
"Dimana kamar Tiara?!!" tanyanya pada salah satu asisten rumah tangga tante Risya.
"Ikut saya, Den..." jawab seseorang di belakang Kenzou, dan Kenzou mengenali suara itu sebagai suara mba Tini.
"Panggil Dokter Sam!!!!" perintahnya pada bodyguardnya.
Kamar Tiara berada tidak jauh dari gudang tadi, dan Kenzou langsung merebahkan Tiara di atas tempat tidurnya.
"Pakaiannya basah, Den... Saya harus menggantinya." ujar mba Tini.
Kenzou mengerti, ia harus keluar dari kamar Tiara untuk memberi mereka privasi,
"Panggil saya kalau sudah selesai!"
"Baik, Den..."
Sekali lagi Kenzou menatap nanar wajah Tiara, sekarang dengan keadaan kamar yang terang wajahnya baru terlihat jelas.
Kedua telapak tangan Kenzou mengepal saat melihat pipi kanan dan kiri Tiara yang memar, juga darah kering di sudut bibirnya.
Keinginan untuk membunuh keluarga tante Risya begitu besar. Tapi ia tahu gadis kecilnya yang memiliki hati seluas samudera itu pasti akan membenci Kenzou, karena sudah membunuh keluarganya.
Tidak, gadis kecilnya itu tidak bisa membenci seseorang, kecewa mungkin, tapi membenci tidak.
Tidak mau Tiara terkena radang paru-paru, dengan enggan Kenzou melangkah keluar kamar.
"Kumpulkan semua asisten rumah tangga di ruang keluarga sekarang juga!!" perintahnya pada siapapun anak buahnya yang mendengar.
Dua anak tangga sekaligus Kenzou lewati, hanya karena ingin segera memberi pelajaran kepada keluarga Dasha.
Entah Dasha kapan kembali ke rumah Kenzou tidak peduli, saat ini wanita itu sedang berpelukan dengan tante Risya, dengan badan yang sama-sama gemetar karena ketakutan.
"Siapa yang berani menyentuh tangan kotornya ke wanitaku?"
Dasha semakin mengeratkan pelukannya ke tante Risya. Tapi tidak ada satupun dari kedua wanita itu yang menjawabnya.
"Jawab sialan!!!!" raung Kenzou dengan suara yang menggelegar, membuat Dasha dan tante Risya tersentak kaget.
"Sa... Saya...." jawab tante Risya.
"Kenapa kau menamparnya? Apa peringatan saya saat itu kurang? Apa kalian menganggap remeh ancaman saya?!!"
Kedua wanita itu menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan kedatangan para asisten rumah tangga yang sudah dikumpulkan anak buah Kenzou.
Kenzou menatap dingin mereka satu persatu,
"Siapa diantara mereka yang menampar Tiara?" tanyanya.
Semua asisten rumah tangga itu terdiam, dan menundukkan kepala mereka.
"Siapapun yang berkata jujur, akan tetap bekerja di rumah ini, saya akan menaikkan gaji kalian tiga kali lipat!!"
Mereka semua saling berbisik, Kenzou tahu diamnya mereka karena takut dipecat tante Risya, ujung-ujungnya karena masalah perut yang harus dikasih makan.
"Non Dasha, Tuan..." jawab beberapa dari mereka, dan Dasha langsung memekik ketakutan.
"Yang menjawab tadi, silahkan kembali bekerja!! Mulai bulan depan saya yang akan membayar gaji kalian!! Dan ingat mulai hari ini Tiara lah satu-satunya yang harus kalian patuhi!!" seru Kenzou.
Kedua asisten yang menjawab tadi menganggukkan kepalanya, sebelum kembali ke area belakang rumah Tiara.
Kenzou menatap tajam sisanya, "Bereskan barang kalian dan keluar dari rumah ini!!"
"Maaf, Tuan..."
"Jangan pecat saya..."
"Saya benar-benar tidak tahu siapa yang menyakiti Non Ara..."
Seru tiga yang tersisa secara bersamaan, dan Kenzou menunjuk salah satu dari mereka.
"Kau!! Ke sini cepat!!"
"Ya, Tuan..."
"Siapa namamu?"
"Ati tuan."
"Nah, mba Ati... Tampar Dasha!!" perintah Kenzou.
Tangis Dasha langsung pecah,
"Jangan... Aku tidak mau!" isaknya sambil terus memeluk erat tante Risya.
"Sebagai seorang ibu kau tidak tega kan ada seseorang yang akan menampar anakmu?!"
