
Tiara terjaga dari tidurnya karena tangan kanannya yang terasa berat dan mulai kesemutan, dan ia sudah melihat penyebabnya, yang tak lain adalah kepala Kenzou yang menjadikan telapak tangannya sebagai bantalannya.
Tidak mau mengganggu tidur Kenzou, Tiara membiarkannya. Ia tersenyum lembut melihat pria yang paling diminati di Asia itu, tertidur dengan posisi yang pastinya tidak nyaman itu.
Pria yang kini sudah menjadi kekasihnya. Pria yang sudah membantunya menghukum Tante Risya dan Om Danu, yang sudah membunuh kedua orang tuanya, serta menghukum Dasha yang selalu saja mengasarinya. Pria itu bahkan mengembalikan seluruh aset Tiara yang sempat dikuasai om dan tantenya.
"Terima kasih, Kak..." desahnya pelan, tidak ingin membangunkan kekasihnya itu.
Tiara mengangkat tangan kirinya yang terpasang jarum infus, lalu membelai lembut kepala Kenzou. Bahkan saat ia membelainyapun pria itu tidak bangun juga, sepertinya ia kelelahan.
Padahal ada sofa panjang di kamar ini, tapi kenapa Kak Zou malah tidur di kursi itu?
Seharian kemarin pria ini menjaganya, dan tidak sekalipun pria itu beranjak dari sisinya selain untuk pergi ke kamar mandi.
Bahkan untuk sekedar makanpun Kenzou tidak mau keluar dari kamar ini, ia tidak mau meninggalkan Tiara, pria itu lebih memilih memesan makanannya melalui ojek online.
Meski dokter Sam sudah berkali-kali memintanya untuk pulang dan istirahat, Kenzou tetap menolaknya. Pria itu bersikeras ingin terus menjaga Tiara.
Apa kalian sudah resmi pacaran sekarang? Sudah bukan berpura-pura pacaran lagi?" tanya Keizaa keesokan harinya.
Ia baru bisa menjenguk Tiara setelah Kenzou pulang, dan meminta Keizaa untuk bergantian menjaga Tiara.
"Iya, Zaa..." jawab Tiara dengan wajah yang mulai merona merah.
"Ah sesuai dengan keinginanku... Kamu adalah calon Kakak Iparku!" seru Keizaa sambil memeluk erat sahabatnya itu.
"Aku tidak menyangka Zaa, kalau Kakakmu itu sudah menyukaiku sejak kecil..." gumam Tiara sambik tersenyum lembut saat teringat kembali pengakuan Kenzou kemarin.
Kedua mata Keizaa membulat lebar, apa mungkin kakaknya yang sedingin es kutub itu ternyata secret admirernya Tiara,
"Oh yaa? Waahh aku baru tahu... Kok bisa?"
"Hmm... Itu rahasia masa kecil kami... Aku belum mau membaginya dengan siapapun..."
Keizaa memicingkan kedua matanya, "Termasuk aku?" tanyanya.
"Ya, termasuk kamu," jawab Tiara, lalu menyeringai lebar melihat wajah Tiara yang memberengut.
"Aku pasti akan cerita padamu, Zaa... Tapi tidak sekarang... Nanti yaa," lanjutnya.
"Ceritakan sekarang saja, Raa... Please... Aku sudah kepo maksimal ini!" bujuk Keizaa sambil memasang wajah memelasnya.
"Nanti pasti aku akan menceritakan semuanya, Zaa... Sabar yaa..."
"Ah Tidak asik nih..." rajuk Keizaa, lalu tatapannya melembut saat melihat wajah sahabatnya yang masih merona merah itu.
Tiara mendesah pelan, senyum manis tersungging di wajahnya, ia menatap Keizaa dengan penuh raut wajah bahagianya,
"Tentu saja aku sedang merasa berbunga-bunga saat ini, Zaa... Bagaimana tidak, pria yang selama ini aku cintai ternyata mencintaiku juga..."
Keizaa memutar kedua bola matanya sebelum berkata, "Aku tahu itu, Raa... Tanpa kamu memberitahu aku pun aku sudah bisa menebaknya, kalau kamu sedang terbang ke langit ke tujuh saat ini... Tapi bukan itu maksud pertanyaanku tadi..."
"Oh, lalu apa?"
"Kamu masih merasa pusing, panas atau ada keluhan lainnya?"
