
"Bagaimana Hasilnya, Om?" tanya Kenzou tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Dokter Sam masih tetap fokus pada monitor komputernya, dengan kening yang mengkerut dalam,
"Hasilnya bagus, Zou. Tidak terdapat sedkitpun racun di dalam darahnya," jawabnya sambil terus fokus ke hasil lab Tiara itu,
"Apa kamu yakin Dasha telah meracuninya?"
"Dasha sendiri yang memberitahuku, Om. Tidak mungkin dia berani mengakui kebohongan sebesar ini kalau dia tidak yakin telah melakukannya," jawab Kenzou.
"Apapun yang dikatakan wanita itu tidak terbukti, Zou. Hasil labnya bagus semua ... "
"Lalu kenapa hingga saat ini Tiara belum juga siuman, Om? Sudah lebih dari satu minggu!" keluh Kenzou sambil megusap wajahnya.
"Benturan keras di kepalanya menyebabkan traumatic brain injury, cedera pada otak, fungsi otaknya jadi menurun. Dan kami tidak bisa memprediksi sampai kapan kondisi Tiara akan terus seperti itu. Tapi sejauh dari hasil pemeriksaan secara menyeluruh, tidak ada penyakit bawaan di dalam diri Tiara, jadi besar kemungkinan Tiara akan kembali normal seperti sedia kala saat siuman nanti," jelas dokter Sam.
"Tapi kapan dia akan simuan?" desak Kenzou, seolah-olah bangkitnya seseorang dari koma karena bantuan dari dokter dan bisa dilakukan saat itu juga.
"Kami tidak dapat memastikan kapan Tiara akan terbangun dari tidur panjangnya, Zou. Tapi biasanya paling lama hanya beberapa minggu saja, dan hanya sedikit yang bisa mencapai tahunan."
"Hanya beberapa minggu? Itu waktu yang lama, Om. Dan Om dengan santainya bilang 'hanya' apa Om tidak punya perasaan?! Apalagi sampai bertahun-tahun, aku akan bakar habis rumah sakit ini!!"
Dokter Sam kembali menghela napas panjang, kalau tidak ingat siapa ayah dari pria di depannya ini, mungkin saat ini ia sudah menendang pria itu keluar dari ruangannya.
Hah! Like father like son!
"Daripada kamu terus-menerus mengeluh, lebih baik kamu temani sajja Tiara. Memang pasien koma tidak bisa memberikan respons terhadap suara, sentuhan, dan juga rasa sakit. Tapi pasien itu masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya. Bahkan beberapa ada yang masih mengingatnya setelah sadar nanti," saran dokter Sam.
"Jadi, sering-seringlah mengajak Tiara bicara. Ceritakan kembali momen-momen bahagia yang pernah kalian lewati. Atau ... Minta maaflah kalau seandainya kamu memiliki kesalahan padanya, dan belum sempat mendapatkan maaf darinya," lanjutnya lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam Kenzou padanya,
"Apa Om menyindirku?!" desisnya.
"Saya memberimu saran, bukan menyindir. Dan sekali lagi Om tegaskan, tidak ada satupun yang perlu dikhawatirkan dari hasil laboratorium ini. Satu-satunya masalah hanyalah cedera otaknya, dan semoga saja dalam wakktu dekat ini Tiara akan segera sadar dari komanya!" tegas dokter Sam.
Dan mengembalikan hari-hari tenangku lagi tanpa keluarga Adipramana ...
Baru saja dokter Sam akan bernapas lega saat melihat Kenzou akan berdiri dari kursinya ketika pintu ruangannya terbuka, dan pria yang paling tidak ingin ia temui saat ini menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,
"Bagaimana keadaan calon menantuku?!" tanya papi Hardhan.
Kedatangannya seolah-olah menyedot habis oksigen di seluruh ruangan itu, hingga dokter sam harus melonggarkan sampul dasinya.
"Masih koma, Dhan. Tapi ... "
"Apa saja yang kau lakukan selama ini hingga Tiara masih saja koma?! Apa aku harus menggantimu dengan dokter baru yang lebih fresh? Yang lebih cepat tanggap?!" potong Hardhan tajam.
"Astaga Dhan ... Aku bukan Tuhan yang bisa membangunkan pasien koma saat ini juga. Kami sudah melakukan semua yang terbaik untuk Tiara, dan selanjutnya kita hanya menunggu kapan fungsi otak Tiara akan kembali normal," jelas dokter Sam.
"Kalau begitu saya mau kau menyuntik mati Dasha!!" perintah papi Hardhan dengan nada tidak bisa dibantah itu.
"Papi!
"Hardhan!"
seru Kenzou dan dokter Sam bersamaan.
Papi Hardhan menatap Kenzou dan juga dokter Sam dengan sebelah alis yang ia naikkan tinggi-tinggi,
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa melakukannya, Dhan. Itu bisa melanggar sumpah dokterku, dan izin praktekku akan dicabut. Belum lagi pidana yang akan dijatuhkan padaku," desah dokter Sam sambil mengelap keringat di keningnya.
"Wanita sialan itu telah berani mencelakai calon menantu saya! Apa kau pikir saya akan melepaskannya begitu saja?" tanya Hardhan dengan nada tajam, lalu mengalihkan perhatiannya pada putra sulungnya,
"Dan kau Zou, apa yang kau lakukan di ruang bawah tanah itu hanyalah hukuman ringan, apa kamu hanya mampu memberikan hukuman seringan itu untuk wanita yang telah mencelakai kekasihmu?"
"Aku belum selesai dengannya, Pi ... "
"Jangan pernah memberikan keringanan pada musuhmu, atau mereka akan berbalik melawanmu! Papi sudah mewanti-wantimu saat membiarkan Dasha masih tinggal dalam satu atap dengan Tiara. Dan kau bisa lihat hasilnya sekarang kan?"
"Aku hanya menghargai keputusan Tiara, Pi," elak Kenzou.
"Tegaslah jika itu menyangkut seseorang yang kau sayangi! Paling Tiara hanya merajuk selama satu atau dua hari saja, tapi setelahnya sikapnya akan kembali normal lagi, akan kembali bersikap baik padamu lagi, selama kau bisa membujuknya."
"Dulu Papi bahkan pernah mengancam akan mematahkan kedua kaki Mommymu saat pergi tanpa sepengetahuan Papi! Apa Mommymu marah? Sudah pasti dia marah, kau tahu sendiri bagaimana Mommymu saat tengah merajuk. Tapi setidaknya Papi sudah menyelamatkannya dari kejahatan di luar sana! Papi lebih rela saat Momymu itu meminta Papi untuk tidur di kursi, daripada melihat Mommymu itu celaka!" lanjut papi Hardhan.
"Ya, Papi benar. Seharusnya aku bisa lebih tegas lagi pada Tiara jika itu menyangkut keselamatannya. Karena ternyata bodyguard yang aku pekerjakan di rumahnya pun tidak banyak membantu," desah Kenzou dengan sebersit rasa sesal.