
Dua minggu kemudian.
Hari yang ditunggu Kenzou akhirnya datang juga, hari yang dijanjikan Tiara untuk memberitahu jawabannya, bersedia atau tidaknya ia menikah dengan Kenzou.
Kenzou meraih ponselnya, dan hanya dua kali dering Tiara sudah mengangkatnya.
"Siang, gadis kecilku..." sapa Kenzou.
"Ini sudah menjelang sore, Kak." ralat Tiara sambil terkekeh pelan.
"Ah, ya selamat sore. Maaf aku baru bisa menghubungimu, aku baru saja sampai rumah, banyak pekerjaan kantor yang menyita waktuku," jelas Kenzou.
"Tidak apa-apa, Kak."
"Bagaimana? Sudah menemukan jawabannya?" tanya Kenzou.
"Hmmm, sudah. Kakak ke sini saja, aku ingin mengatakannya secara langsung" jawab Taiar malu-malu.
" Baiklah, aku ke sana sekrang ya!" seru Kenzou dengan penuh semangat.
Setelah mematikan sambungan teleponnya, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan mengganti baju kerjanya dengan kaos polo biasa dan celana pendeknya.
Baru saja ia akan membuka pintu kamarnya, ketika pintu itu terayun terbuka dan papi Hardhan berderap maju ke arahnya,
"Ada apa, Pi?" tanyanya khawatir, ia takut kalau ternyata ia memiliki kesalahan yang tidak ia sadari pada papinya itu.
"Zaa hamil! Alson sialan itu telah menghamili adikmu, putriku!!" geram papa Hardhan.
Kehamilan Keizaa, juga mommy Kei yang tengah datang bulan saat ia akan meminta haknya, membuat kepalanya yang sudah pusing bertambah pusing lagi.
"Pi, Al suaminya Zaa, wajar kalau dia menghamili istrinya, lagipula Papi juga yang mengizinkan mereka untuk melakukan itu," desah Kenzou. Ia ingin segera menemui Tiara, tapi papinya menghalanginya.
"Zaa hamil sudah lima minggu, Zou! lima minggu! Papi baru mengizinkan mereka melakukan itu dua minggu yang lalu! Yang berarti mereka sudah melakukannya sebelum Papi mengizinkannya!" jelas papi Hardhan.
Kenzou mengusap kasar wajahnya, ia merasa kecolongan juga, karena selama ini Papinya dan appa Alex memintanya untuk menjaga pasangan suami istri itu.
"Maafkan aku, Pi. Aku tidak becus menjaga mereka."
Papi Hardhan mengibas tangannya, "Sudah lupakan saja, semua sudah terjadi. Tapi Papi mau memberi pelajaran terlebih dahulu pada Alson!"
"Jangan, Pi. Nanti Zaa menjadi sedih."
"Sudah kamu tenang saja, Papi hanya akan sedikit memarahinya. Sekarang panggil semua keluarga Om Alex, suruh mereka ke kamar Zaa langsung, kita tunggu Alson di sana!"
"Al sudah kembali ke Jakarta?"
"Ya, terakhir sudah sampai bandara, kemungkinan sebentar lagi sampai ke rumah ini. Sekarang cepat kumpulkan semuanya di kamar Zaa!"
"Baik, Pi!"
Sejurus kemudian mereka sudah berkumpul di kamar Keizaa, dan tidak butuh waktu lama pintu kamar itu terbuka, Alson yang tidak tahu semua keluarganya tengah menunggu di kamar itu masuk dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya,
"Snow, Aku...."
Pria itu menghentikan sapaannya saat melihat siapa yang berada di dalam kamar istrinya itu.
"Snaw, Snow, Snaw, Snow!! Kau sudah menghamili putriku, kau mau mati ya?!!" geram papi Hardhan, seketika itu juga wajah Alson merona merah.
Sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, Kenzou bersandar pada dinding kamar itu, terus memperhatikan dalam diam kemarahan papinya dan appa Alex, serta penjelasan dari Alson dan Keizaa atas perbuatan mereka itu.
Sementara para mommy terlihat membela anak-anak mereka, kalau sudah seperti itu, papi Hardhan dan appa Alex pun akan memilih mengalah pada istri mereka itu.