"Hanya kaki saja yang terasa pegal, Zaa... Selebihnya tidak ada keluhan apapun lagi."
"Syukurlah kalau begitu... Aku turut prihatin, Raa... Dengan kejahatan Om dan Tantemu itu. Apa itu yang membuatmu sakit? Mereka sering sekali menamparmu... Untung saja Kak Zou cepat bertindak sekarang."
Wajah Tiara seketika terlihat sedih, tapi Keizaa tahu apapun yang dirasakan Tiara saat ini, sahabatnya itu tidak akan menceritakan padanya, tidak kalau Tiara memang belum mau mencurahkan isi hatinya itu.
Keizaa mengibas tangannya, "Sudahlah, yang terpenting sekarang sudah ada Kak Zou yang akan selalu melindungimu... Percayalah, Ra... Tidak akan ada yang bisa menyentuh orang-orang yang keluargaku sayangi, dan kamu sudah termasuk di dalamnya. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan keselamatanmu lagi, kalau-kalau Om dan Tantemu itu berniat untuk balas dendam." jelas Keizaa.
"Apa kamu tahu Zaa, kalau ternyata saat di Kafe Puncak waktu itu, ketika kita semua beranggapan Kak Zou tidak peduli padaku, ternyata Kak Zou langsung bertindak dengan menutup Kafe temannya Dasha itu saat itu juga?" tanya Tiara.
"Ya, aku ingat... Dan Kak Zou juga sudah menceritakan semuanya padaku kemarin... Itu kan penyebab Dasha menamparmu? Aku harap kamu tidak pernah memaafkan sepupu jahatmu itu...." jawab Keizaa.
"Zaa, Dasha adalah satu-satunya sepupu yang aku punya... Aku tidak bisa menimpakan kejahatan yang Om Danu dan Tante Risya lakukan padanya... Itu tidak adil. Kejahatan orang tuanya terjadi saat Dasha masih kecil, yang mungkin juga belum bisa membedakan benar dan salah."
"Cih belum bisa membedakan apanya? Buktinya saat itu Dasha sudah bisa membedakan mana kamar yang bagus untuknya dan mana yang tidak dengan merebut kamarmu itu... Sepupumu itu sejahat kedua orang tuanya, Ra!" cibir Keizaa.
Ia berharap keterus terangannya mampu menyadarkan sahabatnya ini, dengan terus wadpada terhadap sepupunya yang tidak sepolos kelihatannya itu.
"Dia tidak akan bisa merebut kamar itu, kalau aku sendiri yang tidak mau memberikannya, Zaa... Saat itu aku hanya terlalu senang, karena ada yang berniat baik menemaniku di saat-saat sedihku... Jadi aku mengiyakan saja semuanya."
"Niat baik apa? Jelas-jelas mereka memiliki niat terselubung, mereka ingin merebut semua hartamu, Ra!"
"Iyaa... Aku baru tahu setelahnya... Tapi aku bisa apa? Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk melawan mereka, pengacaraku sekalipun." desah Tiara pelan, lalu tersenyum manis sebelum melanjutkan,
"Ya sudahlah... Itu semua sudah berlalu... Berkat Kak Zou aku dapat memiliki lagi harta peninggalan orang tuaku itu, termasuk perusahaan yang sudah susah payah Papa bangun dari nol itu."
"Apa kamu akan mengizinkan Dasha untuk tinggal bersama denganmu?" tanya Keizaa.
"Ya, tentu saja... Dasha tidak memiliki keluarga lain selain aku... Jadi sudah pasti aku tidak akan tega mengusirnya." jawab Tiara.
"Ya Tuhan Ara... Kapan kamu sadarnya sih? Mereka keluarga parasit! Sampai kapan kamu akan membiarkan mereka menggerogotimu, even itu hanya tinggal Dasha saja?"
"Tapi mereka satu-satunya keluargaku yang masih hidup, Zaa... Memang Om Danu dan Tante Risya yang sudah membunuh kedua orang tuaku... Apa aku sedih? Sudah pasti aku sedih dan marah... Tapi itu semua tidak akan bisa menghidupkan Mama dan Papaku lagi... Dan yang terpenting, kedua orang tuaku itu selalu mengajariku untuk tidak pernah menyimpan dendam... Jadi yaa... Aku memaafkan mereka.. Meski proses hukum akan terus berlanjut." jelas Tiara.