
"Aku akan membuat Tiara membayar semuanya, Ma! Aku janji!" tegas Dasha saat menjenguk Tante Risya di penjara.
"Apa dia sekarang bersikap semena-mena padamu?" tanya tante Risya.
""Pasti dia yang meminta Kak Zou untuk menjadikanku pembantu di rumahnya selama satu tahun, satu tahun, Ma!" jawab Dasha dongkol.
"Kenapa kamu mau menerimanya?"
"Kalau tidak aku mau tinggal di mana lagi? Mereka akan mengusirku, Ma. Dan bagaimana bisa aku melanjutkan kuliahku?"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan padanya? Apa kamu sudah bicara dengan Papamu?"
Dasha menganggukkan kepalanya,
"Iya, tadi sebelum ke sini aku menjenguk Papa terlebih dahulu. Aku mengatakan hal yang sama dan meminta saran dari Papa."
"Lalu apa saran Papamu itu?"
"Aku harus mencari waktu yang tepat untuk melancarkan aksiku. Karena saat ini di rumah ada beberapa bodyguard yang dikirim Kak Zou untuk menjaga Tiara. Mereka tidak pernah jauh dari Tiara lebih dari lima puluh meter!"
Tante Risya terdiam, ia menatap penuh putri semata wayangnya itu. Ia dan suaminya melakukan hal keji dengan membunuh mama dan papanya Tiara hanya demi bisa menguasai hartanya, demi bisa memberikan kehidupan mewah untuk putrinya itu.
Tapi sekarang, perbuatan mereka ternyata sia-sia. Alih-alih memberikan kehidupan mewah, putrinya itu malah menjadi pembantu di rumah sepupunya itu.
Semua karena Tiara! Kenapa wanita itu harus kenal dengan keluarga Adipramana? Dan kenapa Kenzou harus tertarik padanya alih-allih pada Dasha yang jauh lebih cantik?"
"Tapi menyingkirkan Tiara malah akan membuat Kenzou murka, Sayang. Apa mau kamu berurusan dengan keluarga Adipramana?" tanya tante Risya dengan nada khawatir.
Cukup ia dan suaminya yang merasakan buruknya kehidupan di dalam pemjara, jangan putri kesayangan mereka.
"Mama tenang saja, aku akan membuat seolah-olah itu adalah kecelakaan. Papa sudah mengajariku triknya," jawab Dasha nyaris seperti berbisik agar tidak ada yang bisa mendengarnya.
"Tapi tetap saja itu riskan, Cha! Tidak ada yang bisa luput dari mata keluarga itu! Mereka dapat menemukan kesalahan sekecil apapun dengan mudah!"
"Ma, percaya deh sama aku ... "
"Mama tidak setuju, Cha!" potong tante Risya dengan nada tajam.
Ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada diri putrinya itu. Yang akan putrinya hadapi nanti bukanlah keluarga biasa, tapi Kenzou, anak tertua Adipramana, yang bahkan adik-adiknya saja takut mengusiknya.
Kejadian bertahun-tahun lalu saja mereka dapat menemukan kebenarannya.
"Baik Mama setuju atau tidak, aku akan tetap menjalankan niatku itu!" tegas Dasha keras kepala.
"Cha, dengarkan Mama ... "
"Mereka telah menjebloskan Mama dan Papa ke dalam penjara! Mereka telah menghancurkan hidupku! Mereka membuat kawan-kawanku sendiri beralih menjauhiku! Apa menurut Mama aku harus diam saja begitu?!"
"Tapi di atas semua itu, Mama dan Papalah yang menjadi alasan aku balas dendam pada Tiara! Lihatlah Mama sekarang, Papa juga tidak kalah menyedihkannya dengan Mama. Sebagai seorang anak, apa salah kalau aku membalas perbuatan mereka itu! Aku tidak dapat membalas Kak Zou, tapi dengan melihat wanita yang dia cintai mati, dia pasti akan jauh lebih tersiksa lagi!"
"Cha, tolong pikirkan baik-baik lagi jangan gegabah!"
"Aku sudah memikirkannya, Ma! Tiada malam aku lewatkan tanpa menyusun rencana matang untung melenyapkan sepupu sialanku itu! Aku bahkan sudah menaruh racun sedikit demi sedikit ke dalam makanannya. Memang tidak menyebabkan kematian, tapi akan menggerogoti kesehatannya kalau tidak segera mendapatkan perawatan medis."
"Mama hanya tidak ingin kamu masuk penjara, Cha! Mama tidak ingin kamu merasakan apa yang Mama rasakan di dalam sini!"
"Aku tidak akan masuk penjara, Ma. Kalaupun rencanaku gagal, aku sudah memiliki rencana lain," jelas Dasha dengan penuh percaya diri.
"Dan apa rencanamu itu?" tanya tante Risya.
Berpura-pura hilang ingatan atau gila ...
Ya, itulah yang tengah dilakukan Dasha saat ini. Ia tidak mungkin mengaku hilang ingatan, bagaimana kalau sewaktu-waktu Tiara siuman dan mengatakan yang sebenarnya.
Dengan berpura-pura gila, setidaknya ia tidak akan dipenjara.
Dasha langsung cengar-cengir saat melihat dua orang perawat masuk ke dalam ruangannya. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan dramatis, membuat rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan selayaknya orang gila pada umumnya.
"Kalau aku jadi saudaranya sih, mending bawa ke rumah sakit jiwa saja! Ngapain juga repot-repot ngurus orang gila ini di rumah!" seru salah satu perawat itu sambil mendorong kursi roda.
"Untung saja saudaranya tidak seperti kamu," kekeh perawat satunya lagi.
"Apa saya mau dibawa ke Pantai? Saya mau ketemu sepupu saya di sana!!" pekik girang Dasha saat kedua perawatnya itu membantunya turun dari ranjang rumah sakit.
"Iya, makanya jangan nakal ya!" jawab salah satu perawat itu sambil mendudukkan Dasha di kursi roda.
"Kasihan, mentalnya terganggu. Mungkin dia merasa bersalah karena telah menyebabkan sepupunya koma karena kecelakaan itu," desah perawat satunya lagi, yang memiliki hati lebih lembut dari temannya itu.
Disepanjang lorong rumah sakit, Dasha terus saja bertepuk tangan riang, ia harus terus berakting seperti itu atau mereka akan curiga.
"Om! Om! Saya mau diajak jalan-jalan ke pantai!!" serunya pada seorang bapak-bapak yang lewat di depannya.
Bapak-bapak itu hanya mengerutkan keningnya sebentar, sebelum melanjutkan lagi perjalanannya.
Sampai akhirnya kedua perawat itu mendudukkan Dasha ke dalam mobil yang terhenti di depan lobby rumah sakit. Ada beberapa bodyguard yang sudah duduk manis di dalamnya.
"Om, mau ikut juga ke pantai?" tanya Dasha sambil menyeringai lebar.
Mereka mengacuhkan Dasha, dan setelah kedua perawat itu menutup pintu, mobil itu langsung bergerak keluar dari area rumah sakit.
Mereka mau membawaku ke mana? Tidak mungin ke rumah sakit jiwa, kan?