
"Kenapa kau menahan wanita itu, Zou?" tanya dokter Sam.
Ia tidak pernah melihat Kenzou hilang kendali seperti ini. Diantara putra dan putri Hardhan, Kenzou lah yang paling bisa mengendalikan dirinya, sehebat papinya. Setidaknya kalau bukan menyangkut orang-orang terkasihnya.
"Om lihat saja keadaan kekasihku itu..." jawab Kenzou sambil menunjuk Tiara yang masih tertidur di tempat tidurnya. Dan dokter Sam langsung mendekatinya.
"Saya baru mau memanggil anda, Den..." ujar mba Tini, ia takut Kenzou akan marah karena telat memanggilnya saat ia sudah selesai menggantikan baju Tiara.
"Tidak apa-apa, Mba... Sekarang kau menjadi kepala pelayan, semua pelayan di rumah ini harus bekerja sesuai dengan arahanmu... Pecat siapapun yang masih memihak pada keluarga Dasha!" seru Kenzou.
"Baik, Den... Kalau begitu saya pamit ke bawah dulu."
Kenzou mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya mendekati tempat tidur Tiara, dan berdiri di samping dokter Sam, yang sedang memeriksa nadi Tiara.
"Bagaimana keadaannya, Om?" tanyanya.
"Badannya lemah sekali, Zou. Sepertinya ia kelelahan..." jawab dokter Sam, lalu mengeluarkan obat dan jarum suntik dari dalam tasnya.
"Saya akan menyuntikkan paracetamol terlebih dahulu untuk menurunkan panasnya, empat puluh derajat, Zou... Untung saja Tiara tidak sampai kejang-kejang..." lanjutnya.
"Ya Tuhan... Empat puluh derajat? Lalu apa diagnosismu?" tanya Kenzou khawatir, ia duduk di samping Tiara dan menggenggam tangannya.
"Saya harus melakukan tes darah untuk menguatkan diagnosis saya, Zou... Tapi kemungkinan besar karena Tiara terlalu lelah, fisik dan juga mentalnya... Dan apa seseorang memukul wajahnya?"
"Ya, anak dari wanita di bawah tadi..."
"Aahh... Pantas saja kau bersikap seperti orang kesetanan... Saya sudah menyuntiknya dengan obat penurun panas, kalau tidak turun juga, terpaksa kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Apa perjalanan jauh dengan mengendarai motor bisa menyebabkan sakit?"
"Kelelahan dan kurang tidur dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun, dan tubuh dapat dengan mudah terserang virus. Pun demikian dengan stress, juga dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, mana yang menjadi penyebab Tiara sakit? Dari hasil tes darahlah kita akan mengetahuinya... Virus atau bakteri penyebab panas tingginya ini..." jelas dokter Sam.
"Maaf Den, ada tuan Danu di bawah..." mba Tini menyela pembicaraan mereka.
"Biarkan dia menunggu di bawah, sampai para pengacara datang." seru Kenzou.
"Baik, Den."
"Pengacara? Apalagi ini, Zou?"
"Aku akan mengembalikan semua milik gadis kecilku itu... Dan membersihkan semua parasit dari rumahnya." jawab Kenzou.
Ia membelai lembut rambut Tiara, bulir-bulir keringat mulai keluar di keningnya, yang menandakan obatnya sudah mulai bekerja.
"Gadis yang malang... Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi... Aku akan mengirim malaikat maut untuk siapapun yang berani melukaimu, sekalipun hanya melukai ujung kukumu saja..." janji Kenzou.
"Bawa saja Tiara ke rumah sakit, Om... Lakukan pemeriksaan secara menyeluruh padanya... Kita tidak tahu apalagi yang sudah diperbuat keluarga benalu itu pada gadis kecilku ini!!"
"Baiklah, saya akan meminta pihak rumah sakit untuk mengirim ambulance..."
"Dan siapkan kamar presidential suite untuk Tiara...." lanjut Kenzou.
"Tapi..."
"Tapi apa? Papi tidak akan keberatan karena Tiara adalah calon istriku!!" potong Kenzou.
"Ok, saya akan meminta seseorang untuk menyiapkan kamar itu." balas dokter Sam sambil mengeluarkan ponselnya.
Selama dokter Sam menghubungi pihak rumah sakit, Kenzou kembali menatap nanar gadis kecilnya.
Bodohnya ia tidak kepikiran untuk menempatkan dua atau tiga bodyguard di rumah Tiara, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Aku harus segera menyelesaikan masalah Tiara... Supaya ketika ia bangun nanti, semua yang diambil darinya sudah kembali lagi padanya.
