
Butuh waktu selama dua bulan lagi untuk Tiara bisa pulih sepenuhnya dan bisa melangkah tanpa bantuan dari tongkatnya lagi.
Semua karena semangat wanita itu sendiri untuk lekas pulih dan mengikuti semua terapi yang harus ia jalani dengan sabar, sementara Kenzou yang tidak pernah absen menemaninya tiap kali kekasihnya itu mengikuti terapi.
"Senang sudah bisa lepas tongkat sekarang?" tanya Kenzou dan Tiara mengangguk pelan dengan wajah yang berbinar ceria.
Kenzou merasakan sakit yang menusuk di dadanya saat teringat kalau ia nyaris saja kehilangan kekasihnya itu, karena kesalahannya sendiri.
Untungnya benturan di kepalanya itu tidak menyebabkan efek panjang yang serius. Tiara telah kembali normal lagi, gadis kecilnya itu telah benar-benar pulih seperti sedia kala.
Kenzou membiarkan Tiara yang berjalan hilir mudik di halaman depan rumahnya dengan bebas, tanpa tongkat yang biasanya menyanggahnya. Sambil tersenyum lebar, wanita itu menengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan sinar matahari pagi menyinarinya.
"Teh hangatnya, Den!" seru mbak Tini sambil meletakkan secangkir teh itu ke mejanya,
"Terima kasih, Mbak Tini," ucap Kenzou.
Sambil memeluk nampan ke dadanya, mbak Tini menatap haru Tiara. Meski saat ini posisi mbak Tini sudah menjadi salah satu keluarga Tiara, tapi wanita itu tetap mengurus semua keperluan Tiara, juga menyiapkan makanan atau minuman untuk Kenzou tiap kali ia datang berkunjung.
Mbak Tini masih belum mempercayai asisten rumah tangga yang lainnya. Jadi untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, ia yang turun tangan sendiri untuk semua keperluan Tiara dan juga Kenzou.
"Mbak senang sekali melihat Non Tiara kembali ceria seperti itu lagi, Den," gumamnya sambil menghapus air matanya.
"Ya, Mbak ... " timpal Kenzou sambil berdiri dari kursinya, dan tanpa sadar ia sudah menghampiri gadis kecilnya itu, dan membawanya ke dalam pelukannya,
"Jangan terlalu memporsir kakimu dulu, Sayang ... " bisiknya lembut.
Tiara membalas pelukan Kenzou dengan mengalungkan lengannya di leher pria itu,
"Apa kakak jadi kuliah di luar?" tanyanya.
"Dan meninggalkanmu? Tentu saja tidak. Aku akan melanjutkan studyku di sini saja, bersama dengan Alson dan juga Kenzie," jawabnya.
"Syukurlah ... Aku senang mendengarnya."
"Senang kenapa?" pancing Kenzou.
"Senang saja ... Menurut dari apa yang pernah aku dengar, hubungan jarak jauh itu tidak akan membawa kita kemana-mana selain dari menuju perpisahan. Dan aku tidak mau kita berpisah lagi."
Kenzou menatap lembut Tiara, gadis kecilnya yang kini telah menjadi wanita dewasa, dan sebentar lagi akan menjadi miliknya sepenuhnya,
"Aku juga tidak mau berpisah lagi denganmu, gadis kecilku ... Aku akan selalu berada di sisimu, melindungi dan juga menyayangimu di sepanjang hidupku."
Tiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzou,
"Aku tidak sabar lagi menunggu hari pernikahan kita," akunya dan ia merasakan dada Kenzou yang bergetar karea kekehannya, dan ia pun menjadi memberengut kesal, karena pria iktu telah menertawakan pengakuannya.
Tiara berontak ingin melepaskan diri dari Kenzou, tapi pria itu terus menahannya,
"Lepaskan aku!!"
"Memangnya kamu mau ke mana? Katanya tidak sabar ingin menikahiku, tapi belum ada satu menit sudah mau menjauhiku ... " goda Kenzou.
