Kenzou

Kenzou
Dimana Tiara?



Untuk kesekian kalinya Kenzou kembali menghubungi Tiara, tapi sepertinya wanita itu masih marah padanya, karena sama seperti malam tadi, pagi ini ponsel Tiara pun tidak aktif.


Kenzou segera menuju ke kamar Keizaa, dan mengetuk pintunya dengan tidak sabar.


"Astaga, Kak... Kenapa pagi-pagi sudah menggangguku saja sih?!" rutuk Keizaa setelah membuka pintu dan mendapati Kenzou lah yang membuat keributan di depan kamarnya.


"Apa kamu sudah mendapat kabar dari Tiara, Zaa? Aku tidak dapat menghubunginya..." tanya Kenzou.


Nada khawatir di dalam suara kakaknya itu membuat kemarahan Keizaa berangsur-angsur menghilang.


"Kabar apa? Kan Kakak yang mengantar Tiara pulang semalam..." Keizaa balik nanya. lalu memicingkan kedua matanya saat berkata,


"Jangan bilang Kakak menurunkan sahabatku itu di tengah jalan...." tukasnya.


"Aku tidak segila itu, Zaa... Aku mengantarnya sampai di depan rumahya... Bahkan aku memastikan Tiara masuk baru aku meninggalkan rumahnya."


"Oh, yasudah kalau begitu... Apalagi yang Kakak khawatirkan?" tanya Keizaa.


"Aku tidak dapat menghubunginya dari semalam... Ponselnya tidak aktif." jawab Kenzou, raut kepanikan kini kembali menghiasi wajah tampannya.


"Mungkin saja Tiara masih lelah dengan touring kemarin... Sepertinya dia ketiduran dan masih terlelap tidur sampai sekarang... Yang akupun akan demikian, tidur sampai siang kalau Kakak tidak membangunkanku..."


"Tiara tidak pernah mematikan ponselnya, Zaa..."


Keizaa yang sedang bersandar malas pada pintu kamarnya kini berdiri tegak,  "Ya, kamu benar, Kak.... Tidak pernah sekalipun Tiara membiarkan ponselnya mati...."


Terdengar desahan pelan Kenzou, mendesah? Kakaknya itu tidak pernah mendesah dan mengeluhkan sesuatu seperti itu... Bahkan Kenzou jarang sekali menampilkan emosi di wajahnya. Tapi wajahnya yang biasanya datar-datar saja itu kini mengkerut karena khawatir.


Dan Keizaa tergoda untuk semakin membuat Kakak tertuanya itu semakin khawatir lagi, itu bagus untuk hubungan mereka berdua, hubungan kakaknya itu dengan Tiara.


"Mungkin saja Tiara masih marah sama Kak Zou... Wanita mana yang tidak akan marah, kalau prianya diam saja saat seseorang sedang menghina wanitanya? Walaupun Tiara tetap tersenyum, hatinya pasti sedih Kak... Dan Kakak selalu saja membuatnya sedih!!" sungut Keizaa.


"Tolong kamu telepon Tiara sekarang, Zaa... Kakak mau bicara!" seru Kenzou.


Keizaa melipat kedua tangannya di depan dadanya,  "Kakak saja yang meneleponnya... Kenapa harus aku?"


"Kakak tidak akan meminta bantuanmu kalau Kakak bisa menghubunginya, Zaa...." desis Kenzou.


"Kenapa Kakak bisa berpikir Tiara akan mengangkat teleponku? Kalau ponselnya memang mati, boro-boro dia akan mengangkatnya, tahu kita telepon saja juga tidak..." solot Keizaa.


Kakaknya yang biasanya cepat tanggap itu kenapa jadi seperti lemah otak begitu? Sekarang kedua telapak tangannya sedang mengacak rambutnya sambil menghela nafas kasar.


"Kalau Kakak mengkhawatirkannya, kenapa Kakak tidak menelepon Dasha saja? Kakak pasti punya nomor kontak wanita itu kan? Tidak mungkin Kakak tidak menyimpannya." saran Keizaa.


"Tidak, Zaa... Sayangnya Kakak tidak menyimpan nomor telepon Dasha...."


"Nomor Dasha tidak Kakak Save? Lalu kenapa Kakak menyimpan nomor ponsel wanita yang di kafe kemarin? Atau apa Kakak sebenarnya menyukai wanita di kafe iktu?" Cecar Keizaa.


"Jangan berpikiran yang macam-macam, Zaa... Kakak dapat nomor telepon Catherine juga dari Ariel." sanggah Kenzou.


