
"Kondisinya kritis. Sepupunya sengaja menabrak tiang pada sisi kiri mobil tempat Tiara duduk, yang menyebabkannya terluka parah," jawab dokter Sam membuat langkah Kenzou terhenti.
"Sepupu? Apa maksud Om Dasha?"
"Hmmm, ya sepertinya namanya Dasha. Saat ini polisi sedang berjaga di depan kamarnya."
"Saya tidak peduli dengan wanita itu, sekarang cepat antarkan saya ke ruangan Tiara!"
Tanpa berkata-kata lagi, dokter Sam kembali melanjutkan langkahnya sambil menggelengkan kepalanya. Anak dan bapak sama tidak sabarannya jika menyangkut dengan hidup wanita yang mereka cintai.
Dan atas perintah papi Hardhan, kamar presidential suites diubah menjadi ruang ICU,demi untuk merawat calon menantunya itu.
Dokter Sam menyerahkan baju hijau panjang untuk Kenzou kenakan sebelum masuk ke kamar, dengan segera Kenzou mengenakan pakaian itu sebelum membuka pintu.
Untuk sesaat ia terpaku ditempat saat melihat gadis kecilnya itu terbaring tidak berdaya, dengan selang ventilator yang dimasukkan ke mulutnya.
Sementara dii sampingnya terdapat layar monitoring yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darah Tiara, dengan garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Tiara yang juga mengeluarkan suara sesuai dengan detakan jantungnya itu.
"Separah itu, Om?" tanyanya lirih, dengan langkah pelan ia mendekati tempat tidur Tiara.
"Benturan hebat saat kecelakaan itu menyebabkan Tiara kritis dan sempat mengalami gagal napas, hingga kami harus menggunakan ventilator ini untuk menunjang pernapasannya," jawab dokter Sam.
"Ya Tuhan ... "
Dokter Sam menepuk bahu Kenzou,
"Ajak dia bicara, Zou. Suara orang-orang terdekatnya dapat membuatnya semangat untuk melawan rasa sakitnya. Dia bisa mendengar meski tidak dapat merespon perkataan kita," ujarnya lembut.
Setelah Kenzou menganggukkan kepalanya, dokter Sam langsung beranjak keluar dari ruangan itu, untuk memberikan privasi pada Kenzou.
"Maafkan aku, Ra!" isak Kenzou sambil menciumi telapak tangan Tiara,
"Maafkan aku ... Aku selalu melindungimu dari orang-orang yang berniat melukaimu, tapi aku tidak dapat mencegah diriku sendiri untuk tidak menyakitimu! Padahal hal yang tidak akan pernah aku lakukan adalah menyakitimu, tapi nyatanya aku menyakitimu juga."
"Ra, tolong jangan siksa aku seperti ini, Ra. Bangun Ra! Tolong dengarkan permintaan maafku ini!"
Kenzou terus menatap sendu wajah pucat Tiara, ia kembali teringat pada kejadian di rumah Tiara.
Hati kecilnya berkata kalau jawaban Tiara itu hanya untuk membuat panas Dasha saja, tapi harga dirinya yang terluka menolak mendengarkan kata hatinya itu, dan pada akhirnya membuat wanita yang ia cintai ini terluka.
Kenzou sangat menyesali kebodohannya itu.
Menuruti emosi dan hawa nafsu bukan hanya merugikannya, tapi juga menyebabkan gadis kecilnya itu celaka, dan penyesalan adalah hadiah yangmau tidak mau Kenzou terima, penyesalan yang teramat sangat dalam, hingga ingin rasanya ia mengulang waktu.
Sambil terus terisak karena penyesalannya, Kenzou merebahkan kepalanya di sisi Tiara, sambil terus menggenggam erat tangannya.
Ia terus bergumam meminta Tiara untuk segera sadar, agar ia bisa meminta maaf secara langsung. Hingga pintu mengayun terbuka, Keizaa, Alson, Clarissa dan Aliana melangkah masuk.
