Kenzou

Kenzou
Aku Belum Siap



"Smart home? Untuk apa?"


"Coba kamu buka aplikasi itu."


"Aplikasi ini dapat mengendalikan rumah dan semua peralatan rumah dari ponsel pintarmu ini, semuanya diatur dalam satu alat saja. seperti memantau CCTV, sistem penguncian rumah, menyalakan atau mematikan listrik, mengatur AC, dan peralatan elektronik lainnya," jelas Kenzou.


Ya, Tiara pernah mendengar teknologi smart home ini. Sebenarnya ia juga ingin mengaplikasikan smart home ini di rumahnya jika keuangan perusahaannya sudah stabil.


Tapi ternyata Kenzou sudah terlebih dahulu memakainya di rumah ini, rumah mereka. Apakah itu berarti setelah menikah mereka akan tinggal di sini?


Tiara mencoba semuanya, menyalakan dan mematikan lampu, televisi, membuka dan menutup gordyn, semuanya ia coba.


"Kamu suka?" tanya Kenzou dengan nada selembut beledu.


"Ya, tentu saja aku sangat menyukainya, Kak."


"Sekarang ikut aku!" seru kenzou sambil menarik lengan Tiara.


"Mau ke mana?" tanya Tiara, mau tidak mau Tiara mengikuti langkah lebar Kenzou menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumah ini.


Mereka masuk semakin dalam hingga Kenzou membuka salah satu pintu besar yang berada di lantai itu.


"Masuklah, ini kama kita," ujarnya sambil mendorong lembut Tiara agar memasuki kamar bernuansa moder itu.


Kamar itu terlalu besar, hingga terdapat ruang santai sendiri, dengan mini bar berisi bermacam minuman dari negara lain, beserta dengan aneka bentuk gelas yang berbaris rapi di tempatnya.


Tiara terus masuk semakin dalam, hingga mencapai ruang ganti, dan ia kembali terpana saat melihat apa yang terdapat di ruang ganti itu.


Nampak bermacam baju harian hingga gaun-gaun terindah yang belum pernah Tiara lihat selama ini.


"Semuanya akan menjadi milikmu, manisku. Aku yang memilihkannya sendiri untumu!" seru Kenzou sambil memeluk Tiara dari belakang.


"Tapi, gaun darimu yang di rumah saja belum semuanya aku kenakan, Kak."


"Ssttt! Tidak boleh banyak protes. Biarkan aku memanjakanmu seperti ini, aku senang bisa melakukan semua ini padamu."


Selama ini Tiara hidup serba kekurangan. Bahkan ia sering pulang jalan kaki dari sekolah ke rumahnya karena tidak ada uang untuk naik kendaraan.


Dan sekarang... Ia mendapatkan limpahan kemewahan seperti ini, seharusnya ia merasa senang, iya kan? Alih-alih senang ia malah merasakan...


Merasakan apa? Entahlah ia sendiri bingung untuk menjabarkan perasaannya saat ini.


Tiara melepaskan dirinya dari dekapan Kenzou, ia melangkah ke arah rak yang terbuat dari kaca, yang berisi berbagai macam tas mewah dari brand ternama. Bahkan ada yang harga satu tasnya sama dengan harga satu mobil.


Tapi Tiara tidak dapat mengajukan keberatannya, karena Kenzou pasti akan menemukan seribu satu alasan untuk membenarkan tindakannya ini.


Pun saat Tiara melihat rak berisi aneka ragam sepatu branded, dan beberapa set perhiasan dan jam tangan mewah di dalam kotak susun yang terbuat dari kaca itu. Ironi sekali, dari serba kekurangan menjadi berlimpah kemewahan seperti ini.


"Lemari kaca itu hanya bisa di buka dengan sidik jariku dan juga sidik jarimu saja, Ra." jelas Kenzou.


Melihat Tiara yang hanya terdiam saja, Kenzou kembali bertanya,  "Apa kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini?"


Tiara balik badan untuk menatap kekasihnya itu. Wajah tampan Kenzou yan biasanya terlihat dingin, kini terlihat khawatir, mungkin ia takut menyakiti Tiara karena bertindak di luar kemauannya.


