jelas lalu merasa kesal pada akhir cerita.


“Lantas apa hubungannya dengan semua itu?” karena tidak mengerti inti dari cerita Adel membuat Pangeran Arthur bertanya.


“Benar bukan? pasti semua itu tidak ada kaitannya dengan dunia paralel atau legenda tujuh wajah.. sejujurnya kemarin, aku sangat yakin bahwa aku telah bertemu dengan seseorang yang ku kenal.. paman Parker, sangat jelas sekali bahwa itu dia” Adel tanpa sadar mulai berbicara tidak formal pada Pangeran Arthur.


“Apa maksud mu? Dan siapa dia?”


“Pangeran, apakah mungkin bila seseorang dari luar Anotherworld menyebrang ke wilayah ini? Harap kecualikan aku karena sudah jelas aku bisa menyeberang berkat darah kakak yang mengalir dalam diri ku.. lantas apakah itu mungkin?” tanya Adel serius dengan hal yang tengah mengusik pikirannya.


“Itu mustahil.. hanya kami yang bisa menyebrang ke dunia luar sedangkan orang yang lahir di dunia luar tidak akan bisa menyebrang hingga kemari, karena portal telah dilindungi dengan sihir khusus dan setiap orang


yang tinggal di wilayah ini juga mememiliki tanda khusus bahkan sejak seseorang dilahirkan.. ehmm lalu bicaralah secara formal, kenapa tiba-tiba kau berbicara tidak formal padahal kita ini tidak dekat.. ehem..” menyangkal semua prasangka Adel dengan tepat berdasarkan hukum dan aturan yang berlaku di wilayah Anotheworld.


“Tapi Yang Mulia, ekspresi wajah orang tersebut memperlihatkan bahwa dia mengenal hamba” tiba-tiba berbicara formal namun tetap dengan nada mengeluh.


“Dia siapa yang kau maksud?” Adel yang pada Awalnya duduk kemudian berdiri dan menjawab Pangeran Arthur dengan bersemangat, “Paman Parker, dia merupakan orang yang paling dekat dengan keluarga kami dan percaya atau tidak saya melihatnya kemarin di Alun-alun Saint Mark Y Valiente.. saya ingin membuktikan bahwa apa yang saya lihat itu tidak salah, namun di wilayah ini akan sangat sulit mendapat bukti tanpa kamera atau handphone seperti yang biasa kami gunakan di dunia luar”


“hand apa ?? tunggu, Jika benar ada orang luar masuk ke wilayah ini seharusnya dia  sudah ketahuan dan segera mendapat hukuman” alisnya tiba-tiba mengernyit ketika berbicara pada Adel.


“Mengenai hukuman, saya juga sudah mendengar tentang itu, tetapi hukuman apa yang akan di dapat oleh seseorang dari luar yang menyebrang ke wilayah ini?”


“Tentu saja hukum cambuk dan dipekerjakan sebagai budak bahkan bisa saja sampai di hukum mati” dengan yakin menjawab Adel tanpa mempertimbangkan perasaan Adel kala itu.


“Tapi, kau tidak perlu khawatir.. kakak ku sedang mencari cara untuk mu” merasa tak enak hati membuat Pangeran Arthur lantas menenangkan Adel agar tidak terlalu khawatir.


“Lalu bagaimana dengan orang yang lahir di wilayah Anotherworld? Apakah mereka akan dihukum bila menyebrangi portal pelindung?” tanya Adel dengan raut wajah serius.


“Tentu saja tidak, untuk apa menghukum orang wilayah Anotherworld. Menyebrang ke luar bukan suatu kejahatan” sambil menyilangkan tangan di depan dada.


“Sangat tidak adil...” gumam Adel seraya memalingkan wajah.


“Di mana bumi dipijak, disitu lah langit dijunjung.. pribahasa ini benar-benar berlaku di wilayah ini dan sangat merugikan orang dari dunia luar” imbuh Adel yang seolah pasrah sekaligus mengkritik hukum yang tumpul di wilayah Anotherworld terhadap perlindungan portal, hal ini dikarenakan hukum yang hanya runcing bagi pendatang sedangkan bagi masyarakat asli tidak dikenai hukuman, benar-benar sangat tidak adil. Segera setelahnya Adel pergi meninggalkan Pangeran Arthur, mendapati hal ini membuat Pangeran Arthur paham sekaligus merasa tidak enak hati karena telah salah berucap, namun ia sama sekali tidak ada niatan ingin menghadang Adel pergi dan membiarkannya begitu saja.


