
"Tapi mereka satu-satunya keluargaku yang masih hidup, Zaa... Memang Om Danu dan Tante Risya yang sudah membunuh kedua orang tuaku... Apa aku sedih? Sudah pasti aku sedih dan marah... Tapi itu semua tidak akan bisa menghidupkan Mama dan Papaku lagi... Dan yang terpenting, kedua orang tuaku itu selalu mengajariku untuk tidak pernah menyimpan dendam... Jadi yaa... Aku memaafkan mereka.. Meski proses hukum akan terus berlanjut." jelas Tiara.
"Entah kamu itu sebenarnya terlalu baik atau terlalu naif, Ra... Tapi kalau menurut pendapatku, sampai kapanpun Dasha tidak akan pernah bisa berubah... Kenapa? Karena orang tuanya sudah salah dalam mengasuhnya sejak kecil." ujar Keizaa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak Zou sudah menghukumnya dengan menjadi asisten rumah tangga selama satu tahun di rumahku, Zaa... Aku lihat nanti saja, apa hukuman itu bisa merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, atau tidak... Kalau ternyata tidak, aku akan mengusirnya dari rumahku... Bagaimana?" tanya Tiara.
"Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar, Ra... Bisa saja terjadi sesuatu denganmu sebelum waktu satu tahun itu berakhir... Kalau Tantemu saja bisa sejahat itu meracuni Kakaknya sendiri, tidak menutup kemungkinan Dasha pun akan seperti itu... Bagaimanapun juga buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." jawab Keizaa.
"Kamu tenang saja, Zaa... Kak Zou akan mengirim empat bodyguardnya untuk menjagaku... Dan sejujurnya itu juga membuatku sedikit lebih tenang. Karena sejak aku mengetahui kalau Om Danu dan Tante risya yang meracuni Mama dan Papaku, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, kecuali saat sedang menginap di rumahmu, atau sedang ikut keluargamu berlibur ke luar kota...." aku Tiara sambil menatap langit-langit kamar presidential suites itu.
"Itu tandanya, kamu tidak mempercayai mereka sepenuhnya, ya kan? Dan aku yakin kamu pun tidak percaya dengan Dasha..."
"Ya, itu benar... Tapi tetap saja aku akan memberikannya kesempatan dalam satu tahun ini... Dan aku berharap dengan segenap hatiku, kalau Dasha mau berubah."
"Apa kamu akan kembali ke kamar lamamu lagi?"
Tiara menggelengkan kepalanya, "Tidak, Zaa... Aku akan tidur di kamar Mama dan Papaku... Satu-satunya tempat di rumah itu yang tidak bisa aku masuki yaa kamar orang tuaku itu... Om Danu dan Tante Dasha selalu mengunci pintunya... Aku terakhir memasuki kamar itu sehari sebelum Mama dan Papaku meninggal. Aku rindu sekali tidur di kamar itu... Karena nyaris tiap malam aku akan menyelinap masuk dan tidur di tengah-tengah Mama dan Papaku."
Keizaa melihat air mata Tiara mulai mengalir ke pipinya, terlihat jelas kalau sahabatnya itu pasti sedang merindukan kedua orang tuanya. Dan dengan cepat Tiara langsung menghapus air matanya itu, sebelum kembali memasang senyum manisnya ke Keizaa,
"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Al? Apa kalian masih sering mencuri-curi waktu?" tanya Tiara, Keizaa tahu sahabatnya itu ingin mengalihkan pembicaraan mereka, dan Keizaa akan meresponnya, karena ia pun tidak ingin sahabatnya itu kembali bersedih lagi.
"Belum sempat lagi, Ra..." jawab Keizaa sambil menyeringai lebar.
"Ah, aku iri sekali denganmu, bisa menikah semuda itu... Nanti kamu dengan anak-anakmu pasti akan terlihat seperti adik kakak, alih-alih ibu dan anak." gumam Tiara sambil memberengut.
"Kamu mau menikah muda juga? Kak Zou pasti akan setuju kok... Seperti yang sudah kamu ketahui, kalau dalam waktu kurang dari satu tahun lagi Kak Zou akan di wisuda, dan Mommy berniat untuk menikahkannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan studynya ke Pasca Sarjana... Dan siapa lagi yang akan kakakku itu nikahi selain kamu, yang menurutmu itu kekasih masa kecilnya..." goda Keizaa.
"Tidak mau... Setelah aku pikir-pikir lagi aku tidak mau menikah muda... Aku mau puas-puasin pacaran dulu..." elak Tiara.
"Pacaran setelah menikah jauh lebih enak loohh...." bujuk Keizaa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tiara terkekeh pelan, "Apaan sih, Zaa... Itu menurut kamu doang kali, lagipula..." Tiara ragu-ragu melanjutkan perkataannya.
"Lagipula belum tentu Mommy dan Papimu menyetujuinya...." jawab Tiara pelan.
"Astaga... Apa kamu pikir Mommy dan Papiku akan sepicik itu? Kalau mereka tidak menyukaimu, Ra... Mereka pasti akan melarang kamu untuk ikut tiap kali kami pergi ke luar kota. Apalagi kamu adalah satu-satunya sahabat baikku, mereka selalu mempercayai penilaianku dalam memilih teman. Dan asal kamu tahu, awalnya Mommy malah mau menjodohkanmu dengan Kak Zie..." jelas Keizaa.
"Benarkah?" tanya Tiara sambil menyeringai lebar, dan Keizaa mengangguk cepat.
"Iya... Dan aku tahu Kak Zie dan Kak Zou pernah bertengkar di depan kamarku karena memperebutkan kamu... Apa kamu ingat saat pertama kali kamu menginap di rumahku? Saat kita mau ke Bali dan Kak Zou membawakan kopermu?"
"Iya, aku ingat...."
"Saat itu aku mau keluar kamar karena mau melihat kopermu kenapa belum di bawa ke kamarku juga... Dan saat aku mau membuka pintuku, aku mendengar suara Kak Zie dan Kak Zou yang sedang cekcok karena masalah wanita, yaitu kamu. Kamu tahu apa yang di katakan Kak Zou pada Kak Zie saat itu?"
"Apa?" tanya Tiara penuh semangat.
"Kak Zou bilang 'jauhi dia Zie!!' lalu Kak Zie tanya, 'memangnya kenapa aku harus menjauhkan bidadariku itu?' lalu Kak Zou menjawab dengan penuh keyakinan, 'karena dia milikku!!' Astaga... Kalau kamu mendengarnya saat itu kamu pasti langsung meleleh di tempat, Ra..." jawab Keizaa.
Dan bahkan hanya dengan mendengar cerita Keizaa saja sudah membuat Tiara meleleh, seperti keju yang di panaskan di atas api, apalagi kalau mendengarnya secara langsung.
"Ya Tuhan... Melting aku tuh..." gumam Tiara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Keizaa menyeringai lebar sebelum kembali menggoda Tiara, "Sudah pasti kamu melting... Aku saja tidak menyangka Kakakku yang paling dingin dan kaku itu bisa mengeluarkan kata-kata manis seperti itu... Dan kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu?"
"Aku malu..."
"Malu sama aku? Astaga, Ra... Kamu lucu sekali sih...." kekeh Keizaa.
"Apanya yang lucu?" tanya Kenzou, membuat Keizaa langsung membalik badannya, dan Tiara menurunkan kedua tangannya dari wajahnya.
Bab kedua... Happy reading...