
"Aku sudah bahagia, Ra. Sekarang saatnya kamu bahagia dengan Kak Zou. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat mencintai Kakakku yang menyeramkan itu? Kamu juga bilang tidak mau membuat Kak Zou sedih kan? Sekarang bangunlah, Ra. Lihatlah Kak Zou sedang bersedih, bangun Ra dan hibur Kak Zou!"
Kenzou yang merasa ponselnya bergetar segera mengeluarkannya dari saku celananya, terlihat di layarnya itu pesan singkat dari Ariel.
"Bisa keluar sebentar, Tuan? Ada yang ingin saya sampaikan."
Kenzou kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, ia memandang sebentar ke gadis kecilnya itu, lalu ke Keizaa yang tengah menghapus air matanya,
"Tolong jaga Tiara sebentar, aku ada urusan!" serunya sebelum balik badan.
"Kakak mau ke mana? Kak Zou benar-benar tidak punya hati! Ara lagi koma tapi Kakak masih saja mementingkan urusan Kakak sendiri!" rutuk Keizaa sambil memberikan tatapan tajam pada kakaknya itu.
Alih-alih menjawab, Kenzou lebih memilih mengabaikan Keizaa. Ia hafal betul tabiat adiknya itu kalau sedang marah, mau memberikan alibi apapun akan tetap salah.
"Ada apa?" tanya Kenzou setelah sampai di depan Ariel.
"Nona Dasha sudah siuman, Tuan. Tapi kondisinya ... "
Ariel terlihat ragu-ragu memberitahukan kebenarannya, tapi saat melihat wajah Kenzou yang mulai menggelap karena amarah, pada akhirnya ia melanjutkan juga,
"Sepertinya pikirannya terganggu, Tuan. Jadi saya belum bisa menginterogasinya."
"Di mana dia di rawat?" tanya Kenzou lagi.
"Mari saya antar ke ruangannya, Tuan."
Ariel melangkah lebih dulu, dan Kenzou mengikutinya. Ia tidak percaya kalau tiba-tiba saja Dasha menjadi gila. Karena menurut dokter Sam, Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada kondisi wanita itu saat ini.
Sampai akhirnya Ariel membuka salah satu pintu, yang langsung menampakkan Dasha yang tengah menatap kosong langit-langit kamar.
Sambil mengepalkan kedua tangannya, Kenzou menghampiri wanita itu,
"Kenapa kamu mencelakai Tiara?!" tanyanya dengan suara tertahan, ia berusaha keras menahan luapan emosinya mengingat yang ia hadapi saat ini adalah seorang wanita.
Dasha mengabaikan Kenzou, wanita itu tidak bereaksi sama sekali, seolah-olah tengah asik dengan dunianya sendiri.
"Jawab sialan!!" raung Kenzou, dan wanita itu tetap saja membisu.
"Riel, segera keluarkan wanita sialan itu dari rumah sakit ini, bawa ke ruang bawah tanah! Di sanalah tempat yang cocok untuk seseortang yang sudah kehilangan akal sehatnya!" seru Kenzou.
"Baik, Tuan!" sahut Ariel.
Ia tahu maksud dari Kenzou memintanya membawa wanita itu ke ruang bawah tanah, dan ia begidik ngeri saat membayangkan apa yang akan terjadi pada wanita itu nantinya.
Salah wanita itu sendiri, karena telah berani menyakiti wanita yang tuannya itu cintai.
Ariel melihat Kenzou yang kini tengah menekan kuat-kuat pipi Dasha,
"Kamu mau bermain denganku?! Ok! Kita lihat nanti, sampai kapan kamu akan bertahan pada kepura-puraanmu ini!!" geramnya sebelum melepas kasar wajah Dasha dan langsung keluar dari ruangannya.
Kenzou bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali masuk ke ruang presidential suites, tempat Tiara di rawat.
Tidak lama kemudian Alson masuk, dan langsung menepuk pundak Kenzou,
"Apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu, Zou?" tanyanya.
"Menginterogasinya," jawab Kenzou lalu meraih tissue untuk mengeringkan wajahnya.
"Seperti biasa?"
"Wanita itu berpura-pura gila! Aku akan membuatnya gila sungguhan!" tekad Kenzou sambil meremas tissue yang sudah basah itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Apa Papi tahu kamu akan menggunakan ruang bawah tanahnya?"
"Papi akan mengizinkan, lagipula ini demi wanita yang aku cintai. Aku akan membuat Dasha mengakui semua perbuatannya!"
"Tapi, Zou ... Dia wanita!"
"Sekarang aku tanya, bagaimana sikapmu kalau yang di posisi Tiara itu sekarang adalah Keizaa?!" tanya Kenzou sambil menatap tajam adik iparnya itu.