Sementara papi Hardhan, mommy Kei, appa Alex dan eomma Sonya lanjut membahas masalah Keizaa dan Alson di ruang kerja, yang lain tetap berada di kamar Zaa, termasuk juga Kenzou.
"Selamat buat kalian!!" seru Clarissa sambil memeluk Keizaa, di susul dengan Aliana yang ikut memeluk adiknya itu, tawa riang keluar dari mulut mereka.
"Wah gila sih, kalian sempay-sempatnya yaa melakukan itu saat di Puncak? Apa Tiara tahu?" Tanya Clarissa dan Kenzou melihat adiknya itu mengangguk.
Ia begitu mempercayai wanita itu, ia mempercayakan Keizaa padanya, tapi ternyata Tiara menyalahgunakan kepercayaannya itu.
"Kak Zou jangan marahi Tiara, aku yang memaksanya!"
Terdengar teriakan Keizaa tapi Kenzou mengabaikannya, ia hanya ingin mengkonfrontasi masalah ini langsung pada kekasihnya itu.
Kalau ternyata Tiara benar-benar turut andil, Kenzou akan sangat kecewa padanya. Dan kenyataan itu membuatnya semakin mempercepat langkahnya.
Kenzou mengendarai mobilnya seperti orang gila, ia merasa tidak tenang kalau belum mendapatkan penjelasan dari Tiara, berbagai macam pikiran berkelibat di benaknya hingga ia sampai di rumah kekasihnya itu.
"Kak Zou!" pekik Tiara sambil lari dan memeluk Kenzou, lalu melepas pelukannya saat pria itu tidak membalas pelukannya, dan cenderung mengakukan badannya, seperti tidak menyukai pelukan Tiara itu.
Keningnya mengkerut dalam saat melihat wajah Kenzou yang tidak seperti biasanya saat bertemu dengannya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Ra," jawab Kenzou.
"Oh, ya sudah kita masuk dulu kalau begitu," ujar Tiara sambil menggandeng Kenzou masuk ke dalam rumahnya. Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang ruang tamu.
"Ada masalah apa?"
"Keizaa hamil!" ungkap Kenzou.
Deg!! Tiara merasakan detak jantungnya yang cepat, dan ia dapat merasakan darah telah menghilang dari wajahnya, perasaannya mulai tidak enak.
Apa kak Zou sudah tahu kalau aku telah mengizinkan Keizaa dan kak Al melakukan itu?
Ia menatap penuh mata Kenzou, mencari-cari jawaban di kedua mata indahnya itu. Dan ya, ia sudah menemukan jawaban itu, dan ia mulai menyadari sikap Kenzou yang berubah dingin padanya tadi.
"Maafkan aku..." Tiara menundukkan wajahnya, ia tidak berani menatap mata Kenzou lagi.
"Jadi benar, Keizaa dan Alson melakukan itu atas sepengetahuanmu?! Kamu mengizinkan mereka melakukan itu?!" cecar Kenzou.
"Iya," jawab Tiara lirih.
"Kenapa? Kenapa kamu mengizinkan mereka? Padahal aku dengan tegas telah menitipkan Keizaa padamu! Untuk menjaganya supaya tidak berduaan saja dengan Al!"
"Aku... Aku tidak tega saat Keizaa memohon padaku, Kak."
"Lalu kamu tega mengkhianati kepercayaanku?"
Seketika itu juga Tiara merasakan hujaman menyakitkan di dadanya. Kenzou benar, ia telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan Kenzou padanya, dan kini ia merasa sangat bersalah karenanya.
"Maafkan aku, Kak..." hanya itu yang keluar dari mulutnya, memangnya ia harus berkata apa lagi? membela diri? Kenyataannya memang ia yang salah, ia yang telah mengkhianati kepercayaan Kenzou padanya.
"Aku kecewa padamu, Ra!" nada dingin di dalam suara Kenzou seperti memalunya, membuat dada Tiara terasa semakin sesak, hingga ia tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Maafkan aku..." isaknya, ia takut kalau pria itu tidak mau memaafkannya, dan pergi dari hidupnya.