"Maaf..." ujar Tiara sambil menundukkan wajahnya.


Ia belum siap dengan semua kemewahan ini, entah kenapa ia takut dengan segala bentuk kemewahan, ia takut kalau itu akan membuat seseorang merasa iri dan membunuhnya, seperti Om Danu dan Tante Risya yang tega membunuh kedua orangtuanya, demi mendapatkan semua kemewahan yang dimiliki keluarga Tiara.


Sambil tersenyum lembut, Kenzou meletakkan kedua tangannya di bahu Tiara,  "Lain kali, aku akan bertanya padamu terlebih dahulu, apa yang kamu suka dan tidak kamu suka, OK?"


Tiara menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu mendongak untuk melihat wajah kekasihnya itu,


"Aku selalu menyukai apapun yang kamu berikan untukku, Kak. Hanya saja, jangan terlalu berlebihan. Aku sungguh-sungguh merasa tidak nyaman," desahnya pelan.


"Maaf..."


"Sstt... Tidak apa-apa, sekarang kita lanjut lagi mengelilingi rumah ini!"


Tiara mengikuti langkah kaki Kenzou keluar dari kamar mereka, lalu membuka pintu yang berada tepat di seberangnya,


"Kamar anak kita," ujar Kenzou.


Sekali lagi Tiara terpana melihat isi kamar itu, yang telah di dekorasi sebagaimana layaknya kamar anak-anak pada umumnya,


"Masih kosong, aku ingin kamu yang mengisinya saat kamu hamil nanti," lanjut Kenzou membuat pipi Tiara merona merah.


Astaga, dia sudah membicarakan kehamilan saja....


Kenzou membalik badan Tiara ke arahnya, lalu menatapnya dengan penuh kasih,


"Aku sangat ingin menikahimu, Ra. Untuk mewujudkan semua impianku itu, untuk memenuhi rumah kita ini dengan jerit tangis anak-anak, aku sangat menantikan saat-saat itu," aku Kenzou.


Ia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya, mau Tiara menolaknya ribuan kalipun ia akan tetap mengajaknya menikah, karena ia ingin melihat Tiara sebelum dan setelah ia bangun tidur.


"Kak...."


Tiara tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena jari telunjuk Kenzou telah menahan bibirnya,  "Jangan katakan, aku sudah tahu apa jawabanmu itu."


Kenzou kembali merangkul Tiara keluar dari kamar anak, dan lanjut mengeksplorasi rumah itu, memperlihatkan tiap sudut rumah itu, hingga tidak ada satupun tempat yang terlewatkan.


Setelah selesai, Kenzou mengajak Tiara pulang, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Tiara ketika wanita itu bertanya,


"Apa Kakak benar-benar ingin menikah muda?"


"Aku sangat menginginkannya, Ra. Kenapa? Apa kamu akan menolakku lagi?"


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja... Akunya yang belum siap," aku Tiara lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.


"Kenapa?"


Kenapa? Aku pun tidak tahu kenapa aku belum mau menikah. Berkali-kali aku menanyakan itu pada diriku sendiri, dan aku tidak dapat menemukan jawabannya...


"Entahlah, aku hanya belum siap saja."


"Pikirkan lagi saja, masih ada waktu satu bulan lagi dari batas waktu satu tahun yang kamu minta."


"Iya."


Sisa perjalanan mereka lalui dalam diam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, hingga Kenzou menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara,


"Kakak mau mampir?" tanyanya.


"Tidak, besok saja aku jemput kamu," jawab Kenzou.


Tiara tahu saat ini Kkenzou sedang merajuk, dan sejujurnya ia tidak ingin menolak pria itu lagi, tapi saat ini ia belum berani mengambil langkah sebesar itu, mengambil keputusan besar secepat itu, tidak mudah membina rumah tangga, ya kan?


Setelah Tiara menutup pintu mobilnya, tanpa berkata sepatah katapun pada Tiara, Kenzou segera tancap gas meninggalkannya, dan Tiara terus melihat mobil Kenzou hingga menghilang di tikungan.