
"Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku, Kak? Apa aku cacat?" tanya Tiara dengan raut wajah sedih.
"Ara, kamu baru saja pulih dari komamu, dua bulan bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu pula kamu tidak menggerakkannya, tentu saja kedua kakimu itu jadi kaku. Pelan-pelan, Sayang. Pelan-pelan kamu akan bisa jalan lagi. Semua butuh proses, butuh waktu," jawab Kenzou berusaha menenangkan Tiara.
"Tapi aku takut Sudah satu minggu berlalu dan aku belum bisa juga menggerakkannya ..."
"Apa yang kamu takutkan? Menjadi cacat? Itu tidak akan terjadi."
"Iyaa ... "
"Sayang, mau kamu cacat atau tidak, aku akan selalu mencintai dan menyayangimu dengan sepenuh hatiku! Aku encintaimu dengan apa adanya dirimu, pribadimu yang terlalu baik dan juga lembut. Bukan fisikmu!" tegas Kenzou.
"Tapi ... "
"Aku rela menghabiskan sisa hidupku bersama denganmu, meski aku harus menggendongmu setiap hari, dan membawamu pergi kemanapun kamu mau! Aku akan mengajakmu keliling dunia, melihat belahan dunia lain berdua saja denganmu hingga kita menua, hingga rambut kita sama-sama memutih dan gigi kita tanggal satu-persatu." tegas Kenzou.
Bayangan yang dijabarkan pria itu begitu indah. Dan tentu saja Tiara tidak akan pernah menolaknya. Tidak perlu menghabiskan waktu ke belahan dunia lain, hanya bermalas-malasan dikamar berdua dengan pria itu saja pun itu sudah bisa membuat Tiara bahagia.
Tapi ada satu yang mengganjal, dan ia harus bertanya langsung pada kekasihnya itu,
"Bagaimana dengan Dasha? Apa dia selamat dalam kecelakaan itu?" tanya Tiara ragu-ragu.
"Kenapa kamu masih menanyakan wanita sialan itu?! Tentu saja dia selamat tanpa cedera sedikitpun, karena niatnya hanya membuatmu celaka, bukan dirinya sendiri," jawab Kenzou.
Ia meraih telapak tangan Tiara dengan lembut,
"Kali ini kalau kamu meminta aku untuk melepaskannya dan juga kedua orang tuanya itu, aku tidak akan pernah mengabulkannya. Karena saat mereka mencelakaimu hingga berniat menghilangkan nyawamu, disitulah batas terakhir kesabaranku!" tegas Kenzou.
"Aku tidak akan mentolerir siapapun yang menyakiti keluargaku! Orang-orang yang aku kasihi dan cintai!" lanjutnya.
"Maaf ... " ucap Tiara dengan lembut.
"Maaf untuk apa?" tanya Kenzou.
"Maaf karena selama dua bulan ini aku telah membuatmu khawatir. Aku pasti sangat merepotkanmu dan juga yang lainnya ... Hal terakhir yang aku lakukan adalah membuatmu khawatir, Kak," jawab Tiara, butiran air mata mulai mengalir keluar dari kedua matanya itu.
"Oh, Tiara ... Gadis kecilku ... Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena aku kamu menjadi celaka ... Aku selalu merutuki diriku sendiri tiap kali aku melihatmu selama dua bulan ini. Maafkan aku ... "
Kenzou menciumi punggung tangan Tiara, bulir air matanya juga turut mengalir keluar, bersamaan dengan penyesalannya yang membuncah.
"Jangan nangis, Kak ... Aku tidak mau melihatmu menangis. Hatiku menjadi sakit ... " isak Tiara.
"Aku bodoh, Ra ... Aku bodoh karena lebih mempercayai wanita itu daripada kamu. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku itu lagi, Ra. Maafkan aku ... "
"Aku memaafkanmu, Kak. Aku akan selalu memaafkanmu. Karena aku begitu mencintaimu ... Kemarilah dan peluk aku," pinta Tiara.
Pertahanan diri Kenzou hilang, sambil terisak ia naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Tiara. Ia menyurukkan wajahnya ke ceruk leher gadis kecilnya itu.
"Maafkan aku ... " isaknya seperti seorang anak kecil yang menangis di pelukan ibunya.
"Aku akan memaafkanmu kalau kamu berhenti menangis, Kak. Kalau kamu tidak mau membuatku sedih, please berhentilah menangis ... Aku lebih senang melihat kamu yang dingin daripada kamu yang seperti ini."
"Hukum aku, Ara ... Kamu boleh menghukumku apa saja, dan aku akan menerimanya."
Tiara menghela napas panjang. Ia tidak pernah menyangka akan melihat sisi Kenzou yang serapuh ini. Kenzounya yang selalu terlihat cool dan penuh percaya diri, yang selalu ditakuti lawan dan juga kawan, bujangan paling diminati se Asia, kini terlihat rapuh di depannya.
Dan Tiara yakin, Kenzou akan terus merengek minta maaf padanya kalau pria itu belum yakin Tiara telah benar-benar memaafkannya.
"Benar kamu ingin hukuman dariku?" tanya Tiara, ia merasakan anggukan Kenzou di lehernya.
"Iya, tentu saja." jawabnya.
"Jadilah suamiku!" seru Tiara.
Seketika itu juga Kenzou menyanggah dirinya dengan sebelah tangannya, kedua matanya menatap Tiara dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu mau menikah denganku?" tanyanya.
Tiara tersenyum lembut sebelum menjawab,
"Karena kamu sudah membuatku cacat seperti ini, maka aku akan menghukummu untuk menghabiskan waktumu seumur hidup bersama denganku!"
"Ya Tuhan ... Itu hukuman yang dengan senang hati akan aku lakukan, Sayang!" seru Kenzou.
Ia mencondongkan dirinya ke arah Tiara dan mencuri satu ciuman singkat dibibir penuh Tiara yang masih terlihat kering itu,
"Aku mencintaimu!"
"Aku sudah tahu!" balas Tiara.
"Aku selalu memujamu!" lanjut Kenzou.
"Sudah tahu juga!" timpal Tiara.
"Lalu apa yang belum kamu tahu dariku?" tanya Kenzou lembut sambil mengusap puncak kepala gadis kecilnya itu.
Alih-alih menjawab, Tiara malah mengalungkan lengannya di leher Kenzou, lalu menarik pria itu mendekat hingga ia dapat mencium kembali bibirnya itu.
"Wah sudah mulai nakal," goda Kenzou saat Tiara menjauhkan bibirnya.
"Tidak suka ya?" tanyanya malu-malu.
"Karena kamu bertanya, ciuman ini akan menjawabnya,"
Kenzou kembali ******* bibir Tiara, memaksa Tiara untuk membuka bibirnya dan Kenzou dapat memperdalam ciumannya itu, hingga leguhan nikmat keluar dari tenggorokan Tiara, bersamaan dengan pintu kamar yang mengayun terbuka.
"Astaga, Zou!! Apa kamu sudah gila?!!" pekik mommy Kei yang berdiri di ambang pintu bersama dengan eomma Sonya.
"Ups!! Ketahuan ... " bisik Kenzou dan dengan enggan menjauhkan dirinya dari Tiara lalu turun dari tempat tidurnya untuk menghadap mommy dan tantenya itu.