"Apa kamu masih bisa menegurku dengan berkata, tapi Zou dia wanita ..." lanjutnya sambil menirukan gaya bicara Alson.
"Ok, aku mengerti. Akupun akan melakukan hal yang sama denganmu," jawab Alson.
"Bagus! Kalau begitu nanti malam kamu temani aku!" seru Kenzou sambil menepuk pundak Alson sebelum melangkah keluar dari kamar mandi.
"Suruh Zaa menjaga Tiara, dia pasti akan dengan senang hati melakukannya," saran Kenzou tanpa perlu repot-repot menghentikan langkahnya.
Ia mendengar desahan nafas kesal Alson di belakangnya, yang menandakan kalau bukan karena Keizaa lah Alson tidak dapat menemaninya, tapi karena Alson sendiri yang tidak mau jauh dari istrinya itu.
Saat Kenzou membuka kamar Tiara, Keizaa langsung menghampirinya, dan menarik Kenzou keluar dan memintanya duduk di ruang tamu kamar itu.
"Aku mau melihat Tiara, Zaa!" keluh Kenzou.
"Aku mau marah sama Kakak!" desis Keizaa.
"Marah ya marah saja, kenapa harus membawa Kakak ke sini?"
Keizaa memicingkan kedua matanya, "Apa ini alasan Kak Zou mau ambil pasca sarjana di Inggris?" tanyanya.
"Bukan urusanmu!"
"tentu saja itu menjadi urusanku, Kak! Tiara sahabatku! Dia tidak memiliki keluarga lagi selain aku! Maksudnya aku yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri! Jadi apapun yang menyangkut Tiara, itu adalah urusanku juga!" geram Keiza.
Kenzou mengusap wajahnya dengan kasar,
"Semua ini tidak akan terjadi, kalau kamu tidak melibatkan Tiara di dalam hubunganmu dengan Alson, Zaa!! Kamu telah memanfaatkan kebaikan hati Tiara, membuat wanita itu berani mengecoh Kakak!"
"Mengecoh? Apa maksud Kakak?"
"Saat kamu menghabiskan malam di villa itu, sebenarnya aku hendak mengecek kamarmu, tapi malah mendapati Tiara yang tengah ketakutan di balik bangku. Wanita itu berpura-pura takut pada hujan badai yang tengah terjadi di luar!" jelas Kenzou.
"Tapi Kak ... "
"Harus aku akui sandiwaranya benar-benar hebat saat itu! Total sekali dia dalam membantumu! Hingga memiliki keberanian untuk menahan dan menciumku saat aku kembali teringat padamu!" potong Kenzou tajam sambil menatap kesal Keizaa karena telah menyelanya saat ia belum selesai bicara.
"Ara memang trauma pada hujan yang disertai dengan kilat dan petir, Kak!" jelas Keizaa.
Kenzou tertawa pahit, ia kembali menatap Keizaa dengan tatapan mencemoohnya,
"Kebetulan sekali itu terjadi di saat bersamaan dengan menyelinapnya kamu ke kamar Alson, dan dia berusaha mencegahku untuk tidak masuk ke kamarmu!"
"Itu benar, Kak! Tiara memang trauma pada kilat dan petir! Kakak mau tahu kenapa? Karena itu mengingatkannya pada malam kematian kedua orang tuanya! Tiara melewati malam itu seorang diri di tengah hujan yang disertai dengan kilat dan petir yang saling bersahut-sahutan, itu makanya hingga saat ini Tiara menjadi trauma!"
Melihat Kenzou yang terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi, Keizaa kembali memicingkan kedua matanya,
"Jangan bilang Kakak meragukan traumanya itu di depan Tiara langsung ... "
Kenzou membenamkan jemarinya di rambut lebatnya, sebelum melangkah kesal dan meninju dinding ruang keluarga itu.
"Kakak benar-benar bodoh! Aku pikir di antara kita Kakak lah yang paling bijak dan paling bisa mengendalikan diri. Tapi nyatanya tidak jauh beda dengan Kak Zie dan juga Alson Oppa! Kenapa semua pria tiba-tiba menjadi bodoh jika sedang dihadapkan dengan cinta sejatinya?!"
******
Dear readers ...
Maaf seribu maaf untuk pengabaiannya selama ini dengan novel Kenzou. Karena memang ingin segera menamatkan novel My Introvert Presdir supaya bisa kembali fokus lagi pada novel Kenzou.
Sekarang, karena novel MIP sudah tamat, maka Nice bisa update rutin novel Kenzou lagi ...
Untuk yang mau ikutan giveaway kalung cantiknya Keizaa, komennya bisa dimulai hari ini yaa ...
Dan bagi yang belum tahu info tentang giveaway, bisa cek infonya di instagram Si_Nicegirl.
Terima kasih, happy reading and have a nice day.