“Ya lain kali akan ku jelaskan kesalahpahaman ini” sambil menghela nafas melihat Adel berjalan pergi.


***


“Jadi kemana kita akan pergi Lou.. Yang Mulia?” sejenak menghentikan ucapannya karena ia tidak sengaja memanggil nama Louise kemudian segera mengubahnya dengan panggilan formal.


Mendengar Eden yang tampak nyaman memanggil namanya lantas membuat Louise tersenyum, “Kita akan pergi ke wilayah Selatan, lalu karena sedang dalam penyamaran panggil nama ku saja”.


“eeeyyyyyy.. tentu saja tidak bisa, saya bisa dipenggal” menolak dengan tegas permintaan Raja Louise.


“Ini perintah” Raja Louise tiba-tiba menghentikan langkah yang membuat Eden tak sengaja menabrak punggung Raja Louise.


“Awww...” serunya kesakitan setelah kepalanya tak sengaja membentur punggung Raja Louise.


“Coba panggil nama ku” sambil menoleh ke belakang untuk menatap Eden seraya merapihkan beberapa helai rambut Eden yang sedikit berantakan dan menutupi wajahnya. Bukannya terkesima Eden malah merasa risih


(sebelum berangkat)


Peristiwa yang berlangsung di Istana Matahari beberapa saat sebelum Eden dan Raja Louise pergi adalah kegenitan Raja Louise yang dengan sengaja menggoda Eden, mulai dari bersikap manis untuk membangunkan Eden (sempat membuat Eden merinding melihatnya), lalu seusai mandi dengan sengaja


bertelanjang dada dan hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawah seolah tengah menggoda Eden menggunakan tubuh kekar berototnya (sempat membuat Eden merasa malu karena ada beberapa pelayan yang juga menyaksikan), memaksa untuk menyuapi Eden padahal ia tidak sedang sakit dan banyak sikap kekanakan lain yang ditunjukan Raja Louise dihadapan Eden membuat dirinya sedikit risih dan kini Eden merasa sudah kebal dengan skinship semacam itu.


Eden pun menghela nafas panjang melihat tingkah laku Raja Louise yang terus menerus berusaha mencari perhatian dari dirinya, “Ya baiklah Louise ayo pergi” sambil menepuk pundak Raja Louise kemudian berjalan


mendahului agar tidak membuang-buang waktu dengan adegan romantis yang tak seromantis ekspektasi kebanyakan orang.


Wilayah selatah The Great Aztec merupakan wilayah perdagangan, disinilah semua transaksi dan tawar-menawar oleh pedagang dan pembeli berlangsung. Alasan Raja Louise mengajak Eden datang adalah agar ia


melihat secara langsung penggerak roda perekonomian di wilayah Anotherworld dan agar nantinya ia dapat ikut ambil bagian dalam memutuskan sesuatu ketika sudah menjadi Ratu. Hal semacam ini sudah lumrah terjadi dan dilakukan oleh para pemimpin besar di wilayah Anotherworld dengan tujuan mengawasi secara langsung dan mempermudah menyelesaikan suatu masalah. Setidaknya Raja Louise sudah melakukan kegiatan ini sejak ia berusia 8 tahun dan kegiatan ini sudah menjadi agenda pokoknya, meskipun terkenal sebagai Raja yang tertutup dan dingin tetapi Raja Louise sangat berdedikasi tinggi terhadap kesejahteraan rakyatnya karena itulah sejauh ini hanya The Great Aztec yang tidak memiliki perpecahan wilayah atau memerdekakan wilayah kecil disekitarnya. Alasan mengapa The Great Aztec masih menjadi wilayah solid dengan luas wilayah yang tetap utuh adalah karena pertumbuhan ekonomi yang merata, masyarakat sejahtera , tidak ada konflik kepentingan bahkan Raja Louise satu-satunya pemimpin yang tidak terjamah oleh kepentingan politik kaum tertentu. Bahkan ketika si upeti datang rakyat sempat meminta Raja Louise untuk menolak karena rakyat percaya bahwa upeti hanya akal-akalan kelompok tertentu yang lambat laun akan menjadi benalu selama kepimimpinan Raja Louise, itulah sebabnya mengapa Beatrice sama sekali tidak mendapat simpati dari siapapun di The Great Aztec termasuk para bangsawan. Fakta inilah yang tidak diketahui oleh Eden, betapa besar cinta rakyat pada Raja Louise meskipun ia terkenal dengan sifat tertutup dan dingin. Dengan setia Eden menemani kemanapun Raja Louise melangkah, menemui beberapa pedagang,