"Kak Zou telah membuat celah pada Dasha untuk membalaskan dendamnya pada Tiara, yang akhirnya berhasil mebuat Tiara nyaris saja kehilangan nyawanya! Apa Kakak puas sekarang?" lanjutnya lagi.
Alson langsung meraih Keizaa dan memeluknya, ia berusaha menenangkan istrinya itu. Sementara Kenzou tidak bergerak dari posisinya, punggungnya masih terlihat bergetar karena isakannya.
Pada akhirnya Keizaa ikut juga menitikkan air matanya, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat Kenzou menitikkan air matanya.
Bahkan saat papi Hardhan dikabarkan mengalami kecelakaan pesawatpun Kenzou masih terlihat tegar, tidak ada satu tetespun air matanya yang keluar.
Meski Keizaa tahu, itu semata karena ia ingin terlihat kuat demi adik-adiknya.
Keizaa menjauhkan dirinya dari Alson, ia menarik kursi ke samping Kenzou dan memeluk kakaknya itu, membuat isak tangis Kenzou semakin kencang.
Clarissa dan Aliana pun ikut menitikkan air mata karenanya.
"Maafkan aku, Kak," isak Keizaa.
Kenzou mengangkat kepalanya lalu beralih memeluk Keizaa,
"Aku bodoh, Zaa. Aku terlalu menuruti emosiku hingga Tiara menjadi seperti ini!"
"Sebelum pergi Tiara chat aku, Kak. Dia menceritakan semuanya padaku, semua yang Kakak dengar dan pada akhirnya membuat Kakak marah itu. Tiara sangat mencintai Kak Zou, kenapa Kakak tidak bisa melihat itu?"
"Aku tahu itu, Zaa... Aku tahu. Aku hanya kesal karena Tiara tidak mau ku ajak menikah, selalu saja ada seribu satu alasan untuk menolaknya. Sampai akhirnya aku mendengar pengakuan itu, dan harga diriku terluka karenanya," jelas Kenzou.
"Tiara hanya ingin membuat Dasha kesal, Kak!"
"Iya, aku tahu, Zaa. Tapi aku mengutamakan menyelamatkan harga diriku daripada mempercayai hati kecilku, itu yang sangat aku sesali sekarang, Zaa."
"Sebaiknya kita membahas itu nanti saja di ruang tengah, Zaa, Kak Zou. Kasihan Tiara dia pasti sedih mendengar semua ini. Kata dokter Sam di luar tadi, meskipun Tiara koma, dia masih bisa mendengar suara di sekitarnya," celetuk Aliana.
Kenzou dan Keizaa saling melepas pelukannya, dan saling menghapus air matanya.
Aliana benar, Tiara masih bisa mendengar suara di sekitarnya. Seharusnya mereka menyemangati Tiara, bukannya membuat Tiara bertambah sedih.
Keizaa mengelus lembut rambut Tiara,
"Ra, Mommy dan Papi sudah mengetahui kehamilanku, begitu juga dengan Appa Alex dan Eomma Sonya, mereka justru antusias dengan kehamilanku ini. Jadi jangan mengkhawatirkan aku lagi, Ra. Alson Oppa juga akan melanjutkan pasca sarjananya di sini," ujarnya.
"Aku sudah bahagia, Ra. Sekarang saatnya kamu bahagia dengan Kak Zou. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat mencintai Kakakku yang menyeramkan itu? Kamu juga bilang tidak mau membuat Kak Zou sedih kan? Sekarang bangunlah, Ra. Lihatlah Kak Zou sedang bersedih, bangun Ra dan hibur Kak Zou!"
Kenzou yang merasa ponselnya bergetar segera mengeluarkannya dari saku celananya, terlihat di layarnya itu pesan singkat dari Ariel.
"Bisa keluar sebentar, Tuan? Ada yang ingin saya sampaikan."