Tante Risya mengangguk cepat, "Ya, tentu saja saya tidak tega... Saya saja tidak sekalipun memukulnya..."
"Kau bersedia menerima tamparan menggantikan putrimu itu?"
"Ya..."
"Bagus, Dasha... Mamamu masih hidup, masih dapat membelamu serta bersedia menerima tamparan demi kamu!! Lalu bagaimana dengan Tiara yang sudah tidak memiliki ibu lagi?!!" tanya Kenzou sebelum kembali menatap tajam tante Risya,
"Kau tidak tega putrimu disakiti! Apa kau pikir mamanya Tiara akan tega melihat putrinya disakiti, terlebih lagi oleh adik dan keponakannya?!! Padahal semasa hidupnya mamanya Tiara selalu membantu keuangan kalian!!!" geram Kenzou.
Melihat tatapan kaget tante Risya karena Kenzou mengetahuinya, membuat Kenzou tersenyum sinis,
"Ya, saya tahu semuanya... Termasuk rahasia terkelam kalian!!" lanjutnya tanpa ampun.
Kenzou menunjuk dua anak buahnya,
"Kau dan kau!! Tarik dan tahan Dasha!!"
"Baik, Tuan."
Kedua bodyguard itu langsung memisahkan Dasha dari tante Risya, masing-masing menahan tangan kanan dan kiri Dasha hingga wanita itu berdiri menghadap Kenzou.
"Mau kalian apakan putriku?!!" teriak tante Risya histeris.
Sekuat tenaga tante Risya berusaha melepaskan kedua tangan bodyguard itu yang sedang mencengkram lengan Dasha dengan kuat.
"Mama... Aku takut..." isak Dasha.
"Kau!! Tahan tante Risya!!" perintah Kenzou pada anak buahnya yang lain, yang dengan sigap langsung menahan tangan tante Risya.
"Lepaskan!! Ber*ngsek kalian!!!" pekik tante Risya.
"Mba Ati... Kalau kau masih ingin tetap bekerja di sini, tampar Dasha sekencangnya!" perintah Kenzou.
Setelah ragu-ragu sebentar, mba Ati langsung menghampiri Dasha kemudian menampar pipi kanannya sekuat tenaganya, sekaligus melampiaskan dendamnya pada Dasha yang selalu menghinanya itu, serta tidak segan-segan memukul pelayannya.
"Aarrgghh!!" jerit Dasha kesakitan.
"Mama... Sakit Maaa..." isaknya.
"Nak, Zou... Lepaskan Dasha... Biar tante saja yang menggantikannya..." pinta tante Dasha memelas.
Alih-alih mengabulkannya, Kenzou kembali memberi perintah pada mba Ati,
"Lakukan di pipi satunya lagi!!"
Sambil tersenyum puas, mba Ati kembali menampar Dasha, kali ini mengenai bibir Dasha hingga terbentur giginya dan menyebabkan luka sobek.
Tidak kuat menahan rasa sakit yang teramat sangat, Dasha akhirnya pingsan.
"Dasha!! Dasha!!" teriak tante Risya panik.
"Apa ada gudang lagi selain gudang atas mba Ati?" tanya Kenzou.
"Ada, Tuan... Disamping kamar kami." jawab mba Ati.
"Kurung Dasha digudang itu, kalian ikuti mba Ati!!" serunya pada anak buahnya.
"Baik Tuan."
"Jangan... Kasihanilah Dasha..." isak tante Risya yang kembali mendapatkan tatapan tajam Kenzou.
"Kau masih bisa memelas belas kasihan untuk putrimu itu... Bagaimana dengan orang tua Tiara yang hanya bisa melihat kekejaman kalian dari atas sana, hah?!!" desis Kenzou.
"Ada apa ini, Zou? Siapa yang sakit?" tanya dokter Sam yang baru saja sampai di rumah Tiara.
"Kau!! Awasi terus wanita ini!" perintah Kenzou pada anak buahnya, lalu mengalihkan lagi perhatiannya ke dokter Sam.
"Ikut saya, Om..."
"Kenapa kau menahan wanita itu, Zou?" tanya dokter Sam.
Ia tidak pernah melihat Kenzou hilang kendali seperti ini. Diantara putra dan putri Hardhan, Kenzou lah yang paling bisa mengendalikan dirinya, sehebat papinya. Setidaknya kalau bukan menyangkut orang-orang terkasihnya.
Dear Readers...
Maaf kemarin hanya bisa double up, karena ketiduran...😁
Happy reading and have a nice day😘