mendengarkan perbincangan diantara mereka, dan sejenak terlintas dalam benak Eden bahwa Raja Louise melaksanakan perannya dengan baik sebagai Raja yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya.


Setelah hampir melewati waktu 8 jam untuk berkeliling kini sudah saatnya untuk beristirahat dan Raja Louise mengajak Eden ke sebuah rumah makan di pinggir sungai Zeus, keduanya kini tengah duduk sambil menikmati pemandangan lalu lalang kapal barang yang melintasi sungai ini.


“Apakah ini sungai Zeus?” tanya Eden sambil menyandarkan dagu pada telapak tangan bagian kanan sedangkan tangan kiri ia letakan secara horizontal di atas meja.


“Benar, sedari tadi ku perhatikan sepertinya kau baru pertama kali datang ke sini” sambil menatap mata Eden dan sesekali melirik pemandangan sungai.


Tiba-tiba menghela nafas tepat sebelum menjawab pertanyaan Raja Louise, “Jika hal semacam pergi jalan-jalan bisa saya lakukan tentu saja saya sudah datang ke tempat ini, tapi anda tahu sendiri bahwa ini bukan hal yang mudah bagi saya” tutur Eden yang terdengar lemas saat menjawab pertanyaannya membuat Raja Louise menjadi tidak enak hati.


“Apa karena aku memaksa mu menjadi Ratu?” pertanyaan ini sontak membuat Eden menoleh dan menatap Raja Louise, dengan tegas ia membantah prasangka ini, “Mungkin sangat terlihat jelas bahwa anda telah merenggut kebebasan saya, tapi hal ini tidak sepenuhnya benar Yang Mulia. Lagi pula, bila bukan dengan saya anda akan menikah dengan siapa lagi? Saya rasa tidak ada gadis yang dapat memenuhi standar anda, bahkan di dunia ini mungkin tidak ada” sambil meletakkan tangan kanan sejajar dengan tangan kiri lalu menatap intens Raja Louise.


“Ya kau benar, satu-satunya gadis yang cocok hanya kau seorang. Lantas apa karena takdir yang telah ditetapkan?”


“Begitulah, kehidupan saya sebelumnya saat berada di kota S sangat damai, lalu tiba-tiba saya menyebrang ke wilayah ini dan mendapati tugas besar yang harus dilaksanakan di masa depan, saya hanyalah gadis yang masih berusia 19 tahun kala itu, saya ini masih remaja, tapi harus bersikap dewasa sebelum waktunya, konyolnya lagi saya bahkan sudah berulang kali hampir mati tetapi takdir sebagai kesatria terpilih lah yang telah menyelamatkan hidup saya dan saya harus menerima semua ini begitu saja. Bukankah kehidupan saya seperti sungai? Terus mengalir mengikuti arus.” menggerutu seolah sedang meluapkan semua keluh kesah yang telah terpendam, Eden bercerita namun ia tidak menatap Raja Louise dan memalingkan pandangannya ke arah sungai.


“Apa ada hal yang ingin kau lakukan setelah tugas selesai?”  tanya Raja Louise.


Mendengar pertanyaan Raja Louise lantas membuat Eden menggelengkan kepala, “Akan sangat sulit untuk selamat setelah melaksanakan tugas, apalagi ada beberapa orang yang sedang mengincar nyawa saya. Saya yakin anda tahu akan hal itu”


“Apakah perlu aku yang menggantikan tugas mu?”


