
"Ya, Papi benar. Seharusnya aku bisa lebih tegas lagi pada Tiara jika itu menyangkut keselamatannya. Karena ternyata bodyguard yang aku pekerjakan di rumahnya pun tidak banyak membantu," desah Kenzou dengan sebersit rasa sesal.
"Sudah, tidak ada gunanya kamu sesali itu sekarang. Sebaiknya kamu temui Mommymu yang juga mengkhawatirkanmu, empat hari kamu tidak pulang!" keluh papi Hardhan.
"Mommy? Di mana?"
"Saat ini Mommy sedang menemani Tiara, cepat kamu temui Mommymu!"
Tidak mau mendapatkan keluhan dari papi Hardhan lagi, Kenzou bergegas keluar dari ruangan dokter Sam itu, dan langsung menuju ruang presidential suite tempat Tiara dirawat.
Baru saja Kenzou membuka pintu kamar itu, dan sudah langsung disambut semburan kata Mommy Kei,
"Zou!! Kenapa senang sekali membuat Mommy khawatir? Tidak bisakah kamu setidaknya menelepon Mommy? Mengabari Mommy kalau kamu tidak bisa pulang!" keluh mommy Kei.
"Mom, aku kan hanya di sini saja, di rumah sakit menemani Tiara ... "
Perkataan Kenzou itu membuat mommy Kei menutup mulutnya karena baru teringat kalau mereka tengah berada di rumah sakit, di depan Tiara yang tengah koma pula.
Mommy Kei kembali mengalihkan perhatiannya ke Tiara, yang terlihat seperti tengah tertidur pulas saja, ia mengelus lembut rambut panjang Tiara,
"Mommy pikir diantara anak-anak Mommy kamulah yang paling bijak, Zou ... Tapi ternyata kamu dengan mudahnya percaya dengan hasutan orang lain," desahnya.
Kenzou mengusap wajahnya dengan kasar, tadi Papinya dan sekarang mommynhya yang menceramahinya.
Iya, Kenzou memang salah karena telah bersikap kekanak-kanakan. Tapi ia seperti itu karena kecewa pada dirinya sendiri, ia merasa tidak bisa melaksanakan perintah papi Hardhan dengan menjaga Keizaa.
Ia merasa dibodohi oleh Tiara karena telah mengecohnya, atau ia pikir Tiara mencoba untuk mengecohnya. Ia tidak tahu kalau Tiara ternyata fobia pada kilat dan juga petir.
Dan masalah ia menelan bulat-bulat percakapan antara Tiara dengan Dasha itu, yaa harus Kenzou akui, kalau ia memang bodoh. Seharusnya ia lebih percaya pada Tiara daripada Dasha.
Apalagi ketidakpercayaannya itu telah berakibat fatal pada wanita yang sangat ia cintai itu.
"Duduklah ... Kau tidak perlu merespon perkataan Mommy tadi. Wajahmu sudah menegaskan betapa menyesalnya kamu dengan tindakan bodohmu itu," ujar mommy Kei.
Kenzou mengangguk, lalu menarik kursi ke sisi tempat tidur Tiara satu lagi. Ia langsung meraih telapak tangan gadis kecilnya itu dan menggenggamnya dengan erat,
"Kamu pasti bosan mendengarnya, Ra. Tapi aku akan terus mengucapkannya, maafkan aku ... "
Kenzou menempelkan telapak tangan Tiara ke pipinya. Berharap jemari wanita itu bergerak dan membelai pipinya seperti biasanya saat mereka bersama.
"Bangun, Ra. Jangan berlama-lama menghukumku. Aku tidak tahan melihatmu terus seperti ini ... " lirihnya.
Terdengar desahan panjang mommy Kei yang menahan air matanya untuk tidak mengalir keluar. Ia merasakan betapa putra sulungnya itu saat ini tengah diliputi perasaan bersalah dan juga penyesalan yang teramat sangat dalam.
Kenzou terdiam. Nasihat dari mommy Kei itu seolah-olah langsung menghujam jantungnya, karena semua itu benar, apa artinya sebuah hubungan tanpa adanya rasa percaya antara satu sama lainnya?
Ia menyesal, sungguh-sungguh menyesali keteledorannya itu. Rasanya ingin sekali ia membalik waktu, meski ia tahu kalau semua itu tidak akan terjadi.
"Jadikan kesalahanmu kali ini sebagai pengingat keputusanmu kedepannya. Pikirkan baik-baik terlebih dahulu sebelum bertindak. Karena mengambil keputusan saat dalam keadaan marah, lebih banyak dampak buruk yang akan menyertainya," lanjut mommy Kei.
"Iya, Mom ... Aku tidak akan pernah menyakiti Tiara lagi. Aku janji akan selalu mempercayainya," ujar Kenzou, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Tiara,
"Tuhan ... Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Untuk membahagiakannya, Tuhan ... " isaknya lirih lalu merebahkan kepalanya di bahu Tiara.
"Ra, aku tahu kamu mendengarnya ... Bangun, Ra ... Aku membutuhkanmu ... "
Ketukan di pintu membuat Kenzou kembali menegakkan kepalanya. Sambil menghapus air matanya ia melihat ke arah pintu yang mengayun terbuka itu.
"Maaf, Tuan Kenzou, Nyonya Kei ... Saya membawa pakaian ganti untuk Nona Tiara," ujar mba Tina sambil menutup kembali pintu itu.
Melihat orang kepercayaan Tiara itu membuat Kenzou teringat sesuatu, ia segera berdiri dan menghampiri mba Tina,
"Duduklah, ada yang ingin saya tanyakan!" serunya lalu duduk di salah satu sofa kecil, Mommy Kei pun ikut duduk di dekatnya.
"Ya, mau menanyakan apa, Tuan?" tanya mba Tina.
"Mengenai makanan Tiara selama ini, apa Dasha yang selalu menyiapkannya?" tanyanya.
"Iya, Tuan. Tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Kenzou dengan tidak sabar saat mbak Tina menggantung jawabannya.
"Tapi saya menukarnya sebelum meletakkan di meja Nona Tiara," jawab mbak Tina, disusul dengan desahan lega Kenzou sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Seolah-olah beban berat yang selama ini ia pikul berhasil terlepas darinya.
"Memangnya kenapa Tuan?"
"Ada apa ini, Zou?"
Tanya mbak Tina dan mommy Kei bersamaan.
"Dasha mengaku telah meracuni makanan Tiara. Tapi kalau ternyata Mbak Tina telah menukarnya sebelum Tiara memakannya, itu berarti tidak ada racun yang masuk ke dalam tubuh Tiara, dan aku bisa bernapas lega sekarang, karena salah satu yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi," jawab Kenzou.
Setelah itu ia melangkah kembali ke tempat tidur dan duduk di kursi yang tadi ia duduki.
"Syukurlah Dasha tidak berhasil memberikan racun-racun itu padamu, Sayang!" serunya sambil menciumi punggung tangan gadis kecilnya itu.