
Masih di situasi yang sama
"Eh aku memanggilmu apa?" tanya Kiandra
"Abang aja" jawab Daniel
"Baiklah" ucap Kiandra
"Aku kesini mau ngasih sesuatu sama kamu" ucap Daniel
"Apa itu?" tanya Kiandra
"Aku tahu kakak dan adiku menikahi kakak dan adikmu tanpa lamaran atau pertunangan, jadi aku ingin" ucap Daniel menggantung ucapannya
"Ingin apa?" tanya Kiandra
Daniel langsung mengambil cincin di sakunya
"Will you merry me" ucap Daniel melamar
"Kamu serius?" tanya Kiandra. Daniel mengangguk
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Daniel datar
"M-mau" jawab Kiandra gugup
"Makasih" ucap Daniel datar
"Sama sama, tapi apakah ini cincinnya gak kemahalan?" tanya Kiandra
"Tidak" jawab Daniel
"Ayoo fitting baju" ajak Daniel
"Ayo" ucap Kiandra
Daniel dan Kiandra keluar caffe lalu menuju butik terdekat karena kalau ke butik Monica kejauhan
Sesampainya di butik
"Tolong bawakan pakaian pengantin yang mewah" suruh Daniel pada karyawan butik
"Baik tuan" ucap karyawan itu langsung pergi
Tak lama kemudian karyawan itu kembali membawa 3 gaun pengantin mewah dan 3 jas berwarna senada dengan gaun gaun itu
"Kalau kamu suka yang mana?" tanya Kiandra
"Yang hijau aja, gak terlalu terbuka juga gaunnya" jawab Daniel
"Ok mbak yang warna hijau itu" ucap Kiandra
"Sekalian jasnya" sambung Daniel cuek
Setelah itu mereka keluar butik
"Ayo" balas Kiandra
Mereka pun pulang dengan mobil berbeda. Daniel mengikuti mobil Kiandra sampai rumahnya.
Sampailah di rumah Kiandra, Daniel turun mobil dan menghampiri Kiandra
"Kamu gk usah bilang kalau kita habis fitting baju dan juga lamaran" ucap Daniel
"Tanpa kau suruh" ucap Kiandra
"Baik lah Rara aku pulang" pamit Daniel
"Hati hati" ucap Kiandra
Daniel mangguk lalu masuk mobil dan pulang.
Sesampainya di rumah dia langsung merebahkan dirinya ke kasur dan memandang foto bundanya yang menggantung di tembok kamar
"Bunda, Daniel minta restu karena minggu depan Daniel akan menikah, bunda bahagia ya disana. Maaf kalau semasa bunda masih ada Daniel gak bisa buat bunda bangga" ucap Daniel lirih berlinang air mata
"Jangan menangis nak karena bunda sudah tenang disana" ucap Dito yang sedari tadi menyimak ucapan Daniel
"Ayah" lirih Daniel
Dito mendekati Daniel dan mengelus pundaknya
"Anak lelaki masa cengeng sih" ucap Dito menghapus air mata Daniel lembut
Mendengar itu Daniel langsung memeluk Dito erat dan menumpahkan air matanya
"Kenapa bunda ninggalin kita waktu itu?" tanya Daniel menangis dipelukan ayahnya
"Nak, umur setiap orang itu berbeda beda, mungkin allah lebih sayang dengan bundamu, hanya satu keinginan seorang ibu" jawab Dito
"Seorang ibu hanya ingin putranya bahagia dan mendapatkan pendamping hidup yang baik" lanjut Dito mengelus punggung putranya
"Aku menyesal kerena bunda pergi namun aku belum menjadi anak yang baik" ucap Daniel
"Disitulah penyesalan terbesar yang Daniel alami, saat itu banyak saudara yang mengatakan "jangan salahkan dirimu sendiri" tapi apa mereka mengalami penyesalan yang sama" lirih Daniel
"Setelah kepergian bunda, banyak sekali kutemui anak anak seusiaku sedang bermanja manja dengan bundanya, aku selalu bertanya tanya pada kak Deksa dan Dirga "mengapa kita tidak merasakan hal yang sama?" pertanyaan itu yang selalu mengisi otak kami" lanjut Daniel
Dito hanya bisa memberikan pundaknya sebagai sandaran keluh kesah putranya
"Perlahan kami bertiga menyadari bahwa takdir tuhan berbeda beda, kita hanya bisa mengikuti alurnya dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi" lirih Daniel
"Di sini ayah hanya bisa berdoa semoga istrimu bisa memberikan kasih sayang yang sama seperti bundamu" sambung Dito
"Sudah maghrib sholatlah terlebih dahulu" ucap Dito lembut
Daniel mengangguk dan menuruti perintah ayahnya. Dito keluar kamar Daniel dan menuju kamarnya sendiri
Bersambung