“Lalu maksud anda saya yang menjadi Raja bila anda pergi menggantikan saya melaksanakan tugas? Jangan bercanda Charles Philip Louise, sadarlah.” Sambil menepuk kedua tangan seolah ingin membuat Raja Louise sadar dari khayalan dan saran tidak masuk akalnya tersebut.


Bukannya marah karena nama lengkapnya di sebut, Raja Louise malah tertawa kecil karena sikap Eden yang seolah sedang mengomel pada suaminya, “Tapi, kau belum menjawab pertanyaan ku. Katakan apa yang kau inginkan setelah selesai melaksanakan misi?”


“Saya belum memikirkannya, tapi bagaimana jika jawaban ini merupakan permintaan ke 3 yang belum anda kabulkan” spontan dan tanpa direncanakan sebelumnya, Eden malah mengajukan sebuah penawaran.


“Baru satu hari pergi ke area selatan, bakat berdagang mu ternyata sangat baik” sambil tersenyum menanggapi penawaran yang diajukan oleh Eden. “Baiklah apa boleh buat, aku akan mengabulkan permintaan ke 3 asal itu bukan ‘meminta ku untuk menikah dengan wanita lain, meminta ku untuk memiliki


anak dari orang lain, dan meminta ku untuk berhenti mencintai dirimu.. bagaimana?” sambil menegakkan jari tangannya satu persatu mulai dari jari telunjuk, lalu jari tengah dan diakhiri dengan jari manis.


“Apakah keinginan saya terbaca dengan jelas?” sedikit menolehkan kepala ke arah kanan namun matanya tetap menatap Raja Louise.


“Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa lari dari ku, bahkan selamanya akan sulit untuk menghindar dari diriku meskipun kita bereinkarnasi di masa depan” sambil menaikkan alis kanannya Raja Louise memberi peringatan pada Eden.


“eeiiyyy... mana mungkin, bahkan dikehidupan berikutnya saya akan tetap bersama anda? Bila itu terjadi maka saya bukan mendapat keberuntungan tapi mendapatkan sial” menggerutu atas ucapan Raja Louise yang terlalu percaya diri.


“Apa? Coba katakan sekali lagi?” Raja Louise merasa tidak terima dengan ucapan Eden, ia kesal namun tidak bisa meluapkan amarahnya pada Eden.


“Sial, anda ini adalah kesialan itu sendiri” ucap Eden tanpa ragu mengatakan hal yang dibenci oleh Raja Louise.


“Wahhh.. aku tidak percaya ini, seumur hidup kau ahh tidak memang hanya kau yang berani mengata-ngatai Raja negara ini” kembali mengeluh atas kata-kata yang terlontar dari mulut Eden, bukannya takut Eden malah tertawa kecil melihat ekspresi wajah Raja Louise. Meskipun terdengar seperti sedikit menghina, tetapi Eden tidak benar-benar ingin mengatakan hal itu karena tujuan yang sebenarnya hanya ingin melihat ekspresi marah Raja Louise dan menurut Eden Raja Louise terlihat lucu.


Tak berselang lama, hidangan yang telah dipesan sebelumnya telah datang, dengan lahapnya Eden menyantap makanan yang tersaji di atas meja makan, saat tengah asyik melahap sesuap demi sesuap tiba-tiba panas hebat menyerang tubuh Eden menyebabkan sendok yang ia pegang jatuh begitu saja “klotak” suaranya begitu keras membuat Raja Louise sontak menoleh ke arah Eden, ia mendapati Eden mematung dengan tangan yang bergetar hebat, “Kau tidak apa-apa?” tanya Raja Louise namun Eden tak merespon membuatnya segera bangkit dan menghampiri Eden.


“Eden, jawablah?” duduk berjongkok disebelah kursi Eden kemudian meraih tangannya namun Eden kembali tak merespon, dan hanya merintih pelan yang terdengar oleh telinga Raja Louise membuatnya segera memeluk Eden untuk memastikan keadaanya.


“Badannya panas sekali” ucap Raja Louise dalam hati, tak berselang lama Eden kehilangan kesadaran dan terkulai lemas dalam pelukan Raja Louise.


***