Tapi itu tidak lantas membuat Tiara berhenti berontak, gadis kecilnya itu bersikeras untuk melepaskan diri dari pelukannya hingga Kenzou kembali menenangkannya,
"Sstt, tenanglah sayang. Maafkan aku yang menertawai pengakuanmu tadi. Aku hanya senang saja pada akhirnya kamu sudah mulai tidak ragu lagi dalam mengungkapkan perasaanmu itu. Dan aku senang mendengarnya," bujuknya.
"Benarkah?" tanya Tiara sudah mulai berhenti berontak lagi.
"Iya, sayang ... " jawab Kenzou, lalu merangkul Tiara dan menuntunnya masuk ke dalam rumah,
"Sekarang matahari sudah mulai panas, sebaiknya kita masuk. Aku tidak mau pengantinku nanti terlihat kusam," godanya yang langsung mendapatkan sikutan keras Tiara di perutnya.
"Kegiatan lainnya, apa itu?" tanya Tiara dengan wajah polosnya.
"Kamu akan mengetahuinya nanti," kekeh Kenzou dan berhasil menghindar saat Tiara akan kembali menyikutnya.
Wanita itu memekik pelan saat tanpa aba-aba Kenzou membopongnya di lengannya, saat akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Aku sudah bisa sendiri sekarang!" keluhnya.
"Jangan terlalu memaksakan kakimu dulu. Kakimu masih selemah balita yang baru belajar jalan, Sayang."
"Tapi kapan kembali pulih sepenuhnya kalau aku tidak melatihnya untuk naik tangga?"
"Nanti ... Hmmm tiga hari lagi baru kamu boleh mencobanya. Untuk sekarang, biarkan kakimu itu istirahat terlebih dahulu!" tegas Kenzou.
Dengan menggunakan sikutnya ia membuka kamar Tiara dan membaringkan gadis kecilnya itu di atas tempat tidurnya,
"Apa kamu menyuruhku tidur?" tanya Tiara dongkol.
"Tidak," jawab Kenzou santai.
"Lalu kenapa membaringkanku di atas tempat tidur ini?"
"Supaya aku bisa lebih mudah melakukan ini ... "
Kenzou mendaratkan ciuman ringannya di atas bibir Tiara. Tidak ada protesan yang keluar dari mulut wanita itu. Justru saat Kenzou menjauhkan bibirnya baru terdengar erangan protesnya,
"Kenapa berhenti?" rengeknya.
"Harus ... Atau aku akan melakukan malam pertama kita lebih awal," desah Kenzou.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar,
"Dua bulan lagi kita baru menikah? Ya Tuhan aku sudah tidak sabar menantikan hari itu," lanjutnya.
Tiara menyeringai lebar melihat pria yang biasanya terlihat dingin dan penuh percaya diri itu, kini terlihat galau. Yang ternyata sangat tidak cocok untuk dirinya.
"Kamu senang yaa?" tanya Kenzou saat melihat seringaian di wajah Tiara.
"Siapa yang senang? Kamu sendiri kan yang menentukan tanggal pernikahan kita dengan berbagai macam pertimbangan. Aku sih hanya bisa menyetujuinya saja," jawab Tiara.
"Aku pikir proses kesembuhanmu akan selama itu ... Siapa yang akan mengira kalau proses kesembuhanmu bisa begitu pesat, bahkan team dokter yang menanganimu dibuat kagum karenanya."
"Semua karena kamu, Kak ... Kamu yang menjadi kekuatan dan semangatku untuk lekas pulih. Aku tidak mau membuatmu khawatir lagi. Dan ... "
"Dan?" ulang Kenzou penasaran dengan kelanjutannya.
"Ya, dan aku juga tidak menyangka akan secepat itu prosesnya, tekadku hanya satu, segera pulih dan menikahimu," lanjut Tiara sambil tersenyum lembut.
Kenzolu mengacak puncak kepala Tiara,
"Kamu juga sudah tidak sabar membuatku menebus semua kesalahanku padamu itu, ya kan?"
"Menebus kesalahan?"
"Apa kamu lupa kalau aku harus menebus semua kesalahanku dengan menjadi suamimu?"
Kenzou mengingatkan kembali perkataan Tiara saat di rumah sakit, dan wanita itu terkikik saat sudah mengingatnya,
"Ya, aku ingat ... "