Kenzou

Kenzou
Aku Akan Bahagia



Sehari sebelum pernikahannya dengan Kenzou, Tiara bersimpuh di depan makam kedua orangtuanya, mbak Tini dengan setia menemaninya meski sudah berjam-jam Tiara mencurahkan isi hatinhya pada kedua orangtuanya itu.


"Aku sangat bersyukur karena akan mendapatkan pria sehebat Kak Zou sebagai suamiku. Aku masih tidak menyangka kalau pria itu sangat mencintaiku, aku di antara begitu banyaknya wanita yang rela saling membunuh demi bisa mendapatkan hatinya ... "


Tiara menghapus air matanya sebelum melanjutkan,


"Mungkin semua tidak terlepas dari doa Mama dan Papa dari atas sana. Aku tahu meski kita tidak lagi bisa bersama, Mama dan Papa akan tetap melindungi dan menjagaku dengan cara kalian, dan mungkin saja dengan doa tulus dari Mama dan Papa lah yang pada akhirnya Tuhan mengirimkan Kak Zou untuk menjagaku."


Tiara kembali terisak dan mbak Tini mengusap lembut punggung Tiara yang bergetar karena isakannya, tanpa bisa mencegah air matanya yang turut serta mengalir ke pipinya.


"Tuan ... Nyonya ... Sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang. Semua yang menjahati Tuan dan Nyonya juga Non Ara telah mendapatkan balasannya. Saya sebagai saksinya kalau Nak Kenzou sangat mencintai Non Ara. Cintanya begitu besar, tulus dan tanpa syarat. Keluarganya pun sama baiknya dengan Nak Kenzou, Non Ara akan mendapatkan bukan hanya suami, tapi juga keluarga baru yang benar-benar menyayanginya," ujar mbak Tini dengan suara bergetar.


Bagaimana tidak, ia melihat sendiri betapa tersiksanya Tiara selama hidup bersama dengan keluarga tantenya itu. Keluarga yang seharusnya melindungi dan menyayanginya, tapi malah memberikan penderitaan yang begitu besar pada satu-satunya keponakan yang mereka miliki, satu-satunya sepupu yang Dasha miliki.


Dan Tiara benar, Kenzou seperti jawaban dari semua doa-doanya, juga doa mbak Tini yang sangat ingin melihat Tiara bahagia, yang sangat ingin seseorang menarik keluar Tiara dari neraka yang dibuat keluarganya sendiri itu.


"Apa Mama dan Papa akan merestui pernikahanku dengan Kak Zou, Mbak?" tanya Tiara dengan suara serak,


"Apa papa dan Mama akan menyukai Kak Zou seandainya saja mereka masih hidup? Bagaimana reaksi Kak Zou saat pertama kali bertemu dengan Papa dan Mama? Aku tidak bisa melihat itu, Mbak ... Tidak bisa merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan saat pertama kali mengenalkan kekasihku pada orangtuaku ... "


Mbak Tini merangkul pundak Tiara dan menariknya mendekat hingga dapat memeluknya,


"Tuan dan Noya pasti berada di rumah saat pertama kalinya Nak Kenzou datang, Non ... Tuan dan Nyonya akan tertawa bahagia saat melihat Non Tiara dan Nak Kenzou becanda di halaman, atau menertawakan tingkah konyol kalian saat membuat dapur berantakan, saat kalian mencoba untuk membuat kue yang ternyata gagal total."


Tiara tersenyum kecil di sela isakannya saat teringat kejadian minggu lalu. Kegiatan konyolnya bersama dengan Kenzou yang mencoba membuat kue dengan bermodalkan resep yang mereka temukan di salah satu channel Youtube.


Mereka lebih banyak becanda daripada serius mengikuti tahapan dari resep itu. Saling mencoret wajah mereka dengan tepung hingga nyaris memenuhi wajah Tiara dan juga Kenzou.


Atau Kenzou yang lebih sering menjilat cokelat dari tangan Tiara, yang mengirimkan desiran-desiran halus ke seluruh tubuh Tiara, dan menutupnya dengan ciuman yang awalnya pelan berubah menjadi dalam dan menuntut, hingga mereka baru berhenti saat mencium bau gosong dari kue yang mereka coba buat itu.


Itukah yang akan terus terjadi di dalam rumah tangganya dengan Kenzou? Penuh dengan hal-hal konyol dan menggelikan? Kegiatan kecil yang akan berakhir menjadi cumbuan dan rayuan? Sebahagia itukah pernikahan mereka nantinya?


Siapa yang akan mengira kalau pria sedingin Kenzou ternyata bisa melakukan hal sekonyol itu ...


"Mama ... Papa ... Ara akan hidup dengan bahagia bersama dengan Kenzouku. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya, aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk selalu berada di sisinya, untuk selalu ada dan mendukungnya," tekad Tiara sambil tersenyum lembut menatap nisan mama dan papanya itu secara bergantian.


Isakan Tiara kembali pecah. Betapa ia telah mengeluarkan keinginan terdalamnya itu, keinginan yang sangat ingin ia rasakan seperti halnya calon mempelai lainnhya, hyang akan menghabiskan waktu mereka bersama dengan keluarga besarnya.


Sedang Tiara ... Jangankan keluarga besarnya, Mama dan Papanya saja tidak berada di sisinya. Semuanya terpaksa terenggut karena ulah manusia yang serakah.


"Jangan terus bersedih seperti ini, Non ... Jangan sampai Non Ara menjadi pengantin dengan kedu mata yang membengkak karena terus-menerus nangis. Senyumlah, Non ... Sambut kebahagiaan Nona Ara yang sudah berada di depan mata dengan suka cita. Dan Mbak yakin, Tuan dan Nyonya pasti juga menginginkan hal yang sama untuk NOn Ara," bujuk mbak Tini.


Tiara menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya, untuk menguatkan dirinya agar tidak kembali menjatuhkan lagi air matanya, bersamaan dengan ponselnya yang berdering dengan nada dering yang ia berikan khusus untuk Kenzou.


"Masih berada di makam Mama dan Papa?" tanya Kenzou saat melihat wajah Tiara di layar ponselnya.


Tiara menghapus air matanya sebelum menjawab dengan suara parau,


"Iya ... "


"Ara ... Aku tahu kamu pasti sedih karena Mama dan Papa tidak dapat hadir di hari bahagia kita nanti. Tapi aku percaya mereka pasti akan hadir di pernikahan kita besok, meski kita tidak dapat melihat mereka."


"Iya, Kak aku tahu ... "


"Senyumlah, Sayang ... Gadis kecilku ... Aku sudah berjanji kalau aku tidak kan membuatmu menangis lagi, tapi lihatlah sekarang, lagi-lagi aku membuat air matamu yang begitu berharga kembali mengalir keluar sehari menjelang pernikahan kita."


"Ini air mata bahagia," elak Tiara sambil mencoba untuk tersenyum.


"Kamu pasti akan bahagia, Ara ... Aku janji aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku berjanji di depan makam kedua orangtuamu kalau aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Aku akan mencintaimu seumur hidupku!" tegas Kenzou.


"Ya, aku percaya padamu, Kak ... Terima kasih karena telah mencintaiku dengan begitu dalam," ucap Tiara.


"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, karena telah lahir ke dunia ini dan akan terus menemani hari-hariku hingga maut memisahkan kita berdua," goda Kenzou senyum Tiara pun merekah.


"I love you, Kak Zou ... "


"I love you more and more," balas Kenzou tanpa ragu.