"Ya kenapa sekarang Kakak tidak meminta bantuan Ariel saja untuk mencari tahu keberadaan Tiara? Atau kenapa Kakak tidak menelepon ke rumahnya saja?" saran Keizaa sambil lalu.


Ia tidak sadar kalau sarannya itu membuat Kenzou kembali bersemangat, kenapa tidak terpikirkan olehnya sebelumnya untuk menelepon rumah Tiara.?


Dengan segera Kenzou kembali menekan contact Tiara dan memilih telepon rumahnya. Setelah beberapa kali berdering, telepon itupun terangkat,


"Selamat pagi, dengan kediaman Tuan Danu." sapa seorang wanita di sana.


"Pagi, bisa bicara dengan Tiara?" tanya Kenzou.


"Non Ara? Dari siapa ini?"


"Kenzou...."


Sesaat tidak ada balasan dari wanita tadi, sebelum akhirnya wanita itu kembali berbicara tapi dengan suara yang sangat pelan,


"Den... Tolong Non Ara Den... Kasihan Non Ara...." seru wanita itu nyaris seperti berbisik, dan Kenzou harus menajamkan telinganya untuk bisa mendengarnya.


"Iya, Den... Cepat ke sini, Den...." ujar mba Tini, lalu terdengar suara seseorang di belakangnya,


"Telepon dari siapa Mba?"


"Maaf anda salah sambung, tidak ada nama itu di sini!!" seru mba Tini sebelum menutup teleponnya.


"Cari siapa?" tanya tante Risya.


"Cari nama Joko, Nyaa... Sudah saya bilang salah sambung." jawab mba Tini sambil berharap tante Risya tidak mencurigainya.


"Ya sudah, kembali kerja sana... Apa Tiara sudah di kasih makan?"


"Sudah, Nyaaa... Apa saya boleh mengeluarkan Non Ara sekarang?" mba Tini memberanikan diri menanyakan hal yang sensitif seperti itu.


Di rumah ini, kalau Tiara sedang dalam masa hukuman, tidak boleh ada satu orangpun yang bertanya kapan Tiara akan di keluarkan dari gudang itu, atau akan menerima amarah tante Risya atau om Danu juga Dasha.


Dan benar saja, mata tante Risya kini melotot galak ke arah mba Tini,  "Kenapa? Kau kasihan dengannya? Kalau kau merasa kasihan, silahkan temani Tiara di dalam gudang itu!! Atau kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!!"hardiknya.


"Saya hanya bertanya saja, Nyaa... Biasanya setelah pagi Non Ara sudah boleh keluar..."


Mba Tini tidak bisa mengambil resiko di pecat dari pekerjaannya. Karena kalau ia dipecat, siapa yang akan menemani Tiara? Siapa yang akan memperhatikannya? Hanya mba Tini saja yang peduli dengan Tiara di rumah ini. Tiara yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


Tuan... Nyonya... Semoga kalian tenang di alam sana... Maaf saya belum bisa menjaga Non Ara secara maksimal... Tapi saya sudah meminta bantuan Den Kenzou, semoga saja dia mau membantu Ara kita...


Non Ara... Kenapa nasibmu bisa semalang ini...?  


"Jangan pernah tanyakan kapan Tiara boleh keluar dari gudang itu... Kalau saya mau mengurungnya selama satu minggu pun kamu mau apa? Hah?!! Kalau bukan karena pengacara itu yang meminta untuk tetap mempertahankanmu, sudah lama saya akan memecatmu!!" geram tante Risya.


"Ya, maafkan saya, Nyonya..."


"Dan jangan besar kepala kamu hanya kerana pengacara itu mendukungmu! Saya bisa saja mencari seribu satu alasan untuk memecatmu!!"


Kepala mba Tini semakin tertunduk hingga dagunya menyentuh dadanya,  "Maaf, Nyaa...." ucapnya.


Tante Risya terus memarahi mba Tini, hingga akhirnya terdengar ketukan pintu depan,


"Kembali saja ke dapur sana, biar saya yang membukanya!!" seru tante Risya dengan nada jengkel.


Mba Tini menganggukan kepalanya, sebelum beranjak ke arah dapur, sementara tante Risya melangkah ke arah pintu depan.


"Di mana Tiara?!!" tanya Kenzou sambil memberikan tatapan menusuk pada tante Risya.


**Dear Readers... **


Maaf Kenzou beberapa hari ini Kenzou tidak Up...


Sebagai gantinya, mau crazy up kah hari ini? Untuk menemani malming kalian? hehe


Happy reading and have a nice day