Setelah mengecup kening Tiara, Kenzou bergegas ke arah pintu, "Jaga dia untukku!!" serunya pada dokter Sam.
Pengacaranya dan juga pengacara Tiara sampai bersamaan dengan Kenzou sampai di depan tante Risya dan om Danu yang terlihat kusut.
"Kenapa kalian lama sekali?!!" tanya Kenzou.
"Maaf, Tuan... Karena saya menunggu Pak Seno yang sedang ada kliennya tadi..."
Kenzou menatap tajam mata Pak Seno, "Tiara bisa mengambil alih seluruh kekayaannya lagi saat usianya delapan belas tahun, benar begitu?" tanyanya.
"Ya, benar..." jawab pak Seno.
"Yang berarti bulan depan, Om Danu sudah tidak berhak lagi atas harta Tiara, baik yang bergerak ataupun tidak... Termasuk juga atas perusahaan Tiara Corp. Tiara yang lebih berhak untuk menduduki posisi CEO di perusahaan itu. Saya mau kau mulai mengurusnya mulai hari ini!!!" tegas Kenzou.
"Baik, Tuan."
"Dan segera audit perusahaan itu!!"
"Baik...."
"Apa kau tidak percaya denganku hingga mengirim team audit?" tanya om Danu.
"Ya! Kenapa?! Anda mau mengajukan protes?!!" tantang Kenzou sambil bersedekap.
Wajah om Danu seketika memucat, ia langsung bersimpuh di bawah kaki Kenzou.
"Tolong, Nak Zou... Jangan lakukan ini pada kami!!" pintanya dengan nada memelas.
Kenzou menatap tajam om Danu, "Saya sudah memberi peringatan padamu untuk tidak menyakiti Tiara!! Tapi apa? Kalian membuat kekasihku itu sakit!!"
"Sakit? Apa maksudmu?" tanya om Danu bingung, lalu mengalihkan perhatiannya ke tante Risya,
"Tiara baik-baik saja, ya kan Ris?!" tanyanya.
Melihat tante Risya yang hanya menundukkan kepalanya, membuat om Danu mengumpat kencang.
Ia bergegas menghampiri tante Risya dan menamparnya,
"Dasar bodoh!!! Sudah ku bilang berkali-kali tahan dirimu untuk tidak menyakiti Tiara dulu sampai..." om Danu menahan lidahnya, ia nyaris saja membuka kedoknya sendiri.
Tapi bukan Kenzou namanya kalau tidak bisa menangkap maksud dari perkataan om Danu itu.
"Sampai kapan? Sampai usia Tiara genap delapan belas tahun, lalu kau akan mendesaknya untuk menandatangani surat kuasa sepenuhnya padamu, sebelum menyingkirkannya untuk selamanya... Ya Kan?" tebak Kenzou.
Bahkan saat mengatakan itu badan Kenzou langsung meremang, dan perutnya mencelos, karena ia baru menyadari kemungkinan terburuk itu.
Kali ini bukan hanya nafas om Danu saja yang tercekat, tapi juga tante Risya. Mereka tidak menyangka Kenzou akan mencium rencana busuk mereka.
Mengetahui dugaannya itu ternyata benar, Kenzou tidak dapat menahan emosinya lagi, sambil meraung kencang seperti hewan buas yang sedang marah, ia melayangkan tinju kanannya ke rahang om Danu.
"Bangs*t kau!!!" lalu lanjut meninju ulu hatinya, membuat om Danu terbatuk-batuk parah, "Saya akan membunuhmu terlebih dahulu!!!" raungnya lagi disusul dengan tangisan kencang tante Risya.
"Jangan pukul lagi... Stop!! Kasihan dia sudah tua!!" isak tante Risya, tapi Kenzou tidak mempedulikannya.
Sambil menggeram kesal, Kenzou memutar kerah kemeja om Danu, hingga ia tercekik kerah kemejanya sendiri.
"Kau tidak puas sudah membunuh kedua orang tuanya, dan sekarang kau juga mau membunuhnya!!! Mati adalah hukuman teringan untukmu!!!"
******""
Kalau mati hukuman teringan dari Kenzou, lalu hukuman terberatnya apa yaa?! 😳😳
Sudah hari senin lagi, jangan lupa vote, like, hadiah dan komennya yaa... Biar babang Zou makin semangat upnya...😁
Happy reading....